
"Si.. siapa kau sebenarnya?" Tanya si botak yang mulai kehabisan napas.
"Hmm.. Hukuman apa yah yang pantas untuk orang seperti kalian?" Ucap Clarisa tanpa menghiraukan pertanyaan si botak.
"To.. tolong ampuni kami.. aku punya lima anak dan seorang istri.." Ucap si kurus sambil memohon mohon.
"Oh begitu ya?"
"Hmm..." Ucap Clarisa yang terlihat sedang mempertimbangkan untuk melepaskan mereka.
"Pembohong!" Clarisa lalu mempererat ikatan 'Tali Malaikat' nya karena sudah tau kalau perkataan si kurus adalah bohong.
"Bagaimana menurutmu?" Clarisa lalu bertanya ke arah sebelahnya karena ternyata Mago sudah ada di sana.
"Hancurkan saja." Ucap Mago.
'Tali Malaikat' semakin erat membuat kedua pria itu tak bisa bernapas. Kemudian mereka berubah menjadi abu dan diterpa hembusan angin menuju alam baka.
"Tugas selesai." Ucap Clarisa tersenyum puas karena misinya selesai.
Tara terbangun dari tidurnya, sudah beberapa hari ini ia menerima teror dari hantu Clarisa. Kini ia terbangun karena mendapat mimpi buruk. Clarisa yang mendatanginya lalu berkata 'Kau, pembunuh!' membuatnya terus memikirkan Clarisa. Ia mengambil ponsel di mejanya lalu menelepon seseorang.
"Halo?"
__ADS_1
"Mmm, apa kita bisa bertemu?"
"Pulang sekolah di taman X."
"Malam? Oh baiklah tak masalah." Begitulah percakapan yang Tara lakukan sebelum menutup teleponnya.
Disekolah Clarisa sekarang. Jesslyn, Miya dan Selena sedang berkumpul di lorong untuk membahas masalah Mbah dukun yang menipu mereka.
"Huh.. aku sama sekali tidak tidur semalam." Keluh Selena
"Mbah dukun itu menipu kita, dasar dukun sialan!" Ucap Miya.
"Apanya yang pergi? Hantu itu malah marah dan mencekik ku semalam." Tambah Jesslyn.
"Itu tidak mungkin, dia menipu kita tentu saja uang kita tak akan kembali." Ucap Jesslyn
"Sudahlah, lupakan uang itu dan pikir kan bagaimana caranya untuk mengusir hantu Clarisa." Ucap Miya
"Huh.." Mereka bertiga membuang napas bersamaan seolah lelah dengan yang ada.
"Kalian sedang apa?" Tanya Clarisa yang tiba tiba mendatangi mereka bertiga.
"Ah Claudia, kami.. sedang.." Selena sedikit bingung, Claudia memang dihantui oleh Clarisa juga tapi menceritakan kalau mereka di tipu oleh dukun sepertinya akan sedikit memalukan. Tiba tiba Jesslyn menutup mulut Selena, Jesslyn tak akan membiarkan si tukang keceplosan ini membocorkan tentang mereka dan Mbah dukun.
__ADS_1
"Kami sedang membicarakan restoran yang baru baru ini buka, katanya makanan disana sangat enak." Kebetulan memang ada restoran di dekat sekolah yang baru baru ini buka, setidaknya itu bisa menjadi alasan yang bagus untuk pertanyaan Clarisa.
"Hah? Restoran mana?" Tanya Miya yang belum connect dengan Jesslyn. Plakk.. Karena gemas Jesslyn lalu memukul pundak Miya dengan kencang dan mengedipkan satu matanya berulang kali.
"Aww, Ah iya restoran itu." Ucap Miya yang pura pura tahu masalah restoran yang sedang Jesslyn bicarakan.
"Mmm! Bagaimana kalau kita kesana." Usul Selena setelah melepaskan mulutnya dari Jesslyn.
"Wah ide bagus!" Seru Miya
"Sepertinya aku tidak ikut, karena sudah ada janji dengan seseorang." Jawab Clarisa. Sebenarnya ia hanya mencari alasan karena malas untuk makan bersama mereka.
"Yahh.." Keluh mereka bertiga bersamaan.
"Maaf ya, lain kali aku akan bergabung."
"Aku duluan, ada materi yang lupa belum ku catat." Ucap Clarisa sebelum pergi meninggalkan mereka bertiga.
Hari sudah menjelang malam, kini Tara sudah ada di taman tempat ia akan bertemu seseorang. Tara menunggu sambil terduduk di salah satu kursi taman. Sebenarnya ia datang setengah jam lebih awal karena menghindari hantu Clarisa yang akan mengganggunya di rumah. Lama menunggu, akhirnya orang yang ingin ia temui datang. Seseorang yang baru ia kenal beberapa hari lalu, namun ia merasa percaya pada orang itu.
"Apa kau sudah lama disini?" Claudia atau yang para pembaca tahu adalah Clarisa, ialah yang ingin Tara temui.
"Sedikit."
__ADS_1
"Ah apa aku terlambat? Sepertinya aku tepat waktu." Clarisa lalu melihat jam tangannya untuk memastikan bahwa ia tak terlambat.