
"Aliyha, kamu bisa menjelaskan pada kami," ucap Satya setelah mereka duduk bersama di depan sebuah meja di sudut restoran.
Aliyha menundukan kepalanya, ia sangat malu saat ini. Entah dari mana dia akan memulai ceritanya, Aliyha sangat bingung hingga airmatanya menetes kembali di pipinya.
"Maaf," ucap Aliyha lirih.
"Kenapa meminta maaf? Kau tidak salah, tapi keadaanmu sekarang membuat kami bingung." ucap Regina.
"Mba..." Tangis Aliyha pecah di pelukan Regina, dia tak sanggup menghadapi semuanya. Saat ini baru Satya dan Regina yang tau keadaannya, tak lama lagi orang lain juga akan tahu dan dia harus siap mental untuk itu.
"Aliyha... apa kamu sudah menikah?" tanya Satya dengan menatap Aliyha intens.
Aliyha menggelengkan kepalanya dan Satya juga Regina hanya saling tatap, masalahnya sekarang semakin rumit. Aliyha hamil tanpa suami, pikir mereka.
"Lalu?" tanya Satya lagi, dan Aliyha hanya terdiam tak menjawab apa-apa.
"Bicaralah. Siapa tahu kami bisa msmbantumu," ucap Regina seraya mengelus pundak Aliyha.
Dengan masih sesegukan, Aliyha menceritakan kisahnya. Regina dan Satya hanya mendengarkan apa yang di ceritakan Aliyha. Di mulai saat dia duduk di bangku kelas 12, dan pria bernama Daniel mendekatinya. Pria paling populer di sekolahnya. Hampir setelah menjalin hubungan dengan Daniel, pria itu mengajaknya ke sebuah pesta ulang tahun dari sahabat Daniel, yaitu Riko. Di sebuah vila di puncak, mereka menginap di sana sambil membuat pesta untuk Riko dan di sanalah Daniel merenggut mahkotanya, Aliyha terdiam hingga Regina kembali bertanya padanya.
"Lalu?" tanya Regina dengan penasaran.
"Dia pergi, beberapa jari sebelum acara kelulusan di umumkan." jawab Aliyha dengan air mata berderai.
Regina meraih Aliyha masuk ke dalam pelukannya, dia sangat tahu apa yang di rasakan Aliyha saat ini, karena dia pun pernah mengalami apa yang di alami oleh Aliyha. Tapi ada perbedaan besar antara kisah mereka, Regina di tinggal pergi tidak seperti keadaan Aliyha saat ini, yang tengah mengandung anak dari bajingan itu, pikirnya.
"Hiks... Aku di usir dari rumahku, Mba," lanjut Aliyha.
"Kenapa kau tidak mencarinya dan meminta pertanggung jawabannya?" tanya Satya.
Aliyha bangkit dari dekapan Regina. "Aku tidak tahu dia di mana sekarang," jelas Aliyha.
"Maksudmu?" Satya mengerutkan dahinya, mencari jawaban yang pasti dari Aliyha.
"Di Surabaya, dia tinggal seorang diri di apartementnya dan dia kembali ke Jakarta ini, tanpa sepengetahuanku. Dan aku juga tidak tahu di mana dia, di kota yang sebesar ini." Hati Aliyha kini mulai mereda saat telah menceritakan kisahnya pada Regina dan juga Satya. Setidaknya dia tidak perlu khawatir lagi untuk menyembunyikan keadaannya saat ini, namun ada satu yang dikhawatirkannya saat ini, yaitu pekerjaannya. Mungkin setelah ini dia harus kembali ke Surabaya.
"Kisahmu sangat rumit Aliyha. Ke mana harus mencari laki-laki itu, jika kau sendiri tak tahu apa-apa tentang dirinya. Huuf..." ucap Satya.
"Aku sudah mengiklaskannya. Aku tak akan mencarnya lagi. Dia sudah pergi, artinya dia tak menginginkan aku lagi. Aku akan hidup sendiri," jelas Aliyha.
*
__ADS_1
*
Setelah malam yang panjang itu berlalu, pagi ini Aliyha tengah membereskan barang-barangnya.
"Aliyha..." sapa Regina dengan terkejut.
"Aku akan pergi, Mba." Aliyha mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari dan memasukan ke dalam koper miliknya.
"Apa! Kenapa?" tanya Regina heran.
"Setelah kejadian semalam, yidak mungkin aku masih bekerja di sini, Mba. Aku pasti akan di pecat, dari pekerjaanku. Untuk itu, aku sudah bersiap-siap." jelas Aliyha.
"Siapa yang mengatakan itu? Apa Satya yang mengatakannya?" tanya Regina.
"Tidak, Mba. Tapi pasti akan terjadi," ujar Aliyha.
"Tunggu, kalau tidak ada yang mengatakannya. Kenapa kau harus pergi? Letakan itu Aliyha, aku akan bicara dengan Satya." ucap Regina.
"Sudahlah, Mba. Aku sudah tidak punya harapan lagi, sebaiknya aku pergi sekarang." Aliyha tak sanggup jika orang-orang tahu dia di pecat gara-gara hamil di luar nikah.
"Kau tidak akan mendengarkanku! Akan ke telvon Satya dan bertanya padanya." ucap Regina.
Regina meraih ponselnya dan mengetik beberapa nomor di sana.
Tut tut tut tut
"Apa yang kau katakan? Apa kau sudah gila?" Satya yang baru saja menempelkan ponsel di telinganya, sangat geram dengan wanita yang satu ini. Tanpa salam dan basa-basi Regina langsung bicara ketus padanya.
"Ya, sekarang dia akan pergi. Dan semua karenamu," kesal Regina.
"Aku akan ke sana," jawab Satya cepat lalu menutup panggilan di ponselnya.
Tut tut tut tut
"Mba, kenapa marah sama mas Satya?" tanya Aliyha heran. Hanya Regina yang berani seperti itu, sedang yang lain sangat menghormatinya.
"Sudahlah. Dia aka datang, dan kita akan dengar darinya." Regina melepas ponselnya di atas tempat tidur.
Tak berapa lama, Satya pun sudah berada di mess para karyawan wanita itu.
"Ayo. Tidak baik bicara di sini, kita ke sana saja." ucap Satya menunjuk sebuah bangku yang tak jauh dari mess karyawan wanita itu.
__ADS_1
"Wah..., Pak Satya sangat perhatian dengan karyawannya!" ucap salah seorang pria yang tinggal di mess pria di sana.
Pria itu bicara dari balik pagar besi yang membatasi antara mess karyawan pria dan mess karyawan wanita dia sana.
"Apa maumu? Apa kau juga mau di beri perhatian!" Bukan Satya yang menjawab ucapan pria itu, melainkan Regina.
Pria itu segera berlalu dari sana, karena mendapat tatapan tajam dari satya dan bentakan Regina tak bisa di abaikan, mereka tahu seperti apa Regina jika marah. Wanita yang mempunyai keahlian Taekwondo itu, tak segan-segan memberi pelajaran pada orang yang yang mengganggu ketenangannya.
"Aliyha, katanya kamu mau pergi. Apa kamu tidak berniat untuk bekerja di sini?" tanya Satya setelah mereka duduk.
"Apa aku masih bisa bekerja? Mas Satya memecatku?" tanya Aliyha serius.
"Kata siapa? Masalahmu, adalah masalah pribadi, bukan masalah kantor yang mengharuskan kamu untuk berhenti dari pekerjaanmu," jelas Satya.
"Aku kira, aku kira aku akan di pecat setelah ketahuan hamil." Airmata Aliyha sudah memganak sungai, terharu dengan perhatian dua orang yang di sampingnya saat ini.
"Jangan mewek! Aku kesal, melihat wanita yang suka menangis!" ucap Aliyha.
"Hehe... Mba Regina, sangat ketus, tapi baik." Aliyha terkekeh mendengar ucapan Regina. kini mereka berdua berpelukan melepaskan rasa gundah di hati masing-masing.
"Urusanmu, aku akan membantu. Tapi kau harus kuat, untuk apa yang terjadi selanjutnya." ucap Satya.
"Trima kasih, Mas Satya mau ngertiin keadaanku," ucap Aliyha.
"Benar, setelah ini banyak kejadian yang akan terjadi padamu dan kau harus kuat batin dan mental untuk itu. Kau mengerti, kan?" sambung Regina.
Aliyha mengangguk menatap Regina. Dia sungguh beruntung mendapatkan orang-orang yang baik di sekelilingnya, walau tidak semuanya baik. Aliyha kembali meraih bahu Regina memberikan membuat pelukan hangat seperti kakak dan adik yang saling mengerti.
"Apa aku tidak mendapat pelukan? Kalian sangat suka berpelukan, membuatku iri saja." Satya berdiri dari duduknya seraya merentangkan tangan, namun hanya sebuah kepalan tinju yang di arahkan Regina padanya dengan tatapan tajam membuat Aliyha terkekeh geli melihat keduanya yang tak pernah akur.
"Baiklah. Kau sangat galak, itu kenapa kau menjomblo hingga sekarang," ucap Satya meledek Regina.
"Apa katamu!" Regina melotot mendengar ucapan Satya padanya.
"Aku, pergi dulu. Aku ingin mengurus mak lampir, dulu." ucap Satya, berlalu sambil mengantongi telapak tangannya.
.
.
.
__ADS_1
.
Votenya mana nih? Ditungguin tau sama author😁