
Aliyha menuruti perintah Regina, dia segera pergi bersama Satya dengan berjalan berdampingan, sedangkan dari Kejauhan seorang wanita tengah geram menatap Aliyha dan Satya.
"Anak itu!" geram Talita.
"Berani sekali dia mendekati Satya!" Talita mengepalkan tangannya saat melihat Aliyha dan Satya berjalan berdua.
*
"Aliyha, kamu sudah tahukan tugasmu sekarang?" ucap Satya setelah mengajaknya berkeliling gudang dan menjelaskan bagaimana pekerjaannya.
"Siap, Pak. Mengerti!" jawab Aliyha dengan memberi hormat ala-ala tentara.
"Hahaha, tidak perlu seperti itu. Kau terlihat lucu," ucap Satya dengan tawanya.
Aliyha tersenyum melihat Satya yang begitu santai dengannya, tidak seperti bayangannya memiliki atasan yang garang dan pemarah.
"Oh, ya. Nanti siang kita makan bersama, mau?" ajak Satya.
"Ya, Pak. Saya tidak punya uang untuk mentraktir bapak." ujar Aliyha seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehehe, ternyata kau tidak sependiam sebelumnya," ujar Satya dengan tersenyum. "Aku tidak kekurangan uang untuk membayar makan siangmu. Ku tunggu di kantin nanti," lanjut Satya.
"Maksudnya, Pak?" tanya Aliyha dengan sedikit berteriak, karena Satya sudah melangkah meninggalkannya.
Satya berbalik menatap Aliyha, polos sekali pikirnya.
"Datang aja nanti siang," jawab Satya dan kembali dengan Aliyha yang bingung dengan jawabannya.
Aliyha memulai pekerjaannya dengan sangat bersemangat, dia melakukan apa yang di arahkan oleh Satya dengan sebaik mungkin, bahkan dia menegur jika ada kesalahan pada apa yang di lihatnya.
Siang hari, saat makan siang tiba. Aliyha mengingat apa yang di katakan Satya padanya. Sebelum pergi ke kantin, Aliyha melihat isi dompetnya. Hanya tertingal 4 lembar uang berwarna biru di sana.
"Aku, harus menghemat. Uangku tinggal sedikit," batin Aliyha.
"Mba Regina!" panggil Aliyha saat melihat Regina berjalan searah dengannya.
Regina berbalik mendengar suara yang memanggilnya dan dia tahu, jika itu adalah Aliyha.
"Hai, cepetan!" ajak Regina dengan melambaikan tangannya.
"Mba, mau ke kantin juga?"
"Iya. Ayo, sama-sama." Regina begitu cepat sekali akrab dengan Aliyha dan juga menganggapnya seperti adik sendiri. "Gimana kerjaan kamu?" lanjut Regina, bertanya.
"Baik, Mba. Tidak terlalu sulit," jawab Aliyha seraya tersenyum dan mengikuti langkah Regina.
__ADS_1
"Bagus deh. Jarang-jarang gadis muda belia seperti kamu, dapat kerjaan yang bagus gitu." ujar Regina.
"Alhamdulillah, Mba. Rejeki anak sholeha," ujar Aliyha.
Sejenak Aliyha melupakan jika saat ini dia sedang mengandung, beruntunglah tidak seperti wanita-wanita hamil biasanya yang mengalami ngidam di awal trismester pertama kehamilan bahkan Aliyha terlihat seperti wanita biasa saja.
"Mba, tadi pak Satya ngajak aku makan siang," ungkap Aliyha.
"Iya?" tanya Regina meyakinkan.
"Iya, Mba. Tapi aku bilang, aku nggak punya uang buat bayarin makan siangnya, Mba." ucap Aliyha.
"Kamu ngomong kayak gitu, sama pak Satya?" tanya Regina terkejut.
Aliyha menganggukan kepalanya, sedangkan Regina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kepolosan Aliyha.
"Trus, katanya. Dia tidak kekurangan uang untuk membayar makan siangku," lanjut Aliyha.
"Ya, iyalah, o'on. Dia itu ngajak, nggak suruh kamu yang bayarin!" ucap Regina kesal dengan keluguan Aliyha.
"Oh, aku kira dia minta traktiran, karena sudah menjelaskan pekerjaan aku tadi." Regina hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Aliyha.
"Tuh, orangnya. Udah nungguin," ucap Regina yang melihat Satya duduk di depan meja, di kantin itu.
"Haa! Iya. Mba, ikut bareng, ya," ajak Aliyha yang merasa sungkan duduk berdua dengan Satya.
"Ayolah, Mba. Aku nggak enak duduk berduaan aja sama pak Satya itu," Aliyha tak melepaskan lengan Regina yang di rangkulnya sejak tadi.
"Apaan sih, nih anak!" kesal Regina.
"Aliyha!" panggil Satya.
Aliyha mendorong Regina dengan rangkulannya di lengan Regina menuju tempat Satya berada sekarang.
"Ha-halo, Pak," sapa Aliyha.
"Ayo, duduk. Regina kamu juga," pinta Satya.
"Wah, Bapak kenal juga, sama Mba Regina?" tanya Aliyha yang langsung duduk di kursi yamg tersedia di situ dengan mendudukan Regina juga.
Satya tersenyum dan mengangguk, menjawab pertanyaan Aliyha, sedangkan Regina sendiri wajahnya tidak seceria Aliyha saat ini, apalagi saat melihat Satya di depannya.
"Bagus, dong. Tadi aku ajak Mba Regina-nya nggak mau." ucap Aliyha.
Regina membuang muka saat Satya menatapnya, sepertinya ada demdam kesumat antara Regina pada Satya, yang membuat Regina tidak mau tersenyum saat ini.
__ADS_1
Akhirnya mereka makan siang dengan hanya Aliyha dan Satya yang mengobrol, sedangkan Regina hanya menjawab pertanyaan dengan seadanya saja.
"Aliyha, kalau lagi istirahat atau di luar, jangan panggil pak-pak terus. Berasa tua aku," ujar Satya.
"Terus, aku panggil apa dong. Kan, bapak atasan saya," ujar Aliyha.
"Kita sama-sama bekerja di sini Aliyha. Dan usia kita hanya terpaut enam tahun," jelas Satya.
"Hm, kalau begitu. Mas saja. Mas Satya, ya." ucap Aliyha dengan senyuman khasnya.
Saat bicara Aliyha tak pernah meninggalkan senyumnya, apalagi orang yang sudah di kenalnya dan menurutnya orang baik. Senyuman itulah, yang membuat satya tambah jatuh hati padanya. Berawal dari pandangan pertama, cantik, dan senyumannya yang tak pernah hilang dari bibir ranum Aliyha.
"Terserah kamu, yang penting jangan pak lagi." ujar Satya.
"Mba, kok ngomongnya irit sekali?" tanya Aliyha, memandang wajah Regina intents.
"Takut!" jawab Regina ketus.
"Takut apa, Mba?" tanya Aliyha lagi.
"Takut, sama buaya!" kesal Regina pada Aliyha yang terus bertanya padanya.
"Aah! Mba, ini. Ada-ada aja. Mana ada buaya di sini," ucap Aliyha yang membuat Satya tertawa lebar.
"Hahaha, bener-bener kamu Aliyha. Mana ada sih, buaya di sini," ulang Satya di sela-sela tawanya.
"Buaya buntung!" ketus Regina di hadapan Satya.
"Iya, Mba. Emang ada buaya buntung, di sini?" tanya Aliyha dengan raut wajah serius, dan itu berhasil membuat tawa Satya semakin lebar.
"Tau, aah!!" kesal Regina lalu memakan makanannya dengan cepat.
Regina sangat kesal, tapi bukan pada Aliyha sebenarnya, melainkan pada Satya. Dua tahun yang lalu, saat Regina baru masuk kerja di petusahaan itu, Regina dan Satya sempat dekat bahkan Satya telah mengutarakan isi hatinya pada Regina, namun di saat Regina tengah berbunga-bunga dengan kehadiran Satya. Seorang wanita datang melabrak Regina dan mengaku sebagai tunangannya. Hingga Regina menolak Satya berkali-kali dan akhirnya Satya mundur juga.
Di meja lain, di kantin yang sama. Tiga orang wanita tengah memperhatikan interaksi antara ketiganya. Siapa lagi, kalau bukan Talita dan kawan-kawannya. Sejak dulu Talita mencoba untuk mendekati Satya dan mencuri perhatiannya, namun tak sekali pun Satya memalingkan wajahnya pada Talita dan itu tidak membuat Talita patah semangat untuk mendekati Satya, bahkan dia akan berbuat nekat jika ada wanita lain yang dekat dengannya.
"Awas kamu Aliyha!!" geram Talita yang masih duduk di mejanya, memperhatikan mereka yang terlihat sangat akrab.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa, Like, coment, Vote and Giftnya.
By... By...