Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.40 ~Memiliki Anak di luar sana


__ADS_3

"Itu, Mba. Jangan-jangan mereka orang jahat!" seru Aliyha pelan dengan menunjuk ke arah beberapa orang pria di luar. Regina pun melihat apa yang di tunjuk Aliyha, dan secara tiba-tiba melebarkan matanya melihat orang-orang itu.


"Ayo, Al!" ajak Regina.


"Tunggu, Mba! Mereka itu siapa, ya?" tanya Aliyha.


"Nggak tau Al. Mungkin orang biasa aja," jawab Regina.


"Mana ada. Orangnya serem-serem kayak gitu, Mba." ujar Aliyha.


"Sudah, ah! Aku mau ngomong," ujar Regina seraya menarik Aliyha untuk duduk bersamanya.


"Apa sih, Mba!" kesal Aliyha karena dia masih memperhatikan beberapa pria yang berada di luar.


"Duduk!" pinta Regina. "Trus, apa tanggapan Satya?" tanya Regina.


"Mas Satya katanya mau balik sekarang ke Jakarta. Katanya, kita nanti nyusul aja. Tapi aku bilang sama Mas Satya kalau dia tidak perlu membayar pinaltiku, Mba. Jumlahnya besar sekali, nggak mungkin aku biarkan mas Satya membayarnya." ujar Aliyha.


"Trus kamu mau kerja?" tanya Regina yang kurang suka jika Aliyha bekerja lagi di perusahaan Daniel.


Aliyha mengangguk menandakan benar pertanyaan Regina.


"Tidak ada pilihan, Mba. 1,5 miliar itu, jumlah yang sangat besar, Mba. Aku nggak mau membebani mas Satya,"


"Baiklah kita akan putuskan setelah kembali ke Jakarta. Kapan kita akan pergi?" tanya Regina.


"Sebaiknya Lusa Mba, waktuku hanya 3 hari. Tapi kita pergi lusa saja, agar aku bisa mempersiapkan diri." ujar Aliyha.


"Ok. Kita akan ngomong lagi sama Satya." ujar Regina.


Pembicaraan mereka berakhir, Aliyha pergi ke kamarnya dan Regina berjalan ke arah pintu, mengintip sedikit ke arah luar dari jendela.


"Mereka sudah pergi," gumam Regina.


"Siapa yang pergi, Mba?" tanya Aliyha saat keluar kamar dan memperhatikan apa yang di lakukannya.


"Ah, emp. Tidak. Bukan siapa-siapa," jawab Regina gugup.


Aliyha membuka kecil gorden tempat Regina mengintip tadi, namun tak ada siapa-siapa di sana. Aliyha menganggukan kepala lalu kembali pergi menuju dapur.


*


*


Saat ini Satya telah sampai di Jakarta, pukul 23.00 malam. Satya masuk ke mansion, namun orang-orang di mansion itu tengah tertidur lelap. Satya terus berjalan menuju kamarnya, entah bagaimana dia harus bicara dengan orangtuanya, sedangkan orangtuanya tidak menyetujui hubungannya dengan Aliyha. Mereka pasti tidak akan setuju, jika dia meminta uang untuk membantu Aliyha.


Satya membaringkan tubuhnya di kasur, mencoba berpikir cara untuk bicara pada orangtuanya, hingga waktu terasa berlalu sangat cepat. Pukul, 02.00 akhirnya mata Satya terasa berat dan dia pun terlelap dengan pemikirannya.

__ADS_1


*


*


Pagi hari di mansion keluarga Daniel.


"Daniel, ibu mau bicara," ujar Venya saat mereka sedang sarapan.


"Bicara apa, Bu?" tanya Daniel.


"Sebaiknya kita bicara setelah sarapan. Ibu mau bicara serius," jawab Venya dan di angguki oleh Daniel.


Selesai sarapan, Daniel dan Venya pergi menuju ruang keluarga.


"Rosa, kau juga ikut!" pinta Venya.


Deg deg deg deg


Jantung Rosa berdetak dengan kencang. Dia tahu apa yang akan Venya bicarakan dengan mereka. Tidak ada pilihan, Rosa pun ikut bersama mereka, sedangkan Dirga tak mau ikut campur dengan urusan mereka. Dia pun sudah tahu apa yang akan istrinya bicarakan.


"Duduklah!" pinta Venya pada Daniel dan Rosa.


"Ada apa, Bu?" tanya Daniel.


"Ibu, ingin bertanya tentang rencana kalian untuk punya anak," jawab Venya.


Daniel terkejut dengan apa yang di tanyakan Venya. Daniel menatap Rosa yang berada di sampingnya.


Daniel sangat tahu dengan kelicikan Rosa. Dia pasti sudah mengatakan sesuatu pada ibunya dan apapun yang dia katakan Venya tidak akan mempercayainya.


"Bu, Daniel rasa belum saatnya untuk itu." jawab Daniel.


"Apanya yang belum saatnya?" tanya Venya ketus.


"Bu, Daniel belum siap, bahkan Rosa pun belum siap untuk itu," jawab Daniel.


"Apa, Rosa! Jangan bohong Daniel. Kau yang tidak ingin punya anak dan kau bilang Rosa belum siap. Ibu sudah bicara dengan Rosa, dan kau yang tidak ingin punya anak." jawab Venya, memarahi Daniel.


"Rosa. Apa yang kau katakan pada ibu?" ucap Daniel dengan menatap nyalang pada Rosa yang berada di sampingnya.


"Mas, aku hanya berkata apa adanya. Tidak lebih," jawab Rosa yang pura-pura merasa tertindas.


"Sudahlah Daniel. Ibu harus katakan padamu, jika kamu tidak ingin punya anak seluruh harta kita. Akan ibu ambil alih kembali," ucap Venya tegas.


Daniel menjadi emosi, karena saat ini otak ibunya sudah tercuci oleh Rosa.


"Bu, pikiran Ibu sudah di cuci oleh Rosa sampai Ibu tidak percaya pada anak sendiri.

__ADS_1


"Daniel! Jaga mulutmu! Kau pikir Ibu anak kecil yang bisa dikendalikan oleh orang lain!" marah Venya.


"Pokoknya, kalau kau tidak memutuskan untuk punya anak bersama Rosa, ibu tidak main-main dengan apa yang ibu katakan. Keluarga kita akan diguncing orang Daniel! Sudah tiga tahun menikah dan kalian belum punya anak juga." Venya sangat geram dengan Daniel saat ini.


"Bu, ibu percaya atau tidak. Tapi Rosa yang tidak ingin punya anak, dia tidak..."


"Mas!" teriak Rosa cepat. Dia takut jika kebohongannya terbongkar, maka dari itu dia harus menghentikan Daniel bicara.


"Apa! Itu kenyataannya!" jawab Daniel.


Mata Rosa berkaca-kaca, namun bukan karena menyesal, melainkan mencoba menarik simpatik dari Venya.


"Sudahlah, Rosa! Aku muak. Kau yang tidak ingin punya anak, karena kau ingin kebebasan!" ujar Daniel.


Rosa menangis, walau airmatanya yang sedikit sulit untuk di jatuhkan tapi dia sudah menyiapkan segalanya.


Rosa berbalik, menyembunyikan wajahnya dari Daniel dan Venya lalu dengan cepat dia mengambil botol tetes mata di kantong bajunya dan menyemprotkan ke matanya.


"Daniel!" pekik Venya setelah melihat Rosa menangis dengan air mata palsunya.


"Bu! Daniel sudah muak dengan semua ini! Rosa itu licik, Bu! Ibu yang tidak bisa melihat wajah aslinya," ujar Daniel di depan Venya.


Plak


Tiba-tiba saja wajah Daniel sudah tertampar oleh tangan Venya.


"Baiklah, Bu. Ibu ingin punya anak ,kan. Tidak perlu dari Rosa, karena aku sudah memiliki anak di luar sana!" ucap Daniel lantang.


Plak


"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan Daniel!" Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Daniel.


Daniel menatap Venya dan juga Rosa dengan tajam. Dia tidak menyangka jika, ibunya sangat terpengaruh dengan Rosa. Hingga tidak bisa percaya lagi dengannya, sedangkan Rosa masih berpura-pura menangis terseduh dengan duduk di sofa.


"Hati-hati dengan bicaramu Daniel. Itu akan menjadi aib untuk kita." ujar Venya emosi.


"Itu benar, Bu. Aku memiliki anak di luar sana," ujarnya lirih seraya duduk kembali di Sofa. Dia sudah tidak bisa lagi berdebat dengan Venya.


"Daniel!" pekik Venya lagi.


"Itu benar! Daniel memiliki anak dengan wanita lain!" ucap seorang wanita yang tengah masuk ke dalam mansion.


.


.


.

__ADS_1


.


Tombol hatinya di tekan, ya❤


__ADS_2