
"Jess, Jess, Jess" Suara itu terdengar seperti bisikan yang diulang ulang dengan sangat cepat. Jesslyn ketakutan, ia lalu menarik selimutnya dan bersembunyi di dalam selimut, menutup kedua telinganya namun suara itu semakin kencang. Suara itu terdengar hingga setengah jam lamanya. Tapi bagi Jesslyn rasanya sudah satu tahun mendengar suara itu.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" Teriak Jesslyn sambil menangis ketakutan. Seseorang menarik selimutnya dan membuatnya makin ketakutan. Jesslyn memberanikan diri untuk membuka matanya dan dia melihat sepasang kaki di hadapannya.
"AAAAAHH!" Jesslyn lalu menutup matanya kembali dan tidak berani membuka matanya.
"Jesslyn, ini mama." Ucap seorang wanita yang terdengar familiar ditelinga Jesslyn.
Jesslyn membuka matanya perlahan, mendongak ke atas dan memastikan bahwa itu benar benar ibunya.
"Mama!" Jesslyn lalu memeluk tubuh Maria dengan sangat erat. Ia merasa lebih tenang karena kehadiran ibunya.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Maria.
__ADS_1
Jesslyn terdiam, apa ibunya akan percaya kalau ia dihantui oleh Clarisa.
"Hei, jawab mama." Maria lalu memegang kedua pipi Jesslyn dan mendongakkannya ke atas.
"Cla.. Clarisa..."
"Dia.." Ucapnya terputus putus.
"Dia terus menghantui ku ma, dia juga menghantui teman teman ku." Jawab Jesslyn.
"Kamu bercanda ya? Mana ada hantu di dunia ini."
"Itu hanya halusinasi mu, sekarang tidur dan beristirahatlah." Ucap Maria sambil mengelus kepala Jesslyn.
__ADS_1
"Iya ma." Ucap Jesslyn. Ternyata percuma bercerita, Maria juga tidak mempercayainya. Jesslyn lalu memutuskan untuk menutup matanya.
Sedangkan Selena, kini dia sedang berada di kamarnya. Ia terduduk di atas kasurnya dan tak melakukan apa pun. Dia takut kalau dia sampai tertidur, takut akan mimpi seram yang ia mimpikan di sekolah tadi.
Selena lalu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, buang air kecil lalu mencuci muka dan gosok gigi setidaknya ia perlu melakukannya walau tak akan tidur. Tiba tiba lampu mendadak berkedip nyala dan mati, pintu kamar mandi yang semula terbuka kini tertutup sangat kencang dengan Selena di dalamnya.
"Tolong! Siapa pun disana buka pintunya!" Teriaknya dari dalam kamar mandi sambil menggedor gedor pintu, namun tak ada yang mendengarnya. Kaca kamar mandi tiba tiba pecah, seketika keringat bercucuran di wajah Selena. Ia pikir kalau Clarisa hanya datang di mimpinya saja. Hantu Clarisa lalu menampakkan dirinya di cermin yang sudah retak dengan rupa khasnya.
"AAAAAAHHHH!!" Teriak Selena histeris sebelum akhirnya pingsan di tempat.
Waktu pun berlalu, matahari terbit dari arah timur seperti biasanya. Selena yang masih terbaring di kasurnya perlahan membuka matanya. Ia lalu terduduk dan terus mengingat, sampai ia menyadari kalau yang ia alami semalam adalah sebuah mimpi. Mimpi yang buruk, tapi seperti nyata. Untuk memastikan bahwa itu adalah mimpi, Selena lalu pergi ke kamar mandi untuk melihat apakah kacanya pecah. Ia lalu membuka pintu kamar mandi yang setengah tertutup dan benar saja kacanya masih utuh mengartikan kalau semalam ia ketiduran. Karena lelah ia lalu bersandar di dinding dan menunduk lalu menutup wajahnya dengan kedua lututnya.
Miya masih terduduk di atas kasurnya. Ia tidak bisa tidur karena kejadian mengerikan yang ia alami semalam. Dengan wajah yang lelah serta kantung dibawah matanya, ia masih terduduk dengan mengingat kejadian semalam. Kejadian dimana ia mendengar suara langkah kaki dari tangga diluar kamarnya. Tak berapa lama seseorang jatuh dari atap rumahnya tepat di luar jendela kamar Miya. Tetapi Miya tak berani menatap ke bawah dan melihat siapa yang terjatuh. Setelah beberapa saat akhirnya ia memberanikan diri menatap ke arah luar jendela. Di sebuah lahan kosong di samping rumahnya, seseorang sudah berdiri di sana dengan rambut acak acakan dan baju yang sudah robek dan lusuh. Orang itu lalu memutar kepalanya ke belakang 180 derajat dengan tubuh yang menghadap ke arah yang sama. Menatap ke arah Miya dengan mata putihnya lalu tersenyum lebar dengan gigi yang tajam seperti duri.
__ADS_1