
"Iya dia akan ikut." Ucap Jesslyn
"R- Ren..?" Tanya Clarisa gugup mendengar Ren akan ikut. Apakah ia sudah sedekat itu dengan Jesslyn?
"Iya, kau.. tolong usahakan yah.." Ucap Jesslyn yang masih memelas.
"Baiklah." Tentu saja Clarisa ikut, ia harus memantau kalau Ren baik baik saja.
***
Malam harinya dengan berat hati Clarisa datang ke pesta ulang tahun Jesslyn hanya demi bisa memantau Ren. Ia lalu turun dari mobilnya, ia tak membawa mobil sendiri melainkan di antar supirnya. Clarisa lalu berjalan mendekati Jesslyn yang sedang menerima tamu di depan pagar rumahnya sambil membawa hadiah. Atau lebih tepatnya di depan rumah lamanya.
"Selamat ulang tahun ya." Ucap Clarisa sambil mengecup kedua pipi Jesslyn.
"Ku kira kau tidak datang." Ucap Jesslyn
__ADS_1
"Oh, ini untuk mu." Clarisa lalu memberikan hadiah untuk Jesslyn.
"Terima kasih." Ucap Jesslyn sambil menerima hadiah dari Clarisa.
Clarisa lalu berjalan menuju keramaian, tentu ia malas melihat Jesslyn yang sok baik kepada semua orang. Tiba tiba sebuah ide muncul di otaknya. Ide yang sangat jahat dan pantas untuk seseorang seperti Jesslyn di hari ulang tahunnya. Ia lalu memutar jarinya ke tumpukan hadiah ulang tahun Jesslyn. Tiba tiba sebuah kotak cantik berwarna pink dengan pita transparan di atasnya muncul di salah satu tumpukan hadiah. Itu adalah hadiah kedua darinya.
Setelah melakukan itu tiba tiba sesuatu mengalihkan pandangannya. Seorang pria keluar dari kursi pengemudi mobilnya dan berjalan mendekati Jesslyn sambil membawa kotak hadiah kecil namun terlihat sangat mewah dan cantik. Orang itu lalu memeluk Jesslyn begitu juga Jesslyn yang membalas pelukannya dengan erat sambil berkata.
"Selamat ulang tahun sayang." Ucap pria itu.
"Oh, Ren kan sudah ku bilang jangan publish terlalu cepat." Ucap Jesslyn. Ya, pria itu adalah Ren. Orang yang selalu membuat Clarisa merindukannya, kini bukan memeluknya malah memeluk sodara tirinya yang jahat itu.
Sekarang semua orang menikmati pesta dan menari sesuka hati mereka. Namun tidak dengan Clarisa yang hanya duduk sambil menikmati makanan disana. Ia tak terbiasa dengan pesta karena memang sejak Jesslyn datang bahkan ulang tahun Clarisa sendiri tidak pernah di rayakan. Tapi pandangan Clarisa selalu menuju ke seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas dan hanya berdiri di sebelah Maria. Pandangan orang itu terlihat sedih karena kehilangan putrinya beberapa hari lalu.
Kini ia malah harus menghadiri pesta anak tirinya padahal tak pernah merayakannya bersama putri kandungannya. Pria yang bernama Bram atau biasa Clarisa panggil ayah terlihat menyesal karena tak pernah memiliki momen dengan putrinya karena selalu sibuk. Sebenarnya Clarisa merindukan sosoknya namun keadaan yang tak bisa menyatukan mereka.
__ADS_1
Pesta berakhir dan semua tamu sudah pulang. Sementara Clarisa hanya menunggu supir pribadinya menjemput namun sedari tadi ia menelepon tak ada jawaban dari supirnya. Tiba tiba sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depannya. Kaca ruang pengemudi mobil itu juga turun perlahan.
"Naiklah!" Ucap Ren yang ternyata mengemudikan mobil itu.
"Tidak, terima kasih." Ucap Clarisa
"Untuk apa berterima kasih kalau kau menolaknya? Karena kau sudah berterima kasih maka kau harus naik, paham?" Ucap Ren
"Sungguh aku sedang menunggu jemputan ku." Ucap Clarisa
"Sejak setengah jam lalu aku sudah mengamati mu, dari pada kau kenapa napa lebih baik kau ikut saja dengan ku." Ucap Ren
"Baiklah." Clarisa lalu masuk dan duduk di sebelah Ren.
"Tunggu." Sela Ren
__ADS_1
"Ada apa?" Tiba tiba Ren mendekatkan tubuhnya ke Clarisa yang sontak membuat Clarisa terkejut. Ternyata ia memasangkan sabuk pengaman untuk Clarisa dan duduk kembali. Seketika wajah Clarisa memerah, ia sudah berpikir yang tidak tidak namun ternyata hanya memasang sabuk pengaman. Ren lalu menjalankan mobilnya.
Clarisa yang masih malu menutupinya dengan menatap keluar jendela.