
"Ah, aku pikir ada yang menuntunnya seperti..." Jesslyn berkeringat dingin, ia berpikir apakah Claudia mencurigainya sebagai dalang dari kematian Clarisa.
"Bisikan hantu." Clarisa lalu meledek Jesslyn dengan nada seram lalu tertawa. Jesslyn juga ikut tertawa dengan kaku, ia pikir orang yang ia kenal sebagai Claudia mencurigainya sebagai pembunuh Clarisa.
"Ngomong ngomong apa kau percaya hantu?" Tanya Clarisa.
"Tidak." Jesslyn lalu menggeleng.
"Sayang sekali, padahal aku percaya kepada hantu."
"Aku bahkan pernah melihat salah satu dari mereka." Ucap Clarisa.
"K- kau pernah melihat hantu?" Tanya Jesslyn.
"Tentu saja, mereka datang untuk balas dendam kepada orang yang telah jahat kepada mereka."
"Lalu aku tak sengaja melihat wujud mereka."
"Benar benar jelas." Ucap Clarisa. Seketika jantung Jesslyn berdebar sangat kencang. Ia menelan ludah dengan kasar dan mulai berkeringat.
"Rambutnya panjang sampai se pinggang."
"Lalu mata mereka putih dengan darah yang mengalir seperti air mata."
__ADS_1
"Baju mereka panjang dan putih."
"Dan kulit yang pucat semu biru abu abu."
Cerita Clarisa tadi membuat Jesslyn ketakutan.
"Aku pergi dulu." Jesslyn lalu mempercepat langkahnya. Dari belakang Jesslyn, Clarisa tersenyum miring. Kali ini gantian Clarisa yang memainkan aktingnya.
Di tempat parkir saat ini Jesslyn mempercepat langkah kakinya menuju mobilnya. Saat ia membuka pintu seperti ada suara memanggil namanya.
"Jesslyn.. Jesslyn.."
"JesslynJesslynJesslynJesslynJesslynJesslynJesslynJesslyn." Suara itu semakin cepat dan berulang ulang. Jesslyn lalu menutup telinganya dan segera masuk ke dalam mobil.
"Kenapa kau tega? Tega sekali membunuh ku?!" Sosok Clarisa lalu mengeluarkan airmata darah dari matanya.
"Tidak! Pergi! Pergi kamu sana!" Teriak Jesslyn yang ketakutan.
"Kamu harus menerima akibatnya." Sosok Clarisa lalu melompat ke arah Jesslyn.
"AAAAAHH!!" Teriak Jesslyn. Jesslyn lalu membuka matanya. Sosok Clarisa menghilang begitu saja. Cepat cepat Jesslyn menyalakan mobilnya dan pergi dari sekolahan. Sampai di tengah tengah perjalanan hati Jesslyn mulai sedikit tenang. Lalu melihat ke kaca spion didalam mobil ternyata sosok Clarisa masih ada dibelakang nya. Jesslyn lalu menghentikan mobilnya dengan mendadak dan melihat ke arah kaca sekali lagi. Sosok itu kembali menghilang. Jesslyn lalu melihat ke belakang dan tak melihat sosok itu. Ia kembali mengemudikan mobilnya dengan harapan agar cepat sampai rumah.
Dibelakang mobil Jesslyn, Clarisa berdiri dengan tubuh Claudia. Tersenyum puas sambil menyilangkan tangan didepan badannya.
__ADS_1
"Semua ini masih permulaan." Ucapnya.
Semua orang di rumah lama Clarisa sedang bersiap untuk melakukan peringatan tujuh hari kematian Clarisa tak terkecuali Jesslyn dan Maria. Mereka terpaksa melakukannya karena ayah Clarisa yang bernama Bram sedang ada dirumah.
Tiba tiba seseorang memencet bel rumah mereka.
"Aku saja yang buka." Jesslyn lalu berjalan menuju pintu rumah meninggalkan Maria di ruang tengah.
"Cepat ya." Ucap Maria.
Jesslyn membuka pintu rumah dan melihat siapa yang datang. Ternyata Clarisa datang sebagai Claudia untuk memperingati tujuh hari kematiannya sendiri. Bukan itu tujuan utamanya, melainkan Tara.
"Akhirnya kau datang juga." Ucap Jesslyn.
"Iya, apa kau sibuk?" Tanya Clarisa basa basi.
"Iya, aku sibuk sekali tangan ku sampai pegal." Jawab Jesslyn.
"Kalau begitu boleh ku bantu?" Tanya Clarisa.
"Tentu."
Mereka lalu berjalan menuju ruang tengah.
__ADS_1