
"Kalau aku yang melakukannya bagaimana?" Ucap Ren setelah memasuki kelas.
"Ren..?" Ucap Jesslyn. Kini Jesslyn terlihat kecewa, sedih dan menyesal. Sedangkan Ren sudah tidak peduli dengan Jesslyn karena ia telah membunuh sahabatnya Clarisa.
"GUY'S! KU RASA ADA HIBURAN BARU DIKELAS KITA" Teriak Ren. Seketika semua penghuni kelas mengeluarkan semua sampah yang mereka siapkan dan melempari Jesslyn dengan sampah. Semua orang terlihat puas dan senang tak terkecuali Ren. Sedangkan Jesslyn hanya bisa menutupi wajahnya dengan tangan sambil menahan malu. Sementara Clarisa? Ia sedang menikmati pertunjukan itu dari balik jendela kelas. Perasaan senang dan puasnya tak akan bisa di ungkapkan lewat kata kata. Kini pembalasan dendamnya baru permulaan. Semuanya akan ia tuntaskan hari ini juga. Rasanya Clarisa tidak sabar untuk melihat wajah Jesslyn dikejutan selanjutnya.
***
Jesslyn melangkah memasuki rumahnya. Tidak.. lebih tepatnya rumah ayah tirinya. Jalannya terlihat lesu dengan wajah yang kelelahan. Rambutnya acak acakan, bahkan baju seragamnya setengah basah akibat lumpur. Keadaan dirumah terlihat sepi. Entah kemana perginya Maria. Masih bisa ia pergi disaat seluruh dunia mengetahui rahasianya.
__ADS_1
Jesslyn lalu masuk ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai Jesslyn akhirnya merebahkan dirinya diatas kasur karena lelah menghadapi hari yang begitu berat ini. Mungkin sebentar lagi polisi akan datang. Tak ada niatan untuk Jesslyn kabur, lagi pula walau ia kabur atau sekali pun ia operasi plastik agar tak dikenali orang, tapi Clarisa tetap akan mengenalinya dan terus mengejarnya. Berdiam diri adalah solusi yang tepat dari pada membuang tenaga.
Tiba-tiba pintu kamar Jesslyn terbuka. Maria dengan raut wajah yang tidak mengenakkan memasuki kamar Jesslyn dan menghampiri Jesslyn. Plakkk.. Maria menampar Jesslyn dengan keras. Jesslyn yang sudah menebak hal ini akan terjadi hanya bisa menunduk dan pasrah.
"Kamu itu sangat bodoh Jesslyn! Mau ditaruh dimana muka mama?!" Bentak Maria dengan putus asa. Jesslyn yang menunduk hanya memperlihatkan tatapan mata yang kosong.
"Kenapa salah mama? Kamu yang membocorkan ini semua." Jawab Maria. Jesslyn menghadap ke atas dan menatap Maria.
__ADS_1
"Kalau saja mama tidak menikahi Om Bram mungkin ini semua tidak akan terjadi." Bantah Jesslyn.
"Jesslyn! Ini semua mama lakukan untuk kelangsungan hidup kita! Kalau saja mama tidak menikahi Bram mungkin kita sudah menjadi gembel dijalanan." Ucap Maria. Semua ini diakibatkan perusahaan Maria yang bangkrut karena ayah Jesslyn meninggal karena penyakit strok sementara Maria tidak bisa mengurus perusahaan dengan benar yang mengakibatkan bangkrutnya perusahaan dan pada akhirnya Maria menikahi Bram hanya karena harta.
Tiba-tiba sesuatu merasuki tubuh Jesslyn. Membuat tubuhnya merenggang disertai mata Jesslyn yang memutih namun Maria tak menyadari hal itu. Jesslyn kembali menunduk dengan senyum mengerikan.
"Hi hi hi hi memutus kehidupan orang lain untuk kelangsungan hidup ya?" Tanya seseorang di tubuh Jesslyn dengan suara melengking.
"Kamu jangan menakuti mama deh." Ucap Maria. Jesslyn mendongak ke atas dan tersenyum pada Maria.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu, ibu tiri." Ucapnya. Bisakah kalian menebak siapa dia? Ya! Clarisa kini mengendalikan tubuh dan otak Jesslyn. Maria melangkah mundur ke belakang. Ia sedikit gugup namun berusaha tenang. Sedangkan Clarisa berdiri dan melangkah kedepan tanpa takut menghadapi Maria. Tiba tiba Maria melempar sebuah vas bunga yang ada di meja belakangnya. Namun dengan kekuatan Clarisa sekarang ia mampu menghentikan vas itu dan melemparnya kembali ke Maria.
Pranggg darah berkucuran di kening Maria, membuatnya lemas tak berdaya di lantai. Clarisa yang melihatnya lalu mendekati Maria dan mencekiknya dengan kencang. Tak selang beberapa lama Maria menghembuskan napas terakhirnya. Seketika itu juga kesadaran diambil alih sepenuhnya oleh Jesslyn. Mata Jesslyn terbuka sempurna melihat Maria yang sudah tidak bernyawa dihadapannya.