
"Aku tidak bohong!" Bantah Jesslyn
"Tak hanya aku, tapi Miya dan Selena juga merasakan hal yang sama."
"Aku tak tahu apa yang membuatnya menghantui kami tapi..." Jesslyn lalu menangis di hadapan Ren. Membuat Ren merasa bersalah lalu memeluknya.
"Aku lelah..." Sambung Jesslyn
"Tak apa, aku akan tetap di sisi mu." Ucap Ren yang tak tahu keadaan sebenarnya sambil menepuk punggung Jesslyn.
Semua itu sudah disaksikan langsung oleh Clarisa. Ternyata ia mengintip di samping dinding gedung sekolah. Cemburu, marah, kesal, jijik dan sakit hatinya bercampur menjadi satu. Ia lalu meremas sudut dinding karena perasaannya yang tidak karuan. Karena terlalu kesal untuk menyaksikannya, Clarisa lalu pergi dari sana setelah menghapus air matanya
***
Clarisa lalu pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Lalu Mago muncul, sepertinya ia tahu apa yang sedang terjadi pada Clarisa.
"Apa kau kesal?" Tanya Mago
"Campur aduk." Jawab Clarisa singkat
"Kendalikan emosi mu, jangan sampai kau menggunakan kekuatan mu hanya karena kau kesal." Ingat Mago
"Aku tahu." Jawab Clarisa. Mago lalu perlahan menghilang dari samping Clarisa.
Clarisa akhirnya kembali ke kelasnya dan duduk di kursinya. Tiba tiba Jesslyn datang dan menghampiri Clarisa.
__ADS_1
"Clau, maafkan Ren ya, dia pasti masih teringat dengan Clarisa." Ucap Jesslyn.
"Tidak apa apa, maklum dia pasti merasa sangat kehilangan." Jawab Clarisa. Guru pun tiba dan pelajaran di mulai.
***
Saat pulang sekolah Clarisa pun berjalan sebentar di sebuah taman untuk mengobati ke kesalannya. Tiba tiba sesuatu menghentikan langkahnya, ia melihat seorang pemulung yang sedang duduk dan kelelahan. Dengan spontan Clarisa memberikan air mineral kepada pemulung itu. Pemulung itu dengan tergesa gesa mengambil air yang diberikan Clarisa dan meminumnya. Saat pemulung itu melihat orang yang ada di depannya, pemulung itu terkejut dan tak menyangka dengan apa yang ia lihat.
"K.. kau.." Pemulung itu menatap Clarisa dengan tatapan aneh. Clarisa hanya bingung dan tak mengerti ada apa dengan pemulung itu. Tiba tiba pemulung itu menyerang Clarisa. Clarisa terkejut dan berusaha melawan.
"Kembalikan tubuh ku!!" Teriak pemulung itu.
"Apa kau tak waras?!" Teriak balik Clarisa.
"Aku lah Claudia yang asli! Bukan kau!" Teriak pemulung itu. Tunggu? Yang asli? Maksudnya dialah Claudia?
Clarisa lalu menggiring pemulung itu ke gang sepi dan gelap disela sela bangunan. Ia lalu mendorong pemulung itu dan berhasil membuatnya terjatuh, namun pemulung itu tetap menyerangnya lagi. Dengan terpaksa Clarisa mengeluarkan tali malaikatnya dan mengikat pemulung itu.
"Lepaskan aku! Aku adalah Claudia yang asli!" Berontak pemulung itu.
"Apa.."
"Apa benar kau Claudia?" Tanya Clarisa.
"Tentu saja aku Claudia! Siapa kau sebenarnya?!"
__ADS_1
"Kembalikan tubuhku! Kau merebut semuanya dari ku!" Teriak Claudia.
"Semua ini akibat perbuatan mu sendiri." Ucap Clarisa. Seketika Claudia menjadi lemas, mengingat keserakahan yang ia lakukan saat masih berada di tubuh aslinya, mungkin ini lah yang dinamakan 'Karma'.
Clarisa lalu menurunkan Claudia dan mendekati Claudia yang terduduk di tanah.
"Jika kau ingin tubuh mu kembali, maka perbaiki lah sifat mu." Ucap Clarisa kemudian meninggalkan Claudia disana.
Sesampainya di rumah, Clarisa langsung membanting tubuhnya ke kasur dan memikirkan betapa menyedihkannya Claudia yang sekarang. Mungkin ia tak bisa tidur nyenyak seperti Clarisa, tak bisa makan enak, dan mendapat tempat tinggal yang layak. Itu semua juga hukuman untuknya, yah.. setidaknya sampai ia belajar, atau.. sampai misi Clarisa selesai.
Seperti biasa Miko naik ke kasur Clarisa dan duduk di atas perut Clarisa.
"Apa kau memiliki masalah?" Tanya Miko
"Sejujurnya iya,"
"Orang yang ku rindukan, dia pindah ke sekolah ku. Kemudian..."
"Tak mengenali diri ku yang sekarang." Sambung Clarisa.
"Ck.. ck.. ck.."
"Sangat tragis."
"Apakah aku masih bisa memulai dari awal?" Tanya Clarisa yang terdengar seperti keluhan.
__ADS_1