
Berkunjung ke panti asuhan.
Perjalan menuju panti asuhan memakan waktu sekitar lima jam, karena letak panti asuhan berada di pinggiran kota, Clarisya, Aldi dan Raihan satu bus
dengan Mahen, Clarisya duduk bersama Aldi, Raihan bersama Mahel, Rizky bersama deniau.
Selama perjalanan Clarisya tidur nyenyak dibahu Aldi, buat yang melihat pasti merasa sangat iri, karena setiap orang yang tak mengenal Aldi dan Clarisya selalu mengira keduanya sepasang kekasih, begitu pula jika Clarisya bersama dengan Raihan ma
ka orang-orang akan mengira keduanya adalah sepasang kekasih.
Selama perjalanan menuju lokasi panti asuhan, Aldi dan Raihan bernafas lega karena Clarisya tidur dengan nyenyak, bahkan Aldi dan Raihan menukar tempat untuk dijadikan tepat bersandar Clarisya.
Raihan tidak mungkin membiarkan Aldi tidak beristirahat jadi memutuskan untuk berganti setiap satu jam.
Clarisya benar-benar diperlakukan seperti tuan putri, Aldi dan Raihan memang sangatlah menyayangi Clarisya.
setelah perjalanan yang memakan waktu hampir lima jam, akhirnya rombongan mahasiswa univ pelita harapan sampai juga.
Rata-rata yang mengikuti kegiatan ini hanya sekedar panjat sosial, agar bisa dipuji karena mengikuti kegiatan sosial, hanya bebera di antara mereka yang memiliki hati tulus untuk berbagi.
"Clar, bangun." Ucap Raihan menepuk-nepuk pipi Clarisya, sedangkan Aldi hanya memainkan rambut Clarisya, merasa ada yang menepuk pipi dan juga memainkan rambutnya Clarisya merasa sangat tertanggu dan akhirnya ia secara perlahan membuka mata.
"Hayemmm." Clarisya menguap ketika berhasil membuka mata.
"Ayo turun, kita udah nyampe." Ucap Aldi sambil mencubit pipi Clarisya.
"Ih." Ucap Clarisya yang sedikit kesal, pasalnya ia barus aja bangun dan Aldi sudah mulai berbuat usil.
"Ternyata kita datang ke tempat biasa." Ucap Raihan yang baru menyadari jika panti asuhan yang mereka datangi adalah panti asuhan yang sering mereka kunjungi dulu.
"Eh iya, gw kangen banget sama anak-anak panti disini udah lama gak maen kesini." Ucap Clarisya yang tersenyum cerah.
Panti ini adalah tempat Clarisya, Aldi, Raihan, Meisya, Reisya dan Reno kunjungi sebelum semuanya berubah.
Clarisya, Aldi dan Raihan berserta tiga sahabatnya memang sering berbagi dengan panti asuhan, tapi bukan hanya satu tapi ada sekitar lima belasan, dan sekitar sepuluh panti jompo serta beberapa rumah singga seperti kolong jembatan dan permungkiman kumu, jika ketiganya tidak memiliki waktu maka mereka akan meminta orang untuk mengantarkan sembako dan beberapa kebutuhan panti, rutin setiap bulannya.
"Kalian lama sekali, ayo masuk." Tiba-tiba saja Mahen datang menghampiri mereka, karena ketiganya tidak kunjung masuk kedalam panti asuhan.
"Eh iya." Kaget Clarisya yang sejak tadi melamun, entah apa yang ia pikirkan.
"Ayo masuk." Ucap Mahen, akhirnya ketiganya masuk mengikuti Mahen, Raihan dan Aldi berusaha untuk menetralkan wajah mereka, berbeda dengan Clarisya yang tampak sangat berubah drastis.
"Cla, coba deh pake topengnya." Ucap Aldi sambil memberi topeng untuk menutupi muka Clarisya, Aldi dan Raihan juga tampak sama menggunakan topeng.
"Kenapa kalian pake topeng ?" Tanya Mahen yang merasa bingung.
"Tidak apa-apa." Jawab Aldi dan Raihan.
"Bukan urusan lu." Jawab Clarisya yang berbeda dari kedua sahabatnya, Clarisya berubah menjadi dingin secara tiba-tiba, membuat Aldi dan Raihan paham luka yang belum sepenuhnya kering mala kembali basa.
"Kalau tahu bakalam kayak gini, gw gak mau ikut ke panti." Lirih Aldi yang tampak menundukan kepala, ucapan Aldi masi bisa didengar oleh Mahen yang memiliki pendengaran tajam.
__ADS_1
"Ada apa dengan mereka, kenapa tiba-tiba aneh, bukannya kemaren mereka terlihat sangat antusias." Batin Mahen.
Acarapun segera dimulai, anak-anak pelita harapan banyak yang menghibur serta mengajarkan beberapa hal baru pada Anak panti, hanya Clarisya yanh duduk termenung di bawah pohon, Clarisya sudah membuka topengnya, airmata yang Clarisya tahan sejak awal akhirnya tumpah begitu saja, Clarisya menangis dalam diam sambil memejamkan mata.
Sejak ketiganya bersifat sedikit aneh, mahen sudah memperhatikan, Mahen bisa melihat kalau Aldi dan Raihan berusaha memfokuskan diri kepada anak panti, dan bahkan mereka terlihat berusaha untuk tidak ingin melihat kearah Clarisya sama sekali.
Mahen sedikit bingung dengan Clarisya yang berubah drastis, bahkan Mahen kaget ketika meyadari Clarisya menangis dalam diam.
"Ada apa sebenarnya dengan mereka bertiga." Batin Mahen.
Mahen segera menjauh dari Aldi dan Raihan, lagi pula itu bukan urusan Mahen.
Aldi dan Raihan sudah membuka topeng mereka dan beberapa anak sangat bahagia melihat adanya Aldi dan Raihan.
"Kakak, kak sasa mana ?" Tanya salah satu anak panti sambil berbisik.
"Sutt, tu." Ucap Aldi sambil menunjuk Clarisya yang sedang duduk dibawah pohon.
"Kak sasa kenapa menangis ?" Tanya adik panti yang menyadari Clarisya sedang menangis tapi tidak bersuara.
Aldi hanya tersenyum, ia bingung harus menjawab apa, Aldi dan Raihan berharap anak panti tidak bertanya lebi jauh lagi.
Tiba-tiba saja anak panti yang bertanya kenapa Clarisya menangis lari menghampiri satu persatu teman-temannya dan semua anak panti akhirnya mulai berbisik-bisik.
"Ada apa ini, kenapa mereka berbisik-bisik." Batin Mahen.
"Sudah siap ?" Tanya anak yang diketahui bernama Rendi.
"Baiklah, kak Aldi tolong mainin gitar kayak biasa yah." Ucap rere sambil memberikan gitar.
Dapat dilihat di gitar itu ada sebuah ukiran nama "Aldi Clarisya Raihan Meisya Reno Raisya", semua juga tampak bertanya-tanya kenapa rere berucap seolah sudah lama kenal dengan Aldi.
"Baiklah." Jawab Aldi sambil tersenyum tulus, dan Raihan juga ikut tersenyum ketika menyadari jika anak panti ingin mengibur Clarisya.
"Ayo, satu dua tiga." Aba-aba yang diberikan Rere.
"Sahabat"
Ketika aku berduka
Kau selalu ada
Memeluk lukaku
Disaatku butuh teman
Yang mengertiku
Bahagiakanku
Tlah banyak cerita
__ADS_1
Yang kita lalui
Menangis bersama dan tertawa
Jarak antara kita
Tak lagi bermakna
Engkau sahabatku selamanya
Sahabat kau bagai bintang
Hiasi malam dengan indah terangmu
Sahabat kau takkan hilang
Walu kau jauh
Tapi dekat hatiku
Tlah banyak cerita
Yang kita lalui
Menangis bersama dan tertawa
Jarak antara kita
Tak lagi bermakna
Engkau sahabatku selamanya
Sahabat kau bagai bintang
Hiasi malam dengan indah terangmu
Sahabat kau takkan hilang
Walau kau jauh
Mereka menyanyikan lagu sambil berjalan ke arah Clarisya, secara perlahan suara anak panti yang sedang bernyanyi semakin terdengar jelas di telinga Clarisya, dengan cepat Clarisya menghapus airmatanya.
Airmata Clarisya, Aldi dan Raihan tidak bisa di tahan lagi, ketika liriknya habis mereka bertiga langsung berpelukan.
"Lu gak bole sedih terus, ingat masi ada kita berdua, masi ada anak panti." Ucap Aldi sambil berbisik.
"Benar kata Aldi, lu jangan diam dalam kesedihan terus, percaya sama Tuhan kalau semua ini adalah yang terbaik." Ucap Raihan sambil mengeratkan pelukan.
"Tunggu ada yang kurang." Ucap Rere ketika menyadari ada yang aneh.
Apa yang aneh ? yang aneh ada di episode berikutnya hiya :)
__ADS_1