
"Biasanya? Nggak-nggak Aliyha. Kenan baru kemarin, ya, jemput Darel sekolah! Jangan-jangan kamu sama Kenan..., selingkuh!" ucap Regina dengan menutup mulutnya yang terbuka lebar. "Kalian..., karna itu kamu minta aku ngelanjutin perjodohan sama Satya. Nggak aku sangka, Aliyha..."
"Nggak gitu juga, Mba, ceritanya!" jawab Aliyha.
"Lah, terus. Kamu mikirin Kenan, dan nyuruh aku nikah sama Satya, padahal kalian sedang berhungan! Apa kamu tau, Kenan itu..."
"Aku yau, Mba!" sela Aliyha.
"Maksudmu? Kamu tau, Kenan itu..." Aliyha kembali menyelah ucapan Regina.
"Aku tau, Mba."
"Tunggu-tunggu! Kamu tau... Kenan itu..." Aliyha kesal dengan pemikiran Regina saat ini.
"Aku tau, mas Kenan sepupu, Mba. Holang kaya!" ucap Aliyha.
"Haa! Apa kamu tau? Tapi, kamu nggak tau kalau dia itu suka..."
"Aku tau, Mba. Suka main-main sama perempuan!" kesal Aliyha menjawab.
"Aliyha... Siapa yang kasih tau kamu?" tanya Regina.
"Mas Kenan," jawab Aliyha.
"Dasar pria itu!" kesal Regina dan dia sendiri tak tahu apa yang dia kesalkan.
Suasana mobil kembali tenang, Regina kembali tak bersuara, begitu pun Aliyha yang menatap keluar dari kaca mobil.
"Apa, mas Kenan sudah menemukan wanita untuk dinikahinya? Dia sudah kembali ke rumahnya. Itu artinya, Mas Kenan sudah menemukan wanita untuknya." bayin Aliyha berasumsi.
__ADS_1
*
*
Beberapa hari berlalu. Di akhir pekan, adalah hari libur. Aliyha memutuskan mengajak Darel untuk jalan-jalan di taman yang pernah di kunjugi bersama Kenan. Regina tidak ikut, karena hari ini Satya memintanya untuk bertemu di cafe. Dia harus meluruskan tentangnya dan Satya, tentang perjodohan mereka, dan Marina saat ini telah menyiapkan sesuatu kejutan untuk Aliyha.
"Ayo, Dar," ajak Aliyha untuk pergi.
"Ayo, Bun."
Darel dan Aliyha pergi bersama pak Supri dan Regina pergi dengan 2 orang pengawal. Marina tak mengijinkan Regina untuk pergi sendiri, dia tidak yakin jika Regina akan berulah dan meninggalkanansion lagi.
Aliyha tengah berdiri dengan tiga buah eskrim di tangannya, di hadapan Darel yang duduk di bangku taman yang sama dengan saat itu.
"Bun, kenapa 3?" tanya Darel.
"Bunda inget om Kenan?" tanya Darel tiba-tiba.
"Ah, enggak, kok. Bunda kasih, pak Supri aja, ya?" Darel mengangguk mengiyahkan dan Aliyha segera pergi menuju mobil yang berada pak Supri di dalamnya.
Darel menatap nanar pada Aliyha. Tak seperti biasanya, kini bundanya sering terlihat murung, seperti banyak pikiran.
"Darel," sapa seorang pria.
"Kamu!" kejut Darel.
*
"Satya, udah lama nunggunya?" tanya Regina.
__ADS_1
"Enggak, kok. Baru lima menit." jawab Satya.
"Sat, ada apa? Apa kamu sudah memutuskan cara apa untuk membatalkan perjodohan kita?" tanya Regina.
Satya menarik nafas panjang lalu menghembusnya pasrah.
"Sepertinya semuanya akan berlanjut," jaqab Satya.
"Apa maksudmu, Sat?" Nada suara Regina meninggi mendengarnya seraya berdiri dari duduknya.
"Duduk dulu, Re. Aku jelasin," ucap Satya dan Regina kembali duduk di kursinya.
"Apanya yang mau di jelaskan? Apa kamu sudah menyerah untuk memperjuangkan Aliyha?" cecar Regina.
"Bukan aku. Tapi, Aliyha sudah memutuskan hubungan kami."
"Apa! Kenapa? Aliyha yidak berkata apa-apa padaku."
"Beberapa hari lalu kami bertemu dan dia mengatakan tidak bisa melanjutkan hubungan kami, dia bilang dia tidak cinta, hanya rasa balas budi untukku.dan dia juga mengatakan, untuk melanjutkan hubungan kita, perjodohan kita." jelas Satya.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1