
Clarisa lalu mendekati kepala pelayan yang kebetulan sedang ada disana.
"Dimana mama?" Tanya Clarisa.
"Nyonya sedang ada urusan." Jawab kepala pelayan dengan nada sopan.
"Dia tidak memberi tahu akan kemana?" Tanya Clarisa.
"Tidak." Jawab kepala pelayan disertai gelengan.
Bagus lah kalau begitu, setidaknya orang tua Claudia tidak mengetahui kalau Clarisa bolos sekolah.
"Buat kan aku roti panggang isi coklat dan susu setelah itu bawakan ke kamar ku." Ucap Clarisa.
"Baik nona." Jawab kepala pelayan. Clarisa lalu pergi ke kamar Claudia. Namun tiba tiba bunyi lonceng yang sangat akrab di telinga Clarisa perlahan mendekat ke arahnya. Clarisa lalu menoleh ke sumber suara itu dan benar saja, Miko sedang berlari ke arahnya.
"Apa kau membawa cemilan?" Tanya Miko sambil berlari menyeimbangi langkah Clarisa.
Clarisa lalu merogoh tas ranselnya sembari memasuki kamar. Karena sulit ditemukan, akhirnya Clarisa duduk di kasurnya dan memangku tas ranselnya.
"Biar aku yang mencarinya." Ucap Miko sambil terlihat gelisah karena berharap majikannya tidak lupa membawakan oleh oleh untuknya. Miko lalu memasukkan kepalanya kedalam tas Clarisa dan menggigit sesuatu sebelum akhirnya menarik benda itu ke luar. Benda itu adalah cemilan pasta untuk kucing yang Clarisa beli sewaktu perjalanan pulang.
"Biar ku buka." Clarisa lalu mengambil cemilan kucing itu dari Miko dan merobek ujung bungkusnya. Clarisa lalu memberikannya ke Miko dan memeganginya agar Miko mudah memakannya.
__ADS_1
Disela sela menikmati makanannya, Miko menyadari kalau majikannya itu tidak sedang baik-baik saja. Naluri kucing nya langsung menangkap kesedihan di raut wajah Clarisa. Segera Miko menghentikan kegiatannya dan menatap Clarisa.
"Ada apa?" Tanya Clarisa.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Miko.
Clarisa lalu menggeleng menandakan ia tidak sedang baik-baik saja.
"Ceritakan saja masalahnya, mungkin aku bisa membantu." Ujar Miko sembari meletakkan kepalanya di pangkuan Clarisa.
"Sahabat ku, dia.."
"Tunggu tunggu, jangan bilang ini masalah tentang jantan?" Tanya Miko disela sela ucapan Clarisa. Clarisa mengangguk walau sedikit malu untuk menjawab pertanyaan Miko.
"Tapi kali ini berbeda, dia.."
"Dia menjalin hubungan dengan saudara tiri ku." Ucap Clarisa.
"Apa?! Bukan kah saudara tiri mu lah yang menyebabkan kau meninggal." Ujar Miko yang terkejut.
"Iya, maka dari itu aku kesal dan sedih. Tapi.. tak ada yang bisa ku lakukan untuk sekarang, bukan?" Ucap Clarisa.
"Hmm, benar juga." Ucap Miko sambil mengangguk angguk.
"Tapi kalau aku jadi kau akan ku cabik cabik betina yang merebut jantan ku." Sambung Miko.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, akan aneh kalau aku terlihat mencabiknya tanpa sebab." Ucap Clarisa.
"Dan satu lagi, kami ini para manusia memiliki panggilan jenis kelamin pria dan wanita, bukan jantan dan betina." Jelas Clarisa.
"Sama saja." Jawab Miko yang tidak peduli dengan nama panggilan itu. Clarisa merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya. Berusaha melupakan semua yang terjadi dan berusaha tidur.
Sementara kini di alam baka para pengurus akhirat sedang mendata daftar pencabutan nyawa untuk nanti malam.
"Kata atasan hari ini akan cukup banyak manusia yang akan dicabut nyawanya." Ucap Penjaga surga.
"Pencatat perbuatan, tolong perlihatkan daftar orang yang akan dicabut nyawanya." Ucap Mago.
"Baik!" Jawab kedua pencatat perbuatan. Kedua pencatat perbuatan pun menunjukkan daftar orang yang akan mati dengan perbuatan baik dan jahat.
Pandangan Mago terfokus pada sebuah nama di daftar orang baik yang akan masuk surga. Ia terkejut karena mengetahui nama itu adalah Bram, ayah dari Clarisa.
"Lumayan juga yang akan masuk ke neraka." Ucap penjaga surga.
"Kali ini warga ku bertambah bukan?" Ledek penjaga neraka.
"Tetap saja aku yang bersusah payah mencabut nyawa mereka." Ujar malaikat maut.
"Tunggu, bukan kah itu adalah nama ayah Clarisa?" Tanya Mago.
"Siapa itu Clarisa?" Tanya penjaga neraka.
__ADS_1