
Sebenarnya tujuan Ren mengajak Claudia adalah untuk mengucapkan sesuatu yang memang seharusnya ia ucapkan. Namun entah kenapa sekarang ia malah ragu untuk mengucapkannya.
"Clau-"
"Ren-" Ucap keduanya bersamaan. Mereka lalu sama sama membuang pandangan.
"Kau duluan." Ucap Ren
"Kau saja." Jawab Clarisa.
"Aku minta maaf." Ucap Ren dengan to the point.
"Minta maaf? Untuk apa?" Tanya Clarisa.
"Maaf karena.."
"Karena aku bersikap tidak baik pada mu." Jelas Ren.
"Tidak apa apa, aku sudah memaafkan mu." Ucap Clarisa. Seketika Ren teringat sesuatu, kata kata orang yang ia kenal sebagai Claudia seperti pernah ia dengar sebelumnya. Kata kata itu adalah kata kata yang selalu sahabatnya ucapkan ketika ia membuat kesalahan.
Seketika air mata Ren mengalir dan membuatnya mengerem mendadak akibat ada kucing yang menyeberang.
"Ren, kau baik baik saja?" Tanya Clarisa.
"Cla.. Clarisa.." Ucap Ren sambil menatap Clarisa. Apakah Ren sudah mengetahui kalau orang dihadapannya adalah Clarisa? Tapi.. bagaimana caranya?
Clarisa menelan ludahnya dengan kasar. Ia takut kalau Ren benar benar mengetahui kalau ia adalah Clarisa.
__ADS_1
"Ah maaf, ini pasti karena aku terlalu merindukannya." Ucap Ren sambil bersandar dan menutupi matanya dengan sebelah tangan.
Aku juga merindukan mu Ren. Kalimat itu ada di batin Clarisa sekarang. Ia ingin memberi tahu Ren tapi.. waktunya tidak tepat.
"Kau pasti teringat dengan dia yah?" Tanya Clarisa.
"Sangat, itu sebabnya aku marah saat kau duduk di kursi miliknya."
"Seharusnya aku tak melakukan itu." Sambung Ren. Spontan Clarisa mengusap bahu Ren untuk sedikit menenangkannya.
"Kalau kau lelah aku akan mengemudi untuk mu." Ucap Clarisa
"Apa kau bisa?" Tanya Ren. Clarisa lalu mengangguk dan melepas sabuk pengamannya dan keluar bertukar posisi dengan Ren.
"Maaf malah jadi merepotkan." Ucap Ren.
Beberapa menit kemudian Ren mulai tertidur, namun tanpa sadar ia tertidur di bahu Clarisa. Namun Clarisa tak mempermasalahkan hal itu karena mengerti kalau Ren kelelahan.
Saat ia sudah sampai di depan rumah Claudia.
"Ren, bangun.." Ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Ren.
"Hmm? Oh iya." Ucap Ren yang baru membuka matanya.
"Aku masuk dulu ya. Terima kasih tumpangannya." Ucap Clarisa
"Iya sampai jumpa." Ucap Ren sebelum melajukan mobilnya.
__ADS_1
***
Acara sudah selesai dan Jesslyn sedang meng-unboxing hadiah hadiah dari teman temannya. Yang pertama ia buka adalah hadiah dari Ren yang kecil kecil cabe rawit. Jesslyn senang bukan main karena ternyata Ren memberinya sebuah kalung permata berwarna biru langit yang sangat indah. Jesslyn segera memakainya dan bercermin. Ia terlihat sangat senang dan menyukainya. Ia lalu melihat ada sebuah kotak hadiah berwarna pink dengan pita transparan di atasnya yang terlihat sangat cantik. Jesslyn lalu mengambil kotak itu dan tak melihat kertas nama dari pengirimnya. Namun ia berpikir kalau si pengirim lupa memberi nama.
Jesslyn lalu membukanya dan terkejut saat melihat isinya adalah beberapa kecoa yang sudah mati.
"AAAAAAH!" Ia lalu melempar kotak itu dan naik ke atas meja. Setelah mengamati kotak itu, ia lalu memberanikan diri untuk turun dan melihat ke dalam kotak.
Jesslyn terkeju melihat sebuah foto dan mengambilnya dengan wajah ketakutan. Ternyata itu adalah foto dirinya dengan tiga tetes darah yang terlihat sudah mengering. Ia lalu menjatuhkan foto itu dan terduduk lemas di lantai. Tak bisa kah sehari saja Clarisa tak datang menghantuinya?
***
Hari sudah berganti, kini Clarisa berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku. Namun di depan perpustakaan ada beberapa murid yang sedang mengobrol.
"Eh, ku dengar Jesslyn dan Ren berpacaran." Ucap salah satu murid
"Oh iya? Wah ini akan menjadi hot news di sekolah bukan." Jawab murid lainnya.
"Tapi menurut ku mereka tidak cocok" Kata murid pertama.
"Kenapa?" Tanya murid kedua.
"Karena Ren sangat tampan, dia pasti sangat cocok dengan ku." Ucap murid pertama.
"Terus lah bermimpi." Ucap murid kedua.
Entah apa yang mendorongnya. Spontan Clarisa berlari tanpa menghiraukan buku yang akan dia kembalikan itu.
__ADS_1