Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.49 ~Pernikahan Daniel


__ADS_3

"Siapa itu, Mas?" tanya Aliyha penasaran. Orang itu berpakaian rapi, tapi bicara dengan kenan dengan sangat sopan, bahkan menundukan kepalanya pada Kenan.


"Mau kemana?" tanya Kenan tanpa mau menjawab pertanyaan Aliyha.


"Makan siang," jawab Regina.


Kenan berbalik dan membukakan pintu mobil pada Aliyha dan Regina dan mereka pun masuk dengan perasaan Aliyha yang masih sangat penasaran.


"Mas, Mas tadi belum jawab. Siapa orang tadi?" tanya Aliyha lagi.


"Itu Finot," jawab Kenan.


"Finot itu siapa, Mas?" tanya Aliyha lagi yang merasa tidak puas dengan jawaban Kenan.


"Sudah, Al. Jangan ngomong sama dia terus. Ada aku di sini," ujar Aliyha.


"Ya, ampun Mba! Sama dia aja cemburu," ucap Aliyha.


"Astaga, aku tidak cemburu, ya!" kesal Regina.


"Iya, deh. Aku ngomong sama, Mba aja," ujar Aliyha dengan tersenyum.


"Mba,"


"Hm,"


"Ih, Mba! Ngomongnya kok, kayak dia! Irit," Protes Aliyha.


"Astaga Aliyha! Jangan samakan aku dan dia, jelas-jelas tidak sama," jawab Regina.


"Mba, aku mau tanya,"


"Tanya saja!" pinta Regina.


"Mba, Mba kenal sama pria tadi?" tanya Aliyha.


"Haa! Kenapa kamu tanya itu?"


"Penasaran aja, jangan-jangan sama kayak Mba dan Mas Satya," ujar Aliyha.


"Oh, itu tanyakan saja sama dia!" pinta Regina.


"Tadi katanya jangan ngomong sama dia," protes Aliyha lagi.


"Ya, sudah. Skarang ngomong aja sama dia!" pinta Regina.


"Ya, udah deh. Mas Kenan, juga kayaknya nggak mau ngomong." jawab Aliyha Dan Kenan hanya melirik Aliyha dari spion di depannya tanpa mau bicara.


*


Hari ini, hari di mana Daniel akan menikahi Amel. Di sebuah masjid kecil, Daniel sudah mengundang penghulu dan beberapa saksi.


"Daniel, gimana?" tanya Amel dengan penampilannya yang memakai kebaya warna putih dan rambut yang di sanggul.


"Bagus," jawab Daniel singkat lalu meninggalkan Amel ditempatnya menuju penghulu yang telah siap.


"Iishh!" kesal Amel dengan menghentakan kakinya laku menyusul Daniel yang telah duduk di depan penghulu.


"Boleh kita mulai, sekarang?" tanya pak penghulu pada Daniel.

__ADS_1


"Iya," jawab Amel.


Acara ijab kabul pun di mulai, Daniel menggenggam tangan penghulu di depannya untuk memulai acara ijab kabulnya bersama, Amel.


"Saudara Daniel Ravendra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Ameli..."


"Berhenti!!" pekik seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam masjid.


"Ibu!" kejut Daniel.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Venya pada Daniel yang kini telah berdiri dari duduknya.


"Bu, aku bisa jelasin," ucap Daniel.


"Cepat! Ikut ibu sekarang!" pinta Venya dengan menyeret Daniel keluar dari sana. Membuat semua orang berdiri dan memandang mereka termasuk Amel yang segera menyusul Daniel dan Venya keluar.


"Bu, jangan seperti itu Bu. Di sini banyak orang," ujar Daniel.


"Peduli apa? Kau bahkan ingin menikah diam-diam dengan wanita m*rahan itu dan kau menyuruhku diam!" bentak Venya dengan menunjuk Amel.


"Bu," mohon Daniel.


"Bu, tolong jangan halangi kami, Bu," ujar Amel dengan memohon di samping Venya.


"Jangan panggil aku ibu! Aku bukan ibumu! Dan jangan berharap untuk menjadi menantuku!" bentak Venya dengan emosi.


"Aku sedang hamil cucumu, Nyonya. Anaknya Daniel!" ucap Amel.


"Apa kau yakin?" tanya Venya ketus.


Amel hanya dapat memandang Venya yang melontarkan pertanyaan padanya dengan mata yang terbuka lebar, sedangkan Venya terus membawah Daniel bersamanya.


*


Aliyha masih di kantor, beberapa menit lagi adalah jam pulang dan Regina membantu ibunya bekerja sebagai Presiden Direktur di perusahaan itu.


"Ma, Aliyha boleh tinggal di mansion kita nggak?" tanya Regina pada Marina yang sedang mengetik laptopnya.


"Kenapa seperti itu?" tanya Marina.


"Dia, kan tinggal sendiri di kontrakan, Ma. Dan sebentar lagi anaknya akan datang dari Surabaya," jelas Regina.


"Mama rasa itu tidak perlu. Tapi jika kamu memaksa, baiklah." jawab Marina.


"Mama tau, aku akan memaksa."


"Tentu saja, mama lebih mengenalmu dari dirimu sendiri," jawab Marina dan Regina hanya cekikikan mendengar Marina yang berucap sinis padanya.


Waktu pulang, Aliyha dan Regina turun dari lantai atas menghunakan lift khusus petinggi perusahaan, sedangkan Marina tengah keluar lebih dulu.


Tepat di depan lobby kantor, Kenan tengah menunggu mereka dengan membuka pintu mobil untuk mereka.


Aliyha dan Regina, melangkah menuju mobil yang tengah terbuka. Tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobil yang akan di kendarai Kenan.


Tit tit tit tit


Regina dan Aliyha memalingkan wajah, melihat ke arah mobil yang membunyikan klakson dan kaca di pintu mobil itu mulai terbuka perlahan.


"Ratu!" panggil Marina.

__ADS_1


"Mama," gumam Regina.


"Kamu pulangnya sama mama, biar Aliyha di antar Kenan," ujar Marina.


"Tapi, Ma,"


"Ayo!" ajak Marina.


Regina tahu kalau Marina tak suka di bantah, akhirnya dia pergi ke mobil yang di tumpangi Regina dengan malas.


"Al, aku sama mama aja, ya." ucap Regina.


"Iya, Mba. Ada Mas kenan yang akan antar aku, kok. Nggak usah khawatir," jawab Aliyha.


Dan mereka pun berpisah di menaiki mobil yang berbeda.


*


Beberapa saat berlalu dan akhirnya Aliyha sampai di kontrakannya. Sebelum mobil itu terpakir dengan benar di depan kontrakan Aliyha, sebuah mobil menghadang mereka dari depan dan Aliyha sangat tahu mobil siapa itu.


Aliyha segera turun dari mobil Kenan dan menatap Satya yang turun dari mobil yang menghadang mereka.


Kenan juga ikut turun dari mobil dan menatap Satya dengan biasa saja, namun Satya tidak rasa cemburu yang melanda hatinya membuat dia melemparkan tatapan tajam pada Kenan yang berdiri di samping mobil.


"Mas Kenan, trima kasih sudah mengantar," ujar Aliyha dan Kenan pun segera pergi dari sana.


"Mas Satya," sapa Aliyha.


"Siapa dia?" tanya Satya dengan nada tidak suka.


"Oh, itu. Mas Kenan. Dia supirnya Regina," jawab Aliyha.


"Untuk apa dia mengantarmu?" tanya Satya ketus.


"Hei! Mas Satya cemburu?" ucap Aliyha lalu melangkah memasuki halaman rumahnya.


"Kenapa tidak Aliyha? Dia itu pria, dan kalian berduaan saja! Apa tidak boleh aku cemburu padanya?" ucap Satya marah-marah dengan sangat tidak jelas.


"Mas Satya, untuk apa aku berhubungan dengannya sedangkan hubungan denganmu saja tidak jelas," ujar Aliyha kesal membuat Satya terdiam.


"Al, maaf." ucap Satya lirih.


"Mas, kalau aku mau..." ucapan Aliyha terhenti. Saat ini dia tidak mau berdebat.


"Maaf, Al. Aku terbawah perasaan, aku tidak bisa melihatmu bersama pria lain," ujar Satya seraya mendekap tubuh Aliyha erat.


Satya sangat posesif terhadap Aliyha, dia sangat takut jika Aliyha berpaling darinya karena insident yang terjadi mansionnya.


"Sudahlah, Mas. Aku capek," ujar Aliyha dengan melepas dekapan Satya dan itu berhasil membuat jantung Satya berdetak dengan cepat.


.


.


.


.


Gift, gift, gift😅

__ADS_1


__ADS_2