
Setelah pulang sekolah mereka mendatangi orang pintar untuk menyelesaikan masalah mereka. Dengan ragu mereka berdiri di depan rumah orang pintar itu. Tak yakin, tapi mungkin ini jalan satu satunya.
"Jess, apa kau yakin?" Selena lalu memegang erat lengan Jesslyn dengan segala keraguan di hatinya.
"Tidak ada pilihan lain, kita harus mencobanya." Jesslyn lalu melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah diikuti Miya dan Selena juga. Angin bertiup kencang, tiba tiba pintu terbuka sangat lebar membuat tiga orang itu terkejut melihatnya. Mereka lalu bergandengan tangan dan perlahan masuk ke rumah itu.
"Ha.. halo..?" Ucap Jesslyn
"Apa ada orang?" Tanya Selena memastikan.
"Kami datang untuk meminta bantuan!" Ucap Miya. Seseorang datang dari balik lemari tua di depan mereka, membuat ketiganya kembali terkejut seperti masuk ke rumah hantu. Orang itu adalah seorang pria paruh baya dengan pakaian serba hitam dan rambut keriting gondrong yang sedikit kering. Ia lalu duduk dan menatap ketiga anak remaja di depannya.
"Apa yang membawa kalian ke sini?" Tanya pria itu.
"Eeeh, begini-"
"Panggil aku mbah dukun." Sela dukun itu di tengah tengah perkataan Jesslyn.
"Mbah dukun, jadi kami ingin minta bantuan."
"Sudah beberapa hari ini ada makhluk yang mengganggu kami bertiga, jadi kami ingin minta mbah untuk mengusirnya." Pinta Jesslyn.
"Kalau tidak keberatan, izinkan aku melihatnya." Mbah dukun lalu mengulurkan tangannya pada Jesslyn sambil memejamkan mata. Sedikit ragu, akhirnya Jesslyn meraih tangan mbah dukun dan berharap kalau ada harapan. Dukun itu hanya memejamkan mata sambil seolah olah menerawang. Sampai akhirnya membuka mata dengan ekspresi terkejut.
"Ada apa mbah?" Tanya Miya.
__ADS_1
"Dari hasil penerawangan ku, makhluk ini adalah makhluk yang sangat kuat. Akan sulit jika kalian ingin aku mengusirnya." Ucap Mbah dukun.
"Tolong kami mbah, kami akan melakukan apa saja asal dia bisa pergi." Ucap Selena sambil memohon.
"Bahkan jika kami harus membayar, kami akan membayarnya." Ucap Jesslyn.
"Sebenarnya ada sebuah benda yang bisa mengusir makhluk itu." Mbah dukun lalu bangkit dan mencari benda itu. Seketika mereka bertiga merasa lega karena masih ada harapan untuk kembali hidup dengan normal. Mbah dukun lalu memberikan mereka patung kecil yang berbentuk orang zaman kuno masing masing satu.
"Pasang ini dimana pun di kamar kalian maka makhluk itu akan pergi." Ucap Mbah dukun. Jesslyn, Miya dan Selena hanya memutar mutar patung itu dan tak begitu yakin kalau itu akan mengusir hantu Clarisa.
"Totalnya 2 juta." Sambung Mbah dukun
"HAHH?!"
"Kalau tidak mau tak masalah, itu sudah kuberi harga teman." Ucap Mbah dukun santai. Terpaksa mereka bertiga membayarnya, berharap hantu Clarisa benar benar pergi dari kehidupan mereka. Mereka pun pulang ke rumah masing masing dan meletakkan patung itu di atas meja dikamar mereka.
Kini di kamar Claudia, Clarisa sedang duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Miko lalu naik ke pangkuan Clarisa dan dengan manja tidur di atasnya.
"Miko," Panggil Clarisa
"Hmm?"
"Aku merindukan seseorang, tapi aku tak bisa menemuinya sekarang." Curhat Clarisa. Sebenarnya orang yang Clarisa maksud adalah Ren, ia tak bisa menemui Ren karena ia menggunakan tubuh Claudia sekarang.
"Kau rindu dengan seseorang yah..?"
__ADS_1
"Apa itu pacar mu?" Tanya Miko
"Pa.. pacar?"
"Bukan ah! Hanya teman." Bantah Clarisa.
"Mmm.. aku akan menganggap kau rindu pada pacar mu."
"Sebenarnya aku sedikit suka dia sih."
"Tapi hanya sedikit." Kata Clarisa sambil membuat rongga kecil antara ibu jari dan jari telunjuknya.
"Kalau begitu temui saja dia."
"Gunakan identitas mu yang sekarang." Jawab Miko
"Identitas ku yang sekarang? Maksud mu identitas Claudia?"
"Heem, anggap saja kamu mulai dari awal lagi." Kata Miko setelah menganggukkan kepala.
"Apa cara itu akan berhasil?"
"Coba saja dulu siapa tahu berhasil."
"Emm, Okay.." Ucap Clarisa sedikit Ragu.
__ADS_1
"Aku ada urusan, aku akan pulang agak malam." Clarisa lalu bangkit dan membersihkan bajunya dari bulu Miko yang rontok.
"Apa kau akan mengurus ketiga perempuan itu?"