
Selamat membaca😊
Saat Agatha akan kembali bersama kedua orang tuanya,ia merasakan hawa aneh di sekitar taman ini.
Aura kebencian itu terasa sangat menyengat sampai membuat Agatha hampir muntah.
"Bau apa ini?.." gumam Agatha sembari menutup hidung dan mulutnya karena merasa mual.
Alice menghampiri anaknya karena merasa khawatir,ia juga membelai rambut Agatha dengan sangat lembut.
"Kamu sakit sayang?" tanya Alice dengan tatapan mata sayu,Agatha menggeleng lalu ijin kepada ibunya untuk pergi ke kamar mandi umum.
"Gak..kok bu Agatha mau ke toilet dulu" timpal Agatha sambil menepis halus tangan ibunya,Alice semakin bimbang saat melihat Agatha ia tak tahu harus mengikuti anaknya atau tetap bersama mantan suaminya.
Agatha berjalan ke arah kamar mandi sekitar pojok taman,disana terlihat beberapa orang sedang berjalan atau berlari mondar mandir sambil berolahraga riang.
Agatha masuk ke salah satu kamar mandi yang kosong,di sana ia hanya mengurung diri sambil menatap wajah cantiknya di depan cermin.
Sesekali Agatha menyentuh cermin yang memantulkan wajah bak bidadarinya sambil melamun karena terbawa rasa bersalah.
Setelah beberapa saat ia berada di dalam kamar mandi ia langsung tersadar dari lamunannya kemudian membasahi seluruh wajahnya dengan air keran.
Saat Agatha keluar dari kamar mandi ia tak sengaja menabrak seorang ibu muda yang sedang berjalan bersama kedua anaknya.
Anak perempuan yang dia gandeng mungkin sudah berumur 5 tahunan sedangkan bayi laki-laki yang sedang ia gendong berumur sekitar 8 bulanan.
"Maaf..saya tadi gak sengaja" seru Agatha sambil melihat keadaan ibu dan bayinya.
"Gak papa saya tadi juga sedang melamun" jawab ibu muda berdaster merah tua itu,Agatha baru menyadari kalau di bagian tubuh wanita itu terdapat luka lebam yang cukup banyak.
"Ibu yakin gakpapa?,sepertinya ada banyak luka lebam di tangan dan pipi ibu" timpal Agatha sambil memegang tangan ibu muda itu dengan ekspresi khawatir.
Tak berapa lama setelah Agatha menanyakan hal itu anak yang berada di gandengannya tiba-tiba menangis kencang tanpa sebab yang jelas.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Agatha sambil menundukkan kepalanya menyesuaikan tinggi anak kecil itu.
"Ka..ka..kakak bidadari kan??" jawabnya terbata-bata sambil menangis terisak isak,Agatha kemudian menggendong anak kecil itu sembari memeluk tubuh kecilnya.
__ADS_1
Entah mengapa dada Agatha merasa sesak saat melihat seorang anak kecil tak berdosa menangis di hadapannya terlihat jelas di matanya dia berharap banyak pada Agatha.
Agatha membelai rambut anak itu kemudian menghapus air mata yang sampai membasahi seluruh wajahnya itu.
"Ka..kak bantuin mamah" pekik anak itu sambil memeluk leher Agatha.
Agatha tak tahu masalah apa yang sedang dialami ibu berserta kedua anaknya yang masih kecil itu,sebelum ibu itu membicarakannya Agatha tahu masalah ini bukan masalah sepele.
Ia ingin menolong Ibu itu tapi setelah kejadian hari ini apa dia masih bisa menolong orang lain untuk kesekian kalinya?
Apa dia harus membohongi diri sendiri padahal sekarang dia sangat ingin membantu orang lain?
"Emm..adek mau es krim?" tanya Agatha sambil tersenyum berusaha mengalihkan pembicaraan anak kecil yang berada di gendongannya itu.
"Sayang jangan ngerengek sama kakak cantik,kita pulang sekarang yuk" seru ibu itu terus membujuk anak sulungnya agar mau pulang bersamanya.
Anak kecil itu terus menggeleng dan memeluk Agatha erat agar ibunya tak membawa dia pergi.
Ibu itu menatap Agatha dengan mata sayu,ia merasa bersalah kepada Agatha,kini anaknya sudah bergantung pada orang yang baru ia kenal beberapa menit yang lalu.
"Kamu mau rasa apa?" tanya Agatha dengan senyum ramah membuat anak kecil bernama Marsha itu mulai merasa nyaman pada Agatha.
"Cokelat!" teriak anak itu antusias dan semangat sambil menatap kedua mata jernih Agatha yang membuat Marsha gadis kecil berambut cokelat itu terpana.
Agatha merogoh saku bajunya berharap uang pemberian ibunya masih ada di dalam kantungnya.
"Hahh..untung masih ada uang nya" gumam Agatha dalam hati,saat ia akan membayar es krim yang ia beli,ibu itu langsung memegang tangan lnya kemudian mencegah Agatha membayar es krim yang dibeli anaknya.
"Biar saya saja yang bayar es krim nya" seru ibu itu lalu mengambil dompet di dalam tas bayinya.
Saat dia membuka dompet itu ternyata uang yang ia bawa tidak cukup untuk membeli es krim yang anaknya beli karena uang yang ada di dalam dompet nya hanya uang 5.000 rupiah.
"Gakpapa bu biar saya saja yang bayar saya juga beli kok ini buat ibu juga" seru Agatha sambil menyodorkan es krim rasa vanila itu.
Setelah membeli es krim,Agatha,ibu dan kedua anaknya duduk di bangku taman sambil berbincang bincang nomal.
Sedangkan Marsha dan adiknya Arka sedang bermain boneka yang tadi ia bawa di rerumputan hijau di depan ibunya.
__ADS_1
Setelah Marsha dan Arka bermain cukup jauh Agatha memulai pembicaraan seriusnya.
"Nama ibu siapa?" tanya Agatha sambil memakan es krimnya yang hampir meleleh di tangannya.
"Vania..nama saya Vania" seru ibu itu sambil menunduk dengan ekspresi sedih,Agatha yang bisa merasakan aura kesedihan yang dalam darinya kemudian memegang tangan Vania dengan lembut.
"Aku panggil kak Vania ya.." seru Agatha dengan ekspresi senang agar suasana sedih itu bisa mencair seiring berjalannya waktu.
Tiba-tiba hp Agatha berbunyi keras,ternyata ibunya yang menelepon Agatha karena dia tidak kunjung kembali.
Agatha melihat jam di hpnya sudah pukul 16.30 berarti sudah lebih setengah jam ia meninggalkan kedua orang tuanya,Agatha kemudian meninggalkan Vania untuk mengangkat teleponnya.
"Agatha kamu ada dimana,kok gak ada di kamar mandi!" teriak ibunya yang sangat over protektif membuat Agatha menghela nafas panjang.
"Tenang bu Agatha ada di sekitaran toilet tadi habis beli es krim soalnya" seru Agatha merasa bersalah pada Alice karena telah membuat ibunya merasa khawatir.
Tak berapa lama Alice dan Angga datang menyusul Agatha yang berada di dekat tempat mereka berada,Alice kemudian berlari memeluk Agatha.
"Tadi kamu kemana aja sih Agatha,Ayah jadi khawatir" seru Angga sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Agatha hanya tertawa melihat ayahnya jadi salah tingkah karena mengira dirinya hilang lagi.
"Gak kok tadi Agatha lagi ngobrol sama teman" seru Agatha sambil membalikan badannya menuju ke wanita muda yang berumur sekitar dua puluhan tadi.
Ia sangat terkejut saat orang yang akan ia kenalkan pada ibunya tiba tiba menghilang tanpa jejak,jelas sekali dia pergi saat Agatha mengangkat telepon dari ibunya.
Padahal ia sudah berniat untuk membantu ibu yang baru ia kenal tadi,tapi ternyata takdir berkata lain atau mungkin Tuhan tak mengizinkan Agatha ikut campur urusan orang lain lagi?
Agatha hanya menghela nafas panjang setelah mengetahui fakta orang yang akan dia bantu pergi tanpa pamit pada dirinya,padahal ia sangat berharap bisa mengenal satu keluarga kecil itu lebih jauh.
Saat ia akan pergi untuk kembali ke rumahnya,Agatha menemukan dompet milik Vania yang mungkin tak sengaja tertinggal karena ia terburu-buru meninggalkan Agatha.
Agatha tersenyum menatap dompet itu lalu pergi bersama kedua orang tuanya.
Terima kasih sudah membaca😊
Jangan lupa like, vote dan komentar😊
__ADS_1