
Clarisa lalu berdiri sebagai Claudia disamping guru.
"Halo semuanya, nama ku Cla-" Ucap Clarisa terputus. Hampir saja ia membocorkan nama aslinya ke semua orang.
"Claudia." Clarisa lalu tersenyum kepada semua murid. Untung saja nama depan mereka memang mirip jadi tidak akan ada yang curiga.
"Baik kau duduklah di meja itu." Guru lalu menunjuk meja kosong di samping Jesslyn. Itu adalah meja lama Clarisa. Clarisa lalu teringat dengan masa lalunya disaat mendapat bullyan dari Jesslyn dan teman temannya. Ia semakin marah namun ia harus meredam emosinya. Clarisa lalu berjalan menuju meja lamanya dan duduk disana.
Pelajaran akhirnya selesai. Clarisa merapihkan buku buku dan alat tulisnya di meja. Clarisa lalu bangkit dan hendak berjalan. Untuk menarik perhatian Jesslyn maka Clarisa berpura pura tersandung kaki meja. Tujuannya agar Jesslyn tergiur melihat sepatu sekolah yang Clarisa pakai adalah sepatu brand ternama.
Benar saja, setelah itu Jesslyn memperhatikan sepatu Clarisa dan terkejut kalau sepatu yang Clarisa pakai adalah sepatu yang selama ini ia incar, namun ayahnya tak memperbolehkan membeli sepatu itu karena harganya sangat mahal. Clarisa lalu hendak berjalan pergi dari kelas.
"Anak baru!" Panggil Jesslyn. Clarisa menghentikan langkahnya. Ia tersenyum karena Jesslyn ternyata memakan umpannya.
"Iya?" Clarisa berbalik dan memasang wajah polos serta ramah. Jesslyn bangkit dari kursinya. Jesslyn menarik tangan Clarisa dengan manja seperti sudah sangat mengenalnya. Jesslyn lalu mendudukkan Clarisa di kursinya.
__ADS_1
"Kau sangat cantik, mau kah kau menjadi teman ku?" Tiba tiba ke dua teman Jesslyn, Miya dan Selena datang. Clarisa lalu menatap mereka seperti tak mengenalinya sama sekali. Padahal Clarisa menyembunyikan tangannya yang mengepal erat. Ia bisa menyembunyikan wajahnya tapi ia tak akan bisa menyembunyikan perasaannya bukan. Sayangnya Jesslyn tak memperhatikannya karena fokus menatap teman temannya.
"Siapa dia?" Tanya Miya.
"Teman baru mu ya?" Tanya Selena.
"Tentu saja, dia teman baru ku sekarang." Sangat menjijikkan, Clarisa saja belum menjawab apakah ia mau berteman dengan Jesslyn tapi berani sekali Jesslyn bilang kalau mereka berteman.
"Ah kami akan terlupa kan." Miya lalu memajukan bibir bawahnya dan menyilang kah tangannya di depan dada.
"Terima kasih atas pujian mu, tapi aku harus pergi dulu sebentar." Clarisa lalu bangkit dari kursi dan melangkah.
"Tunggu!" Clarisa lalu berbalik dan menatap Jesslyn.
"Kita berteman kan?" Tanya Jesslyn. Clarisa hanya mengangguk sambil tersenyum. Percayalah, ia tak sungguh sungguh dengan senyumannya. Ia sangat ingin mencincang Jesslyn lalu memasukkannya ke dalam blender dan memberinya ke anjing liar.
__ADS_1
"Sampai jumpa,,, Jesslyn" Clarisa lalu pergi dari kelas.
"Bagaimana dia tau nama ku?" Ucap Jesslyn yang keheranan.
"Bodoh, kalau begitu ini apa?" Miya lalu memegang nametag Jesslyn yang berada di dada bagian samping baju Jesslyn.
"Ah benar juga ya."
Clarisa pergi memasuki toilet. Ia meludah di westafel dan ingin memuntahkan isi perutnya. Ia benar benar merinding seperti melihat mahluk astral saat melihat Jesslyn.
"Kalau bukan karena tujuan ku untuk menghukumnya maka tak akan aku lakukan ini." Ucap Clarisa sambil bercermin. Tiba tiba Mago muncul dari belakang Clarisa. Clarisa tak terkejut sama sekali. Mungkin ia sudah terbiasa dengan hal itu.
"Bersabar lah. Kau bilang ingin menghukum Tara bukan?" Tanya Mago
"Iya, apa kau punya rencana?"
__ADS_1
"Aku harap dua hari ini kau melakukan pendekatan dengan Jesslyn karena empat hari lagi keluarga mu akan melakukan peringatan tujuh hari kematian mu. Sebelum hari itu terjadi datanglah ke rumah lama mu. Untuk seterusnya itu terserah kepada mu." Mago lalu menghilang dari tempat itu.