
Bab1
(Surat Anne Shirley, B.A., Kepala Sekolah Menengah Summerside,
kepada Gilbert Blythe, mahasiswa kedokteran di Redmond College,
Kingsport.)
"Windy Poplars,
"Spook"s Lane,
"Summerside, P.P.E.,
"Senin, 12 September
"YANG TERSAYANG,
Sebuah alamat yang indah! Kau pernah dengar nama semanis ini?
Windy Poplars itu nama tempat tinggalku yang baru dan aku suka
namanya. Tapi aku juga suka nama jalan Spook's Lane, meskipun bukan
nama sebenarnya. Nama jalan yang sebenarnya adalah Trent Street, tapi
tak pernah disebut begitu kecuali saat-saat tertentu ketika dimuat di Weekly
Courier ... lalu orang saling berpandangan dan bertanya-tanya, "Di mana
Trent Street itu?" Maka, jadilah jalan ini dikenal sebagai Spook's Lane ...
meski aku tak tahu alasannya disebut demikian. Sudah kutanyakan pada
Rebecca Dew, tapi dia cuma menjelaskan kalau jalan ini sejak dulu dikenal
dengan nama Spook's Lane dan ada cerita kalau jalan ini berhantu. Tapi
anehnya, Rebecca Dew sendiri belum pernah melihat penampakan yang
lebih jelek dari dirinya sendiri, katanya.
"Tapi, aku tak akan buru-buru. Kau sekarang belum tahu siapa Rebecca
Dew. Tapi percayalah, kau akan tahu ... oh, kau pasti akan tahu. Rasa?rasanya Rebecca Dew bakal menjadi tokoh yang paling banyak mengisi
lembar-lembar suratku nanti.
"Sekarang sudah senja, Sayang. (Ngomong-ngomong, bukankah "senja"
itu kata yang memikat hati? Aku lebih suka menyebut senja daripada
petang. Bagiku, waktu senja terdengar begitu lembut dan begitu teduh "
dan ... suasananya begitu TEMARAM). Siang hari, aku hanyut dalam
aktivitas keseharian ... malam hari, aku hanyut dalam alam ketidaksadaran
dan penantian. Tapi saat senja, aku terbebas dari keduanya dan waktuku
hanya untuk diriku sendiri ... dan diriMU. Oleh karena itu, jam demi jam
yang kuhabiskan untuk menulis surat kepadamu kuanggap waktu yang
berharga. Sekalipun YANG KUTULIS ini bukanlah surat cinta. Tinta
penaku sudah mulai mengering, aku tak bisa menulis surat cinta tinta yang
mulai mengering ... juga dengan pena yang terlalu tajam ... ataupun terlalu
tumpul. Jadi kau akan dapat surat cinta dariku saat aku punya pena yang
pas. Nah, sekarang, aku akan menceritakan tempat tinggalku yang baru
dan para penghuninya. Oh, Gilbert " BETAPA BAIKNYA mereka.
"Aku datang ke Summerside kemarin untuk mencari tempat kos.
Ditemani Mrs. Lynde yang pura-pura mau belanja, tapi sebenarnya dia
mau carikan tempat kos buatku. Mrs. Lynde masih menganggap aku anak
ingusan yang harus dibimbing serta diarahkan bahkan diawasi, meskipun
aku sudah lulus kuliah dan bergelar B.A.
"Kami tiba naik kereta api dan, ya ampun, Gilbert, ... aku mengalami
petualangan yang sangat menggelikan. Kau tentu sudah tahu bahwa
petualangan sering mendatangiku tanpa diundang. Entah kenapa
sepertinya aku menjadi magnet bagi mereka.
"Petualangan itu terjadi saat kereta api mendekati stasiun dan hendak
berhenti. Aku beranjak dari tempat duduk dan, saat aku membungkuk
mengambil koper Mrs. Lynde (Rencananya dia mau berhari Minggu
bersama seorang teman di Summerside), tanganku menekan kuat-kuat
benda berkilau yang kusangka pegangan kursi. Tiba-tiba saja, sebuah
pukulan keras menimpa tanganku dan membuatku nyaris meraung
kesakitan. Ya ampun Gilbert, apa yang tadi kusangka pegangan kursi
ternyata kepala seorang pria botak. Sungguh, pria itu melotot tajam padaku
dan rupanya baru saja terbangun dari tidurnya. Aku buru-buru minta maaf
dan turun dari kereta api secepat mungkin. Terakhir kutoleh pria itu, dia
masih memelototiku. Mrs. Lynde tampak begitu ketakutan, sementara
tanganku masih terasa sakit!
"Awalnya aku mengira tak akan kesulitan mencari tempat kos, karena
Mrs. Tom Pringle sudah biasa menerima pemondok kepala sekolah dari
sekolah menengah Summerside selama lima belas tahun. Tapi entah
kenapa, tiba-tiba saja dia merasa capek "direpoti" dan tak mau menerimaku
kos di tempatnya. Beberapa tempat lain yang menjanjikan sebagai tempat
kos juga memberikan penolakan halus. Sedangkan beberapa tempat lain
Tak terlalu menjanjikan. Sepanjang siang, kami menyusuri kota itu,
kepanasan, kecapekan, putus asa, dan sakit kepala .... Aku sudah mau mau
menyerah ... tatkala tiba-tiba kutemukan Spook"s Lane!
"Kami mampir ke tempat Mrs. Braddock, sobat lama Mrs. Lynde. Dan
menurut Mrs. Braddock, "para janda" itu pasti bakal menerimaku kos di
tempat mereka.
"Kabarnya mereka ingin ada seorang pemondok agar bisa membayar gaji
Rebecca Dew. Mereka sepertinya tak mampu lagi menggaji Rebecca jika
tak ada pemasukan tambahan. Tapi jika Rebecca harus pergi dari situ,
SIAPA lagi yang akan memerah sapi merah mereka yang sudah tua?" Mrs.
Braddock menatapku tajam seakan-akan menganggap akulah yang
seharusnya memerah sapi tua itu, tapi tak percaya kalau aku bisa
melakukannya.
"Janda-janda mana yang kamu bicarakan?" desak Mrs. Lynde.
"Masak kau tidak tahu? Bibi Kate dan Bibi Chatty, tentunya," tutur Mrs.
Braddock seakan-akan semua orang, bahkan juga sarjana muda bau kencur
seperti aku ini, harusnya sudah tahu. "Bibi Kate itu dulu Nyonya Amasa
MacComber (dia janda Kapten MacComber) dan Bibi Chatty itu Nyonya
Lincoln MacLean, janda biasa. Orang-orang memanggil mereka dengan
sebutan "bibi". Mereka sama-sama tinggal di jalan Spook"s Lane.""
"Spook"s Lane! Begitu mendengarnya dalam hati aku tahu bahwa aku
harus tinggal dengan janda-janda itu.
"Kalau begitu, ayo kita segera ke sana dan menemui mereka,"" pintaku
tak sabar pada Mrs. Lynde. Sepertinya jika kesempatan ini hilang, Spook"s
Lane akan lenyap begitu saja ditelan bumi dan kembali menjadi sebuah
dongeng.
"Kau bisa menemui mereka, tapi soal kau diterima atau tidak kos di
tempat itu, Rebecca yang memutuskan. Kau pegang saja kata-kataku,
Rebecca Dew itu sosok yang paling berkuasa di Windy Poplars."
"Windy Poplars! Tak mungkin " pasti aku salah dengar. Pasti sedang
bermimpi. Tapi, baru saja kudengar Mrs. Rachel Lynde bilang kalau
Windy Poplars itu nama lucu untuk sebuah rumah.
"Lucu, ya? Begini ceritanya, Kapten MacComber yang memberi nama.
Windy Poplars dulu adalah rumahnya, kau tahu. Kapten menanami
sekeliling rumahnya dengan pohon poplar dan dia begitu membanggakan
pohon-pohon itu meskipun sebenarnya dia jarang pulang ke rumah,
apalagi menempatinya cukup lama. Bibi Kate sering mengeluhkan soal itu,
tapi kami tak pernah mengerti apakah ia mengeluhkan Kapten yang jarang
pulang atau malah tak senang karena kepulangannya. Begitulah, Miss
Shirley " semoga kau nanti bisa tinggal di sana. Lagi pula, Rebecca Dew
itu pintar masak dan genius soal masakan kentang dingin. Kau akan
nyaman tinggal bersamanya jika dia suka padamu. Tapi, jika dia tidak
suka padamu " ya, dia tak akan suka. Begitu saja. Kabarnya ada seorang
bankir kota sedang mencari pondokan dan mungkin saja Rebecca lebih
menyukai orang seperti dia. Tapi, sepertinya aneh juga kalau Mrs. Tom
Pringle sampai tak mau menerimamu kos di tempatnya. Memang
Summerside itu banyak dihuni keluarga dan kerabat Pringle. Bisa dibilang
mereka adalah "Keluarga Bangsawan"-nya kota ini dan kau harus baik?baik dengan mereka, Miss Shirley, jika tak ingin dikucilkan dalam
pergaulan di Sekolah Menengah Summerside. Mereka itu benar-benar
menguasai Summerside dan sekitarnya " bahkan sampai ada jalan yang
diberi nama Jalan Kapten Abraham Pringle. Keluarga mereka banyak dan
besar sekali, tetapi pemimpinnya adalah sepasang wanita tua yang tinggal
di Maplehurst. Aku memang mendengar kabar kalau mereka tidak
menyukaimu."
"Kenapa bisa begitu?" seruku. "Mereka sama sekali belum kenal aku."
"Begini, salah seorang sepupu jauh mereka melamar jabatan Kepala
Sekolah dan semua keluarga Pringle beranggapan kalau dia seharusnya
bisa diterima jadi kepala sekolah. Jadi saat lamaranmu untuk jabatan
Kepala Sekolah diterima, seluruh keluarga Pringle tersinggung dan marah
besar. Tak heran bila mereka membencimu. Yah, begitulah namanya
orang. Kita harus menerima mereka apa adanya. Keluarga Pringle
mungkin bersikap baik dan sopan di depanmu, tetapi mereka pasti akan
menghalangimu sebisa mungkin. Aku tidak menakut-nakutimu, tapi ada
baiknya kalau kau dapat peringatan lebih awal, kan? Ya, semoga kau
berhasil, biar tahu rasa mereka! Tapi, jika nantinya janda-janda itu
menerimamu kos di rumah mereka, kau tak keberatan makan semeja
dengan Rebecca Dew, kan? Dia bukan Pembantu, kau tahu. Dia sepupu
jauh Kapten MacComber. Tapi dia tak akan makan di meja ketika ada
tamu ... karena dia paham tempatnya saat Aada Tamu ... tapi jika nanti kau
kos di sana, sudah pasti dia tak akan menganggapmu sebagai tamu."
"Kuyakinkan Mrs. Braddock yang khawatir, bahwa aku akan senang bisa
makan bersama Rebecca Dew dan buru-buru mengajak Mrs. Lynde ke
Windy Poplars. Aku HARUS mendahului si bankir itu."
"Mrs. Braddock mengikuti kami sampai ke pintu. Dan jangan sakiti
perasaan Bibi Chatty, ya? Perasaannya mudah sekali tersakiti. Kasihan
memang, dia sangat peka. Kau tahu, Bibi Chatty itu tak sekaya Bibi Kate
... meskipun sebenarnya Bibi Kate juga tidak punya banyak harta. Dan
lagi, Bibi Kate sungguh-sungguh menyukai suaminya ... tapi, Bibi Chatty
tidak ... maksudku tidak terlalu menyukai suaminya. Nggak heran! Lincoln
MacLean, suaminya, terkenal pemarah ... tapi Bibi Chatty mengira
dirinya-lah yang tak disukai orang-orang. Beruntung, ini hari Sabtu. Kalau
hari ini Jumat, Bibi Chatty tak akan mau menerimamu. Tentu kau akan
mengira Bibi Kate-lah yang percaya pada takhayul, bukan? Para pelaut
biasanya begitu. Tapi ini malah Bibi Chatty yang percaya takhayul ...
padahal suaminya tukang kayu. Padahal waktu mudanya dulu ia terkenal
cantik, sayang sekali."
"Kuyakinkan Mrs. Braddock kalau aku sungguh-sungguh menghargai
perasan Bibi Chatty, tapi tetap saja dia mengikuti kami sampai ke jalan.
"Kate dan Chatty tak akan memeriksa barang-barangmu ketika kau
sedang keluar. Mereka menghormati privasimu. Bisa jadi Rebecca Dew
yang memeriksa barang-barangmu, tapi dia tak akan memberitahukannya
padamu. Jika aku jadi kau, aku tak akan masuk lewat pintu depan. Mereka
hanya menggunakan pintu depan jika ada sesuatu yang benar-benar
penting. Kukira pintu itu belum pernah dibuka lagi sejak pemakaman
Amasa. Coba saja lewat pintu samping. Kunci pintunya diletakkan di
bawah pot bunga yang ada di rak jendela, jadi kalau tak ada orang di
rumah, buka saja pintu itu, lalu masuk ke dalam dan tunggu saja. Dan apa
pun yang kau kerjakan, jangan coba-coba memuji kucingnya karena
Rebecca tak suka kucing itu.
"Aku janji tak akan memuji si kucing dan akhirnya kami pun berhasil
pergi. Singkatnya, akhirnya kami sampai di Spook"s Lane. Sebuah jalan
kecil menuju ke dataran terbuka dengan bukit birunya yang membentang
jauh begitu indah. Di satu sisi jalan tak ada rumah satu pun dan tanahnya
menurun jauh sampai ke pelabuhan. Di sisi seberang, hanya ada tiga
__ADS_1
rumah. Rumah pertama hanyalah sebuah rumah biasa " tak ada yang bisa
diceritakan. Rumah berikutnya adalah sebuah rumah besar mengesankan
dengan dinding bata merah dipadu bebatuan yang tampak kusam, atapnya
berbentuk limas dengan jendela di sampingnya, pagar besi mengelilingi
bagian atap yang datar, dan pepohonan spruce dan fir lebat menaungi
sehingga rumah itu nyaris tak terlihat. Bagian dalamnya pasti gelap dan
menakutkan, karena kurang cahaya yang masuk. Rumah ketiga dan yang
terakhir adalah Windy Poplars, letaknya tepat di pojokan, dengan
rerumputan segar di bagian depan, dan jalan pedesaan yang diteduhi
bayang-bayang pepohonan yang begitu indah.
"Seketika aku jatuh cinta pada rumah itu. Tentu bisa kau rasakan, ada
rumah-rumah yang langsung memikat hatimu begitu kau melihatnya
pertama kali dan entah kenapa, kau pun tak bisa menjelaskannya. Windy
Poplars juga seperti itu. Bisa kulukiskan rumah itu sebagai rumah bercat
putih ... putih sekali ... dengan daun jendela bercat hijau ... hijau sekal ... di
salah satu sudutnya terdapat "menara" dengan jendela menjorok di kedua
sisinya. Pagar tembok batu rendah memisahkannya dari jalan, dengan
pohon aspen poplar yang tumbuh selang-seling di sepanjang tembok, dan
sebuah taman besar di belakang rumah, tempat bebungaan dan sayur?sayuran tumbuh subur ... tapi semua itu tak cukup untuk melukiskan
kepadamu betapa indahnya rumah itu. Pendek kata, Windy Poplars itu
adalah sebuah rumah dengan ciri khas menyenangkan dan suasananya
terasa seperti Green Gables.
"Inilah tempat yang cocok buatku ... seperti sudah ditakdirkan," kataku
penuh gairah.
"Mrs. Lynde tampak seperti tak begitu percaya pada takdir. "Jaraknya
cukup jauh untuk pergi ke sekolah jalan kaki," katanya ragu-ragu.
"Tidak apa-apa. Jalan kaki olahraga yang baik buatku. Oh, lihatlah
tanaman birch dan maple yang merayap sepanjang jalan itu."
"Mrs. Lynde melihatnya dan berkata, "Semoga kau tak terganggu
dengan nyamuk-nyamuk di sini."
"Semoga saja begitu. Aku memang benci nyamuk. Seekor nyamuk lebih
mengganggu tidurku semalaman ketimbang rasa bersalah.
"Aku lega karena kami tak perlu masuk lewat pintu depan. Pintu
depannya kelihatan menggetarkan ... sebuah pintu yang besar, berdaun
ganda, dengan tekstur kayu bergurat. Kanan kirinya diapit panel kaca
merah bermotif bunga-bungaan. Pintu itu sama sekali tak cocok dengan
rumahnya. Pintu samping yang kecil dan bercat hijau malah kelihatan
lebih ramah dan mengundang. Kami sampai ke pintu samping melalui
jalan setapak berbatu kecil dan tipis yang sesekali tertutup rerumputan.
Jalan setapak itu kanan kirinya ditumbuhi rerumputan dan bebungaan yang
begitu indah seperti bleeding-heart, tiger-lilies, sweet-William,
southernwood, bride"s bouquet, daisy merah dan putih, dan tanaman yang
disebut Mrs. Lynde "pinies". Bunga-bunga itu tentu saja tak bermekaran di
musim ini, tapi bisa dipastikan mereka bermekaran dengan baik pada
waktunya. Di kejauhan berjejer mawar dan di antara Windy Poplars dan
rumah besar kusam di sebelah, ada tembok bata yang ditumbuhi tanaman
Virginia yang merambat pada anyaman kayu di atas pintu bercat hijau
kelabu. Salah satu dahan merambat melintang di pintu, menunjukkan pintu
itu sudah lama tidak pernah dibuka. Sebenarnya hanya separuh pintu,
karena bagian atasnya terbuka sehingga kita dapat melihat sekilas taman
rimbun yang ada di halaman sebelah.
"Ketika kami masuk gerbang Windy Poplars, kulihat ada rumpun
semanggi di dekat jalan setapak. Entah kenapa, aku membungkuk dan
memperhatikannya. Percaya tidak, Gilbert? Tepat di depan mataku, ada
TIGA daun semanggi berhelai empat! Ini pertanda baik! Bahkan ancaman
keluarga Pringle pun tak mengurangi kegiranganku melihat pertanda itu.
Aku yakin pasti bisa mengalahkan si bankir dan tinggal di sini.
"Pintu samping terbuka berarti ada orang di rumah, jadi kami tak perlu
lagi mencari kunci di bawah pot bunga. Kami pun mengetuk pintu dan
Rebecca Dew datang membukanya. Kami langsung tahu dia Rebecca
Dew, tak mungkin ada orang lain yang bisa menyandang nama Rebecca
Dew kecuali wanita ini. Dan tak ada nama lain yang tepat untuknya selain
nama Rebecca Dew.
"Rebecca Dew berusia sekitar empat puluh tahun dan jika kau
bayangkan tomat punya rambut hitam menyibak di dahi, mata hitam kecil
berbinar, hidung mungil yang lucu, dan mulut tipis melebar, seperti itulah
wajah Rebecca. Segalanya tentang dia begitu mungil dan pendek ...
hidungnya mungil ... leher, tangan dan kakinya juga pendek ... pokoknya
semua mungil dan pendek, kecuali senyumannya yang merekah nyaris
sampai ke telinga.
"Tapi, saat itu dia tidak tersenyum. Tampaknya dia tidak begitu suka
ketika aku minta izin bertemu Mrs. MacComber.
"Maksudmu Mrs. KAPTEN MacComber?" katanya sambil
membenarkan nama yang dimaksud, seolah ada lusinan nama Mrs.
MacComber di rumah itu.
"Benar," jawabku lirih. Seketika itu juga kami dibimbing masuk ke
dalam ruang duduk dan ditinggalkan. Ruangan itu agak kecil tapi bagiku
menyenangkan. Suasananya tenang dan ramah, meski semua sandaran
kursinya dilapisi dengan kain pelindung. Tiap perabotan yang ada di situ
tertata sesuai tempatnya dan sudah bertahun-tahun tidak pernah
dipindahkan. Betapa mengilap perabotan yang ada di ruangan itu! Tak ada
perabotan baru yang bisa semengilap kaca seperti perabotan di situ. Aku
tahu itu semua berkat tangan cekatan si Rebecca Dew. Sebuah botol yang
bertengger di rak di atas tempat perapian menarik perhatian Mrs. Lynde
karena di dalamnya terdapat miniatur kapal layar lengkap dengan semua
peralatannya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana caranya
kapal layar dalam botol itu memberikan kesan "maritim" bagi ruang
duduk.
"Kedua janda itu akhirnya muncul, dan aku langsung menyukai mereka.
Bibi Kate berperawakan tinggi, agak gemuk, berambut abu-abu, tegas dan
serius " seperti tipe Marilla; dan Bibi Chatty pendek, kurus, rambutnya
juga berwarna abu-abu dan sedikit sendu. Bisa jadi dulu dia sangat cantik
tapi yang tertinggal dari kecantikannya adalah keindahan matanya saja.
Matanya cokelat besar ... indah ... dan lembut.
"Kujelaskan maksud kedatanganku dan janda-janda itu berpandangan.
"Kami harus berkonsultasi dengan Rebecca Dew," kata Bibi Chatty.
"Itu sudah pasti," tambah Bibi Kate.
"Rebecca Dew dipanggil dari dapur. Si kucing masuk bersamanya ...
seekor kucing Maltese besar dan berbulu lembut, dadanya putih dan di
lehernya melingkar kalung putih juga. Ingin aku mengelusnya, tetapi
begitu ingat pesan Mrs. Braddock kusingkirkan keinginanku itu.
"Rebecca sekilas menatapku tanpa sedikit pun ulasan senyum.
"Rebecca," kata Bibi Kate, yang tak suka basa-basi dan langsung ke
pokok masalah, "Miss Shirley mau kos di sini. Kupikir kita tak bisa
menerimanya."
"Kenapa tak bisa?" tanya Rebecca.
"Akan terlalu merepotkanmu, kurasa," kata Bibi Chatty.
"Aku biasa repot," kata Rebecca Dew. Kau TAK BISA memisahkan
nama itu, Gilbert. Tak mungkin ... meskipun janda-janda itu
melakukannya. Mereka memanggilnya Rebecca ketika berbicara langsung
padanya. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa melakukannya.
"Kita sudah terlalu tua untuk menerima pemondok muda datang dan
pergi," tambah Bibi Chatty.
"Itu kan kalian," tukas Rebecca Dew. "Meski umurku sudah empat
puluh lima, aku masih mampu menggunakan semua indraku. Jika ada anak
muda di sini, menurutku bakal menyenangkan. Anak gadis kurasa lebih
baik daripada lelaki. LELAKI selalu merokok siang DAN malam ... belum
lagi bisa bikin bahaya kebakaran. Jika mau menerima orang kos, saranKU
lebih baik menerima DIA. Tapi tentu saja ini rumah kalian berdua."
Dia berkata seperti itu dan menghilang ... seperti sebuah kalimat yang
sering diungkapkan Homer. Aku sadar bahwa akhirnya aku akan bisa
tinggal di sini, tetapi Bibi Chatty tetap memintaku naik ke atas dan melihat
kamarku untuk memastikan aku cocok atau tidak.
"Kami tempatkan dirimu di kamar menara, Sayang. Kamar itu tidak
seluas kamar tidur tamu, tapi kamar itu punya cerobong asap untuk
perapian kala musim dingin dan sekaligus pemandangan yang bagus. Dari
kamar itu kau bisa melihat pekarangan makam kuno.
"Aku tahu aku akan menyukai kamarnya ... namanya saja, "kamar
menara" benar-benar menggetarkan kalbuku. Aku merasa seperti hidup
dalam lagu kenangan yang biasa kita nyanyikan di Sekolah Avonlea
tentang "seorang perawan yang tinggal di menara tinggi dekat laut kelabu".
Kamar itu benar-benar sebuah tempat yang indah. Kami naik ke sana
melewati sejumlah tangga ujung koridor setelah tangga ke lantai dua.
Kamar itu agak kecil ... tapi tak sekecil kamar kosku di Redmond yang tak
begitu nyaman saat tahun pertamaku di sana. Jendelanya ada dua, jendela
atap menghadap ke barat dan sebuah jendela lagi tepat di bawah atap
segitiganya. Dan di pojok seberang, ada sebuah jendela tiga sisi yang
membuka ke depan dengan rak di bawahnya yang bisa kupakai untuk
tempat buku-buku. Lantai kamar dihiasi dengan karpet anyam bundar,
ranjang besarnya bertiang dan berkanopi, dilengkapi dengan bed cover
"wild-goose" tebal yang tampak begitu lembut dan rata sehingga
sepertinya sayang bila dipakai tidur dan jadi berantakan. Dan Gilbert,
ranjang itu lumayan tinggi sehingga aku harus naik dengan tangga kecil
lucu yang bisa dipindahkan dan ditaruh di kolong ranjang siang harinya.
Tampaknya Kapten MacComber membeli ranjang dan seluruh
peralatannya itu di suatu tempat di luar negeri dan membawanya pulang ke
rumah.
"Ada lemari pojok kecil yang indah dengan rak-rak berlapis kertas hias
dan pintu bercat motif bunga. Di atas kursi dekat jendela bersandar bantal
bulat berwarna biru ... yang di tengahnya ada kancing menekan ke dalam
sehingga bantalan itu mirip kue donat besar berwarna biru. Ada tempat
cuci muka yang cantik dengan dua rak ... rak atas untuk baskom dan teko
dan rak bawah untuk tempat sabun dan kendi air panas. Di rak itu ada laci
dengan pegangan mungil terbuat dari kuningan. Laci itu penuh handuk dan
di rak atasnya ada boneka wanita porselen putih sedang duduk dengan
sepatu pink, selempang keemasan serta bunga merah di rambutnya yang
juga keemasan.
"Seluruh tempat itu bermandikan cahaya keemasan yang menyeruak
lewat tirai warna kuning jagung. Dan dinding kamar yang bercat putih
berhiaskan sebuah lukisan yang tiada duanya, pola-pola bayangan pohon?pohon aspen dari luar ... tampak begitu hidup karena bayangan aspen itu
selalu berubah-ubah dan bergerak-gerak tertiup angin. Pokoknya, bagiku
itu sebuah kamar yang MEMBAHAGIAKAN. Aku merasa seperti gadis
terkaya di dunia.
"Kau akan baik-baik saja di sana, pastinya," kata Mrs. Lynde begitu
kami berpamitan.
"Sepertinya aku akan merasa kurang leluasa dan sempit, dibandingkan
dengan kebebasan yang kudapatkan dari Patty"s Place," kataku menggoda
Mrs. Lynde
""Kebebasan!" seru Mrs. Lynde tak suka. "Kebebasan! Jangan bicara
__ADS_1
seperti orang-orang Yankee Amerika, Anne."
"Aku datang ke Windy Poplars hari ini, dengan semua barang-barangku.
Tentu saja, aku tak suka meninggalkan Green Gables. Tak jadi soal berapa
kali dan berapa lama aku pergi meninggalkannya, begitu liburan tiba, aku
serasa menyatu kembali dengan tempat itu seolah-olah aku tak pernah
pergi darinya, dan begitu meninggalkannya, hatiku terasa tercabik-cabik.
Tapi, bisa kurasakan aku akan menyukai tinggal di tempat ini. Dan
sepertinya tempat ini juga menyukaiku. Aku selalu tahu jika sebuah rumah
menyukaiku atau tidak.
"Pemandangan dari jendela kamarku begitu indah ... bahkan juga makam
kuno, yang dikelilingi deretan pepohonan fir gelap memanjang hingga
jalan kecil berkelok dengan sungai kecil di sampingnya. Dari jendela di
sebelah barat, bisa kulihat semua yang ada di pelabuhan hingga jauh ke
ujung pantai berkabut dengan perahu-perahu kecilnya. Aku menyukai
keindahannya dan kapal-kapal yang berlayar menuju "pelabuhan nun entah
di mana" ... sebuah frasa yang menarik! Banyak sekali ruang yang tersedia
untuk imajinasi! Dari jendela sebelah utara, bisa kulihat pepohonan birch
dan maple membentang di jalan. Kau tahu, aku selalu menjadi pemuja
tanaman. Ketika kita mempelajari puisi Tennyson di kelas bahasa Inggris
di Redmond, aku selalu merasa berduka bersama Enone yang malang, saat
pohon-pohon cemaranya dihancurkan.
"Jauh di seberang pepohonan dan makam kuno membentang lembah
memesona dengan jalannya tanah merah berkelok-kelok sepanjang lembah
dimeriahkan dengan rumah-rumah bercat putih di kedua sisinya. Memang
ada beberapa lembah yang begitu memesona ... dan kau tak akan mampu
menjelaskannya kenapa bisa begitu. Hanya dengan melihatnya saja kau
sudah merasa senang. Dan di kejauhan bertengger kukuh bukitku yang
biru. Kuberi nama bukitku itu Storm King ... si penguasa hasrat, dst.
"Aku bisa merasa sangat SENDIRIAN di kamar ini. Sesekali, sendirian
memang begitu menyenangkan. Angin akan menjadi sahabatku. Angin
bisa menderu dan mendesah serta mendendangkan buaiannya di sekitar
menaraku ... angin kesucian di musim salju ... angin kesuburan di musim
semi ... angin pengharapan di musim panas ... angin kematian di musim
gugur ... dan angin ganas di setiap musim ... "angin badai yang melakukan
firman-Nya".1
Betapa aku selalu tergugah dengan ayat-ayat Alkitab ... seolah-olah
setiap hembus angin menyuarakan pesan buatku. Aku selalu merasa iri
pada bocah laki-laki yang terbang bersama angin utara dalam cerita indah
karya George MacDonald. Suatu malam nanti, Gilbert, akan kubuka
jendela menara itu dan aku akan terbang bersama angin ... Rebecca Dew
tak akan pernah tahu kenapa ranjangku kosong malam itu.
"Sayang, aku berharap saat kita menemukan "rumah impian" kita nanti,
akan ada angin yang bertiup di sekelilingnya. Aku ingin tahu di mana
tempatnya ... calon rumah impian kita itu. Akankah aku sangat menyukai
rumah itu kala tertimpa sinar rembulan dan temaram senja? Rumah masa
depan tempat tinggal kita kelak, tempat kita akan berbagi kasih sayang dan
persahabatan serta pekerjaan ... dan juga beberapa petualangan lucu yang
bakal menghadirkan kegembiraan di masa tua kita. Masa tua!
MUNGKINKAH kita akan jadi tua, Gilbert? Sepertinya tidak mungkin.
"Dari jendela kiri menara itu aku bisa melihat atap-atap rumah di kota ...
kota tempat aku bakal menjalani hidup selama satu tahun setidak-tidaknya.
Mereka yang tinggal di rumah-rumah di sana itu akan menjadi teman?temanku, meskipun aku belum kenal mereka. Bisa jadi mereka itu
musuhku. Sebab tipe Pye bisa dijumpai di mana-mana, dengan nama-nama
yang bermacam-macam, dan aku pun sepertinya harus waspada dengan
keluarga Pringle. Sekolah mulai besok pagi. Aku harus mengajar
Geometri! Tentunya tak akan lebih buruk daripada saat aku
mempelajarinya. Aku berdoa pada Tuhan semoga saja tak ada genius
matematika di antara keluarga Pringle.
"Aku baru di sini setengah hari, tapi aku merasa sudah sejak dulu
mengenal kedua janda itu dan Rebecca Dew. Janda-janda itu menyuruhku
untuk memanggil mereka dengan sebutan "bibi" dan aku juga meminta
pada mereka untuk memanggilku "Anne". Aku memanggil Rebecca Dew
dengan sebutan "Miss Dew"... sekali.
"Miss apa?" tukasnya langsung.
"Dew," kataku lirih. "Bukankah itu namamu?"
"Ya, benar. Itu memang namaku. Tapi sudah cukup lama aku tidak
dipanggil Miss Dew, dan aku lumayan kaget. Jangan memanggilku begitu,
Miss Shirley, karena aku tak biasa.
"Aku akan ingat itu, Rebecca ... Dew," kataku berusaha keras memotong
nama Dew tapi tak berhasil.
"Mrs. Braddock tak salah jika mengatakan Bibi Chatty itu peka
perasaannya. Perkataannya itu terbukti saat makan malam. Ketika itu Bibi
Kate baru saja memberikan ucapan selamat untuk "ulang tahun Chatty
yang keenam puluh enam". Kebetulan saja kutoleh Bibi Chatty dan saat itu
juga kulihat ... oh tidak, dia BANJIR air mata. Mungkin ini terlalu
berlebihan, tepatnya dia hanya berurai air mata. Butir-butir air
menggenangi matanya yang cokelat bulat hingga akhirnya luruh tanpa
suara.
"Apa lagi sekarang, Chatty?" tanya Bibi Kate sedikit kesal.
"Tidak, hanya ... sebenarnya ini hari ulang tahunku yang keenam puluh
lima, bukan enam puluh enam," kata Bibi Chatty.
"Maafkan aku, Charlotte," kata Bibi Kate ... dan semua menjadi ceria
kembali.
"Kucingnya jantan dengan mata keemasan, bulu berwarna abu-abu
kebiruan dan halus tanpa cacat ... Bibi Kate dan Bibi Chatty
memanggilnya Dusty Miller karena memang itulah namanya, tapi Rebecca
Dew cuma memanggilnya Kucing itu karena dia tak menyukainya. Dia
kesal karena tiap pagi dan sore dia harus menyediakan seiris hati untuk
makanannya, menyikat bulu-bulunya yang menempel di kursi tamu dan
harus mencarinya bila kucing itu keluar tengah malam.
"Rebecca Dew benci kucing," Bibi Chatty memberitahuku, "khususnya
Dusty. Anjing Mrs. Campbell tua ... Mrs. Campbell pernah punya anjing
" membawa Dusty Miller yang masih kecil ke sini dengan mulutnya.
Kurasa si anjing berpikiran bahwa tak akan ada gunanya bila ia membawa
kucing itu ke majikannya. Saat itu Dusty Miller masih anak kucing yang
malang, basah, kedinginan dan kurus kering. Orang dengan hati sekeras
batu pun tak akan tega melihatnya. Jadi, aku dan Kate mengambilnya
meskipun Rebecca tak akan pernah bisa memaafkan kami karenanya.
Memang, saat itu kami tak memikirkan akibatnya. Mestinya kami tak
mengambil anak kucing itu. Aku tak tahu apakah kau ..." Bibi Chatty was?was melihat ke pintu antara ruang makan dan dapur ... "memperhatikan
bagaimana kami menghadapi Rebecca Dew."
"Aku MEMANG memperhatikannya ... dan sungguh menarik. Penduduk
Summerside dan Rebecca Dew boleh saja menganggap bahwa Rebecca
Dew-lah yang berkuasa di rumah ini, tapi kedua janda itu jelas punya
anggapan lain."
"Kami tak mau si bankir itu menyewa kamar di sini ... pria muda
biasanya suka keluyuran dan kami akan khawatir kalau dia tak ke gereja
secara teratur. Tapi, kami pura-pura hendak menerimanya dan Rebecca
langsung menolaknya. Aku senang karena kami menerima dirimu, Sayang.
Aku yakin kau orang yang enak untuk diajak tinggal bersama. Semoga kau
bisa menyukai kami semua. Rebecca itu punya beberapa kualitas yang
baik. Lima belas tahun lalu ketika dia datang, dia tidak serapi sekarang.
Pernah suatu ketika Bibi Kate harus menuliskan namanya " "Rebecca
Dew" di cermin ruang tamu untuk menunjukkan adanya debu di kaca itu.
Tapi sekarang Bibi Kate tidak perlu lagi melakukan itu. Rebecca Dew
cepat belajar itu. Semoga saja kamarmu menyenangkan, Sayang. Kau
boleh membuka jendela kamarmu di malam hari. Kate tak suka udara
malam, tapi dia paham bahwa penyewa kamar boleh mendapatkan hak?hak istimewa tertentu. Kate dan aku tidur bersama, dan kami pun sepakat
mengatur jendelanya dibuka secara bergantian; bila malam ini dibuka,
besok malamnya ditutup. Masalah kecil seperti itu bisa saja dibicarakan,
bukan? Bila ada kemauan tentu ada jalan. Tak perlu takut kalau kau
mendengar Rebecca terbangun di malam hari untuk memeriksa keadaan
rumah. Sering dia terbangun malam hari karena mendengar suara dan
memeriksanya. Kukira karena alasan inilah dia tak mau menerima si
bankir. Dia tentu khawatir kalau si bankir memergoki dirinya keluyuran
tengah malam pakai baju tidur. Kuharap kau juga tak akan keberatan kalau
Kate itu pendiam. Memang begitulah karakternya. Dia mestinya bisa cerita
banyak hal ... semasa mudanya dia sudah keliling dunia bersama Amasa
MacComber. Seandainya saja aku punya banyak pengalaman seperti dia
yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, tapi aku memang belum pernah
keluar dari Pulau Prince Edward. Sering kubertanya kenapa segalanya
ditakdirkan seperti ini ... aku yang cerewet tapi tak punya bahan cerita,
sedangkan Kate dengan seabrek pengalamannya malah tak suka banyak
bicara. Tapi kurasa Tuhan tahu yang terbaik."
"Meskipun Bibi Chatty itu suka ngomong, ia bukannya tak pernah jeda
saat mengatakan semua itu. Aku bisa menanggapinya dengan komentar
dan ekspresi-ekspresi yang pantas saat kami mengobrol, tapi komentarku
tak terlalu penting untuk dituliskan dalam surat.
"Kedua janda itu memelihara seekor sapi perah yang digembalakan
bebas di lahan pertanian Mr. James Hamilton dan Rebecca Dew tiap hari
pergi ke sana untuk memerah susunya. Hasil susunya lumayan. Tiap pagi
dan sore, Rebecca Dew mengantarkan segelas susu pada si "Pelayan
Wanita" Mrs. Campbell melalui bukaan di gerbang temboknya. Susu itu
untuk "si kecil Elizabeth" yang harus meminumnya atas anjuran dokter.
Siapa si Pelayan Wanita, atau siapa si kecil Elizabeth, aku belum
mengetahuinya. Mrs. Campbell adalah penghuni sekaligus pemilik rumah
benteng sebelah ... yang dinamai The Evergreens.
"Sepertinya aku tak akan bisa tidur malam nanti ... aku tak pernah bisa
tidur di malam pertama di sebuah ranjang yang masih asing bagiku dan
INI memang ranjang yang paling asing yang pernah kulihat. Tapi aku tak
keberatan. Aku selalu menyukai malam dan aku juga menikmati berbaring
di ranjang sambil merenungi segala yang ada di kehidupan ini, masa lalu,
sekarang, dan masa yang akan datang. Khususnya masa yang akan
DATANG.
"Ini surat tanpa rasa belas kasihan, Gilbert. Kelak aku tak akan
menyiksamu lagi dengan surat yang panjang seperti ini. Tetapi, aku ingin
sekali kuceritakan semuanya sehingga kau bisa bayangkan apa-apa yang
ada di sekelilingku. Saat ini hari sudah menjelang malam, jauh di
pelabuhan terlihat bulan "berbaur dengan remang-remang bayangan di
daratan". Aku masih harus menulis surat untuk Marilla. Suratnya akan
sampai di Green Gables dua hari lagi dan Davy akan mengambilnya dari
kantor pos lalu membawanya pulang, kemudian dia dan Dora akan
mengerubuti Marilla yang sedang membuka surat itu dan tentu saja Mrs.
Lynde akan menguping ... Oo ... oo ... oh! Ini yang membuatku rindu
rumah. Selamat tidur, Sayang, dari seseorang yang untuk sekarang dan
selamanya ...."
Milikmu,
ANNE SHIRLEY
* * *
__ADS_1