
"Lagi pula kalau dia berani mengganggu kita, walau arwah sekali pun mari kita membuat dia mati dua kali." Bisik Miya. Tanpa sadar ternyata Clarisa sudah mengawasi mereka dari tadi. Dari balik jendela kelas Clarisa diam diam memperhatikan mereka. Sekali lagi ia tersenyum karena puas melihat penderitaan orang yang sudah menyakitinya di masa lalu.
Kini Miya sedang ingin menghampiri Selena yang berada di ruang BK satu lantai di bawah lantainya. Sebelum ia menuruni tangga ternyata Selena sudah ada di lantai itu, namun ia terlihat sedikit aneh. Selena menghadap ke arah tangga, membuat Miya tak bisa melihat wajahnya. Miya lalu mendekati Selena dengan percaya diri dan menepuk pundaknya.
"Cepat sekali? Apa guru tidak banyak mengomel hari ini?" Tanya Miya. Saat Selena berbalik, alangkah terkejutnya Miya karena orang yang ia kira Selena adalah hantu Clarisa dengan kulit pucat, mata yang putih, dan raut wajah yang marah. Miya mundur beberapa langkah, tak percaya kalau yang dikatakan Selena adalah benar. Namun hantu Clarisa malah melangkah maju mendekati Miya. Miya terjatuh, ia tetap berusaha mundur sampai akhirnya tembok menghentikannya.
"Kau! Akan ku lenyapkan kau dari muka bumi ini!!" Teriak Hantu Clarisa sambil terbang menghampiri Miya, namun Miya berhasil menghindarinya. Miya lalu berlari menuruni tangga namun kakinya terpeleset dan membuat ia terguling ke bawah. Kepalanya bercucuran darah dan ia tergeletak lemas di bawah. Ia lalu menatap hantu Clarisa yang hanya berdiri di atas dengan tatapan sinis sebelum akhirnya menutup matanya.
"Miya! Miya! Bangun lah.. Ku mohon.." Selena menggenggam tangan Miya, ia menangis sambil mengkhawatirkan keadaan Miya yang sekarang sedang terbaring lemas di kasur rumah sakit.
Miya membuka matanya perlahan. Menatap Selena dan menyadari kalau ia sudah berada di rumah sakit. Kepalanya juga sudah diperban dengan rapi.
"Ada apa dengan mu? Kenapa kau bisa begini?" Tanya Selena yang masih sedih.
"Cla..."
"Clarisa..." Jawab Miya dengan terputus putus karena masih shock dan lemas.
__ADS_1
"Dia datang pada ku." Miya lalu mulai mengeluarkan air mata.
"Dia juga bilang kalau dia akan melenyapkan ku."
Mendengar perkataan Miya seketika Selena menangis, baru seperti ini saja sudah membuatnya menjadi gila.
"Ba- Bagaimana kalau dia benar benar ingin melenyapkan kita?"
"Mulai dari Jesslyn, aku, dan juga kau.."
"Apa yang harus kita lakukan?" Ucap Selena sambil terisak isak.
"Apakah ini akhir bagi kita?" Selena menjadi putus asa, ia tak menyangka kalau hantu Clarisa benar benar akan balas dendam kepada dia.
"Tidak, kita harus bertahan apa pun yang terjadi." Ucap Miya yang berusaha untuk tetap tegar.
"Tapi bagaimana caranya kita bertahan? Dia saja bisa membuat mu seperti ini, dia juga pasti akan bertindak lebih mengerikan." Kata Selena. Miya hanya bisa terdiam, ia tak bisa berkata apa apa setelah mendengar perkataan Selena.
__ADS_1
Seseorang membuka pintu ruangan Miya dirawat. Orang itu lalu berlari menghampiri kasur Miya.
"Kau tidak apa apa?" Tanya Jesslyn yang baru saja memasuki kamar Miya. Miya lalu mengangguk dengan raut wajah yang cemas. Jesslyn menatap kedua orang di depannya secara bergantian. Ia mengetahui kalau sedang ada masalah yang menimpa keduanya.
"Apakah ada masalah?" Tanya Jesslyn.
"Clarisa.. Dia.." Selena ingin menjelaskan namun mulutnya tak kuat untuk mengeluarkan suara.
"Dia datang pada kami." Sambung Miya.
"Apa.. Dia yang menyebabkan semua ini?" Tanya Jesslyn yang shock.
"Umm" Jawab Miya dan Selena mengangguk bersamaan. Jesslyn hanya terdiam, tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Jesslyn sampai di rumahnya sedikit larut dari biasanya. Ia berjalan menuju kamarnya. Sebelum itu ia melihat ke arah foto Clarisa yang dipajang di atas meja. Ia lalu menidurkan foto itu, ia tak ingin melihat wajah dalam foto itu karena membuatnya terbayang dengan sosok yang mengerikan. Ia lalu memasuki kamarnya, meletakkan tasnya di kasur dan berbaring di sampingnya. Lalu sebuah suara terdengar di telinganya.
__ADS_1