
Namun belum sampai ke ruang tengah langkah Clarisa tiba tiba terhenti. Ia menoleh ke arah foto dirinya yang dipajang di atas meja.
"Ada apa?" Jesslyn lalu menoleh ke arah Claudia dan bergantian melirik ke foto Clarisa.
"Ini.."
"Apa dia saudari mu?" Tanya Clarisa pura pura tidak tahu. Saat melihat foto dirinya di masa lalu ia teringat akan dirinya yang sangat ceria sebelum Jesslyn datang.
"Iya, dia saudari ku yang sudah meninggal." Jawab Jesslyn dengan pura pura sedih.
"Dia.. sangat ceria."
"Entah kenapa aku merasa sedih setelah melihat fotonya." Clarisa masih terus menatap fotonya.
"Sudahlah, ayo kita ke dalam." Jesslyn lalu melangkahkan kakinya disusul dengan Clarisa di belakangnya. Mereka lalu bertemu dengan Maria di ruang tengah.
"Ah apa kau temannya Jesslyn?" Tanya Maria.
"Iya bibi, namaku Claudia." Clarisa lalu bersalaman dengan Maria.
"Aku ingin membantu disini."
"Ah tidak usah, semuanya sudah selesai tinggal memulai upacara." Ucap Maria.
__ADS_1
"Ah begitu ya."
"Aku pinjam kamar mandinya boleh?" Tanya Clarisa.
"Kau lurus saja kesana lalu belok ke kiri." Jesslyn lalu mengarahkan letak kamar mandi. Clarisa lalu bergegas menuju kamar mandi. Tapi ia melewatkannya karena bukan itu tujuannya. Setelah melewati kamar mandi akan ada sebuah kamar. Sudah sedari tadi ia menyadari kalau orang yang ia incar ada di kamar setelah kamar mandi. Dan kini ia akan melancarkan aksinya.
Tara merebahkan dirinya di atas kasur. Sudah dua hari ini ia menginap di rumah sepupunya itu. Rebahan, bermain ponsel dan tak peduli atas kepergian saudara sepupunya, itulah yang ia lakukan selama dua hari. Ia bahkan tak datang ke pemakaman Clarisa dan tak membantu untuk peringatan tujuh hari kematian Clarisa.
Tiba tiba pintu kamar Tara yang semula tertutup menjadi terbuka perlahan lahan. Perlahan tapi pasti, pintu itu terus terbuka. Tara masih tidak menghiraukannya karena berpikir itu adalah perbuatan orang jahil. Tiba tiba pintu itu terbanting. Tara yang kesal mulai terduduk dengan wajah marah.
"Siapa sih? Mengganggu saja!" Teriaknya. Namun tak ada yang keluar dari sana.
"Keluarlah! Jangan jadi pengecut!" Serunya lagi.
"Clarisa.." Tara lalu keluar dari kamarnya melihat ke arah sosok itu pergi namun ia kehilangan jejak. Bulu kuduknya berdiri, merasakan ada seseorang tengah berdiri di belakangnya. Dengan perlahan lahan ia memberanikan diri menoleh ke belakang. Mata Tara melebar terkejut melihat sosok Clarisa di depannya dengan rambut yang acak acakan dan sedikit basah, mata yang berwarna putih, kulit pucat kebiruan dan yang paling menakutkan lagi kakinya melayang!
Tara terjatuh dan berusaha mundur namun sosok Clarisa malah mendekat ke arahnya.
"Tara.." Suaranya sangat berat. Seperti menggema di telinga Tara.
"Tidak! Tidak!"
"Pergi!" Tara semakin mundur dan semakin takut dengan sosok itu. Namun akhirnya ia terpojok dan tak bisa melarikan diri. Tangan sosok Clarisa memanjang dan hendak meraih wajah Tara.
__ADS_1
"AAAAAAAH!"
"Hei, kau kenapa?" Clarisa datang sebagai Claudia lalu menepuk pundak Tara untuk menyadarkannya.
"Hah.. hah.." Tara ngos-ngosan dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Clarisa.
"Kau siapa?" Tanya balik Tara.
"Oh, aku Claudia temannya Jesslyn." Ucap Clarisa lalu mengulurkan tangan. Tara hanya menatap tangan Clarisa lalu ia bangkit sendiri dan masuk ke kamarnya. Clarisa hanya melihat Tara pergi dan tersenyum saat Tara masuk ke kamar. Berjalan dengan anggun, Clarisa kembali menuju ruangan tengah.
"Kau sudah selesai?" Tanya Jesslyn.
"Iya."
"Jesslyn, maaf tapi aku ada urusan mendadak aku harus segera pergi jadi aku tak bisa mengikuti upacara ini." Kata Clarisa.
"Oh baiklah tidak apa apa."
"Kalau begitu aku pergi dulu, maaf ya." Clarisa lalu berjalan pergi dari ruang tengah. Tugasnya sudah selesai disini.
"Hati hati."
__ADS_1