Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.41 ~Meninggalkan Darel


__ADS_3

"Itu benar! Daniel memiliki anak dengan wanita lain!" ucap seorang wanita yang tengah masuk ke dalam mansion.


Venya menatap ke arah suara yang telah berani ikut campur dengan urusan mereka. Rosa dan Daniel juga menatap ke arah yang sama dengan Venya.


"Amel!" seru Daniel dan Rosa bersamaan.


"Kamu!" Seru Venya.


Venya sangat mengenal Amel. Waktu di mana Daniel berhubungan dengan Amel, Venya yang sangat menentang keras hubungan mereka.


"Iya. Dan apa yang di katakan Daniel itu benar. Aku hamil anaknya!" ujar Amel.


Venya sangat shock mendengar ujaran Amel, hingga dia jatuh terduduk di sofa di belakangnya. Tak kalah dengan Rosa dan Daniel pun sangat terkejut dengan ujarannya.


"Apa yang kamu katakan Amel?" pekik Rosa.


"Ya! Itu benar, saat ini aku hamil anak dari suamimu!" jawab Amel bersungguh-sungguh.


Sesaat sebelumnya Amel sempat berpikir bagaimana bisa Daniel tahu, jika dia sedang hamil, tapi itu adalah kesempatan bagus baginya untuk mengatakan semuanya.


"Apa! Mas?" ucap Rosa dengan memalingkan wajah ke arah Daniel, sedangkan yang di tatap tak bisa berkata-kata lagi.


"Mas?" teriak Rosa ingin meminta penjelasan pada Daniel.


Yang sebenarnya Daniel bukan Amel yang di maksud olehnya, tapi Aliyha, namun terlanjur dengan Amel yang mendahuluinya.


*


*


Sedangkan di tempat Satya, dia sedang berdebat dengan ayah dan ibunya.


"Mi, aku butuh uang itu untuk membebaskan Aliyha dari kontrak kerjanya. Dia dijebak oleh Daniel itu untuk bekerja dengannya." ujar Satya.


"Mami sudah bilang. Mami tidak setuju kamu berhubungan dengan si Aliyha itu. Aib bagi keluarga kita, bagaimana jika orang-orang tau tentang statusnya yang memiliki anak tanpa menikah." ucap Liana tegas.


"Papi juga tidak setuju. Uang 1 miliar itu, bukan jumlah kecil. Walau pun uang kita berlimpah-limpah, papi tidak akan memberikannya." sambung Nathan.


"Tolonglah, aku sekali ini. Aku janji tidak akan mengambil apapun dari perusahaan saat aku bekerja." ujar Satya dengan memohon.


"Sekali tidak! Tetap tidak! Wanita itu hanya menginginkan uangmu saja. Dia bukan gadis baik-baik. Dia pasti menj*al dirinya hingga mempunyai anak di luar nikah!" ujar Nathan pada Satya lagi.


"Pi!" kesal Satya saat mendengar hinaan dari papinya sendiri untuk Aliyha.


"Kau berani membangkang sekarang!" bentak Nathan.


"Pi, bukan begitu, Pi. Tapi, Aliyha tidak seperti itu, Pi." jelas Satya.


"Ok. Jika kamu memang ingin uang itu, tapi kamu harus mengikuti kemauan, Papi." ujar Nathan.


"Jangan minta aku untuk jauhin Aliyha, Pi. Aku nggak bisa," jawab Satya.


"Baiklah. Jika kau tidak mau, jangan harap untuk papi membantumu." ujar Nathan.


"Dengarkan Papimu, Satya. Dia adalah Papimu, dan kamu hanya ingin membela wanita asing itu," sambung Liana.


"Mi, aku kenal Aliyha sudah 10 tahun. Dia tidak asing, dia wanita baik-baik," jelas Satya lagi.


"Mana ada wanita baik-baik yang punya anak tanpa nikah!" ucap Liana sinis kemufian berlalu dari sana.


"Mi!" panggil Satya, namun yang di panggil tak menghiraukannya.


"Tentukan pilihanmu. Jika tidak, maka jangan memaksa lagi." ujar Nathan.


*

__ADS_1


*


"Al, kita berangkatnya kapan dari sini?" tanya Regina yang melihat Aliyha tengah menyiapkan barang-barangnya di koper.


"Besok pagi, Mba," jawab Aliyha.


"Kamu sudah bicara sama bapak dan ibu, Darel juga?" tanya Regina.


"Aku sudah bilang sama ibu, bapak belum. Tadi bapak lagi mandi, dan Darel juga rencananya aku tinggal di sini saja dulu." ucap Aliyha.


"Kok, di tinggal Al?" tanya Regina lagi, kurang setuju jika Aliyha meninggalkan Darel di rumah orangtuanya.


"Nggak terus, kok Mba. Nanti kalau sudah ada kepastian dengan masalahku, Darel baru baliknlagi ke Jakarta." jelas Aliyha.


"Kasian, Mba. Kalau di sana, kita sibuk-sibuk dia sendirian, nggak ada yang nemenin." lanjut Aliyha.


"Ya, udah. Terserah kamu. Ntar kalau audah selesai urusannya biar aku yang jemput dia di sini," jawab Regina dan Aliyha mengangguk.


Ting ting ting ting


Sebuah pesan masuk di ponsel Aliyha. Dia segera melihat isi pesannya.


Satya.


Al, kapan kalian berangkat ke sini?


Isi pesan dari Satya.


Aliyha.


Besok pagi, Mas.


Mungkin sampenya tengah hari.


Balas Aliyha.


Satya.


Jawab Satya.


Aliyha.


Iya, Mas. Nggak apa-apa.


Balas Aliyha.


Satya.


Ok, sayang. Slamat malam, Slamat tidur😘


Jawab Satya.


Melihat isi pesan terakhir dari Satya, wajah Aliyha menjadi merona merah. Dia tersipu malu di buat Satya oleh pesan terakhirnya.


Satya.


Kok, nggak di balas?


Ucap Satya lagi, di pesannya.


Aliyha.


Malam juga, slamat tidur♥️


Balas Aliyha.

__ADS_1


Walaupun tak seperti yang Satya harapkan, namun emosion love yang di kirim Aliyha mampu membuat senyuman lebar di bibir Satya.


"Siapa sih, sampe senyum-senyum sendiri?" Regina bangkit dari duduknya dan mendekat mencoba melihat isi dalam ponsel Aliyha, namun dengan cepat di tutup oleh Aliyha.


"Apa sih, Mba? Kepo!" ujar Aliyha dengan senyuman di bibirnya dan menghindari Regina dengan cepat.


"Hmm, pasti dari Satya tuh!" ledek Regina.


"Sok tahu!" bantah Aliyha.


"Bukan sok tau, tapi memang aku tau," jawab Regina.


"Sudah ah! Aku mau nemuin Bapak," ucap Aliyha lalu keluar.


"Yeah, lari!" ledek Regina lagi. Lalu menyusul Aliyha yang keluar dari kamarnya.


Rahman sedang duduk di teras sambil menikmati kopi buatan istrinya.


"Pak. Aku mau bicara," ujar Aliyha pada Rahman.


"Bicaralah." pintanya.


"Aku mau ke Jakarta lagi, Pak." ucap Aliyha.


"Lalu?" tanya Rahman.


"Aku mau menyelesaikan urusan pekerjaan yang belum selesai," jelas Aliyha.


"Bagus kalo begitu. Dalam urusan apapun kamu harus menyelesaikannya. Jangan biarkan berlarut-larut hingga menumpuk,kamu harus jadi orang yang bertanggung jawab dan bisa mengesampingkan masalah pribadi dalam pekerjaan." ucap Rahman, memberi nasihat pada putrinya.


"Iya, Pak."


"Kamu mau bekerja lagi di perusahaan itu?" tanya Rahman.


"Nanti di liat aja dulu, Pak. Bagaimana nantinya. Pak, Aliyha boleh titip Darel di sini?"


"Kenapa tidak. Bapak malah senang jika ada dia di sini," jawab Rahman. "kapan kalian akan pergi?" lanjut Rahman bertanya.


"Besok pagi, Pak." jawab Aliyha.


"Ibumu sudah tau?" tanya Rahman lagi.


"Sudah, Pak. Tadi Aliyha sudah bicara sama ibu." jawabnya.


"Darel?" tanya Rahman lagi.


"Belum, Pak. Serelah ini Aliyha akan bicara dengannya dan semoga dia mau untuk ku tinggal sementara.


"Baiklah. Bicaralah dengan Darel, dan buat dia mengerti!" pinta Aliyha dan Aliyha segera beranjak masuk ke dalam rumah.


"Gimana, Al? Sidah bicara sama bapak?" tanya Regina.


"Baiklah. Bicaralah dengan Darel! Aku juga akan berkemas."pinta Regins.


Aliyha menatap ke arah pintu Kamar Darel. Ada rasa ragu untuk mengatakan pada Darel bahwa dia akan meninggalnya di sini sementara waktu dan dia akan ke Jakarta.


.


.


.


.


Jangan lupa Likenya👍

__ADS_1


__ADS_2