Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.62 ~Memberitahu Aliyha


__ADS_3

"Perusahaan, Aliyha, Darel atau Amel," gumam Daniel yang berpikir masalah mana yang akan dia selesaikan lebih dulu.


*


*


Di mansion keluarga Regina, saat ini. Aliyha berada di kamar Regina, sedangkan Darel telah di berikan kamar sendiri.


"Mba, katanya tadi mau bicara. Bicara apa, Mba?" tanya Aliyha.


"Al, aku... Aku..."


"Kenapa, Mba?" tanya Aliyha semakin penasaran.


"Aku..., aku sudah bertunangan," ucap Regina pelan dan Aliyha hanya tersenyum mendengarnya.


"Benarkah? Itu baik buat, Mba. Mba tidak mungkin 'kan, akan hidup sendiri selamanya. Mba harus nikah, berkeluarga dan punya anak," ucap Aliyha memberi nasehat pada Regina.


"Tapi aku sudah menganggap Darel seperti anakku sendiri," jawab Regina.


"Mba, itu berbeda. Memiliki dan menganggap memiliki itu, rasanya berbeda. Mba akan mengerti saat merasakannya sendiri."


"Bukan itu yang ingin aku katakan, Al."


"Lalu? Katakan saja, jika Mba ragu dengan keputusan Mba Regina, kita akan mencari solusi, jika memang ada masalah," ucap Aliyha lagi.


"Al, apa kamu akan marah sama aku?" tanya Regina.

__ADS_1


"Kenapa harus marah? Apa ada sesuatu yag aku tidak tau?" Aliyha mulai penasaran dengan ucapan Regina yang berputar-putar, tidak langsung pada intinya.


Regina mulai ragu mengatakannya, mendapat pertanyaan yang penuh curiga dari Aliyha rasanya dia tak bisa mengatakannya, namun mendapat desakan dari Aliyha membuat Regina berpikir kembali.


"Ayo, Mba. Katakan saja! Akan lebih baik aku tau dari Mba, sekarang. Dari pada aku mengetahuinya dari orang lain!" jelas Aliyha. "Aku rasa ada sesuatu yang berhubungan denganku yang Mba sembunyikan," lanjut Aliyha.


"Bukan seperti itu, Al. Aku dan Satya tidak tahu, jika..."


"Satya? Mas Satya? Ada apa, Mba?" desak Aliyha lagi setelah mendengar nama Satya.


"Al, Al. Jangan berasumsi dulu! Aku akan jelaskan?" ucap Regina panik.


"Iya, Mba. Aku nggak beramsumsi sendiri. Aku mau denger aja, dari Mba Regina. Jadi cerita aja, Mba. Jangan ragu, aku akan mencoba mengerti, jika memang ada sesuatu." ujar Aliyha.


Regina menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, entah dia tidak tau akan memulai dari mana.


"Aliyha, aku..., aku...," Regina memulai bicara dengan terbata-bata dan Aliyha, hanya menganggukan kepala memintanya untuk terus bicara. "Aku dan Satya..., Satya...," Regina bergetar saat ingin mengatakan kebenarannya dengan Satya dan Aliyha sedang merasa tegang menunggu kelanjutan cerita dari Regina dengan tatapan yang tak lepas darinya. "Aku dan Satya, telah bertunangan, hiks...."


Petir menyambar pikiran Aliyha, apa yang di dengarnya, mungkinkah dia salah dengar, pikir Aliyha seraya mengucek-ngucek telinga.


"Mba! Apa yang Mba katakan?" tanya Aliyha tidak percaya.


"Iya, Aliyha. Se-sem-malam, Satya dan aku bertunangan di Vila," jawab Regina dengan sesegukan.


Aliyha terdiam, mencoba untuk mencerna perkataan Regina.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka tidak memberitahuku sejak awal, jika mereka punya hubungan?" Batin Aliyha dengan memegang dadanya yang serasa sesak.

__ADS_1


"Aliyha maaf! Aku dan Satya dan tidak tau apa-apa, hiks..." jelas Regina dengan sesegukan.


"Mba, apa yang Mba katakan?" tanya Aliyha.


"Al, Maaf!" ucap Regina dengan bersimpuh di kaki Aliyha.


"Mba, apa yang kau lakukan? Ayo, Mba!" Aliyha mengajak Regina untuk bangkit dan duduk di atas kasur. "Mba, tenang ya. Aku tau pasti Mba dan mas Satya, pasti tidak bermaksud seperti itu."


"Al," ucap Regina lirih.


"Mba, tenang dulu, lalu ceritakan padaku," ujar Aliyha yang mulai tenang.


"Aliyha, kami tidak tahu perjodohan itu antara aku dan dia." jelas Regina.


"Maksud, Mba?"


"Mama sudah merencanakan ini, dan kami tidak tahu sama sekali."


"Lalu bagaimana Mba dan Mas Satya?" tanya Aliyha.


"Maksudmu?" tanya Regina balik.


.


.


.

__ADS_1


.


Hai-hai, ayo comentnya yang enak ya🤣 Kalau nggak enak author bisa tersendakšŸ˜…


__ADS_2