Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.51 ~Kecewa


__ADS_3

Beberapa saat berlalu, mereka akhirnya sampai di kontrakan Aliyha dan di sana sudah ada Satya yng menunggu di teras.


"Makasih, mas Kenan." ucap Aliyha seraya turun dari mobil dan Kenan pun berlalu dari sana.


"Mas Satya, udah lama nunggunya?" tanya Aliyha saat masuk ke teras rumah.


"Enggak kok, baru lima menit," jawab Satya.


Aliyha membuka pintu rumah lqlu mengajak Satya untuk masuk tanpa mengunci pintunya kembali.


"Al, kamu masih ada kerjaan?" tanya Satya.


"Nggak kok, Mas. Udah selesai semuanya. Emang kenapa?" tanya Aliyha seraya ikut duduk bersama Satya di sofa.


"Aku mau ngajak kamu makan malam," jawab Satya.


"Oh, ok. Aku juga nggak masak. Males, biasanya aku masak sama mba Regina, tapi sekarang sendiri aja. Tapi nggak nyangka loh, Mas. Mba Regina bukan orang sembarangan, mamanya Mba Regina juga pemimpin di perusahaan besar." ungkap Aliyha.


Satya merasa sedikit tersindir, karena dia juga sama halnya seperti itu walau tak sekaya Regina.


"Iya, maaf ya. Aku dan Regina nggak jujur sama kamu, kami menyimpan rahasia masing-masing." ujar Satya.


"Nggak apa, kok Mas. Aku sudah lupain itu, tapi... Apa mba Regina sudah tau tentang Mas? Aku nggak sempet cerita, karena sibuk dengan kerjaan."


"Iya, ya. Mungkin dia belum tau, aku juga belum pernah bertemu sama dia setelah yang terakhir di mansionnya." jawab Satya.


"Al, aku balik ke mansion dulu ganti baju. Nanti aku jemput, bolehkan?" tanya Satya.


"Iya, Mas. Aku juga mau mandi dulu, bersih-bersih. Nanti jam berapa?"


"Setengah tujuh aku jemput, kamu siap-siap aja!"


"Ok!"


Satya keluar dari dalam rumah dengan perasaan lega. Sebenarnya dia sangat risih melihat Aliyha yang di antar jemput oleh Kenan, namun dia tidak ingin terlihat buruk oleh Aliyha dan hanya menyimpan perasaan cemburunya tanpa bertanya apa-apa pada Aliyha.


Di rumah Aliyha pun pergi untuk membersihkan badannya. Waktu baru menunjukan pukul 17.00 dan masih ada waktu untuknya beristirahat sebentar. Akhirnya Aliyha berbaring di tempat tidurnya dan memejamkan mata.


*


"Satya, kamu sudah pulang?" sapa Liana.


Satya memandang sebentar Liana dan beralih melangkah menuju kamarnya.


"Satya! Papi ingin bicara sama kamu," ujar Liana memberitahukan.


"Aku lagi sibuk, Mi!" jawab Satya yang mulai menaiki tangga.


"Satya! Pergilah temui papi, dia ingin membicarakan hal penting denganmu!" pinta Liana.

__ADS_1


"Ok. Tapi aku mandi dulu," jawab Satya menyerah. Dia sebenarnya masih kesal dengan Liana dan Nathan, namun sebagai anak dia tidak ingin menjadi anak durhaka yang melawan orangtua.


"Baiklah. Setelah itu temui papimu di ruang kerja. Mami mau masak dulu." jawab Liana.


"Aku makan di luar," ujar Satya kemudian berlalu menuju kamarnya.


"Anak itu! Sudah tidak bisa di atur lagi!" gerutu Liana.


Selesai mandi Satya turun dari kamarnya menuju ruang kerja Nathan.


Klek


"Pi, katanya mau bicara. Ada apa?" tanya Satya seraya duduk di hadapan Nathan yang sedang mengetik di laptopnya.


"Iya! Papi mau besok kau masuk bekerja," jawab Nathan.


"Besok, Pi?"


"Ya, besok! Dan ini pelajarilah berkas-berkas ini!" pinta Nathan.


"Harus sekarang? Nanti sajaa, Pi. Aku mau keluar," ujar Satya.


"Satya! Kau ini sudah berumur, kapan kau akan serius dengan pekerjaan! Mulailah bekerja, karena sebentar lagi kamu akan menikah!" ucap Nathan dengan nada tinggi.


"Apa? Menikah? Tidak, Pi. Aku hanya akan menikah dengan Aliyha!"


"Tidak akan. Itu tidak akan pernah terjadi! Jika kau nekat melakukannya, papi akan mencoretmu dari kartu keluarga!" Hardik Nathan.


"Pi, papi tega melakukan ini sama anak sendiri! Aku hanya mau menikah dengan Aliyha, tidak dengan yang lain!" ucap Satya.


"Terserah kau! Jika kau nekat, kau tahu apa yang akan papi lakukan pada wanita itu dan anaknya!" ancam Nathan seraya membelakangi Satya yang telah berdiri dari duduknya.


"Pi, jangan seperti ini. Aliyha kebahagianku," ujar Satya memohon.


"Papi tidak peduli. Perjodohanmu telah disepakati, papi tidak mau tahu dengan yang lainnya." ujar Nathan lagi. "Bawah berkasnya dan pelajari sekarang!" lanjut Nathan memerintah.


Satya sangat kesal dengan Nathan hingga dia keluar dari ruangan Nathan dengan membating pintu dengan beberapa berkas di tangannya.


*


Di kontrakan Aliyha, waktu sudah menunjukan pukul 18.10. Aliyha bangun dari pembaringan dan mulai bersiap-siap untuk pergi bersama Satya.


Aliyha telah siap, dia duduk di teras untuk menunggu Satya, agar setelah datang mereka bisa langsung pergi dari sana.


Pukul 18.35 menit, Satya belum juga tiba di kontrakan, sedangkan Aliyha masih tetap menunggu di teras kontrakannya.


"Kok, belum datang ya," gumam Aliyha seraya melihat jam di pergelangan tangannya.


"Mungkin sebentar lagi," Aliyha membatin.

__ADS_1


Beberapa saat menunggu, Aliyha kembali melihat jamnya, dan sudah hampir lewat stengah jam dari yang dijanjikan Satya, namun dia tak kunjung tiba juga.


"Telvon aja, kali, ya." gumam Aliyha lagi. Dia sudah kesal menunggu karena saat ini dia sudah merasa sangat lapar.


Sedangkan yang sedang ditunggu oleh Aliyha, sedang dibuk dengan berkas-berkas pemberian Nathan hingga dia lupa jika punya janji dengan Aliyha. Di tambah lagi dia terus memikirkan perkataan Nathan tentang perjodohannya yang entah dengan siapa, dia pun tidak tahu.


*


"Siapa yang akan dijodohkan denganku?" Batin Satya. "Apa wanita yang sama? Wanita yang dulu yang ingin mereka jodohkan denganku. Apa Putri, wanita itu lagi?" lanjutnya membatin.


Satya menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan segala pikirannya dan memulai kembali membuka berkas-berkas yang tengah dipelajarinya. Tanpa dia sadari hari sudah semakin gelap.


*


Aliyha berkali-kali mencoba menghubungi Satya, namun ponselnya tidak dapat dihubungi.


"Apa terjadi sesuatu?" gumam Aliyha.


"Ah, tidak-tidak. Mungkin ada pekerjaan dadakan," gumam Aliyha lagi menepis segala perasaannya.


"Setidaknya dia bisa menghungi untuk memberitahuku, tapi bahkan ponselnya mati," gumam Aliyha lagi kecewa lalu kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat.


"Bosan sekali, di rumah ini aku hanya sendiri," gumam Aliyha kesal. Dia masih kesal dengan Satya yang tidak menepati janjinya, bahkan tidak memberikan alasan untuk itu.


Jaman sekarang sudah canggih, sekali tekan maka suara akan sampai walaupun berada di luar negri, tapi Satya tidak menelvonnya sama sekali, pikir Aliyha yang berebaring di sofa dengan perut merasa lapar.


Tok tok tok tok


"Siapa?" Aliyha bangun dari baringannya di sofa setelah mendengar suara ketukan.


"Mungkin mas Satya?" gumam Aliyha dengan sengaja berlama-lama karena kesal.


Tok tok tok tok


Mendengar suara ketukan pintu itu lagi, akhirnya Aliyha bangkit menuju pintu untuk membukanya.


Klek


Aliyha menatap pria yang berada di hadapannya setelah membuka pintu.


"Mas Kenan!" kejut Aliyha dengan melebarkan matanya menatap kehadiran Kenan.


.


.


.


.

__ADS_1


Ayo di like, ya😁


__ADS_2