
"Emang lu gak kasihan sama kedua orang tua lu, apa lu gak sayang juga sama mereka, gimana nanti sama Aldi, Raihan ?" Ucap Meisya yang berusaha memberikan pemahaman.
"Sa, sekarang belum waktunya lu disini, ayo lebi baik sekarang lu balik ke tempat lu, kasian mereka sa, mereka sayang banget sama lu sa." Ucap Reisya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Aku tahu tapi hiks." Jawab Clarisya terbata yang kehilangan kata-kata.
"Kita akan selalu ada disisi lu sa, gw bakalan selalu lindungin lu, dan Reisya dia bakalan jagain Raihan dan Aldi, dan Reno juga." Ucap Meisya sambil tersenyum.
"Bohong hiks." Jawab Clarisya yang tidak percaya.
----
"Gak, kita gak bohong kok." Jawab Reisya penuh keyakinan.
"Baiklah." Jawab Clarisya mengiyakan keinginan dari kedua sahabatnya.
Ketiganya berpelukan sebagai tanda perpisahan, akhirnya Clarisya mau kembali ke tempatnya dan untuk Reisya dan Meisya, keduanya bakalan tetap selalu berada disamping Clarisya.
Balik lagi ke rumah sakit >
"Kapan dokter akan keluar ?" Tanya Aldi yang tampak sangat kesal, pasalnya sudah cukup lama ia menunggu dan khawatir tapi dokter tak kunjung keluar.
"Sabar Al, kita berdoa aja semoga semua baik-baik saja." Ucap Raihan yang mendengar sahabatnya mengumpat, Raihan sendiri harus berusaha tenang dan memikirkan yang positif serta menjauhkan semua pemikiran negatif.
Klara dan Frico terus memanjatkan doa untuk putri mereka.
Tak lama akhirnya dokter keluar dari dalam ruangan perawatan, dokter keluar dengan raut wajah tenang.
"Bagaimana keadaan putri saya ?" Tanya Klara yang langsung berdiri.
"Bagaimana keadaan putri saya dok ?" Tanya Frico yang langsung ikut berdiri.
"Dok, bagaimana keadaan sahabat saya ?" Tanya Raihan sambil menatap pada dokter.
"Dok, sahabat saya baik-baik sajakan dok, jawab pertanyaan saya dok." Ucap Aldi yang terakhir.
Berentet pertanyaan diberikan pada dokter yang menangani Clarisya, dokter yang mendapat empat pertanyaan sekaligus dari empat orang yang berbeda serta waktu yang sama menjadi kikuk sendiri.
"Ehem, keadaan nona Clarisya membaik, nona Clarisya sudah selesai melewati masa kritisnya." Ucap dokter yang memberikan penjelasan singkat.
__ADS_1
Empat orang yang menanti cemas, saat ini sedang mencerna jawaban dari dokter tersebut, saat menyadari maksud ucapan dokter tersebut keempatnya langsung menatap berbinar pada dokternya.
"Benar, kita tinggal tunggu nona Clarisya untuk siumana." Ucap dokter yang mendapat tatapan berbinar dari pihak atau keluarga pasien.
"Dokter siriuskan, dokter gak bohongkan, putri saya benar-benar sudah melewati masa komanya ?" Tanya Klara dengan suara serak menahan air mata..
"Yah, dan saya harap nona Clarisya diberi waktu cukup untuk beristirahat." Ucap dokter tersebut.
"Baik dok terima kasih." Jawab Aldi singkat.
Mata Aldi dan Raihan tampak sangat berbinar, tadinya mereka berbinar karena merasa takut, sekarang keduanya tampak berbinar karena merasa sangat terharu bercampur bahagia.
Klara dan Frico yang mendengar itu, merasa sangat bahagia dan senang, akhirnya putri satu-satu mereka bisa melalui masa komanya.
"Dok, apa sekarang kita sudah boleh masuk ?" Tanya Aldi pada dokternya.
"Sudah, kalian sudah bisa menjemuk pasien." Jawab dokter.
"Kalau begitu saya pamit undur diri." Ucap dokter kemudian langsung meninggalkan keluarga pasien setelah mendapat tanda setuju.
Akhirnya mereka masuk kedalam ruangan perawatan Clarisya, Clarisya masih terbaring lemah dengan mata yang masih setia terpejam.
"Jangan lama-lama tidurnya, nanti mommy kesal." Sambung Klara.
"Benar sayang, kamu jangan lama-lama yah tidurnya, nanti kalau kamu udah sadar kita bisa sama-sama lagi." Ucap Frico penuh kasih sayang pada putrinya.
Clarisya memang menjadi anak kesayangan Frico dan Klara, karena Klara yang tidak bisa memiliki momongan setelah kelahiran Clarisya, jangan salah untuk mendapatkan Clarisya, Frico dan Klara harus ekstra sabar selama proses.
Sudag dua hari Clarisya siuman, dan selama dua hari Clarisya hanya berbicara secukupnya, apa bila di tanya ia akan selalu menjawab dengan singkat tapi jelas.
Berbeda dengan Clarisya yang selalu bercanda dan bersikap manja, sekarang Clarisya menjadi sangat pendiam.
Next, dua hari kemudian.
Selama tidak terasa sudah dua hari Clarisya sadar, Clarisya enggan untuk berbasa basi dengan semua orang yang ada didalam ruangan, kecualin sang mommy.
"Cla, hiks kenapa lu diemin gw sih ?" Tanya Aldi dalam batin, ia merasa sangat sedih didiem oleh sahabatnya sendiri.
"Sampe kapan sa, lu mau diemin kita." Batin Raihan tersenyum kecut, ia juga kehabisan cara untuk mengajak Clarisya berbicara.
__ADS_1
Clarisya hanya diam, ia tahu pasti para sahabat dan juga orang tuanya merasa sedih dengan perubahab sikapnya.
"Cla, lu kenapa sih diemin kita terus, apa kita punya salah, tolong sa, kalau memang betul kita punya salah, tolong lu kasih tahu kita, biar kita ubah kesalahan kita, jangan diemin kita terus sa." Ucap Raihan sambil menatap sendu pada Clarisya, Clarisya yang ditatap seperti itu langsung saja mengahlikan pandangan ke tempat lain.
"Sa, apa yang Raihan omongin juga ada benarnya, lu harusnya kasih tahu kita, kalau memang kita punya salah kita minta maaf, tapi sa jangan diemin kita kayak gini, lu harus kasih tahu kita sa, dengan cara lu diem kayak gini kita gak bisa ngapa-ngapain, jadi lebi baik lu kasih tahu kita." Sambung Aldi menimpali ucapan Raihan, karena Clarisya sama sekali tidak memberikan respon.
"Hiks hiks hiks kalian gak salah hiks, gw hiks gw kangen hiks sama hikss hikss Me isya hiks sama hiks hiks Reisya hiks." Tangin Clarisya akhirnya pecah, ia kembali merindukan kedua sahabat wanitanya.
"Iklasin mereka sa, biar mereka hidup tenang disana sa, jangan sedih terus." Ucap Aldi sambil memeluk Clarisya dengan erat, meski sampai sekarang Aldi sendiri masih belum bisa mengikhlaskan kepergian kedua sahabat wanitanya.
"Tapi hiks, hiks mereka hiks, kenapa mereka harus hiks hiks, pergi hiks hiks, gw hiks hiks kangen hiks." Clarisya terus saja menangis.
Raihan, hanya diam dan menitikan air mata, ia sangat sedih dan terpukul atas kehilangan kedua sahabatnya tepat di hari ia berulang tahun.
Belum sembuh benar luka Raihan, sekarang luka itu kembali terbuka, bagai di iris hatinya ketika melihat sahabat kecilnya yang terus saja menangis.
Aldi yang menyadari Raihan hanya diam dengan cepat mengahlikan tatapan pada Raihan, ia dapat melihat air mata yang bercucuran di pipi Raihan, ia tahu apa yang membuat Raihan menangis.
"Semua sudah berlalu, semua tinggal kenangan, sekarang lu harus ikhlasin Meisya dan Reisya karena mereka selalu ada di hati lu Sa, dan untuk lu Raihan, berhenti menyalahkan diri lu sendiri, hari ulang tahun lu adalah hari dimana lu harus banyak bersyukur, jadi berhenti berpikir yang tidak-tidak, berhenti menyalahkan diri lu sendiri, karena ini sudah menjadi goresan takdir." Ucap Aldi penuh ketegasan pada kedua sahabatnya.
-----
**Hai semua, makasi yah buat kalian semua yang udah mau setia nungguin novelku, makasi yang menjadi penunggu setia, makasi buat yang udah kasi vote, like dan juga komentar yang buat aku semakin semangat.
Guys, hari ini aku mau minta kalian buat bantu Like, komen dan yang paling penting bantu Vote juga yah, maaf banget yah, kalau kesannya aku terlalu memaksa.
Ohiya, guys jangan lupa juga buat baca novelku.
> Anak orang kaya
> Menikah
> Kebahagiaan dan kehancuran
Story Chat
> Broken Life
Semoga kalian gak bosen-bosen yah buat baca novelku, dan satu lagi aku nulis novel ada lima guys jadi harap maklum kalau ada yang la**te update :)
__ADS_1