Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.44 ~Dua tamparan


__ADS_3

"Ya, sudah. Ayo," ajak Satya yang juga merasa suntuk dengan pikirannya.


Aliyha dan Satya berangkat menuju alamat yang dikirim oleh Regina.


Setelah sampai mereka ternganga dengan apa yang mereka lihat. Sebuah mansion mewah, dan megah terpampang di hadapan mereka.


"Al, ini bener alamatnya?" tanya Satya yang ragu dengan apa yang di lihatnya.


"Nggak tau, Mas. Apa kira salah ya?" Aliyha juga merasakan keraguan yang sama seperti Satya.


"Coba telvon, deh!" pinta Satya.


Aliyha mengangguk, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya guna menghubungi Regina.


"Halo, Mba."


"Iya, Al. Kalian di mana?" tanya Regina dari balik telvon.


"Mba, kayanya kita salah alamat, deh. Sudah sampe, tapi rumahnya gede banget, Mba." jelas Aliyha di ponselnya.


"Kalian sudah sampai! Tunggu di situ, jangan ke mana-mana!" pinta Regina.


Tut tut tut tut


"Mas, katanya tunggu di sini," ujar Aliyha setelah ponsel di tangannya mati.


"Ya, sudah. Kita tunggu saja, mungkin dia tau tempat ini," jawab Satya.


Tak berselang lama Regina terlihat di balik gerbang mansion mewah itu.


"Mas, kita nggak salah. Itu mba Regina!" ujar Aliyha sambil menunjuk ke arah Regina yang berjalan ke arah gerbang.


Satya melirik ke arah yang ditunjuk Aliyha padanya dan benar saja, Regina datang dari mansion yang mereka ragukan.


"Al, kenapa nggak masuk aja?" tanya Regina setelah sampai di dekat mereka dengan nafas tersengal karena berlari dari dalam mansion.


"Ini, rumah siapa, Mba?" tanya Regina penasaran.


"Ini mansion," jawab Regina.


"Mansion? Mansion siapa? Kenapa, Mba di sini?" cecar Aliyha.


"Sudah tanyanya? Satu-satu! Ayo masuk dulu," ajak Regina seraya masuk ke dalam mobil Satya.


"Kemana?" tanya Satya bingung saat melihat Regina yang masuk ke dalam mobil.


"Ke dalam," jawab Regina.


"Kok naik mobil?" tanya Satya lagi.


"Kamu mau jalan? Biar aku yang nyetir." ujar Regina seraya menyodorkan tangannya pada Satya.


Satya melihat ke arah mansion, ternyata lumayan juga jaraknya, pikir Satya. Lalu dia memasuki kursi kemudi untuk menyetir.

__ADS_1


"Mba, sebenarnya ini mansion siapa?" tanya Aliyha yang sudah sangat penasaran.


"Sebentar, kita masuk dulu. Baru aku jelasin," jawab Regina.


"Re, kamu buat kami kebingungan!" ucap Satya.


"Nanti kebingungan kalian akan terjawab setelah di dalam." jawab Regina.


Mobil yang di kendarai Satya berhenti tepat di depan teras mansion. Mereka turun, Aliyha menatap mansion itu yang begitu megah terlihat dari luarnya saja.


"Mba, jangan buat aku mati penasaran. Ini mansion siapa? Sejak tadi Mba nggak jawab-jawab." ucap Aliyha dengan masih menatap kagum mansion yang berda di depannya.


"Ini mansion keluargaku! Mamaku ada di dalam lagi nungguin kita!" jawab Regina dengan kesal karena Aliyha sudah tidak sabar dengan jawabannya.


Aliyha meletakan telapak tangannya di dahi Regina, mengukur suhu tubuhnya.


"Nggak panas, kok, Mba ngigo sih. Jangan becanda, Mba." ucap Aliyha dengan malas.


"Apa! Kamu!" Regina terkejut dengan reaksi Aliyha yang menyatakan dengan benar jika Regina berbohong.


Regina terlihat shock dengan apa yang dia dengar dari Aliyha.


"Yang bener, Re?" tanya Satya. Dia sedikit percaya dengan ucapan Regina karena dia pun melakukan hal yang sama dengannya.


"Ah! Sudah. Ayo masuk!" ajak Regina dengan kesal.


*


"Daniel!" bentak Luis, ayah Rosa.


"Pi," sapa Daniel terkejut.


"Apa yang kamu lakukan dengan anakku?" tanya Luis.


"Pi, Daniel bisa jelasin! Ini semua, bukan hanya kesalahan Daniel, Pi. Rosa juga salah dalam hal ini," ucap Daniel.


"Apa maksid kamu? Kamu mau mengkambing hitamkan Rosa untuk kesalahanmu? Dasar laki-laki tidak tahu d*ri," marah Luis yang semakin mengcengkram Daniel.


"Luis, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku tau Daniel salah dalam hal ini, tapi kita bisa bicara," ujar Dirga yang menengahi mereka berdua.


"Apa yang akan di bicarakan lagi? Kau juga ingin membelah anak kurang aj*r ini," bentak Luis yang sudah sangat emosi.


"Benar, tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Daniel tidak ingin memiliki anak dari Rosa, tapi dia menghamili wanita lain yang bukan istrinya. Pria macam apa yang seperti itu," ujar Siska, ibu Rosa.


Dirga masih mencoba menengahi Daniel dan Luis, hingga Luis menghempaskan Daniel hingga tersungkur ke lantai.


"Uhuk... Uhuk...," Daniel merasa sakit di bagian lehernya karena cengkraman Luis sangat kencang.


"Luis, kita bisa bicarakan ini, dulu," ujar Dirga. "Duduklah," minta Dirga.


"Haa! Tidak perlu, segera urus perceraian mereka! Aku tidak sudi memiliki menantu sepertinya!" Emosi Luis tak bisa di redakan lagi. Dia tidak bisa menerima sikap Daniel.


"Luis, kita bicara dulu. Jangan mengambil keputusan dengan emosi, tidak baik nantinya." Dirga berusaha membujuk Luis , sedangkan Venya hanya duduk diam tanpa berkata. Dia malu dengan apa yang Daniel lakukan, Venya tak bisa lagi membelah putranya.

__ADS_1


"Segera urus perceraian mereka dan setelah itu akan kubeberkan kelakuannya yang memalukan itu!" ujar Luis lagi dengan penuh emosi.


"Bener itu, Pi. Sudah kita pukang saja!" ajak Siska pada suaminya dan mereka pun pergi dari mansion Keluarga Daniel.


Venya shock mendengar perkataan Luis, martabatnya akan hancur, nama keluarganya akan tercemar dengan kelakuan Daniel.


Venya berdiri mendekati Daniel yang tengah berdiri di ruangan itu.


Plak plak


Dua tamparan mendarat di pipi mulus Daniel. Venya sudah sangat malu dengan keluarga Rosa.


Venya pergi setelah menampar Daniel, dia melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Daniel dan Dirga.


"Selesaikan masalah ini, Daniel. Kamu harus menyelesaikan masalah kamu sendiri. Ayah sungguh kecewa sama kamu," ucap Dirga dingin.


*


Aliyha, Satya, dan Regina kini tengah duduk di ruang tamu mansion keluarga Wirawan bersama juga Marina.


"Jadi, ini teman kamu itu?" tanya Marina pada Regina, putrinya.


"Iya, Ma. Ini Aliyha dan Satya," jawab Regina.


Aliyha dan Satya saling pandang saat mendengar Regina memanggil mama pada wanita yang terlihat elegan itu.


"Kenalin, ini Mama aku. Marina Hardi Wirawan!" ucap Regina pada Aliyha juga Satya.


"Wirawan? Istrinya tuan Wilson Wirawan? Maaf, Almarhum Wilson Wirawan," ujar Satya.


"Benar sekali!" jawab Marina.


"Mba, anak angkat, ya?" tanya Aliyha polos.


"Hiks...," Rasa-rasanya Regina ingin menangis, mendwngar pertanyaan Aliyha. Dia masih saja tidak percaya dengannya.


"Ratu Putri Regina Wirawan, dia putri kandungku," jawab Marina.


"Haap!" Aliyha menutup mulutnya saat terbuka lebar karena terkejut dengan ungkapan Marina.


"Sungguh?" tanya Aliyha memastikan dan mendapat anggukan dari Marina.


Aliyha sungguh, sungguh sangat terkejut, namun dalam pikirannya, apa Mba Regina menyewa rumah ini, ya? Sungguh pemikiran yang bodoh, namun keraguannya masih tertanam di benaknya. 10 tahun hidup bersama Regina, yang dia tahu Regina adalah orang seperti dirinya.


.


.


.


.


Ayo-ayo, di bagiin giftnya, biar jari-jari author tambah gercep neken tombolnya🤣

__ADS_1


__ADS_2