Anak Orang Kaya

Anak Orang Kaya
Episode 47


__ADS_3

Brugh


Clarisya jatuh pingsan setelah mendengar pembicaraan antara kedua sahabatnya dan juga ibu panti, membuat Mahen tepat berada disamping Clarisya merasa kaget


Ketiganya langsung keluar dengan wajah panik, mereka takut Clarisya mendengar pembicaraan ketiganya.


"Sejak kapan kalian disini ?" Tanya Aldi yang terlihat khawatir, serta Raihan yang menatap tajam kepada Mahen.


"Sejak semuanya terbongkar." Jawab Mahen tanpa menoleh ke arah Aldi dan Raihan yang sedang menatap garang kearahnya.


"Sebaiknya kalian bawah nak Clarisya ke rumah sakit, untuk saat ini pasti dia sangat syok setelah mengetahui semua ini." Ucap bu Restu dengan suara serak, yang menengahi perdebatan kecil antara Mahen dan Aldi,Raiha.


"Sebaiknya kalian cepat bawah Clarisya kerumah sakit, gw gak bisa buat bawah Clarisya ke rumah sakit, gw masih harus ngurusin anak-anak." Ucap Mahen yang terus menepuk pipi Clarisya.


Semua tampak sangat terkejut melihat Aldi menggendong Clarisya, Clarisya yang terlihat tidak sadarkan diri, padahal sebelumnya Clarisya hanya menangis dan mereka tidak mengetahui apa yang terjadi setelah kepergian Clarisya dan Mahen.


Semua mahasiswa/i dapat melihat raut wajah khawatir dari Aldi dan juga Raihan, bahkan mata Aldi seperti habis menangis karena sedikit sembab.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka ?" Ucap Mahasiswi A.


"Gak tahu, gw baru kali ini liat duo pangeran kelihat banget sangat khawatir." Jawab sahabatnya.


"Iya, ada apa yah sebenarnya, kasian juga si Clarisya nangis kek orang depresi gitu." Sambung temannya yang merasa iba melihat Clarisya yang tadinya menangis dengan sangat histeris.


Balik lagi ke Aldi dan Raihan yang terlihat sangat khawatir.


"Pak tolong lebih cepat lagi." Ucap Raihan yang terus saja protes selama perjalanan, menurutnya supir terlalu lama menyetir sehingga mereka tak kunjung sampai.


"Baik den." Jawab supir tersebut dengan singkat, dan langsung memfokuskan diri menyetir, dan juha menambah kecepatan mobil.


"Huft, kenapa lama sekali." Racau Raihan yang merasa sangat khawatir bercampur kesal dan marah.


Perjalanan menuju rumah sakit memanglah terbilang cukup jauh, pasalnya mereka pada saat itu sedang berada di panti asuhan pinggir kota, atau bisa dbilang berada dibagian pelosok.


"Clarisya sadar dong, Cla jangan kayak gini." Ucap Raihan sambil menepuk-nepuk pipi Clarisya yang tetap setia menutup kedua mata.


"Raihan, lu bisa diam gak si." Ucap Aldi yang mulai tidak bisa mengontrol kekesalannya, pasalnya Raihan terus menerus mengoceh.


Aldi memang sangatlah khawatir terhadap Clarisya, tapi ia tetap bersikap tenang dan tak mau memperkeruh keadaan.


Sedangkan Raihan sangat berbeda dengan Aldi, Raihan tampak sama khawatirnya, tapi sayang Raihan sama sekali tidak bisa bersikap tenang, ia terus saja berbicara, berkomentar dan bertanya.


"Gimana gw bisa diam, dari tadi Clarisya gak mau buka mata." Jawab Raihan tak kalah kesal.

__ADS_1


"Gw tahu, tapi lu juga harus tenang, lu jangan bikin orang lain ikutan panik." Sangkas Aldi.


"Yah yah." Jawab Raihan asal.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya keduanya sampai dirumah sakit terdekatan.


"Dokter- doker." Teriak Raihan.


"Dokter." Teriakan Raihan tambah kencang ketika tidak ada yang menghampirinya.


"Dokter tolong selamatkan sahabat saya, tolong lakukan yang terbaik." Ucap Raihan yang tampak sangat khawatir.


"Sekarang sebaiknya kalian keluar dulu, agar saya bisa lebih fokus terhadap pasien." Ucap dokter tersebut.


"Baik dok, lakukan yang terbaik, saya akan membayar apapun yang dibutuhkan." Ucap Raihan.


"Dok, tolong priksa sahabat saya dan lakukan yang terbaik, pasalnya dia adalah orang paling berharga bagi kami." Ucap Aldi.


"Baik." Jawab dokter tersebut.


Setelah itu kedua sahabat langsung keluar dari ruang pemeriksaan.


-------


Brugh


Clarisya jatuh pingsan setelah mendengar pembicaraan antara kedua sahabatnya dan juga ibu panti, membuat Mahen tepat berada disamping Clarisya merasa kaget


Ketiganya langsung keluar dengan wajah panik, mereka takut Clarisya mendengar pembicaraan ketiganya.


"Sejak kapan kalian disini ?" Tanya Aldi yang terlihat khawatir, serta Raihan yang menatap tajam kepada Mahen.


"Sejak semuanya terbongkar." Jawab Mahen tanpa menoleh ke arah Aldi dan Raihan yang sedang menatap garang kearahnya.


"Sebaiknya kalian bawah nak Clarisya ke rumah sakit, untuk saat ini pasti dia sangat syok setelah mengetahui semua ini." Ucap bu Restu dengan suara serak, yang menengahi perdebatan kecil antara Mahen dan Aldi,Raiha.


"Sebaiknya kalian cepat bawah Clarisya kerumah sakit, gw gak bisa buat bawah Clarisya ke rumah sakit, gw masih harus ngurusin anak-anak." Ucap Mahen yang terus menepuk pipi Clarisya.


Semua tampak sangat terkejut melihat Aldi menggendong Clarisya, Clarisya yang terlihat tidak sadarkan diri, padahal sebelumnya Clarisya hanya menangis dan mereka tidak mengetahui apa yang terjadi setelah kepergian Clarisya dan Mahen.


Semua mahasiswa/i dapat melihat raut wajah khawatir dari Aldi dan juga Raihan, bahkan mata Aldi seperti habis menangis karena sedikit sembab.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka ?" Ucap Mahasiswi A.

__ADS_1


"Gak tahu, gw baru kali ini liat duo pangeran kelihat banget sangat khawatir." Jawab sahabatnya.


"Iya, ada apa yah sebenarnya, kasian juga si Clarisya nangis kek orang depresi gitu." Sambung temannya yang merasa iba melihat Clarisya yang tadinya menangis dengan sangat histeris.


Balik lagi ke Aldi dan Raihan yang terlihat sangat khawatir.


"Pak tolong lebih cepat lagi." Ucap Raihan yang terus saja protes selama perjalanan, menurutnya supir terlalu lama menyetir sehingga mereka tak kunjung sampai.


"Baik den." Jawab supir tersebut dengan singkat, dan langsung memfokuskan diri menyetir, dan juha menambah kecepatan mobil.


"Huft, kenapa lama sekali." Racau Raihan yang merasa sangat khawatir bercampur kesal dan marah.


Perjalanan menuju rumah sakit memanglah terbilang cukup jauh, pasalnya mereka pada saat itu sedang berada di panti asuhan pinggir kota, atau bisa dbilang berada dibagian pelosok.


"Clarisya sadar dong, Cla jangan kayak gini." Ucap Raihan sambil menepuk-nepuk pipi Clarisya yang tetap setia menutup kedua mata.


"Raihan, lu bisa diam gak si." Ucap Aldi yang mulai tidak bisa mengontrol kekesalannya, pasalnya Raihan terus menerus mengoceh.


Aldi memang sangatlah khawatir terhadap Clarisya, tapi ia tetap bersikap tenang dan tak mau memperkeruh keadaan.


Sedangkan Raihan sangat berbeda dengan Aldi, Raihan tampak sama khawatirnya, tapi sayang Raihan sama sekali tidak bisa bersikap tenang, ia terus saja berbicara, berkomentar dan bertanya.


"Gimana gw bisa diam, dari tadi Clarisya gak mau buka mata." Jawab Raihan tak kalah kesal.


"Gw tahu, tapi lu juga harus tenang, lu jangan bikin orang lain ikutan panik." Sangkas Aldi.


"Yah yah." Jawab Raihan asal.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya keduanya sampai dirumah sakit terdekatan.


"Dokter- doker." Teriak Raihan.


"Dokter." Teriakan Raihan tambah kencang ketika tidak ada yang menghampirinya.


"Dokter tolong selamatkan sahabat saya, tolong lakukan yang terbaik." Ucap Raihan yang tampak sangat khawatir.


"Sekarang sebaiknya kalian keluar dulu, agar saya bisa lebih fokus terhadap pasien." Ucap dokter tersebut.


"Baik dok, lakukan yang terbaik, saya akan membayar apapun yang dibutuhkan." Ucap Raihan.


"Dok, tolong priksa sahabat saya dan lakukan yang terbaik, pasalnya dia adalah orang paling berharga bagi kami." Ucap Aldi.


"Baik." Jawab dokter tersebut.

__ADS_1


Setelah itu kedua sahabat langsung keluar dari ruang pemeriksaan.


__ADS_2