
"Aliyha maaf! Aku tidak bisa menentang papi. Aku lemah! Aku akan menerima keputusanmu, dan akan mengikuti perintah orangtua itu. Untukmu. Aku tidak mau kau dalam bahaya!" ucap Satya yang terisak di sudut kamarnya.
*
Pagi hari, Aliyha sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja, begitu pun Darel yang sudah bersiap untuk sekolah.
"Mba Regina, ke kantor?" tanya Aliyha saat melihat Regina turun dari tangga kamarnya.
"Iya," jawab Regina lirih.
"Ayo, Mba. Kita berangkat sama-sama aja," ajak Aliyha dan Regina mengangguk lusuh.
"Loh, Pak. Bapak siapa?" tanya Aliyha yang melihat seorang pria paruh baya membuka pintu mobil yang biasa di kendarai Kenan.
"Saya supir baru, Non," jawab pria itu.
"Bukannya mas Kenan yang biasa bawah mobil ini, ya? Mas Kenan-nya kemana?" cecar Aliyha pada Supir itu.
"Aduh, maaf, Non. Saya kurang tau. Tapi kata nyonya, supir yang lama itu sudah kembali ke rumahnya dan sekarang tidak bekerja lagi," jawabnya, setaunya saja.
"Haa! Mas Kenan udah pulang?" kejut Aliyha.
"Iya, Non. Nama saya supri. Non bisa panggil saya begitu." ucapnya.
"Oh! Saya panggil Bapak saja, nggak enak manggil nama aja," jawab Aliyha.
__ADS_1
"Terserah, Nona-Nona aja, sama Aden. Mari," ajak Supri untuk menaiki mobil.
"Trima kasih, Pak. Ayo Mba."
Mobil telah di jalankan, namun ketiga orang sain pak Supri yang berada di dalamnya hanya diam tanpa suara, hingga Regina yang sedang malas untuk bicara tak tahan melihat raut Aliyha dan Darel yang terlihat tidak bersemangat sama sepertinya.
"Al, Al, Al!" panggil Regina dengan menggoyang badannya karena Aliyha tak mendengar.
"Ya! Kenapa, Mba?" tanya Aliyha terkejut.
"Kamu kenapa sih?" tanya Regina bingung.
"Ada apa? Nggak ada!" jawab Aliyha.
"Kamu bengong. Kenapa? Tadi pas keluar mansion, bersemangat sekali. Sekarang malah kayak benang kusut mukanya! Darel juga," ucap Regina dan Darel hanya menatap mereka sebentar.
"Nggak kenapa-kenapa, Aunty!" jawab Darel.
"Ibu sama anak kompak, ya!" kesal Regina karena tak mendapat jawaban dari pertanyaannya.
Aliyha kembali diam, menatap luar jendela. Darel pun begitu, diam menatap layar ponselnya yang sedang di geser-geser, entah apa yang dia lakukan.
"Mas Kenan, kok, pergi nggak bilang-bilang, ya? Padahal hatiku baru saja berlabuh padanya, tapi kini dia menghilang," batin Aliyha.
"Om Kenan, sudah pulang ke rumahnya. Apa aku ke rumahnya saja, ya?" Darel pun juga sedang membatin, memikirkan Kenan yang pergi dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Dar, pulang sekolah telvon bunda, ya. Nanti kalau jam istirahat bunda jemput," ucap Aliyha saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sekolah.
"Maaf, Non. Tapi, bapak juga di tugaskan untuk menjemput Aden, jam pulang sekolah nanti." selah Supri.
"Nyonya Marina?" tanya Aliyha meyakinkan.
"Iya, Non."
"Oh, ku kira mas Kenan," gumam Aliyha yang masoh di dengar oleh Regina.
"Apa? Kenan?" tanya Regina dengan melotot. "Apa maksudmu? Kenapa harus Kenan yang memerintahnya?" Cecar Regina dengan segala pertanyaannya.
"Ya, enggak Mba. Biasanya, kan mas Kenan yang jemput Darel." Elak Aliyha.
"Biasanya? Nggak-nggak Aliyha. Kenan baru kemarin, ya, jemput Darel sekolah! Jangan-jangan kamu sama Kenan..., selingkuh!" ucap Regina dengan menutup mulutnya yang terbuka lebar. "Kalian..., karna itu kamu minta aku ngelanjutin perjodohan sama Satya. Nggak aku sangka, Aliyha..."
"Nggak gitu juga, Mba ceritanya!" jawab Aliyha.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...