
Langkahnya terhenti di ruang keluarga. Ternyata orang tua Claudia sedang menonton televisi.
"Hah kelakuan orang itu sungguh tidak bisa dimaafkan." Ucap John
"15 tahun adalah hukuman yang setimpal dengan perbuatannya." Sambung Sasha.
15? Itu masih kurang! Seharusnya hukuman seumur hidup untuk menebus seluruh perbuatannya. Itulah yang ada di batin Clarisa sekarang.
"Pa, ma kalian sedang melihat apa?" Tanya Clarisa yang pura pura tidak tahu.
"Ini seorang pria mengaku kepada polisi kalau ia telah memperkosa banyak wanita bahkan yang dibawah umur." Ucap John.
"Tak hanya itu, ia juga mengaku telah menjual video dan foto yang tidak senonoh tapi karena tidak ada bukti berupa ponsel maka itu tidak bisa di buktikan." Hehe tentu saja tidak ada, ponselnya kan sudah menjadi abu karena Clarisa terlalu pintar. Clarisa lalu menepuk dahinya karena ia terlalu pintar sampai menghapus barang bukti.
"Bahkan sekarang ia malah hilang ingatan. Entah apa yang membuatnya amnesia, tapi anehnya itu terjadi setelah ia menyerahkan diri ke polisi." Sambung Sasha.
Tentu saja hilang ingatan. Kini Clarisa bisa membanggakan dirinya sendiri.
"Tapi aneh sekali ya, bagaimana bisa ia hilang ingatan setelah mengakui perbuatannya?" John masih terheran dengan apa yang menimpa pria itu.
"Tapi sekarang dia sudah mendapat hukumannya, kurasa itu lebih baik." Clarisa lalu pergi ke dapur meninggalkan kedua orang tua Claudia. Clarisa membuka kulkas dan mengambil eskrim.
"Nona, biar saya siapkan." Ucap pelayan yang masuk ke dapur.
__ADS_1
"Oh iya terima kasih." Ucap Clarisa. Setelah menyiapkan es krim pelayan itu langsung pergi dari sana. Tiba tiba Mago muncul di samping Clarisa.
"Apa kau menghancurkan barang buktinya?" Tanya Mago.
"Astaga, bisa kah kau memberi tahu ku kalau sedang berada di sebelah ku?" Kata Clarisa yang terkejut.
"Iya, aku menghancurkan ponsel si pelaku."
"Lagi pula pelakunya sudah dipenjara karena memang ada korban yang melapor sebelumnya."
"Dan juga, dalam ponsel itu ada video privasi ku, aku tak bisa membiarkan video itu masih ada jadi terpaksa ku hancurkan ponselnya."
"Tapi kau kan tahu kalau ada buktinya maka hukumannya akan lebih berat." Bantah Mago.
"Apa kau lupa? Dia juga hilang ingatan, kurasa itu setimpal dengan menghilangkan barang bukti. Yang penting dia sudah di penjara bukan?" Clarisa lalu memakan es krim yang sudah disiapkan di mangkuk.
Clarisa lalu kembali ke kamarnya dan lanjut rebahan di atas kasur.
"Mengapa semua hari berjalan begitu membosankan?" Clarisa yang bosan karena tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan.
"Harus kah aku memelihara sesuatu?" Clarisa lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ikan atau kucing?"
__ADS_1
"Mungkin anjing kecil akan lebih baik."
"Tidak, mungkin kucing."
"Sudahlah aku pergi jalan jalan saja." Clarisa bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk pergi. Sepertinya ia akan sering pergi jika bosan, haruskah dia memiliki hewan peliharaan?
Clarisa pergi ke taman yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Memakai atasan tanpa lengan berwarna putih dan rok plisket berwarna kuning tua. Ia berjalan di sekitar taman sambil melihat lihat beberapa pedagang disana. Clarisa sedikit melamun jadi tidak terlalu fokus berjalan. Tiba tiba sesuatu menghentikan langkahnya. Ia baru saja menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.
"Maaf maaf." Clarisa lalu menatap wajah orang itu dan ternyata yang ia tabrak adalah Tara.
"Tidak apa apa." Tara lalu menatap balik Clarisa.
"Ah kau rupanya."
"Apa kau sendirian?" Tanya Clarisa.
"Iya aku sendirian." Jawab Tara.
"Ada apa ini, wajah mu sedikit pucat." Clarisa lalu memegang kedua pipi Tara dengan tangan kirinya. Namun Tara mengeluarkan ekspresi kalau ia agak tidak suka dengan hal itu.
"Ah maaf." Clarisa lalu melepaskan tangannya dari wajah Tara.
"Kau mau sesuatu?"
__ADS_1
"Apa kau mau es krim? Biasanya itu akan menjadi mood booster untuk beberapa orang." Tanya Clarisa.
"Terima kasih, tapi aku tidak suka makanan manis." Jawab Tara.