
Suara ponsel Satya, dan tertera nama My Aliyha, di layar ponselnya.
"Aliyha!" seru batin Satya.
"Angkat, nggak ya?" gumam Satya yang ragu.
Tiba-tiba dering ponselnya mati dan Satya merasa lega, karena panggilan itu terputus dengan sendirinya.
"Maaf Al, aku belum siap menjelaskan ini sama kamu," gumam Satya lalu berbaring di kasurnya.
*
*
"Mas Satya nggak angkat." ucap Aliyha lirih. "Maaf, mas. Tapi aku nggak mau kasih harapan palsu untuk kamu," lanjutnya.
Aliyha keluar dari kamarnya, melangkah menuju kamar Darel.
"Hai, Dar!" sapa Aliyha.
"Bunda! Ada apa, Bun?" tanya Darel.
"Dar, kita keluar yuk," ajak Aliyha.
"Kemana, Bun?" tanya Darel.
"Jalan-jalan, makan eskrim, atau apalah."
"Hmm, ok deh! Tapi ajak Om Kenan, ya." ucap Darel.
"Nggak enak, Dar. Mas Kenan pasti capek, kita 'kan baru pulang." ujar Aliyha.
"Tanya dulu, Bun."
"Nanti deh. Kita siap-siap aja dulu!" pinta Aliyha.
"Ok!"
__ADS_1
Aliyha keluar dari kamar Darel, menuju kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Ajak mba Regina, nggak, ya?" ucap Aliyah pada dirinya sendiri.
"Nggak deh. Mba Regina butuh berpikir, biarlah dulu mba Regina tenang," ucapnya lagi.
Aliyha kembali bersiap dan segera keluar, mengajak juga Darel bersamanya.
"Mas, Kenan!" panggil Aliyha saat melihat Kenan yang berjalan kaki menuju gerbang. "Mau ke mana?" tanya Aliyha.
"Ikut kita yuk, Om!" ajak Darel menyelah.
"Ke mana?" tanya Kenan. Sebenarnya dia tidak ingin-ingin ke mana-mana, hanya saja dia ingin beristirahat di pos satpam.
"Jalan-jalan, Om. Makan eskrim," jelas Darel.
"Ump, boleh deh!" jawab Kenan.
"Mas nggak sibuk atau capek?" tanya Aliyha.
"Nggak kok," jawab Kenan tersenyum.
Beberapa saat berlalu Mereka bertiga sudah sampai di taman, yang menjual eskrim. Mereka turun dari mobil, dan duduk di sebuah bangku taman.
"Bun, aku mau rasa strawberry ya!" pintah Darel.
"Ok! Mas Kenan?" tanya Aliyha.
"Apa saja, asal jangan rasa cinta," ucap Kenan asal.
"Apa?" tanya Aliyha bingung.
"Nggak. Sama aja, sama kamu," jawab Kenan lagi dan Aliyha hanya tersenyum dan mengangguk.
Aliyha kembali dari membeli eskrim dan memberikan masing-masing pesanan mereka.
"Ini, Darel. Ini, Mas Kenan." Aliyha menyodorkan eskrim di tangannya kepada kedua pria yang duduk di bangku itu dan Aliyha pun ikut duduk bersama mereka.
__ADS_1
Saat sedang asyik-asyik makan Eskrim dengan sedikit candaan seorang wanita paruh baya, mendekati tempat mereka duduk saat ini.
"Aliyha," sapa wanita itu sinis.
Aliyha memandang kaki hingga kepala orang yang menyapanya.
"Nyonya!" kejut Aliyha melihat ibunya Satya di hadapannya.
"Aliyha, saya ingin bicara sama kamu. Berdua saja!" ujarnya.
Aliyha menatap intens wanita itu dan kemudian mengangguk.
"Dar, kamu tunggu di sini, ya. Sama Om Kenan. Bunda ngobrol dulu sama tante ini," ujar Aliyha dan Darel mengangguk patuh. Dia sudah tahu siapa wanita yang menyapa bundanya, tapi Darel tak mau turut campur dengan urusan para orang dewasa itu, selagi bundanya aman-aman saja.
"Mas, titip Darel, ya."
"Iya. Aku dan Darel di sini kok, nggak kemana-mana." jawab Kenan.
"Baguslah, jika kamu sudah punya pria lain. Setidaknya putraku sadar jika mengetahui ini." ucap Liana dengan sinis.
"Nyonya, kita bicara di sana saja!" pinta Aliyha dengan menunjuk bangku lain yang berada di taman itu.
"Aliyha! Saya ingin meminta sebagai seorang ibu sama kamu!" ujar Liana setelah mereka duduk di bangku taman yang di tunjuk Aliyha tadi.
"Meminta sebagai seorang ibu, kok, nadanya ketus banget!" kesal batun Aliyha yang mendengarnya.
"Katakan saja, Nyonya. Apa mau Anda?" ujar Aliyha yang sebenarnya sudah tahu dengan maksudnya. Terlihat dari ketidak sukaannya pada Aliyha.
"Saya minta untuk kamu meninggalkan Satya. Dia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah!" ucap Liana.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...