
Kaki Clarisa mati rasa. Ia terduduk di lantai sambil menangis merindukan Ren. Ia juga sakit hati karena tak memberi tahu Ren kalau Jesslyn dan Maria selama ini bersikap buruk kepadanya. Clarisa lalu mengambil ponsel Claudia dan mengetik nomor telepon Ren. Jarinya bergetar saat ingin menekan tombol telepon. Pada akhirnya ia tak memiliki keberanian untuk melakukannya. Ia meletakkan ponsel Claudia dan mengusap air matanya. Berbaring di kasur dan memejamkan mata.
***
Di suatu tempat, Clarisa berjalan mengikuti arah jalanan yang sedang ia lalui. Dari kejauhan, seorang pria bertubuh tinggi sedang berdiri tak jauh didepan Clarisa. Pria itu berbalik dan tersenyum.
"Aku merindukan mu.. Clarisa" Clarisa lalu berlari dan memeluk pria yang biasa ia panggil dengan nama Ren.
"Kamu.. Kamu tahu betapa aku merindukan mu?" Clarisa lalu menangis dipelukan Ren.
"Aku tahu kok, bahkan tak akan cukup jika aku merentangkan kedua tangan dan kaki ku." Ren lalu memeluk Clarisa dengan erat.
"Tak akan pernah bisa cukup bahkan jika kamu mengajak semua orang bergandengan dan membuat lingkaran itu tak akan pernah bisa menggambarkan betapa aku rindu kamu." Ucap Clarisa.
Jam alarm Clarisa berbunyi. Ia membuka matanya dan sadar kalau itu semua hanya mimpi. Mimpi yang sangat indah. Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah dan bersiap ke sekolah.
***
Clarisa meletakkan tas nya dan duduk di kursinya.
"Hi Clau." Sapa Jesslyn.
"Oh hi Jess." Balas Clarisa.
__ADS_1
"Jesslyn, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Clarisa.
"Apa?"
"Saat aku masuk, kursi yang kosong hanyalah kursi ini."
"Aku ingin tahu kenapa kursi ini kosong." Sebenarnya Clarisa hanya memancing karena ingin melihat akting Jesslyn yang sangat drama itu.
"Oh, dia adalah saudariku." Jesslyn lalu berpura pura sedih dan menundukkan kepala.
"Ia tewas beberapa hari yang lalu karena tenggelam di danau."
"Kami memang bukan saudara kandung, tapi aku menyayangi dia seperti saudara sendiri." Begitulah drama yang Jesslyn mainkan di depan Clarisa. Sungguh bermuka dua. Ia berpura pura sedih dihadapan orang lain hanya demi bisa terlihat baik. Memalukan sekali bukan?
"Tidak apa apa, kini dia sudah tenang di atas." Ucap Jesslyn. Tidak, dia belum tenang di atas karena ia masih harus membalas perbuatan mu baru ia bisa tenang.
"Ah andai saja aku bisa bertemu dengannya, pasti ia adalah orang yang baik sampai kalian sangat dekat." Ucap Clarisa.
"Kalau kau mau, kau bisa ikut memperingati tujuh hari kematiannya besok." Ternyata Jesslyn masih memainkan dramanya. Ini adalah kesempatan bagus untuk Clarisa karena Tara pasti ada disana. Ia bisa perlahan lahan menyingkirkan mereka bertiga.
"Apa tidak apa apa?" Tanya Clarisa.
"Tentu tidak, saudara ku pasti akan sangat senang kalau tahu teman baik ku datang ke peringatan tujuh hari kematiannya." Kata Jesslyn.
__ADS_1
"Baiklah besok aku akan datang." Ucap Clarisa.
Clarisa dan Jesslyn keluar kelas bersama, mereka lalu berjalan melewati lorong untuk menuju ke tempat parkir.
"Jesslyn, ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan pada mu." Ucap Clarisa.
"Apa?" Jawab Jesslyn.
"Bagaimana caranya saudara mu bisa tenggelam di danau?" Tanya Clarisa. Clarisa kembali menguji Jesslyn dalam memainkan aktingnya.
"Oh itu."
"Mmm.." Jesslyn lalu berpikir bagaimana caranya untuk mengarang kematian Clarisa.
"Aku sendiri juga tidak tahu, kami menemukannya dalam keadaan sudah tewas. Tapi polisi memperkirakan kalau ia tergelincir lalu masuk ke dalam danau." Jawab Jesslyn.
Bagus sekali Jesslyn, terus lah berakting maka aku akan semakin mempertimbangkan hukuman apa yang cocok untuk mu. Kalimat itu lah yang ada di pikiran Clarisa sekarang.
"Untuk apa ya ia pergi ke danau? Pasti ada alasan di balik itu." Clarisa lalu menatap Jesslyn dengan wajah polos Claudia.
"I.. itu.."
"Pasti ia sedang menenangkan diri. Berjalan di sekitar danau akan membuat stress kita hilang bukan?" Ucap Jesslyn dengan gugup.
__ADS_1
"Ah aku pikir ada sesuatu yang menuntunnya seperti..."