
"Kau sangat ketinggalan zaman, bagaimana kau tidak tahu tentang bawahan kita yang menjadi manusia?" Ujar penjaga surga yang terheran dengan penjaga neraka.
"Ohhh, gadis itu? Aku hanya melupakannya." Jawab penjaga neraka dengan mencari alasan.
"Atasan menyuruh ku untuk memasukkannya ke dalam daftar, jadi ini adalah keputusan pemimpin." Jelas pencatat kebaikan kepada Mago.
"Kalau begitu aku harus memberi tahu dia." Ujar Mago sebelum akhirnya menghilang.
"Kau mau kemana?!" Teriak penjaga surga.
"Hahhh, dia ini."
"Tapi... Aku jadi lupa wajah Clarisa seperti apa." Gumam penjaga neraka yang membuat para pengurus akhirat menepuk jidat mereka bersamaan.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Kini Clarisa sedang menikmati dessert coklat favoritnya yang ia beli secara online. Tapi entah kenapa ia sedikit tidak berselera untuk memakannya. Pikirannya sedang kacau karena hubungan Jesslyn dan Ren. Di samping itu ia juga gelisah jika teringat dengan Bram. Feeling Clarisa juga mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tetapi ia berusaha untuk mengabaikannya dan berpositif thinking.
Sementara di rumah lama Clarisa. Maria sedang menyiapkan rencana yang telah ia susun matang matang. Ia menyiapkan kopi yang telah ia campur dengan obat tidur dan meletakkannya di meja kerja Bram. Tak lupa menyiapkan sepucuk surat supaya terlihat seperti pesan terakhir. Rupanya Maria pandai meniru tulisan orang lain hanya dengan melihat contoh tulisan yang akan ia tiru.
Tak lama kemudian Bram mengerjakan pekerjaan kantornya sambil menyeruput kopi yang sudah ada di mejanya. Walau sedikit memakan waktu namun Bram berhasil tertidur pulas di atas meja kerjanya. Mungkin akibat obat tidur yang dicampur kopi yang membuat efeknya lambat.
Selanjutnya Maria menjalankan tahapĀ terakhir yang akan menjadi poin dari rencananya. Ia membawa Bram ke kamar mereka berdua dan membawa Bram menuju balkon. Selanjutnya ia menjatuhkan Bram dari ketinggian lantai dua rumah mereka.
GUBRAKKK!!! Suara yang terdengar jelas sampai kamar Jesslyn yang membuatnya terkejut dan bingung. Jesslyn lalu keluar dari kamarnya dan mengecek keluar rumah. Terlihat Bram yang sudah tergeletak tengkurap dengan bola mata mengarah ke atas dan bersimbah darah.
Clarisa yang baru saja sampai dengan wujud arwahnya terkejut dan histeris melihat pria yang ia sayangi tergeletak sekarat di tanah.
"AAAAKKKKKH!" Teriak Clarisa dengan histeris. Rencananya Clarisa hanya ingin sekedar melihat ayahnya, namun ini adalah terakhir kalinya ia melihat ayahnya sebagai manusia. Kaki Clarisa terasa lemas dan kehilangan keseimbangan. Mago yang baru saja datang langsung memegangi Clarisa agar tidak terjatuh.
__ADS_1
"Kenapa..? Kenapa setelah aku, papa juga harus kehilangan nyawanya..?" Gumam Clarisa dengan segala keputus asaannya.
"Kau harus bersabar, sebenarnya aku ingin memberi tahukannya pada mu tapi aku memiliki kendala tadi." Ucap Mago.
"Kau mengetahuinya?" Tanya Clarisa dengan gemetar yang dijawab dengan anggukan dari Mago.
"Lalu kenapa tidak kau selamatkan?!! Kau kan tahu dia ayah ku!!!" Teriak Clarisa. Sekali lagi Mago menggeleng. Turut sedih atas apa yang menimpa Clarisa.
"Aku tidak bisa berbuat apa apa. Ini semua keputusan atasan kami para dewa." Jawab Mago sambil merasa bersalah. Sementara Clarisa tidak peduli dengan alasan Mago. Pikirannya sudah full sekarang. Kalau masih harus ditambah lainnya mungkin kepalanya bisa pecah.
Jesslyn lalu berlari ke dalam rumah untuk menemui sang tersangka pelaku kejahatan yang sangat Jesslyn kenal. Benar saja ia melihat Maria sedang berjalan menuruni tangga.
"Mama?!" Ucap Jesslyn yang sebenarnya masih fifty fifty dengan dugaannya.
__ADS_1
"Apa mama yang melakukan ini?" Tanya Jesslyn memastikan. Maria tersenyum puas dan senang atas rencananya yang berhasil.
"Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan mama?" Jawab Maria dengan bangga.