Angel'S Revenge

Angel'S Revenge
Eps.40


__ADS_3

Tanpa mereka sadari bahwa mereka berlari ke jalan yang tepat dimana itu adalah pintu keluar dari rumah hantu. Keduanya yang sudah berada di luar akhirnya membungkuk dan menopang tubuh dengan lutut sambil mengatur napas.


"Lain kali aku tak akan masuk kesana lagi. Sudah cukup jantung ku berolah raga." Ucap Ren. Clarisa mengangguk setuju walau sebenarnya ia tidak setuju karena tak akan melihat wajah penakut Ren yang jarang ia lihat.


"Bagaimana kalau bianglala?" Usul Clarisa. Ren akhirnya mengangguk. Sudah berolah raga jantung ada baiknya wahana selanjutnya adalah wahana yang santai karena kalau terlalu sering berolah raga jantung mungkin jantung ren akan berpindah dari tempatnya. Mungkin saja sampai berpindah ke kakinya.


Mereka akhirnya menikmati pemandangan malam dari dalam bianglala dengan posisi duduk berhadapan. Untungnya Ren tidak takut ketinggian. Apa bila ia takut ketinggian mungkin tak ada wahana yang bisa ia mainkan walau itu adalah wahana yang santai.

__ADS_1


"Rumah hantu dan bianglala adalah wahana favorit sahabat ku dulu." Ucap Ren yang tiba-tiba teringat dengan Clarisa. Clarisa yang mendengarnya menatap Ren dengan senyum kecil karena sahabatnya masih ingat tentang dirinya.


"Kalian pasti bahagia dulu. Sangat disayangkan." Ucap Clarisa. Ren tersenyum pahit.


"Iya, memang sangat disayangkan." Ucap Ren. Kini mata Ren terasa panas. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari Clarisa karena ia tak mampu menahan air matanya. Clarisa yang mengetahui hal itu lalu duduk di sebelah Ren dan meletakkan kepala Ren agar bersandar padanya sembari memeluk Ren dengan halus. Tangannya juga mengusap punggung Ren untuk menenangkannya.


Waktu berjalan begitu cepat. Ren akhirnya mengantar Clarisa ke rumahnya berhubung waktu sudah larut malam dan mereka harus beristirahat untuk sekolah besok pagi. Namun mungkin Ren tak akan bisa menikmati sekolah terakhirnya.

__ADS_1


"Aku akan masuk." Ucap Clarisa yang dibalas anggukan dari Ren. Namun tiba-tiba Clarisa memeluk Ren dengan sangat erat. Menandakan ia tak ingin kehilangan Ren.


"Terima kasih.. untuk semuanya." Ucap Clarisa yang mempererat pelukannya. Ren yang merasa tersentuh juga membalas pelukan Clarisa. Entah siapa yang memberi tahunya namun insting Ren menyuruhnya untuk membalas pelukan Clarisa. Kini mereka hanyut dalam nyamannya pelukan si bawah sinar bulan dan lampu kuning redup di depan rumah Clarisa. Menikmati hangatnya tubuh keduanya yang saling mengaitkan ditengah angin malam. Walau itu adalah yang terakhir, Clarisa bersyukur bisa memiliki Ren didalam hidupnya, karena mungkin saja atasan tidak memberi izin untuk Clarisa dan Ren bertemu. Malam itu ditutup dengan kedua insan yang saling melambaikan tangan pertanda akan berpisah.


***


Pagi akhirnya tiba. Fajar akhirnya kembali menyinari bumi menggantikan bulan yang tengah beristirahat. Waktu Ren di dunia hanya tinggal beberapa jam lagi untuk menghadapi kematian dan pergi ke alam yang berbeda. Meninggalkan semuanya yang ada di dunia termasuk Clarisa yang ia anggap telah tiada.

__ADS_1


Kini pria berwajah asia itu sedang menunggu lampu berubah warna di tepi jalan. Ia mengenakan baju seragam tanpa tas yang sudah ia tinggal dikelas setelah ia menginjakkan kaki di sekolah. Ia ingin membeli buku tulis yang baru ia ketahui habis saat di kelas tadi. Ren membelinya di sebuah mini market di seberang jalan.


Lampu bergambar pejalan kaki akhirnya berubah menjadi hijau. Ren yang menyeberang sendirian akhirnya melangkahkan kakinya ke zebra cross seperti biasa. Namun ia tak beruntung, sebuah truk besar yang tengah ngebut akhirnya menabrak tubuh Ren karena rem yang blong. Membuat tubuh Ren tergeletak di tengah-tengah truk yang masih berjalan pelan. Truk itu akhirnya berhenti dan memperlihatkan Ren yang sudah diam tak bernyawa dengan darah di sekujur tubuhnya.


__ADS_2