
Satu jam berlalu begitu cepat, orang tua Clarisya sudah sampai di rumah sakit yang dimaksud Raihan, Seharuanya perjalanan menempuh waktu sekitar empat sampai lima jam, tapi karena kedua orang tua Clarisya menggunakan jet pribadi, maka mereka hanya membutuhkan waktu satu jam.
Tampak Klara sangat ceman dan penasaran, ada apa sebenarnya, sampai Raihan meminta ia segera datang kerumah sakit.
Frico hanya diam dan memeluk istrinya, sebenarnya ia memiliki firasat yang tidak enak tentang putrinya, tapi ia tidak mungkin memberi tahu sang istri, yang ada Klara akan semakin cemas dan tidak tenang selama perjalanan.
Rumah sakit tempat Clarisya di rawat, kian heboh karena kedatangan Frico Wijaya sang pengusaha sukses, Frico yang terkesan dingin dan tak pandang bulu, untuk apa ia datang ke rumah sakit kalangan menengah kebawah, apa yang membuat pengusaha sukses itu datang.
"Sayang, sebaiknya kamu telepon Raihan dulu." Ucap Frico lembut pada istrinya.
"Baik, tunggu sebentar." Jawab Klara.
Akhirnya panggilan terhubung.
"Hallo, nak Raihan, sekarang tante udah dirumah sakit, kamu dimana ?" Tanya Klara pada sahabat putrinya.
"Hallo tante, tante tunggu sebentar yah, nanti Raihan samperin di depan." Jawab Raihan dari seberang telepon.
"Baiklah, tante tunggu yah." Ucap Klara dan langsung mematikan sambungan telpon.
"Bagaimana, apa katanya ?" Tanya Frico sambil menatap istrinya penuh cinta.
"Nanti dia yang nyamperin kita." Jawab Klara sambil memaksakan senyuman.
"Baiklah." Jawab Frico sambil mengecup sekilas kening Klara.
"Ih, kamu ini malu-maluin, kayak anak muda aja." Gerrutu Klara pada suami yang tidak tahu tempat, main nyosor aja kayak anak muda, mungkin lupa kali kalau udah tua.
"Gak apa-apa, toh sama istri sendiri jadi gak masalah dong." Jawab Frico menaikan kedua bahu.
__ADS_1
Sementara para pengawal yang melihat itu hanya bisa menahan senyum, memang dari masih muda, tua mereka Frico selalu bersikap romantis kepada nyonya mereka yaitu Klara, jadi bukan hal baru jika melihat keduanya saling membagi kasih di tempat umum.
"Ehem, tante, om." Tegur Raihan, Raihan sudah sekitar lima menit melihat Frico dan Klara, tapi ia seperti tidak memiliki keberanian untuk menegur, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa orang tua dari sahabatnya.
"Hai Raihan, ada apa nak, kenapa kamu minta tante datang kesini." Tanya Klara yang langsung berdiri setelah melihat orang yang ia tunggu.
"Maaf tante, om, Raihan jadi ngerepotin, tapi sebelumnya Raihan ngajak untuk ketemu Clarisya." Ucap Raihan sambil setengah menunduk, ia tidak sanggup untuk melihat kedua orang tua yang kini berdiri di depannya.
"Semuanya baik-baik sajakan nak." Tanya Klara yang mulai cemas, ia dapat melihat raut wajah Raihan yang seperti habis menangis.
"Mari ikut saya om, tan." Bukan menjawab pertanyaan dari Klara, tapi Raihan mala mengajak kedua orang tua sahabatnya untuk mengikuti dia.
"Mari." Jawab Frico yang sejak tadi hanya diam saja.
Ketiganya berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dan dibelakang ada sekitar sepuluh orang yang mengikuti.
Raihan tentu saja tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia paham betul jika kedua orang dewasa yang ada didepannya adalah sosok penting, sangat tidak mungkin jika keduanya pergi tanpa ada pengawal, jika keduanya tampak tidak memiliki ajudan dibelakang, jangan salah karena mereka memiliki pengawal bayangan yang menyamar menjadi orang biasa, tanpa menggunakan pakaian layaknya seorang bodyguard.
Setelah hampir satu menit mereka berjalan mengikuti Raihan, akhirnya mereka sampai juga di salah satu ruangan vip.
Klara dan Frico saling pandang satu sama lain, begitu pula dengan para pengawal yang memperhatikan sekitar.
Raihan tampak menghela nafas berat untuk masuk, tapi mau atau tidak Raihan harus masuk.
Ketika mereka masuk, Frico dan Klara berhenti sejenak melihat satu lelaki yang seumuran dengan Raihan, tampak sedang menunduk lemas sambil terisak, tampak sangat memperhatinkan menurut Klara dan Frico.
Berikut mata keduanya berahli pada sosok wanita yang sedang terbaring lemah di atas ranjang, mata keduanya menyipit melihat wanita tersebut, sepuluh detik kemudian, mata keduanya melotot sempurna ketika menyadari jika wanita yang terbaring lemah di atas ranjang pasien adalah putri mereka satu-satunya.
Melihat banyak alat yang terpasang, membuat Klara tampak berhenti bernafas, mata putrinya yang menutup membuat ia mengeluarkan airmata.
__ADS_1
"Tolong jelasin nak Raihan." Ucap Frico sambil menatap putrinya dan kemudian mengahlikan tatapan pada sahabat putrinya.
"Clarisya jatuh koma." Jawab Raihan sambil menundukan kapala.
"Maafin Raihan om, tante karena gak bisa buat jagain Clarisya hiks." Sambung Raihan yang kini mengeluarkan airmata, tatapan penuh penyesalan terlihat jelas dimata Raihan.
Koma, kata yang masih terngiang-ngiang dikepala Frico dan Klara, mereka tampak masih mencerna kata yang keluar dari mulut Raihan.
"Clarisya bangun sayang." Ucap Klara lembut pada putrinya, kata koma benar-benar ia tepis, yang ia tahu putrinya sedang tertidur.
"Sayang, hei mommy disini ayo bangun." Masih berucap dengan lembut dan memancarkan senyum, ia percaya jika putrinya akan terbangun jika ia terus memanggil, tapi hasilnya nihil.
"Hiks, mommy disini bangun hiks hiks." Tangis Klara pecah setelah sekian kali memanggil putrinya, tapi tak kunjung mendapat sautan.
Frico langsung membawah istrinya dalam pelukan, membiarkan istrinya menangis dalam dada bidangnya.
"Hush sayang, jangan nangis yah, nanti ganggu Clarisya yang lagi istirahat." Ucap Frico lembut, sambil mengusap kepala istrinya.
"Tapi, hikss kenapa hiks, kenapa hiks putri kit a hiks" Jawab Klara yang tak bisa melanjutkan ucapan, pasalnya lidah ia seolah beku.
"Sudah, ayo berhenti menangis, apa kamu tidak malu." Ucap Frico sambil tersenyum.
Mata Frico kembali menatap kepada putrinya, tatapan begitu sendu, ia sangat sedih melihat putrinya terbaring lemah, bagai disambar petir sekarang putri kesayangannya terbaring lemah di atas ranjang dengan bantuan alat-alat untuk tetap bertahan hidup.
Aldi, sekarang ia dibawah ke ruangan perawatan lainnya untuk diperiksa, pasalnya ia jatuh pingsan karena terlalu lama menangis, yang mengantar adalah pengawal Frico.
Raihan, ia hanya berdiri dan diam, ia begitu merasa sakit sehingga untuk berbicara saja, ia semacam tidak kuat untuk berbicara.
Para pengawal hanya berdiam diri, mereka berdoa dalam hati semoga nona muda mereka dalam keadaan baik-baik saja, dan semoga nona muda mereka cepat sadar.
__ADS_1
Apa sesyok itu Clarisya sampai jatuh koma, hanya Clarisya dan Tuhan yang mengetahui jalan takdir, apa harus begini banget jalannya takdir, hanya yang menulis yang menentukan semuanya.
Terima kasih karena sudah membaca, sampai jumpah di next episode :)