Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab. 33 ~Lima tamparan


__ADS_3

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah itu. Kedua pasang mata itu tertuju pada mobil yang berhenti di sana.


"Mungkin itu Aliyha," batin Regina.


Regina dan Satya keluar dari dalam rumah, menyambut orang yang akan turun dari mobil itu.


"Tuan!" kejut Regina. "Aliyhanya mana?" tanya Regina yang berharap Aliyha ada bersama Daniel.


"Aku ke sini, ingin melihatnya. Sudah kembali atau belum," ucap Daniel.


"Haa!" Regina membuang nafasnya kasar, sedangkan Satya hanya memalingkan wajahnya dari Daniel.


"Aliyha nggak ada di rumah. Entah ke mana dia pergi," ujar Regina.


"Aliyha tidak pulang? Apa dia benar-benar tidak pulang?" tanya Daniel cepat, meyakinkan mereka jika Aliyha benar-benar tidak berada di rumah itu.


"Iya! Kami sudah memeriksa seluruh rumah, bahkan Darel pun juga ikut-ikut tidak ada." jawab Regina.


"Apa! Darel juga, tidak ada!" kejut Daniel. "Apa dia pergi?" lanjut Daniel bergumam.


"Apa maksud kamu?" tanya Satya ketus.


Daniel berlari ke dalam rumah. Regina dan Satya memandangnya dengan bingung, entah apa yang dia cari di dalam sana, pikir mereka lalu menyusul Daniel ke dalam.


"Apa yang kamu cari?" tanya Satya.


"Di mana kamar Aliyha?" tanya Daniel cepat.


"Mau apa kamu?" bentak Satya.


"Tolong cepat. Aku ingin memastikan sesuatu, jangan sampai dia sudah jauh." ucap Daniel pada Satya dan juga Regina.


Regina mendengar ucapan Daniel dengan segera, melangkah menuju kamar Aliyha dan membuka pintu kamarnya.


Daniel masuk, melihat kamar itu dan matanya tertuju pada lemari yang berdiri sudut kamar itu.


Kreek


Daniel membuka lemari itu, dan menatap tajam ke arah dalamnya. Satya dan Regina juga ikut melihat apa yang di lihat oleh Daniel dan mereka sama terkejutnya dengan Daniel.


Lemari itu hampir kosong. Hanya tertinggal 3 potong pakaian yang tergantung di dalamnya. Dengan cepat netra Regina memandang sudut lemari tempat di mana Aliyha menyimpan kopernya. Kopernya juga tidak ada, itu artinya..., pikir Regina.


Regina terduduk di kasur yang berada di kamar itu dan tangisnya pun pecah, Aliyha sudah pergi.


"Hiks...," suara tangis Regina terdengar hingga ke telinga Satya dan juga Daniel.


"Re, sabar. Kita akan mencarinya," ucap Satya dengan mengelus pundak Regina.


"Hiks..., Aliyha. Hiks, Aliyha tega sekali, ninggalin aku," ucap Regina dengan sesegukan.

__ADS_1


"Tenang Re, kita pasti menemukannya." ujar Satya lagi.


Daniel masih menatap dalam lemari yang kosong itu, dan tiba-tiba sebuah tinju mengenai pipi mulus putihnya.


"Awk!" pekik Daniel saat tinju Satya membuatnya tersudut di dinding.


"Apa yang kamu lakukan pada Aliyha? Ha! B*jingan!" ucap Satya dengan penuh emosi pada Daniel.


"Satya! Apa yang kamu lakukan?" Ucap Regina dengan menarik lengannya.


Daniel menyeka sudut bibirnya dan pecah akibat pukulan dari Satya.


"Kamu nggak tahu apa-apa, tentang Aliyha. Jangan sok tau!" jawab Daniel kesal.


"Aku sudah melihat gerak-gerikmu pada Aliyha. Bahkan kau selalu mencoba menjauhkannya dariku!" ucap Satya lagi dengan ketus.


"Apa!" kejut Regina mendengar ucapan Satya, namun diantidak bisa mengambil kesimpulan sendiri tanpa tahu kejadian sebenarnya.


Daniel hanya mendengus mendengar ucapan Satya padanya, itu artinya Aliyha tidak bicara apapun tentang hubungan mereka dulu.


"Sekarang katakan. Ada hubungan apa kamu sama Aliyha?" Ucap Satya dengan mengcengkram kerak Daniel.


"Satya! Satya!" pekik Regina mencoba melerainya.


"Hg, jadi kau memang tidak tahu apa-apa. Aliyha tudak mengatakannya padamu, dan pacar macam apa kau! Yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kekasihnya dan kejadian di sekitarnya." ujar Daniel dengan meledek.


"Kau tau. Jadi kau benar-benar ingin tahu. Baiklah. Lepaskan aku, dan akan kuceritakan semuanya." ujar Daniel.


Satya melepaskan kerak Daniel dengan kasar dan Daniel hanya tersenyum sinis padanya.


"Kita ke depan," pinta Daniel lalu melangkah menuju ruang tamu.


Setelah duduk di ruang tamu, Daniel mulai bercerita pada Regina dan Satya. Mulai dari awal mereka sekolah hingga mereka berhubungan dan melakukan sesuatu yang di anggap fatal oleh mereka.


"Aku, pergi beberapa hari sebelum acara kelulusan sekolah kami." lanjut Daniel dari ceritanya.


"Bajingan!" bentak Satya setelah mendengar cerita Daniel. Satya beranjak dari duduknya, ingin memberikan tinjunya kembali pada Daniel, namun dicegah oleh Regina.


"Tunggu, Sat!" ucap Regina, mencegah Satya yang ingin memberikan tinjunya.


Regina berdiri dari duduknya dan Satya kembali duduk di kursinya. Regina berdiri tepat di hadapan Daniel yang tengah duduk di kusrsi.


"Dan apa kau tau, apa yang hasil dari hubungan kalian?" tanya Regina tegas.


"Ya," Daniel mengangguk kepalanya tanpa bisa menatap Regina. "Aku baru tahu, kalau Darel adalah, anakku," lanjut Daniel dengan menunduk.


"Dan apa kau tau, apa yang Aliyha alami setelah itu?" tanya Regina lagi.


"Maaf. Aku tidak tau. Setelah itu, kami tidak saling berhungan lagi. Kami putus kontak dan baru bertemu setelah aku masuk di perusahaan," jelas Daniel.

__ADS_1


Plak


"Itu untuk apa yang kau lakukan pada Aliyha!" ucap Regina setelah tangannya mendarat di pipi Daniel.


Plak


"Dan itu, karena kau meninggalkannya!" lanjut Regina.


Plak


"Itu untuk kau yang telah membuat Aliyha terusir dari rumah!"


Plak


"Dan itu, untuk cemohan orang-orang pada Aliyha dan Darel!"


Plak


"Dan itu, untuk kau yang telah membuat Aliyha pergi dari sini!" ucap Regina dengan emosi.


"Lima tamparan, sebenarnya itu tidak cukup untuk membalas apa yang di rasakan Aliyha selama ini. Kami yang berada di belakangnya selama ini. Sejak dia hamil, melahirkan, bahkan aku dan Satya menangis saat pertama mendengar tangisan Darel di dunia ini. Kami membesarkan Darel, bersama. Melawan segala cemohan orang pada Aliyha dan Darel dan kau...." Regina menunjuk wajah Daniel dengan tatapan tajamnya yang seakan, akan menelan Daniel hidup-hidup. Emosi Regina terlihat membara di matanya, membuat Daniel sedikit gugup melihatnya.


"Kau..., kau membuat Aliyha pergi dari kami. Mencoba menjauhkannya dari kami, atau kau juga ingin merebut Darel dari kami!" lanjut Regina dengan wajah yang sudah memerah karena marah.


Daniel tak dapat berkata apa-apa lagi, ganjaran yang di berikan Regina belum ada apa-apanya di bandingkan apa yang di rasakan Aliyha. Dia sadar, bagaiman bisa Aliyha hidup dengan segala cemohan dan hinaan orang-orang sekitarnya. Itu pasti sangat membuat Aliyha tertekan, dan dia harus menebus segala kesalahannya, pikir Daniel.


Satya mengelus pundak Regina, untuk menenangkannya, jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada Daniel. Wanita di sampingnya ini tak bisa di ragukan keahlian beladirinya, bahkan Regina pernah mendapatkan medali emas saat megikuti lomba antar provinsi senegara Indonesia.


"Berikan alamat Aliyha di surabaya. Kami akan mencarinya di sana!" pinta Satya.


"Aku juga akan ikut," ujar Daniel.


"Sebaiknya tidak! Aliyha pergi karena kau, itu artinya dia tak ingin melihatmu!" ujar Satya.


Regina terduduk saat hatinya sedikit tenang, dan tangisnya pun kembali pecah memikirkan Aliyha.


Daniel menyerahkan selembar kertas ke arah Satya dan kemudian berlalu dari rumah kontrakan itu, tanpa berkata sepata kata pun pada Satya dan Regina.


"Tenang, Re. Kita akan pergi ke Surabaya besok pagi. Kita akan mencari Aliyha di sana," ujar Satya.


.


.


.


.


Jangan lupa di vote🤗

__ADS_1


__ADS_2