Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.61 ~Kembali Jakarta


__ADS_3

Setelah kembali, mereka bermain di arena bermain yang berada di sana. Aliyha, Darel juga Kenan sangat menikmati kebersamaan mereka dan aliyha menyadari baru kali ini Darel terlihat sungguh-sungguh gembira.


Malam semakin larut, Aliyha dan Darel sungguh bersenang-senang. Hari ini adalah hari pertama untuk Aliyha dan Darel bersama, menghabiskan waktu dengan bahagia.


Sebelumnya, Aliyha sangat sibuk dwngan pekerjaannya, sangat kurang waktu untuk mereka bersama sedangkan Darel tqk pernah mengelukan itu, dia akan tinggal di rumah sendiri saat Aliyha sibuk dengan pekerjaan, bahkan Darel meminta memberhentikan pengasuhnya.


Pukul 11.15 menit, Aliyha, Darel dan juga Kenan beranjak untuk pulang.


"Hari yang melelahkan," ucap Aliyha.


"Dan sangat menyenangkan," sambung Darel.


Di perjalanan pulang Darel sampai tertidur si dalam mobil, mungkin karena kelelahan setelah bermain dengan banyak wahanandan permainan seru lainnya.


"Trima kasih, ya, Mas," ucap Aliyha pada Kenan yang sedang mengendara.


"Untuk apa?" tanya Kenan santai.


"Trima kasih, karena sudah menemani kami, malam ini," jawab Aliyha.


"Owh, aku juga bersenang-senang di sana. Jadi tidak perluh berterima kasih," jawab Kenan.


"Tetap saja. Terima kasih!" ucap Aliyha memaksa.


"Baiklah. Sama-sama," jawab Kenan yang tidak mau berdebat, karena sebenarnya dia juga merasakan letih.


*


*


Pagi hari Aliyha, Kenan dan Darel telah siap untuk berangkat ke Jakarta.


"Bu, Pak. Aliyha pergi ya," pamit Aliyha pada Rahman dan Salma.


"Hati-hati di jalan," ujar Salma dengan mengelus kepala putrinya.


"Iya, hati-hati," sambung Rahman." Jangan lupa, kalau ada waktu luang datang ke mari." lanjut Rahman.


"Iya. Dar, ayo pamit sama Kakek dan Nenek!" pinta Aliyha.


"Kakek, Nenek, dah!" ucap Darel yang sudah mendekati mobil.


"Dah!" jawab Rahman dan Salma bersamaan sambil melambaikan tangan mereka.


"Om, Tante. Kami pamit ya," pamit Kenan mewakili semuanya.


"Iya. Jangan sungkan-sungkan untuk datang ke rumah Bapak, pintunya selalu terbuka untukmu saja, tidak yang lain." jawab Rahman dengan menepuk-nepuk pelan pundak Kenan.


Kenan tersenyum, bapak Aliyha sangat baik padanya. "Terima kasih. Kami permisi dulu."

__ADS_1


"Ya," jawab Rahman dan di angguki oleh Salma.


"Nak Kenan, tolong jaga Aliyha dan Darel ya. Ibu percaya sama kamu," lanjut Salma dan Kenan hanya mengangguk mendengarnya.


*


Di mansion keluarga Regina. Sejak pulang dari vila keluarganya, Regina mengunci diri di kamarnya, dia menangis karena kesal dengan Marina. Keputusannya salah untuk tidak membantah Marina saat pulang kembali ke mansion waktu itu, seharusnya dia tidak menerima tawaran Marina waktu itu.


Regina meraih ponselnya yang berada di atas nakas, sejak semalam dia mematikan daya ponselnya agar tidak seorang pun yang menghubunginya salah satunya Aliyha.


Regina menyalahkan kembali ponselnya, mungkin ada pesan dari Aliyha yang dikirimnya, namun dia salah Aliyha sama sekali tidak menghubungi atau bahkan mengirim pesan padanya walau hanya 'Hai'.


"Aliyha," gumam Regina lirih dengan perasaan kecewa.


Pukul 13.35 menit, mobil yang di kendarai Kenan memasuki mansion keluarga Regina. Kenan menghentikan mobilnya tepat di depan mansion dan mereka pun turun bersama.


Aliyha dan Darel memasuki mansion itu, seperti perintah Marina jika pulang dari Surabaya mereka harus kembali ke mansion.


"Aunty Regina di mana?" tanya Darel.


"Mungkin pergi ke kantor bersama mamanya," jawab Aliyha. "Ayo, ke kamar bunda dulu," ajak Aliyha.


Setelah masuk ke kamar, Aliyha mengambil ponselnya yang berada dalam tas. Aliyha mencari nama Mba Regina di sana dan menekan yombol dial kemudian panggilan puntersambung ke ponsel Regina.


Dering ponsel Regina membuat dia bangkit dari baringannya dan melihat siapa yang menelvonnya. Mata Regina terbuka lebar saat melihat layar ponselnya dan tertera nama Aliyha di sana.


"Aliyha!" sapa Regina cepat di balik telvon.


"Hal...."


"Kamu di mana Aliyha?" sela Regina cepat.


"Aku? Aku di mansion Mba."


Tut tut tut tut


"Ada apa dengan mba Regina?" gumam Aliyha.


"Ada apa, Bun?" tanya Darel yang mendengar gumaman Aliyha.


"Oh, ini auntymu. Telvonnya di tutup tiba-tiba," jawab Aliyha.


Regina yang mengetahui jika Aliyha sudah berada di mansion segera keluar dari kamar dan menuju kamar Aliyha dengan sstengah berlari menuruni tangga.


"Aliyha!" panggil Regina dengan membuka pintu kamar dengan tiba-tiba.


"Mba!" kejut Aliyha bahkan Darel pun terperanjat mendengar pintu yang terbuka dengan cepat.


"Aliyha!" Regina melangkah ke arah Aliyha dan memeluk wanita itu erat sekali.

__ADS_1


"Mba..., Mba kenapa?" tanya Aliyha heran.


"Aliyha maafin aku," ucap Regina dengan mata berkaca-kaca.


"Ada apa, Mba?" tanya Aliyha lagi.


"Aliyha, aku ingin bicara," ucap Regina lirih.


"Bicara apa, Mba? Ayo duduk," ucap Aliyha dengan membawah Regina duduk di kasurnya.


"Aliyha...," ucapan Regina terhenti karena saat ini Darel sedang menatap mereka. Aliyha mengerti dengan arah tatapan Regina pada Darel.


"Baiklah, Mba. Kita akan bicara nanti, ya." ujar Aliyha dan Regina mengangguk.


*


Di mansion Daniel, saat perceraian Daniel dan Rosa telah terjadi. Seperti apa yang di katakan Luis, ayah dari Rosa, dia akan membongkar tingkah laku Daniel di media masa dan itu terjadi.


"Daniel, kau menghancurkan perusahaan kita dalam sekejab saja," ujar Dirga yang tengah duduk di sofa ruang tamu mansion mereka dengan menopang dahinya karena shock.


Para investor di perusahaan mereka menarik sahamnya karena berita tentang Daniel dan Amel. Luis membeberkan kelakuan Daniel pada media masa dan sangat begitu cepat menyebar hingga ke para investor mereka.


"Maaf, Yah. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Daniel.


"Ibu tidak menyangka jika ini akan terjadi. Kau menghancurkan seluruh milik keluarga ibu," ujar Venya dengan tangis sesegukan.


"Ibu, maafkan Daniel, Bu. Daniel janji akan mengembalikan keadaan perusahaan seperti semula." ucap Daniel.


"Tidak! Tidak perlu! Kau hanya akan menghancurkan segalanya. Jangan pernah lagi datang ke perusahaan ibu! Mulai saat ini ibu yang akan mengurus perusahaan!" ucap Venya tegas.


"Bu, maafkan aku, Bu!" ucap Daniel pada Venya yang telah pergi dari tempatnya.


"Sudahlah, Daniel. Ayah sangat kecewa padamu," ucap Dirga dan pergi menyusul istrinya yang masuk ke dalam kamar.


Daniel jatuh terduduk di sofa belakangnya, pikirannya sangat kacau, dia frustasi apalagi Amel yang tak henti-hentinya meminta pertanggung jawabannya padanya.


Semua terjadi begitu cepat, Daniel belum berapa lama duduk di kursi CEO di perusahaannya dan saat ini semuanya hancur. Perusahaan hampir bangkrut karena investor-investor yang menarik saham mereka, Rosa menceraikannya, Aliyha memilih Satya dan juga Darel yang tak mau menerimanya, ditambah lagi dengan Amel yang sedang hamil, sungguh pikirannya tak mampu memikirkan itu semua sekaligus, masalah datang bertubi-tubi membuat Daniel tak bisa berpikir lagi apa yang harus dia selesaikan terlebih dahulu.


"Perusahaan, Aliyha, Darel atau Amel," gumam Daniel yang berpikir masalah mana yang akan dia selesaikan lebih dulu.


.


.


.


.


Jangan lupa di Like😄

__ADS_1


__ADS_2