
"Baik, Pak. Re, kamu bawah mobil aja," ujar Satya seraya menyerahkan kunci mobilnya pada Regina dan disambut dengan baik oleh Regina.
Regina pergi bersama Salma ke arah yang di tujukan padanya, hingga pada sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu besar, mereka berhenti tepat di depannya.
"Rumah siapa ini, Bu?" tanya Regina penasaran.
"Ini rumah Refika. Sahabatnya Aliyha. Sebelum dia berangkat ke Jakarta, Aliyha tinggal di sini karena di usir oleh bapaknya," jelas Salma dan di angguki oleh Regina.
"Ayo," ajak Salma pada Regina.
Mereka turun dari mobil menuju kontrakan Refika. Pintu rumah itu tidak terkunci menandakan pemilik rumah itu berada di sana.
"Sore!" sapa Regina.
Kedua pasang mata yang berada di ruang tamu rumah itu melirik ke arah pintu depan yang tengah berdiri dua orang wanita.
"Ibu! Mba!" ucap Aliyha terkejut dengan kedataangan mereka.
Refika segera berdiri dari duduknya menyambut kedatangan ibu Aliyha dannseorang wanita yang dia tak mengenalnya.
"Slamat sore. Mari masuk Bu, Mba." ajak Refika.
"Saya buatkan minum dulu," ucap Refika lalu melangkah ke dapur.
"Ibu," sapa Aliyha dengan mata berkaca-kaca.
"Aliyha," Salma segera memeluk erat putrinya. Dia sangat merindukan Aliyha dan sekarang dia akan menyalurkan rasa rindunya pada anak yang hampir sepuluh tahun ini dia rindukan.
"Bu, maafin Aku, Bu." ujar Aliyha.
"Kamu kemana saja? Kamu tidak pernah memberi kabar sama ibu," ujar Salma dengan air mata yang tengah menguncur deras, begitu pun dengan Aliyha.
"Maafin Aku, Bu," ucapnya.
"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah? Setelah selama ini kamu pergi dan tak ada kabar, kenapa tidak pulang ke rumah?" ucap Salma seraya melepas pelukan mereka.
"Maaf, Bu. Aku pikir Bapak dan Ibu, tidak akan menerimaku dan putraku. Jadi aku takut untuk kembali ke rumah." jawab Aliyha.
"Bapak meminta ibu untuk membawahmu pulang," ujar Salma.
"Di mana cucu, ibu?" lanjut Salma bertanya.
"Ada di kamar," jawab Aliyha.
"Ini minumnya." Refika meletakan dua cangkir teh buatannya di meja.
"Trima kasih," Ucap Regina.
Sesaat melepas rindu dengan ibunya, Aliyha lupa jika di tempatnya juga terdapat Regina yang duduk diam sejak tadi.
__ADS_1
"Mba," sapa Aliyha dan beralih memeluk wanita yang berada di sofa lain, dengannya.
"Hiks..., kau tega sekali. Kau pergi tidak mengajakku... hiks..." tangis Regina pecah setelah mereka berpelukan dengan penuh kasih.
"Maafin aku, Mba." ucap Aliyha dan mendapat anggukan dari Regina.
"Kenalkan, Mba. Ini sahabatku, namanya Refika. Dia adalah sahabat terbaikku dan Fik, ini Mba Regina. Aku tinggal Jakarta sama Mba Regina, ketika pertama sampai hingga saat aku kembali ke sini. Jika aku memiliki seorang teman lagi, aku ingin yang bernama Renika, Rebika, Resika atau apa lagi yang seperti itu," ujar Aliyha serius.
"Kenapa harus seperti itu?" tanya Regina.
"Karena yang seperti itu adalah orang yang baik sama aku," jawab Aliyha tersenyum.
"Nggak semuanya, kali," bantah Refika lalu ikut duduk di sofa samping Salma.
"Aliyha, bapak memintamu untuk ke rumah, di sana," ucapan Salma di sela oleh Regina seakan tak ingin Salma meneruskan ucapannya.
"Kau tau Aliyha, aku langsung ke rumahmu setelah sampai di sini. Aku pikir kau berada di sana, tapi ternyata tidak." ucap Regina.
Salma memandang Regina setelah dia berucap pada Aliyha seakan mempertanyakan sesuatu dan Regina mengerti itu lalu menggelengkan kepalanya pada Salma.
"Ayo, Nak. Kita pulang, bapak menunggumu di rumah." ujar Salma.
Aliyha memandang Refika seakan meminta saran padanya dan mendapatkan anggukan dari Refika.
"Baiklah, Bu. Tapi apakah Darel juga harus ikut?" tanya Aliyha.
"Baik. Aku panggil Darel dulu, ya. Tapi Refika, ikut juga, ya, ke rumah," ucap Aliyha lagi.
"Iya, tidak mungkin meningggalkannya sendiri di sini," jawab Regina.
"Aku sudah biasa, Mba. Tinggal sendiri,"
"Tidak ada bantahan, kamu juga ikut!" pinta Regina dan Refika hanya bisa menatap wanita yang datang ke rumahnya dan sekarang memerintahnya seperti seorang bos.
"Ayo, bersiap!" pinta Regina lagi, lalu mereka berdua hanya bisa mengikuti perintahnya.
"Dar, ayo keluar. Di luar ada nenekmu," ucap Aliyha.
"Siapa? Nenek?" tanya Darel seakan tidak mengerti.
"Iya. Ibunya Bunda," jawab Aliyha.
"Benar?" Aliyha mengangguk mendengar pertanyaan Darel.
"Kita akan ke rumah nenek, di sana juga ada kakekmu. Rumah itu, rumah bunda juga dan juga rumahmu," jelas Aliyha.
Tersunging senyuman di bibir anak itu, namun di sembunyikan olehnya. Darel hanya mengangguk dengan ucapan Aliyha padanya.
Setelah bersiap-siap, Aliyha dan Refika keluar dari kamar. Sedangkan Salma dan Regina tengah menunggu mereka.
__ADS_1
"Ayo," ajak Regina.
"Mba, aku penasaran. Mba tau alamatku dari siapa?" tanya Aliyha sebelum mereka keluar.
"Udah. Nggak usah mikirin itu! Ayo pergi," Regina segera menggandeng tangan Aliyha untuk membawahnya.
"Tunggu Mba!" Cegah Aliyha dan Regina memalingkan wajahnya memandang Aliyha. "Darel, Mba!" lanjut Aliyha.
"Oh, iya. Aku lupa," ucap Regina seraya menepuk jidatnya pelan.
"Dar, Darel. Ayo, kita mau berangkat!" panggil Aliyha.
Darel keluar dari kamar dan mata Salma tertuju pada anak laki-laki itu.
"Ya, Alloh! Ini cucu ibu? Sangat mirip dengan bapaknya," ujar Salma terkejut melihat wajah anak itu.
Semua mata tertuju pada Salma. Bagaimana bisa Salma kenal dengan Daniel, padahal fia tidak pernah bertemu dengan Daniel, pikir Aliyha juga Refika, sedangkan Regina melotot pada Salma seakan memberi tahu jika dirinya salah bicara.
"Eh, maksud ibu kakeknya," ucap Salma lagi.
Aliyha dan Refika saling tatap lega. Mereka mengira jika Salma telah bertemu dengan Daniel yang sebenarnya pemikiran mereka itu benar.
sedangkan Regina puas karena Salma mengerti dengan arti tatapan matanya, dia tahu jika Aliyha saat ini tak ingin bertemu dengan Daniel, maka dari itulah dia mencegah Salma untuk mengatakan bahwa Daniel dan Satya menunggu di rumahnya.
"Ayo," ajak Regina tak berlama-lama lagi. Dia ingin segera menyelesaikan urusan Aliyha.
"Ayo, cucu nenek," ajak Salma pada Darel dengan memgandeng tangannya dengan tersenyum. Darel pun ikut tersenyum, kini dia akan mendapatkan keluarganya, walau tanpa Daniel. Lagi pula ayah sudah menikah, tak bisa di harapkan lagi, pikir Darel.
"Mba. Kau bawah mobil?" tanya Aliyha bingung, sejak kapan dia bisa bawah mobil.
"Iya. Dulu, aku pernah ikut kursus mengemudi, tapi simnya sekarang sudah kadaluarsa." jawab Regina.
"Astaga! Selama ini aku tidak tahu," ucap Aliyha.
"Kau saja yang sibuk dengan pekerjaanmu. Darel dan Satya tau, kok." ucap Regina dan mendapatkan anggukan dari Darel.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil, dan berangkat menuju rumah orangtua Aliyha.
.
.
.
.
Likenya ditinggalin, ya😅
Jangan di bawah terus🤣
__ADS_1