Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.54 ~Terkaya se-asia


__ADS_3

"Bagaimana caraku makan itu?" Batin kenan yang melihat bebek panggang yang berada di piring para pelanggan yang makan di sana.


"Ayo, duduk!" pinta Aliyha dan Kenan duduk dengan kikuk di sebelah Aliyha.


"Mas, ada apa sih?" tanya Aliyha yang melihat Kenan sangat aneh. Seorang pengawal biasa saja maunya makan di restoran, boros sekali, pikir Aliyha.


Beberapa saat kemudian pesanan Aliyha sudah siap dan telah berada di hadapan mereka.


"Silahkan," ucap Abang penjual itu.


"Trima kasih," jawab Aliyha.


"Ayo, Mas di makan!" pinta Aliyha dan mulai memakan makanannya sendiri, namun tidak dengan Kenan. Dia hanya menatap sepiring nasi dan bebek panggang di hadapannya tanpa mau menyentuh sama sekali dan Aliyha pun menyadari itu.


"Mas,"


"Yap..." Kenan menutup mulutnya yang telah penuh dwngan makanan, ulah dari Aliyha.


"Hm, makan Mas, jangan di buang mubasir. Di sini kalau buang makanan akan di hajar orang," ucap Aliyha menakut-nakuti Kenan.


"Huum," ucap Kenan dengan menggeleng kepalanya yang penuh dengan makanan yang belum di kunyahnya.


"Makan! Kalau tidak makan, aku nggak mau naik mobil bersamamu!" ancam Aliyha. "Dan akan kutelvon nyonya Marina, dan akan ku katakan padanya jika kau kurang aj*r padaku!" lanjutnya ketus.


Gleeekkk


Dengan sesak Kenan menelan makanan yang berada di mulutnya.


"Bahaya! Hukumanku akan bertambah." batin Kenan.


Akhirnya Kenan memaksakan diri untuk memakan makanannya sendiri, walaupun sangat susah di telan, tapi rasa dari bebek panggang di warung lesehan itu membuat lidah Kenan sedikit bisa menerima makanannya, walau sedikit dia mengingat bebek yang suka bermain di lumpur.


Selesai makan, Aliyha dan Kenan beranjak untuk pergi dari warung makan itu. Aliyha berhenti tepat di pinggiran gerobak menunggu Kenan yang akan membayar makanan yang mereka makan.


"Mas, bayar!" pinta Aliyha yang melihat Kenan hanya berdiri bingung di sampinhnya.


"Owh...." Kenan mengeluarkan dompetnya untuk membayarkan makanan. Dengan penuh percaya diri dia mengeluarkan sebuah blackcard dari dompet, hingga membuat Aliyha melotot.


"Ini," Kenan menyodorkan kartunya pada Aliyha, memintanya untuk membayar.


Aliyha meraih kartu itu dan mengangkat sejajar dengan wajahnya dan menatap dengan bingung.


"Dia pasti sama seperti mba Regina dan mas Satya," batin Aliyha menatap kartu yang hanya di miliki oleh beberapa orang saja.


Aliyha meraih dompet Kenan, lalu membukanya untuk mencari uang tunai di sana.


"Mau apa?" tanya Kenan.

__ADS_1


"Uang tunai!" jawab Aliyha.


"Oh, aku nggak bawah uang tunai," jelas Kenan.


"Haa! Astaga, jalan tanpa uang tunai dan hanya mengandal kartu!" kesal Aliyha seraya menyerahkan dompet beserta kartu ke tangan Kenan.


"Kamu hutang 60 ribu sama aku!" ketus Aliyha.


"Kenapa tidak bayar dengan ini saja, biar aku tidak berhutang padamu," ujar Kenan.


"Mas! Mana ada warung lesehan terima kartu begituan. Kagak ada, Mas!" jelas Aliyha seraya berjalan ke arah mobil.


Kenan hanya menatap kartu di tangannya dengan bergumam.


"Masa sih?" gumam Kenan.


Mobil yang di kendarai Kenan kembali berjalan.


"Mas, aku boleh tanya?" ucap Aliyha dengan memandang Kenan intens.


"Ya."


"Mas, sebenarnya siapa sihy?" tanya Aliyha.


"Siapa, aku?" tanya Kenan balik.


"Iya, Mas pasti ngerti maksud aku," jawab Aliyha.


"Jadi, Mas itu playboy?" kejut Aliyha sambil bertanya.


"Iya."


"Makasih, Mas. Udah mau jawab," ucap Aliyha.


"Sudah selesai? Tidak ingin bertanya lagi?" ucap Kenan.


"Boleh?" tanya Aliyha balik dengan antusias dan Kenan menganggukan kepalanya tanpa melirik Aliyha.


"Berarti, Mas itu anak orang kaya. Karena suatu alasan Mas di usir dan..."


"Nggak di usir, di hukum!" jelas Kenan.


"Iya. Di hukum karena playboy, trus kenapa mas bekerja sama Nyonya Marina?" tanya Aliyha.


"Tante Marina itu, tanteku. Adik dari papaku." jawab Kenan.


"Haa!! Jadi, Mas dan mba Regina, sepupu!" kejut Aliyha seraya menutup mulutnya yang terbuka lebar.

__ADS_1


"Iya," jawab Kenan tanpa mau berbohong pada Aliyha.


"Kenapa, Mba Regina nggak ngomong, ya sama aku?" ucap Aliyha.


"Di larang sama Papa," jawab Kenan lagi dan Aliyha mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Maaf, ya Mas. Sudah bertanya masalah pribadi, Mas," ucap Aliyha lirih.


"Hm...." Lagi-lagi jawaban yang irit di lontarkan Kenan pada Aliyha.


"Maaf, Mas. Aku hanya penasaran aja, saat aku tau mba Regina dari keluarga orang yang bernama besar, orang terkaya di negara ini, aku jadi minder sama mba Regina dan Mas Satya juga ternyata sama. 10 tahun aku kenal mereka, bahkan hingga tinggal bersama, ternyata aku tidak tahu apa-apa tentang mereka. Perasaanku jadi, gimana gitu, Mas. Di bohongi dan tidak berdaya atas kebeikan mereka, merasa dibohongi bertahun-tahun, tapi itu juga tidak semua kesalahan mereka. Aku rasa, aku jadi asing, perasaanku tidak tentu, mau terima apa marah," ucap Aliyha panjang lebar.


"Jadi diri kamu sendiri! Mau marah, silahkan. Mau terima, ya silahkan juga." ujar Kenan santai.


"Ya, tidak seperti itu. Aku...,"


"Percaya dirilah!" ujar Kenan. "Hidupmu itu hanya kurang kepercayaan diri, kalau kepercayaan diri kamu di keluarkan. Aku yakin kau tidak akan terlibat masalah dan akan lebih sukses dari sekarang," lanjut Kenan.


"Aku juga tidak tahu. Aku tidak bisa tegas pada keputusanku sendiri," ujar Aliyha lagi.


"Apa kau tahu?" tanya Kenan yang Aliyha sendiri tak tahu apa yang di tanyakannya. "Papaku adalah orang terkaya seasia," lanjutnya.


"Apa!" kejut Aliyha, sangat-sangat terkejut dengan ungkapan Kenan.


"Ya. Aku sebenarnya tidak mau menyembunyikan itu dari orang-orang. Tapi papa memaksa karena seorang wanita yang datang kekeluargaku dengan mengaku hamil dan meminta harta untuknya dan anak itu, tapi aku yakin itu bukan anakku," ucap Kenan.


Sepanjang perjalanan yang tersisa, mereka habiskan dengan mengobrol dan sedikit bercanda. Aliyha sungguh tak menyangka jika Kenan bisa menjadi teman bicaranya selama perjalanan, ternyata Kenan tak sebegitu dingin dan mengesalkan saat mereka sudah saling mengenal dan terbuka, pikir Aliyha.


Saat sedang asik-asiknya mengobrol dengan Kenan, tiba-tiba ponsel aliyha berdering.


"Mas Satya," gumam Aliyha.


"Angkat saja. Aku akan diam," ujar Kenan yang mengerti jika Aliyha tidak enak padanya untuk mengangkat panggilan itu.


"Halo, Mas," jawab Aliyha di ponselnya.


"Al, kamu di mana? Masih di kantor? Aku jemput, ya. Pulangnya," ucap satya di balik ponsel Aliyha.


"Aku pergi ke Surabaya, Mas. Jemput Darel," jawab Aliyha.


"Apa!!" pekik Satya.


.


.


.

__ADS_1


.


Buat yang berkenan, ada giftnya buat author๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2