
"Sudahlah, Mas. Aku capek," ujar Aliyha dengan melepas dekapan Satya dan itu berhasil membuat jantung Satya berdetak dengan cepat.
"Al, maafin aku. Itu karna aku terlalu takut kehilangan kamu Aliyha," ujar Satya.
""Iya, Mas. Aku maafin. Aku ngerti, kok. Tapi aku sekarang beneran capek, Mas. Pekerjaan pertamaku sangat melelahkan. Nyonya Marina memberikan aku pekerjaan yang begitu banyak, tapi itu sudah tugasku dan aku harus ikhlas mengerjakannya.
"Baiklah. Ayo duduk," ajak Satya dan Aliyha mengikuti ajakannya duduk di samping Satya.
"Al, aku harap kamu sabar, ya. Aku akan berusaha untuk membujuk mami dan papi untuk menerima kamu," ucap Aliyha.
"Iya, Mas. Aku terserah kamu aja, kalau pun akhirnya kamu tetap memilih orang tua Mas, aku tidak apa-apa. Aku ikhlas, aku rela untuk menerimanya. Cuman untuk sekarang, aku minta untuk Mas, tidak terlalu posesif. Masalahku yang 1 sudah selesai, tapi aku masih punya masalah lain juga, seperti masalah aku dan kamu, Mas." ujar Aliyha dan Satya mengangguk mendengarnya.
*
Esok harinya, Marina meninggalkan Aliyha dan Regina di kantor karena dia mempunyai sesuatu urusan.
"Ratu, kamu pelajari ini, dan Aliyha kamu kerjakan apa yang saya pintahkan tadi. Tolong catat kembali berkas untuk cabang perusahaan kita yang Belanda itu, besok serahkan pada saya!" pinta Marina.
"Baik, Nyonya," jawab Aliyha.
"Mama, mau ke mana?" tanya Regina.
"Mama ada urusan di luar. Kamu jangan main-main aja di sini, dan... jangan ganggu Aliyha!"
"Iya, Ma. Aku hanya ngobrol doang, kok." jawab Regina.
Regina sangat malas dengan pekerjaannya, mengenai perusahaan. Sedari dulu dia menolak untuk bekerja di perusahaan, karena itu bukan Ahlinya. Cita-cita Regina sebenarnya tidak ingin menjadi pembisnis, dia ingin menjadi seorang penata rias. Cita-cita yang sangat sederhana untuk wanita keluarga nomor 1 di negara ini, namun itulah Regina, makannya dia betah hidup di luar tanpa fasilitas apapun dari Marina karena menolak perjodohannya dulu.
"Mba, sebaiknya Mba belajar untuk mengelolah perusahaan ini. Jangan main-main lagi, kasian mama Mba Regina," ujar Aliyha menasehati.
"Hedew, kamu setelah menjadi sekertaris mama, jadi ketularan mama deh!" kesal Regina.
"Itu bener, Mba. Aku kerja dulu, kalo Mba ajak ngobrol terus, nggak kelar-kelar kerjaanku," ucap Aliyha kemudian berlalu dari ruangan Marina.
*
Di sebuah cafe, Marina sedang duduk bersama seorang wanita paruh baya dengan mengobrol.
__ADS_1
"Rin, bagaimana, apa putrimu sudah setuju dengan perjodohan kita?" tanya wanita paruh baya itu, yang adalah Liana. Ibu dari Satya.
Mereka merencanakan perjodohan kedua anaknya sejak 13 tahun lalu, sebelum Regina lari dari mansion karena perjodohan itu dan kini mereka kembali melanjutkan perjodohan antara Satya dan Regina tanpa sepengetahuan keduanya.
"Putriku sudah setuju. Bagaimana dengan Satya?" tanya Marina.
"Dia masih bersih keras dengan wanita pilihannya, tapi aku tidak setuju. Wanita itu sudah memiliki anak dan tanpa menikah pula, tidak punya suami!" jawab Liana dan Marina hanya menganggukan kepalanya.
Untuk Marina mengetahui kisah Aliyha itu sangatlah gampang. Sejak awal Regina meminta uang pada Marina, dia sudah meminta orangnya untuk untuk mencari tahu tentang kehidupan Aliyha akun sosmednya dan itu berhasil. Tak sampai 30 menit, dia mengetahui semuanya tentang Aliyha. Karena itulah, membuat surat kontrak kerja untuk Aliyha, yang suatu saat akan bisa dia gunakan.
"Kalau begitu, buatlah Satya setuju tanpa paksaan. Aku tidak mau mereka menikah karena terpaksa, pernikahan itu tidak akan baik nantinya." ujar Marina.
"Aku bingung, bagaimana membuat anak itu mengerti. Dia tak ingin mendengarkanku, bahkan akhir-akhir ini dia membangkang padaku dan papinya.
"Mintalah pada wanita itu! Jangan minta dengan emosi, tapi gunakan perasaan seorang ibu dan memintalah padanya. Aku yakin wanita itu akan mengerti," usul Marina.
"Bagaimana bisa? Wanita itu tidak akan melepaskan Satya!" jawab Liana.
"Belum di coba. Aku yakin wanita itu orang baik, kalau tidak mana mungkin Satya akan memilihnya." ucap Marina dan Liana tampak berpikir dengan itu.
"Baiklah. Aku akan mencobanya," jawab Liana. "Itu karena kau yang meminta, kalau tidak. Aku tidak sudi untuk menemuinya." lanjut Liana.
Marina bukannya tidak suka dengan Aliyha, dia hanya ingin Regina menikah dengan Satya karena itu adalah permintaan terakhir dari mendiang ibunya. Karena dulu Satya pernah menolong ibunya dari kecelakaan dan sejak saat itulah Marina merencanakan perjodohan Regina dan Satya, yang ternyata adalah anak dari teman lamanya.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Aku masih banyak pekerjaan di kantor. Ratu pasti kuwalahan melihat berkas-berkas di hadapannya." jelas Marina dan berpamitan juga.
"Baiklah. Jika urusanku sudah beres, aku akan memberitahukannya padamu." ujar Liana.
"Ok. Aku pergi," Marina beranjak dari duduknya dan segera pergi dari cafe itu.
*
Sore hari, Aliyha tengah bersiap-siap untuk pulang seperti biasa dia akan di antar oleh Kenan, karena itu adalah perintah dari Marina. Sepertinya Marina ingin mendekatkan Aliyha dan Kenan, mskannya segala urusan Aliyha selalu akan di perintahkan bersama Kenan.
Klek
Regina menatap ke arah pintu yang terbuka dan Marina masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Ma, kapan kita ajak Aliyha tinggal di mansion?" tanya Regina begitu melihat Marina duduk di kursinya.
"Apa kau sudah katakan padanya?" tanya Marina balik.
"Belum, Ma!" jawab Regina.
"Nanti mama akan atur. Kapan putranya akan datang?"
"Mungkin akhir pekan, aku akan pergi menjeputnya di Surabaya," ujar Regina.
"Mama rasa biar Aliyha yang pergi, agar dia bisa berpamitan dengan orangtuanya juga. Biarkan dia pergi bersama Kenan!" pinta Marina dan Regina pikir itu ada benarnya, Aliyha bisa bertemu dengan orangtuanya.
"Ok."
*
Aliyha turun dari lantai atas setelah berpamitan pada Marina dan Regina. Seperti biasa dia Kenan sudah menunggunya di depan pintu lobby dengan membuka pintu belakang mobil, namun Aliyha tidak suka duduk di belakang sendirian. Dia menuju pintu depan dan masuk ke dalam mobil.
Kenan hanya menatapnya tanpa membantah, dia tahu wanita itu tidak akan mau walau di paksa sekali pun.
"Mas, aku tidak enak setiap hari di antar jemput," ungkap Aliyha saat di perjalanan.
"Ini tugasku dan perintah nyonya besar," jawab Kenan.
"Aku tau, tapi bisakah besok tidak usah menjemputku. Biar aku berangkat menggunakan taksi saja." ucap Aliyha.
"Kamu bisa mengatakan itu pada nyonya," jawab Kenan.
"Baiklah. Tidak perlu. Aku tidak enak, nanti di kira aku tidak menghargainya," ucap Aliyha.
Beberapa saat berlalu, mereka akhirnya sampai di kontrakan Aliyha dan di sana sudah ada Satya yng menunggu di teras.
.
.
.
__ADS_1
.
Ayo, disimpan di favorit kalian, ya. Biar nggak lupa🤗🤗🤗