Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.37 ~Tidak butuh


__ADS_3

Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil, dan berangkat menuju rumah orangtua Aliyha.


Setelah beberapa saat mengendarai mobil, akhirnya Regina memberhentikan mobil itu di depan rumah orangtua Aliyha.


"Kita sudah sampai, Nak." ujar Salma pada Darel.


"Ayo," ajak Salma seraya membuka pintu untuk turun dari mobil.


Mereka berlima turun dari mobil dan melangkahkan kaki menuju rumah yang berada di hadapan mereka.


Aliyha merasa sangat tegang untuk bertemu ayahnya, jantungnya berdetak dengan cepat. Dengan meremas jemari Refika, Aliyha mencoba menghilangkan ketegangannya.


Regina memanduh jalannya Aliyha bersama dengan Refika, menuju rumah. tak terlihat siapapun di depan rumah itu, tapi di dalamnya Rahman sedang mencegah dua pria yang akan keluar menyambut kedatangan Aliyha.


"Jangan ada yang keluar! Tetaplah di tempat kalian." ujar Rahman yang melihat reaksi mereka setelah mendengar mobil yang berhenti di depan rumah.


Satya dan Daniel kembali duduk saat mereka akan mencoba berdiri dari kursi masing-masing.


Aliyha menatap rumah yang dia tinggalkan beberapa tahun lalu, Aliyha meneteskan airmatanya saat mengingat di mana langkah kakinya keluar dari sana.


"Ayo," ajak Salma dengan menggantikan posisi Refika.


Aliyha menghapus airmatanya lalu melangkah menuju depan rumah itu, namun kakinya berhenti saat melihat ayahnya duduk di sofa yang terlihat dari luar rumah.


"Tidak apa-apa," ujar Salma seraya mendorong bahu Aliyha untuk berjalan.


Rahman keluar saat melihat Aliyha tengah berada di depan.


"Bapak! Maafin Aku, Pak. Maafin Aliyha," ujarnya dengan terisak dan berlutut di hadapan Rahman.


Dengan lembut Rahman meraih bahu anaknya, mengajaknya berdiri dan memeluk erat putri satu-satunya yang pernah di usirnya dari rumah.


"Maafkan bapak, Nak. Bapak sudah tega sama kamu, tapi bapak tidak pernah melupakanmu. Bapak hanya tidak mau kau di hina orang-orang sekitar sini, bapak tidak tega mendengarnya." ucap Rahman dengan terisak.


"Aku tau, Pak. Bapak baik sama aku, aku ngerti, kok." jawab Aliyha dengan melepas dekapan antara mereka.


"Pak. Ini cucu kita, Pak," ujar Salma yang telah ikut menitikan air matanya.


Rahman beralih pada Darel, yang tengah berdiri di samping Salma. Dia memeluk anak itu erat.


"Maafkan kakek, Nak." ujar Rahman dan Darel tak menjawab apapun.


Sedangkan di dalam rumah, Satya dan Daniel sudah tidak sabar untuk bertemu Aliyha, namun mereka dilarang oleh Rahman untuk keluar sebelum Aliyha sendiri yang masuk ke dalam rumah.


"Ayo, kita masuk. Semuanya," ajak Rahman dengan merangkul bahu Aliyha untuk masuk ke dalam rumah.


Baru dua langkah yang Aliyha pijakan di lantai dalam rumah itu, dia sudah di kejutkan oleh dua pria yang tengah duduk di sofa samping pintu.


Satya dan Daniel berdiri melihat Aliyha yang telah masuk dalam rumah.

__ADS_1


"Al/Aliyha," sapa Satya dan juga Daniel.


Aliyha memandang semua orang yang berada di belakangnya termasuk Rahman yang berada di sampingnya seakan bertanya, apa mereka merencanakan semua ini.


"Al, sebelum aku dan Satya tiba di sini, Tuan Daniel juga sudah berada di sini. Kami datang untuk mencarimu," jelas Regina.


"Duduk dulu, Nak!" pinta Rahman.


"Pak," ucap Aliyha ingin menolak.


"Kita harus menyelesaikan masalahmu sekarang. Kau tidak boleh berlarut-larut dengan masalah ini. Lebih cepat diselesaikan akan lebih baik, agar tidak berdampak buruk." ujar Rahman.


"Bu, bawah cucu kita ke kamar Aliyha." pinta Rahman dan Salma segera melakukannya.


"Aliyha. Apa benar pria ini adalah ayah dari anakmu?" tanya Rahman setelah mengajak Aliyha duduk bersama mereka.


Aliyha menatap Daniel, juga Satya yang berada di sampingnya kemudian mengangguk pelan.


"Maafin Aliyha, Pak. Aliyha tidak jujur pada Bapak," ujarnya.


"Sudahlah. Lupakan masa lalu dan sekarang waktunya menata masa depan." jawab Rahman.


"Lalu pria yang berada di sampingnya?" tanya Rahman lagi.


"Dia...,"


Satya menatap Aliyha dengan penuh pengharapan, dia sangat gugup menunggu jawaban Aliyha. Entah apa yang akan di katakannya, apa mungkin Aliyha masih mencintai Daniel?


"Dia, Mas Satya. Mas Satya yang membantuku selama ini, Pak. Dan sekarang Mas Satya dan Aliyha telah menjalin hubungan." jawab Aliyha.


Hancur sudah benak Daniel, dia berharap jika Aliyha tak mengatakan jika Satya adalah kekasihnya, namun kenyataannya tidak. Dan Satya mengembangkan senyumnya, dia merasa menang dari Daniel karena telah diakui oleh Aliyha.


"Aliyha." panggil Daniel dan Aliyha hanya menatapnya sebentar tanpa menjawab panggilannya.


"Al, aku datang untuk mencarimu. Untuk semua kesalahanku, aku minta maaf. Aku ingin bertanggung jawab padamu dan Darel," ujar Daniel.


Regina dan Refika yang mendengarkan ucapan Daniel menatapnya dengan sinis, seakan tidak suka dengan ucapannya.


"Coba dulu kamu tidak meninggalkan Aliyha!" geram Refika dengan bergumam.


"Ya, benar. Aku nggak suka kalau Aliyha baik dengannya!" ujar Regina yang mendengarkan gumaman Refika dan mendapatkan anggukan.


Dua wanita yang duduk tak jauh dari mereka terlihat sangat kesal pada Daniel.


*


*


Di mansion Keluarga Daniel, Rosa tengah mendapatkan nasihat dari Venya mengenai mempunyai anak.

__ADS_1


"Ros, kapan kalian merencanakan punya anak?" tanya Venya.


"Maaf, bu. Mungkin mas Daniel belum menginginkannya. Mas Daniel menolak untuk punya anak saat ini," jawab Rosa bohong.


"Nanti ibu akan bicara dengan Daniel. Kalian sudah tiga tahun menikah, apa kata orang nanti. Kalian belum punya hingga sekarang," ujar Venya membuat Rosa sedikit merasa tidak nyaman.


"Bu, biar Rosa saja yang bicara dengan mas Daniel. Rosa nggak mau jika Ibu berdebat dengan mas Daniel, jadi biar Rosa saja yang bicara, ya Bu," minta Rosa yang sebenarnya dia tidak mau jika Daniel mengatakan pada Venya bila dia yang tak mau punya anak.


"Baiklah. Katakan pada Daniel, jika dia masih tak mau punya anak, seluruh harta yang mama punya, tidak akan mama berikan padanya!" pinta Venya membuat Rosa menyalahkan bola matanya. Daniel tidak akan mempuyai pengahasilan lagi, jika Venya mengambil alih semua hartanya.


*


*


Aliyha yang mendengar ucapan Daniel, hanya diam tak menjawab apapun. Dia tak memberi jawaban pada Daniel, membuat Satya was-was. Seharusnya Aliyha tegas pada Daniel, tapi tidak. Aliyha seperti memberi harapan pada Daniel.


"Jawablah Aliyha. Kamu tidak bisa memberi harapan pada kedua pria ini. Kau harus memutuskannya, agar semuanya selesai sekarang." pinta Rahman dan mendapatkan anggukan dari Aliyha.


"Apa yang kau pikirkan? Kau ingin bertanggung jawab sekarang. Aku sudah tidak butuh lagi!" ucap Aliyha tegas.


"Pikirkanlah lagi Aliyha. Darel membutuhkan keluarga yang lengkap, dia juga butuh aku, bukan hanya kamu!" ujar Daniel.


"Aku juga bisa menjadi ayah untuk Darel!" ucap Satya tegas.


"Tapi, aku ayah kandungnya!" bantah Daniel.


"Lalu istrimu? Apa kau ingin menjadikan aku istri kedua, atau kau akan membuangnya? Sangat egois!" ucap Aliyha ketus.


Sesaat tadi, Daniel melupakan jika dia telah menikah, hingga dia berpikir untuk menikahi Aliyha.


"Kami menikah karena dijodohkan, Al. Dan pernikahan kami tidak harmonis," jelas Daniel.


"Lalu kau ingin meninggalkannya? Tidak. Aku tidak mau." ucap Aliyha.


"Pikirkan Darel, Al. Dia butuh ayah dan aku akan menjadi ayah yang terbaik untuknya!" ucap Daniel meyakinkan Aliyha.


"Tidak! Aku tidak butuh kau!" ucap Darel lantang setelah keluar dri kamar Aliyha.


.


.


.


.


Comentnya yang positif, ya😊


🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2