Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.66


__ADS_3

Apa Aliyha sudah tau?" batin Satya tentang perjodohannya dwngan Regina.


"Aku tanya Regina saja," gumam Satya.


Satya meraih ponsel dalam saku jasnya, dan menekan nomor Regina di sana.


Setelah menempelkan ponselnya di telinga, tidak ada nada sambungan yang terdengar, hanya suara wanita yang menyatakan panggilannya tidak tersambung yang terdengar.


"Tidak aktif!" seru Satya pelan. "Nanti saja," lanjutnya.


Karena tidak mendapat jawaban dari Regina yang di telvonnya, akhirnya Satya pergi dari tempat itu.


*


Sore hari, kini Aliyha telah berada di sebuah cafe bersama Satya. Mereka duduk di sudut agar tidak banyak orang yang mendengar pembicaraan mereka.


"Al, kamu mau pesan apa?" tanya Satya.


"Capuchino aja, Mas," jawab Aliyha.


"Ok. Dua capuchino," ujar Satya pada pelayan cafe yang sedang menunggu pesanan mereka.


"Baik, Tuan, Nona. Di tunggu, ya," ucap pelayan itu ramah.

__ADS_1


"Al, maaf ya. Aku tidak bisa menjemputmu di Surabaya. Banyak sekali pekerjaan dan aku tidak bisa meninggalkannya," jelas Satya. Sebenarnya dia tidak ingin Aliyha bicara seperti apa yang Aliyha katakan padanya waktu di kantin kantor Aliyha tadi. Dia takut Aliyha membicarakan masalah perjodohannya dengan Regina, yang sebenarnya itulah salah satu yang ingin dia bicarakan.


"Nggak apa, Mas. Aku tadi bilang mau ngomong pentung sama Mas Satya. Dan aku ingin bicarakan itu sekarang," jawab Aliyha. Dia tidak mau menambah harapan Satya padanya.


"Owh, iya. Aku lupa. Ada apa?" kini Satya tidak dapat menghindar lagi.


"Iya, Mas. Aku ingin..." Ucapan Aliyha terhenti saat pelayan cafe itu membaqahkan pesanan mereka.


"Silahkan dinikmati," ucap pelayan itu seraya meletakan cangkir yang berisi capuchino di hadapan Aliyha dan Satya.


"Trima kasih," jawab Aliyha dan pelayan itu segera pergi.


"Oh, ya. Bagaimana Darel? Aku belum bertemu dengannya. Apa kabarnya?" tanya Satya lagi, mencoba menghindar dari pembicaraan Aliyha.


"Oh, ya. Lanjutkan," ujar Satya dengan hati yang nyeri menunggu perkataan Aliyha. Dia merasa Aliyha akan mengatakan sesuatu yang tidak enak di dengarnya hingga dia sangat khawatir saat ini.


"Mas, aku sudah tau semuanya." Aliyha menggenggam tangan Satya erat agar dia tidak shock dengan perkataannya.


"Apa? Apa yang kamu ketahui?" tanya Satya pura-pura tidak tahu, tetapi sebenarnya, jantungnya kini berdetak tak karuan untuk menyambut ucapan Aliyha selanjutnya.


Deg deg deg deg


"Mas..., aku sudah tau tentang perjodohan Mas dengan mba Regina." Aliyha melepas genggaman tangannya, berharap Satya tak bereaksi berlebihan.

__ADS_1


"Aliyha. Maaf, aku dan Regina tak kuasa untuk menolaknya, tapi aku janji, akan mencari jalan keluar untuk masalah ini. Aku dan Regina sudah membicarakan ini, kami tidak akan membiarkan pernikahan ini terjadi, kami akan berusaha untuk membatalkan perjodohan ini," jelas Satya cepat dengan genggaman erat di tangan Aliyha.


"Tidak perlu, Mas." ucap Aliyha serius.


"Apa? Apa yang kamu katakan Aliyha? Tidak perlu? Apa maksudmu?" cecar Satya.


"Mas, tidak perlu melakukannya. Terimalah perjodohan ini, nikahi mba Regina!" pinta Aliyha.


"Apa! Tidak Aliyha!" Satya melepas tangan Aliyha cepat. "Kamu jangan asal bicara! Kita sedang menjalin hubungan, dan kau berkata seperti itu."


"Mas, biarkanlah. Anggaplah kita tidak berjodoh," ucap Aliyha lagi.


"Tidak Aliyha. Aku hanya akan menikah denganmu. Apa-apaan kau memintaku menikahi Regina, yang jelas-jelas aku mencintaimu," tolak Satya.


.


.


.


.


By... By...

__ADS_1


__ADS_2