
"Tidak Aliyha. Aku hanya akan menikah denganmu. Apa-apaan kau memintaku menikahi Regina, yang jelas-jelas aku mencintaimu," tolak Satya.
"Tapi aku tidak, Mas." Aliyha menatap Satya dengan Serius.
"Apa maksudmu, Aliyha?" ucap Satya tak terima dengan perkataan Aliyha.
"Itu yang sebenarnya, Mas. Aku sudah mencoba untuk menumbuhkan rasa itu dalam hatiku, Mas. Tapi tidak bisa. Tidak pernah ada rasa untukmu. Bukankah Mas, sudah tau perasaanku sebelumnya. Aku tidak bisa menjadi pendamping hidup, jika tidak mencintaimu, Mas. Mengertilah." jelas Aliyha.
"Tidak! Aku tidak bisa mengerti, Aliyha! Tidak bisa!" ucap Satya.
"Mas. Maafkan aku, tapi hubungan kita hanya sampai di sini saja. Dan, ku harap Mas dapat menerima keputusanku." ucap Aliyha dan segera beranjak dari kursinya menuju keluar cafe.
"Aliyha! Aliyha!" panggil Satya, ingin segera menyusul, tapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Dreet dreet dreet dreet
"Papi," gumamnya.
"Halo, Pi," sapa Satya di ponselnya.
"Satya, ternyata kau tidak mendengarkan Papi. Apa kau ingin, papi membuktikan kata-kata papi sekarang?" ucap Nathan di balik ponsel Satya.
"Pi! Tidak, Pi! Jangan-jangan lakukan itu," ucap Satya panik dengan melihat Aliyha yang berjalan di luar cafe kemudian terlihat juga mobil Nathan yang terparkir di sebrang cafe itu.
__ADS_1
"Tidak, Pi. Jangan lakukan itu. Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Aliyha, Pi. Jangan berbuat sesuatu, Pi," mohon Satya di ponselnya yang tersambung dengan Nathan.
"Baiklah. Sekarang kembali ke mansion!" ucap Nathan dan panggilan pun terputus.
Tut tut tut tut
Satya menatap nanar kepergian Aliyha yang telah menaiki taksi dari depan cafe dan berlalu. Dia sangat kesal, namun dia tak bisa berbuat apa-apa, kini.
*
Di dalam taksi menuju kembali ke mansion keluarga Regina. Hati Aliyha sangat lega, karena dapat menyatakan perasaan sebenarnya pada Satya. Sejak dulu dia ingin mengatakan itu padanya, namun rasa takut Satya akan kecewa padanya dan hari ini, segala gundah di hatinya telah usai.
"Tidak apa. Mas Satya pasti ngerti, dan mba Regina juga," gumam Aliyha di dalam taksi.
"Aliyha..., kamu sudah pulang? Dari mana saja?" tanya Marina.
"Maaf, Nyonya. Saya tadi bertemu dengan seseorang." jawab Aliyha.
"Oh, baiklah. Istirahat saja, kau pasti lelah." ucap Marina dan Aliyha mengangguk.
Di kamarnya, Aliyha masih memikirkan apa yang di katakan Satya padanya. Bagaimana jika Satya tidak menerima keputusannya.
"Sudahlah, nanti aja di pikirinnya!" gumam Aliyha kemudian tidur tanpa bebersih dan mengganti bajunya.
__ADS_1
*
"Satya! Berhentilah dengan sikap leras kepalamu! Papa tidak segan-segan membuktikan ucapan papa, jika kau masih membantah!" bentak Nathan.
"Iya. Aku berhenti sekarang! Papi puas. Aliyha sudah memutuskan hubungannya denganku!" ucap Satya dengan nada meninggi dan meninggalkan Nathan di ruang keluarga.
"Baguslah. Aku tidak perlu susah-sussh menyingkirkannya," ucap Nathan dan sudah tak di dengar lagi oleh Satya.
"Aaakkhh!!" Satya menghempas vas bunga yang berada di dekatnya hingga pecah berhamburan di lantai.
"Aliyha!" pekik Satya dengan perasaan kecewa.
"Aliyha maaf! Aku tidak bisa menentang papi. Aku lemah! Aku akan menerima keputusanmu, dan akan mengikuti perintah orangtua itu. Untukmu. Aku tidak mau kau dalam bahaya!" ucap Satya yang terisak di sudut kamarnya.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1