
Kenan hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum mendengar penjelasan Aliyha. Seumur-umur Kenan tidak pernah mendengar istilah itu, dan sekarang dia mendengarnya dari Aliyha. Wanita itu kesal padanya, apa benar apa yang ada dipikirannya? Pikir Kenan dan kembali berjalan menyusul Aliyha.
Di gazebo, para orangtua juga Darel sedang berbahagia. Mereka melihat Aliyha yang cemburu, Rahman sangat menyukai Kenan dan Darel pun sama pemikirannya dengan Rahman.
Bukan Darel tak menyukai Satya, tapi dia ingin seorang pria yang bisa melindungi dan membahagiakan ibundanya. Dan Rahman, dia menyukai Kenan karena melihat Kenan lebih baik dari Satya. Salma tidak peduli dengan pilihan Aliyha yang terpenting dia bahagia.
*
Malam hari di Vila Marina. Acara pertunangan itu hanya di hadiri oleh kedua pihak keluarga mereka saja, tidak ada orang lain yang menghadiri sebagai saksi pertunangan mereka.
Satya dan Regina duduk berdampingan di satu sofa, dan memulai acar pertunangan mereka.
"Di mana cincinnya?" tanya Marina.
"Ada pada Liana. Dia sedang mengambilnya di kamar," jawab Nathan.
"Baiklah," balas Marina.
"Ini cincinnya!" seru Liana yang baru keluar dari kamar.
"Ini Sat." Lianabmenyodorkan sebuah kotak cincin pada Satya.
Satya enggan untuk mengambilnya, dia menatap Regina yang berada di sampingnya dan Regina pun mengangguk padanya.
Regina ingin segera menyelesaikan ini semua, agar dia bisa segera pulang menemui Aliyha. Tapi untuk pulang sekarang juga itu percuma, karena Aliyha tak berada di mansionnya juga tak berada di Jakarta.
Sejak siang tadi dia ingin sekali menghubungi Aliyha, namun entah apa yang harus dikatakannya.
"Ayo!" pinta Liana pada Satya untuk memasangkan cincin di jari Regina.
Satya membuka kotak cincinnya, pikirannya melayang saat dia memakaikan cincin pertama pada Aliyha saat Aliyha menerima cintanya, walau Aliyha belum mencintainya.
"Ayo, Ratu berikan tanganmu," pinta Marina.
Dengan tangan yang gemetar Regina menyodorkan tangannya di hadapan Satya. Liana menyenggol bahu Satya, untuk menyuruhnya memakaikan cincin di jari Regina.
Satya menatap jemari Regina yang bergetar di hadapannya lalu menggenggam tangan itu. Regina menatap Satya dengan hati yang bergetar hebat, namun bukan karena cinta melainkan karena rasa takut jika seseorang yang ada di pikirannya tahu apa yang terjadi sekarang.
Apa Aliyha akan murka? Apa dia akan menyebutku penghianat? Apa aku merebut kebahagiannya? Pikiran Regina penuh dengan segala pertanyaan yang nanti akan dilontarkan Aliyha padanya.
"Ya, selesai!" seru Liana girang.
"Ya, selamat Li," ucap Marina.
"Sama-sama! Kita akan berbesanan, Marina!" seru Liana lagi yang sangat bahagia.
Entah kapan Satya sudah memasangkan cincin di jarinya, Regina tidak menyadari itu. Dia tidak menyadari itu, walau raganya berada bersama mereka sekarang, namun tidak ada kesadaran di dirinya.
"Ayo, Ratu. Pasangkan cincin pada Satya!" pinta Marina yang mengeluarkan kotak cincin dari sakunya.
Regina terkejut mendengar ucapan Marina, lamunannya melayang jauh saat tadi mereka mengatakannya sudah selesai, tapi sekarang masih lagi.
"Apa boleh aku membuang cincin ini? Atau ke telan saja agar tidak di temukan," Batin Regina yang tak ingin melakukan itu.
"Jangan berpikir macam-macam, ayo lakukan!" bisik Marina memerintah.
Regina memantapkan hatinya untuk melanjutkan acara pertunangannya, dia akan bicara dengan Aliyha nanti dan mencari solusi bersama. Rasa-rasanya air matanya ingin menetes saat memasangkan cincin pada jari Satya, namun dia berusaha kuat menghadapinya, pikirannyanlari jauh ke mana Aliyha berada sekarang, dia ingin segera menemuinya.
__ADS_1
*
"Aliyha, bagaimana jika kamu ajak Darel ke pasar malam yang ada di jalan xxxx. Kalian akan kembali besokan? Ajak Kenan juga." ujar Salma.
"Tapi, mas Kenan pasti capek, Bu," tolak Aliyha.
"Tanya dulu sama orangnya, jangan langsung ditolak." ucap Rahman yang baru saja masuk ke dapur. "Kenan!" panggil Rahman.
"Mau apa, Pak?" tanya Aliyha menggerutu.
"Ya, mau tanya dia, lah!" ucap Rahman.
"Ya, Om," sahut Kenan yang sudah berada di belakang Rahman.
"Kenan, kamu capek tidak?" tanya Rahman.
"Ada apa memangnya, Om?" tanya Kenan balik.
"Kalau tidak capek, kamu ikut sama Aliyha dan Darel ke pasar malam." ucap Rahman.
"Oh, Tidak Om. Bisa, kok. Mau berangkat sekarang?" tanya Kenan lagi dengan melirik Aliyha.
"Tuh, kan!" ucap Rahman pada Aliyha dan Aliyha hanya memutar bola matanya malas dengan Rahman.
"Sepertinya bapak terobsesi dengan mas Kenan," Batin Aliyha.
"Darel!" panggil Rahman.
"Iya, Kek," sahut Darel yang keluar dari kamarnya.
"Sana pergi sama bunda dan Kenan ke pasar malam!" pinta Rahman.
"Baiklah," jawab Aliyha dengan malas. Dia beranjak dari kursinya menuju kamar untuk bersiap-siap.
Kenan, Aliyha dan Darel sudah berada di mobil menuju pasar malam yang dikatakan Salma. Aliyha memilih duduk di belakang dan Darel bersama Kenan di depan.
"Bun, kita mampir makan dulu, ya. Aku sudah lapar," ucap Darel.
"Ya," jawab Aliyha singkat.
"Ayo, Om. Kita makan di sana, aku dan Kakek pernah makan di sana." ujar Darel pada Kenan yang sedang menyetir dengan menunjuk warung makan yang tidak terlalu besar yang mereka dekati dengan mobil.
"Ok." Kenan memarkirkan mobilnya saat sampai di tempat yang di tunjuk Darel tadi.
"Bebek dan cumi di sini sangat enak, Om." ujar Darel Seraya turun dari mobil.
"Lagi...," gumam Kenan yang masih berada dalam mobil.
Aliyha dan Darel sudah turun dari mobil dan berada di dalam warung, tapi Kenan enggan untuk turun dari mobil itu membuat Darel harua kembali ke mobil untuk mengajak Kenan untuk turun.
"Om, ayo!" ajak Darel dari luar pintu mobil yang terbuka kacanya.
"Iya-iya. Sebenarnya Om belum terlalu lapar, apa kau bisa makan berdua bersama Bundamu?" tanya Kenan.
"Tidak bisa! Om harus makan bersama kami!," ucap Kenan dengan mengoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Baiklah," jawab Kenan.
__ADS_1
Kenan turun dari mobil dan memasuki warung makan yang Aliyha tengah duduk di dalamnya. Kenan duduk di samping Aliyha dan melihat-lihat sekitarnya dan menangkap sesuatu yang bisa menghilangkan perasaan resahnya sejak tadi.
Aliyha dan Darel telah memesan makanan mereka masing. Setelah dua pesanan Aliyha datang, kini saat untuk Kenan memesan.
"Bang, bebeknya 1 porsi lagi pakai nasi!" pinta Darel.
"Tunggu-tunggu, apa ada menu lain di sini?" tanya Kenan pada pedagang yang membawah pesanan Aliyha dan Darel.
"Ada Mas. Sebentar saya ambil dulu, Mas." ucap abang pedagang itu.
Tak lama kemudian pedagang itu kembali dengan kertas menu di tangannya dan memberikan pada Kenan.
"Ini, Mas." Kenan melihat-lihat kertas itu dan akhirnya menjatuhkan pilihannya.
"Nasi goreng!" ucap Kenan. "Nasi goreng pakai telur," ulang Kenan. Akhirnya perasaan Kenan lega mendapatkan sesuatu yang bukan bebekan cumi.
Kenan menyapu dadanya lega. Setelah pesanannya datang Kenan tersenyum membuat Aliyha dan Darel heran.
"Sebegitu cintanya pada nasi goreng, sampai senyum-senyum sendiri," batin Aliyha bergidik geli melihat tingkah Kenan.
"Om sangat suka dengan nasi goreng, ya. Sampai senyum-senyum," ujar Darel.
"Oh, emp. Iya. Ini makanan favorit Om," jawab Kenan bohong yang tidak mau mereka tahu jika dia tak suka bebek dan cumi.
"Oh... pantesan," ucap Darel.
Mereka makan dengan lahap makanan masing-masing, begitu juga dengan Kenan. Setelah selesai Kenan mengeluarkan dompetnya.
"Simpan itu!" pinta Aliyha pada Kenan.
"Kenapa? Aku ingin membayar," ujar Kenan.
"Apa kau punya uang tunai? Atau hanya kartu?" tanya Aliyha.
"Hm, hanya kartu," jawab Kenan pelan.
"Kalau begitu simpanlah!" pinta Aliyha lagi.
"Kenapa tempat-tempat makan ini tidak menyediakan mesin EDC?" gumam Kenan.
"Ayo!" ajak Aliyha pada Kenan untuk keluar.
Setelah membayar mereka pun keluar dari warung makan itu dan kembali melanjutkan perjalanan menuju pasar malam.
Setelah sampai mereka turun dan memasuki pasar malam bersama-sama seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Om, kita naik itu yuk!" ucap Darel dengan sedikit kencang karena di sana sangat bising.
"Sebentar! Om, ke ATM dulu. Di sana!" ujar Kenan dengan menunjuk mesin ATM yang tak jauh dari tempat mereka.
Setelah kembali, mereka bermain di arena bermain yang berada di sana. Aliyha, Darel juga Kenan sangat menikmati kebersamaan mereka dan aliyha menyadari baru kali ini Darel terlihat sungguh-sungguh gembira.
.
.
.
__ADS_1
.
Tekan tombol hatinya❤😊