Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.55 ~Bercanda


__ADS_3

"Aku pergi ke Surabaya, Mas. Jemput Darel," jawab Aliyha.


"Apa!!" pekik Satya.


"Kenapa Mas?" tanya Aliyha.


"Kenapa kamu tidak memberitahu?" tanya Satya dengan nada tinggi.


"Maaf, Mas. Mendadak. Ini juga nyonya Marina yang nyuruh. Katanya akhirnya pekan besok mereka akan punya acara." jawab Aliyha.


"Baiklah. Tapi kamu langsung balikan?" tanya Satya lagi.


"Rencananya, besok baru balik." jawab Aliyha lagi.


"Oh, kalau besok tidak sibuk, aku akan menjemputmu," ujar Satya di balik ponselnya.


"Nggak perlu, Mas! Aku sama Mas Kenan, bawah mobil nyonya." tolak Aliyha.


"Apa! Kamu sama Kenan! Kenapa kamu pergi sama dia?" Nada suara Satya mengeras saat mendengar nama Kenan.


"Udah ya, Mas. Aku sibuk!" jawab Aliyha yang mulai kesal dengan Satya yang mulai dengan sikap pencemburunya.


Tut tut tut tut


*


"Aliyha! Aliyha! Aliyha!" panggil Satya di ponselnya karena panggilan itu diputuskan secara sepihak oleh Aliyha.


"Aliyha!"


Braakkk


Satya menjadi kesal hingga mengebrak mejanya sendiri.


Ingin sekali dia menyusul Aliyha sekarang juga ke Surabaya, apalagi ada prian itu bersamanya. Satya tidak bisa tenang memikirkan Aliyha yang berdua saja dengan Kenan, di perjalanan ke Surabaya.


Klek


Nathan masuk ke dalam ruangan Satya. Melihatnya dengan wajah yang bisa dipastikan sedang kesal.


"Satya. Hari ini kita akan makan malam dengan investor kita, dari bogor. Kita akan pergi, bersama-sama setelah dari rumah." ujar Nathan.


"Aku ingin ke Surabaya, Pi," jawab Nathan.


"Satya! Belajarlah bertanggung jawab dalam pekerjaanmu! Orang yang akan kita temui adalah orang penting untuk perusahaan kita. Dia akan menanamkan sahamnya untyk perusahaan. Perusahaan ini akan bangkrut jika kau yang memimpin," ujar Nathan dengan tegas.


"Pi, Aliyha ke Surabaya dan aku harus menyusulnya ke sana!"


"Wanita itu lagi. Papi sudah katakan putuskan hubunganmu dengan wanita itu! Dia bukan wanita baik untukmu!" tegas Nathan.


"Tidak akan pernah!" jawab Satya seraya berdiri dari kursinya untuk keluar.


"Jika kau nekat. Jangan salahkan papi jika terjadi sesuatu padanya! Dan besok, ingat..., kita akan bertemu dengan calon mertua dan calon istrimu, jika kau menolak, kau akan melihat sesuatu yang tidak kau sukai!" ucap Nathan kemudian berlalu dari ruangan itu.

__ADS_1


Braakk


Nathan keluar dari ruangan Satya dengan membanting pintu dengan sangat keras dan Satya hanya dapat menatap kepergian Nathan dengan segala ancamannya.


"Aakkkh!"


Praaank


Vas yang barada di meja kerja Satya terhempas ke lantai dan terbelah menjadi puing-puing kecil yang tak bisa disatukan lagi.


*


Beberapa saat perjalanan, akhirnya Aliyha dan Kenan sampai juga di Di surabaya.


Aliyha turun dari mobil, tepat saat mobil itu berhenti di depan rumah orangtuanya. Di teras rumah itu tengah duduk Rahman Salma yang sedang berbincang-bincang.


"Pak, Bu!" sapa Aliyha saat turun dari mobil.


Salma menatap ke arah suara dan begitu pun juga dengan Rahman.


"Aliyha!" sambut Salma dengan riang setelah melihat Aliyha berada di depannya.


"Bu! Aliyha kangen!" ucapnya seraya memeluk Salma dengan erat.


"Pak," sapa Aliyha lalu menyalami tangan Rahman.


"Kenapa datang tidak kasih kabar?" tanya Rahman.


"Maaf, Pak. Supaya bapak sama ibu tidak sibuk-sibuk saja. Aku hanya sehari di sini. Mau jemput Darel, Pak." jawab Aliyha dengan mengutarakan maksudnya untuk datang di Surabaya.


"Tenang saja, Pak. Kami akan berkunjung saat Aku tidak sibuk dan Darel libur sekolah," ucap Aliyha dengan tersenyum.


"Siapa itu, Aliyha?" tanya Salma saat melihat seseorang turun dari mobil yang Aliyha tumpagi.


"Oh, itu Mas Kenan. Dia supir sekaligus pengawalnya Mba Regina. Aku juga sekarang bekerja di perusahaan mamanya, mba Regina. Jadi mamanya mba Regina yang kasih ijin aku buat jemput Darel," jelas Aliyha.


"Oh..., ayo ajak masuk!" pinta Salma.


"Mas Kenan, ayo!" panggil Aliyha dengan setengah berteriak karena Kenan yang betah berdiri di samping mobil.


"Bu, mana Darel?" tanya Aliyha setelah melihat Kenan berjalan ke arah mereka.


"Biasalah. Di mana lagi, kalau bukan di kamarnya," jawab Salma.


"Siang Om, Tante," sapa Kenan setelah berada di dekat mereka.


"Siang, ayo duduk," ujar Rahman. "Aliyha buatkan minum untuk Kenan!" pinta Rahman pada Aliyha.


"Iya, Pak!"


"Tidak perlu repot-repot, Om." ucap Kenan.


"Tidak Repot, hanya kopi saja. Temani bapak untuk mengopi," ujar Rahman seraya tersenyum lebar dan Kenan pun mengangguk mengiyakan perkataan Rahman.

__ADS_1


Aliyha berjalan ke arah dapur, melakukan perintah Rahman untuk membuat kopi. Setelah selesai Aliyha kembali dengan membawah 2 cangkir kopi di tangannya.


"Ini Pak, Mas Kenan, silahkan." ucap Aliyha dengan meletakan kopi yang di bawahnya.


"Mas Kenan, sebentar ya. Aku panggil Darel dulu." ucap Aliyha dan Kenan pun mengangguk, mengiyahkan.


Aliyha kembali memasuki Rumah dan menuju ke kamar Darel.


Klek


"Dar," panggil Aliyha pada anak yang bertumpu pada kasur sambil mengotak-atik laptopnya.


"Bunda!" seru Darel seraya bangkit dari kasur dan menuju Aliyha.


"Bunda ada di sini?"


"Ya, bunda sudah sampai sejak tadi. Kamu saja yang tidak menyadarinya. Bunda mau jemput kamu, kita akan ke Jakarta besok." ucap Aliyha.


"Katanya aunty yang akan menjemputku?"


"Aunty lagi sibuk. Kamu tau, bunda sekarang bekerja di perusahaan mamanya aunty Regina," ujar Aliyha.


"Sudah tau," jawab Darel.


"Apanya?" tanya Aliyha bingung. Sejak dia berangkat ke Jakarta, dia tidak pernah menghubungi Darel sekali pun, bahkan dia memperingatkan Regina dan Satya untuk tidak menghubunginya agar Darel dan orangtuanya tidak tahu masalah mereka. Lalu dari mana Darel tau? Pikir Aliyha.


"Aku tau Bunda akan datang hari ini," jawab Darel bohong. Sebenarnya sejak dulu dia sudah mengetahui siapa Regina dan Satya sebenarnya, namun dia tidak menghiraukan kebohongan mereka karena dia tahu, mereka pasti punya alasan untuk.


"Oh," ucap Aliyha hanya ber O ria dengan jawaban Darel tanpa rasa curiga.


"Ayo keluar, tadi bunda datang sama supir yang bekerja di mansion mba Regina. Dia juga akan ke Jakarta besok sama kita. Jadi kenalan dulu!" pinta Aliyha dan Darel pun ikut bersama Aliyha keluar dari kamarnya.


"Wah, kamu ternyata orang yang hebat, bisa tahan bekerja sampai 15 tahun. Bapak saja setahun bosan sama kerjaan, makannya sampai sekarang tidak sukses-sukses. Sekarang saja lagi cari kerjaan baru, hehehe," ucap Rahman yang sedang mengobrol dengan Kenan sambil terkekeh. Rahman mendapatkan teman bicara yang sesuai dengan apa yang di inginkannya.


"Tidak juga, Om. Saya hanya merasa enak saja dengan pekerjaan yang sekarang, kan enak cuman tinggal duduk-duduk di mobil saja," canda Kenan sambil tersenyum lebar.


Aliyha yang mendengarkan perbincangan mereka melebarkan matanya, sungguh dia tidak percaya jika orang yang disebutnya irit bicara itu ternyata bisa bercanda dengan ayahnya. Sungguh-sungguh Aliyha tak percaya dengan apa yang dilihat dan di dengarnya.


"Mas, ternyata bisa bercanda juga!" ujar Aliyha seraya memegang pundak Kenan dari belakang dengan segala terkejutannya dan Kenan pun memalingkan wajahnya ke arah Aliyha.


"Apa maksumu? Apa dia tidak bisa bercanda dengan bapak?" tanya Rahman.


"Iya. Masa bercanda aja tidak boleh," sambung Salma yang duduk bersama mereka.


"Bukan begitu! Sudah-sudah. Mas kenalin ini Darel," ucap Aliyha seraya menunjuk ke arah Darel yang berada di belakangnya.


"Kamu/Om!" kejut Kenan dan Darel bersamaan dengan mata yang melebar.


.


.


.

__ADS_1


.


Tombol hatinya di tekan ya😊


__ADS_2