Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Episode 5


__ADS_3

Bab5



Anne, duduk dekat jendela menara pada suatu malam bulan November,



dengan pena tergigit di mulut dan lamunan di matanya, menatap ke



temaram senja dan tiba-tiba ingin berjalan-jalan ke pemakaman tua



Summerside. Memang dia belum pernah mengunjungi makam karena



selama ini dia lebih suka melihat birch dan hutan maple, atau jalan



pelabuhan untuk jalan-jalan di malam hari. Tapi di setiap bulan November



kala daun-daun berguguran, ada saatnya Anne merasa bahwa tidak baik



mengusik hutan " karena anugerah buminya sudah berlalu dan anugerah



jiwa dan putihnya kesucian belum sepenuhnya menjamah pepohonan di



hutan. Maka, Anne pun pergi berjalan-jalan ke makam kuno tersebut. Kali



ini, dia merasa sangat putus asa dan putus harapan sehingga berpikir



makam saja mungkin adalah tempat yang lebih ceria dibandingkan



perasaannya. Selain itu, makam itu penuh keluarga Pringle kata Rebecca



Dew. Mereka telah menguburkan kerabatnya di sana dari generasi ke



generasi, lebih memilih makam tua itu dibandingkan pemakaman baru



sampai 'makam tua itu penuh sesak dan tak muat lagi'. Anne merasa



mungkin dia akan lebih bersemangat kala bisa melihat anggota klan



Pringle di tempat mereka tak bisa lagi membuat jengkel orang lain.



Menghadapi keluarga Pringle, Anne merasa sudah sampai ke batas



kekuatannya. Kian lama situasinya kian terasa seperti mimpi buruk.



Kampanye pembangkangan dan penghinaan diam-diam yang diorganisir



Jen Pringle pada akhirnya mencuat. Seminggu lalu Anne meminta murid?murid Senior menulis karangan berjudul "Kejadian Terpenting Minggu



Ini". Jen Pringle menulis karangan yang sangat brilian " berandal kecil itu



Memang PINTAR " dan telah menyisipkan sebuah penghinaan tersamar



bagi gurunya " hinaan yang sangat menusuk sehingga mustahil



diabaikan. Anne menyuruhnya pulang sambil menegur bahwa Jen tak



boleh masuk sekolah lagi sebelum meminta maaf. Jelas akan ada masalah



karena kejadian ini. Bisa dibilang, akan terjadi perang terbuka antara Anne



dan keluarga Pringle. Dan Anne yang malang tak ragu lagi pihak mana



yang bakal menang dalam perang ini. Dewan sekolah jelas akan berdiri di



belakang keluarga Pringle dan selanjutnya akan memberinya pilihan



apakah Anne akan mengizinkan Jen masuk sekolah lagi atau



mengundurkan diri.



Anne merasa sangat getir. Selama ini dia sudah berbuat yang terbaik



untuk sekolah dan yakin dirinya mampu sukses memimpin sekolah



asalkan diberi kesempatan yang adil.



"Ini bukan salahku," pikirnya sedih. "Siapa yang Bisa melawan



komplotan seperti mereka atau melawan taktik-taktik mereka?"



Tapi, jika dia pulang ke Green Gables berarti dia kalah! Belum lagi



menghadapi kemarahan Mrs. Lynde dan sindiran dari keluarga Pye!



Bahkan simpati teman-teman malah akan menambah kepedihan. Apalagi



bila berita kegagalannya di Summerside menyebar, Anne akan kesulitan



mendapatkan pekerjaan di sekolah lain. Tetapi setidaknya mereka kalah



telak dari Anne di drama sekolah. Anne tertawa mengejek dan matanya



berkilat nakal ketika teringat peristiwa itu. Beberapa waktu lalu, dia



mengorganisir Klub Drama Sekolah dan menyutradarai sebuah drama



kecil yang dipentaskan untuk mendapatkan dana bagi program gagasannya



... membeli ukiran dan hiasan untuk ruang-ruang kelas. Anne meminta



bantuan Katherine Brooke karena gadis itu selalu tampak terisolasi dan



tertinggal dari semua kegiatan. Namun Anne menyesali permintaannya itu,



karena Katherine bersikap lebih kasar dan sinis daripada biasanya. Dalam



latihan, Katherine sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang



menyakitkan lengkap dengan ekspresi merendahkan. Lebih buruk lagi,



Katherine mendesak agar Jen Pringle-lah yang memerankan Ratu Mary



dari Skotlandia.



"Di sekolah tak ada anak lagi yang mampu memerankan tokoh ini,"



tukas Katherine. "Tak seorang anak pun yang karakternya mirip seperti



tokoh ini kecuali Jen."



Anne tidak terlalu yakin pada penjelasan Katherine. Menurutnya, Sophy



Sinclair, yang jangkung, bermata cokelat kehijauan, dan rambut cokelat



tebal, lebih cocok memerankan Ratu Mary daripada Jen. Sayangnya,



Sophy bukan anggota klub drama dan sama sekali belum pernah bermain



sebuah drama.



"Kita tak boleh memakai anak yang masih hijau dalam drama ini. Aku



tak sudi nantinya dikait-kaitkan dengan segala bentuk kegagalan pentas



ini," sindir Katherine dan akhirnya Anne pun pasrah. Memang, Anne tak



bisa menyangkal kalau Jen bisa memerankan karakternya dengan sangat



bagus. Anak itu punya bakat akting alami dan berlatih dengan serius.



Mereka berlatih empat kali seminggu dan tampaknya segalanya berjalan



lancar. Jen tampak begitu tertarik dengan peran yang dilakoninya sehingga



dia bersikap baik berkaitan dengan latihan dramanya. Bahkan Anne tak



mencampuri peran Jen dalam latihan dan membiarkan Katherine yang



membimbingnya. Tapi beberapa kali Anne terkejut dan bingung melihat



ekspresi kemenangan licik yang melintas di wajah Jen. Dia tak bisa



menduga-duga apa maksudnya.



Suatu siang, tak lama setelah latihan drama dimulai, Anne menemukan



Sophy Sinclair menangis di pojok ruang penyimpanan mantel putri.



Awalnya, Sophy buru-buru mengejapkan mata cokelatnya dan



menyangkal kalau sedang menangis " tapi kemudian tangisnya pecah.



"Aku ingin sekali ikut bermain drama " menjadi Ratu Mary," sedunya.



"Aku tak pernah punya kesempatan " Ayah tak akan mengizinkanku



bergabung dalam klub drama karena harus bayar iuran padahal kami



bukan orang berpunya. Selain itu aku juga tak berpengalaman. Sebenarnya



aku suka Ratu Mary " namanya saja mengguncangkan seluruh jiwaku.



Aku tak percaya " dan tak akan pernah percaya kalau dia terlibat dengan



pembunuhan Darnley. Alangkah indahnya bisa membayangkan diriku



menjadi Ratu Mary meski sesaat."



Setelah itu Anne selalu berpikir bahwa malaikatlah yang membisikkan



kata-kata yang kemudian dia ucapkan pada Sophy.



"Aku akan menuliskan dialog Ratu Mary untukmu, Sophy, dan aku



sendiri yang akan melatihmu. Itu akan jadi latihan yang bagus untukmu.



Dan karena kita memang ada rencana mementaskan drama ini di tempat



lain jika pentas di sini berjalan baik, ada baiknya juga kalau aku siapkan



pemain pengganti jika sewaktu-waktu Jen tidak bisa ikut. Tapi rencana ini



kita rahasiakan saja."



Keesokan harinya, Sophy sudah menghafal dialognya. Setiap siang



seusai sekolah, dia bersama Anne pulang ke Windy Poplars dan berlatih



dialognya di kamar menara. Mereka berdua bersenang-senang karena



Sophy yang kelihatannya pendiam ternyata orang yang penuh keceriaan.



Drama tersebut akan dipentaskan hari Jumat minggu keempat bulan



November di balai kota dan diiklankan besar-besaran sehingga semua



kursi habis dipesan. Selama dua malam, Anne dan Katherine menghias



gedung balai kota, kelompok band juga didatangkan, dan penyanyi sopran



ternama dari Charlottetown akan menyanyi di sela-sela babak. Geladi



bersih dilewatkan tanpa satu pun kendala. Jen memainkan perannya sangat



bagus dan para pemeran lain bisa mengimbanginya. Tetapi, Jumat pagi Jen



tidak masuk sekolah; dan siangnya ibunya memberitahukan bahwa Jen



sakit tenggorokan " mereka khawatir Jen menderita amandel. Dia paham



bahwa semua orang pasti merasa prihatin, tapi ibu Jen menegaskan bahwa



tidak mungkin putrinya ikut dalam pentas drama nanti malam.



Katherine dan Anne saling menatap, sama-sama kaget.



"Kita mesti menunda pentas ini," kata Katherine pelan. "Dan itu artinya



kegagalan. Dan bulan Desember nanti kita akan sangat sibuk. Yah, aku sih



memang berpendapat bodoh sekali kita mengadakan pentas drama



menjelang akhir tahun seperti ini."



"Kita tak akan menundanya," kata Anne, yang matanya berkilat penuh



tekad sehijau kilatan mata Jen saat menghinanya. Dia tak akan



mengatakannya pada Katherine Brooke, namun Anne tahu pasti bahwa



radang tenggorokan Jen hanyalah alasan kosong. Sebuah usaha licik, entah



apakah didukung oleh kerabat Pringle lainnya atau tidak, untuk



menggagalkan pentas drama yang disponsori Anne Shirley.



"Yah, terserah kalau kau bersikeras!" kata Katherine mengangkat bahu.



"Lalu apa yang akan kau lakukan? Cari orang untuk membacakan



dialognya? Akan kacau pastinya " Mary itu tokoh yang ada di setiap



babak."



"Sophy Sinclair bisa memerankan tokoh itu sama baik dengan Jen.



Kostumnya juga akan pas dan, untunglah, kau yang membuat dan



menyimpannya, bukan Jen."



Drama tetap dipentaskan malam itu di depan penonton yang penuh



sesak. Sophy yang sangat senang memerankan tokoh Mary " dan benar?benar bisa menyelami peran sebagai Mary, JAUH LEBIH BAIK daripada



Jen Pringle. Dia TERLIHAT seperti Ratu Mary dalam kostum beludru,



kerah bulu, dan pernak-pernik batu permata. Murid-murid Sekolah



Menengah Summerside, yang selama ini melihat Sophy dalam gaun wol


__ADS_1


kasar, mantel tak berbentuk dan topi kusam, menatap Sophy terpana.



Semua orang langsung berpendapat bahwa harusnya Sophy menjadi



anggota tetap Klub Drama Anne sendiri yang membayar uang



keanggotaannya dan mulai saat itu dia menjadi salah satu murid yang



"diperhitungkan" di Sekolah Menengah Summerside High. Tapi tak



seorang pun yang tahu atau membayangkan, termasuk diri Sophy sendiri,



kalau malam itu dia telah menapakkan langkah awalnya menuju bintang.



Dua puluh tahun kemudian, Sophy Sinclair menjadi salah satu aktris yang



melejit di Amerika. Namun, barangkali tak pernah terdengar tepuk tangan



yang begitu indah di telinganya, semeriah sorak-sorai penonton yang



menggema di balai kota Summerside malam itu begitu pertunjukan



berakhir.



Mrs. James Pringle membawa pulang kabar itu untuk putrinya Jen yang



pastinya terbakar iri dan cemburu. Kali ini, kata Rebecca Dew puas, Jen



Pringle dapat balasan setimpal. Dan akibatnya, Jen membalas dendam



dengan hinaan pada Anne di karangan tentang Kejadian Terpenting



Minggu Ini.



Anne melangkahkan kaki ke makam kuno itu menyusuri jalan tanah



diapit dua pagar batu berlumut penuh dirambati pakis yang mulai



membeku. Pohon-pohon lombardia tinggi dengan dedaunan yang belum



semuanya gugur tertiup angin bulan November, berjajar dengan jarak



tertentu, siluet-siluet kehitaman berlatar belakang birunya perbukitan di



kejauhan. Namun, makam tua itu, yang separuh batu nisannya sudah



doyong dan miring, dikelilingi di empat sisi oleh deretan pepohonan fir



yang tinggi dan suram. Anne tak berharap bertemu siapa pun di makam



tua itu dan agak terkejut saat bertemu dengan Miss Valentine Courtaloe,



dengan hidung mancung, mulut mungil, bahu ramping, mirip wanita



ningrat, tepat di depan gerbang makam. Anne mengenal Miss Valentine



Courtaloe tentu saja, seperti orang-orang lain di Summerside. Wanita itu



adalah "sang penjahit" lokal dan tahu semua tentang gosip orang-orang di



Summerside, yang masih hidup mau pun yang sudah mati. Anne



sebenarnya ingin jalan-jalan sendirian sambil membaca tulisan-tulisan di



batu nisan yang sudah berlumut dan menebak-nebak nama-nama pasangan



kekasih terlupakan di balik tanaman rambat yang menutupi nisan. Tapi dia



tak dapat mengelak saat Miss Valentine langsung menggandeng dan



memandunya menyusuri makam, tempat terdapat banyak makam keluarga



Courtaloe dan juga keluarga Pringle. Miss Valentine tak mempunyai



hubungan darah sama sekali dengan keluarga Pringle dan keponakannya



adalah salah satu murid favorit Anne. Jadi Anne tak kesulitan bersikap



baik pada Miss Valentine, asalkan jangan sampai menyebutkan bahwa



Miss Valentine "menjahit untuk mencari nafkah". Kabarnya, Miss



Valentine sangat sensitif dengan hal itu.



"Untung ada aku," kata Miss Valentine. "Jadi bisa kuceritakan banyak



hal mengenai orang-orang yang dimakamkan di sini. Aku selalu bilang,



kalau kau mau merasakan nikmatnya suasana makam yang sesungguhnya,



kau harus tahu segalanya mengenai orang-orang yang dimakamkan di sini.



Aku memang lebih suka jalan-jalan di makam ini daripada di pemakaman



yang baru karena para LELUHUR dimakamkan di sini. Sedangkan kalau



makam baru, para penghuninya orang-orang kebanyakan yang tak



terkenal. Keluarga Courtaloes juga dimakamkan di sini tepatnya di bagian



pojok sini. Wah, keluarga kami sudah sering sekali mengadakan



pemakaman."



"Kurasa setiap keluarga tua memang begitu," timpal Anne, sadar betul



kalau Miss Valentine mengharapkan tanggapan.



"Jangan bilang kalau ADA keluarga yang leluhurnya juga sudah



dimakamkan sebanyak keluarga kami," protes Miss Valentine tak mau



disaingi. "Kami SANGAT mudah terserang batuk. Sebagian besar



keluarga kami meninggal karena TBC. Ini kuburan bibiku, Bessie. Dia



adalah orang suci. Tapi saudara perempuannya, Bibi Cecilia lebih menarik



untuk dibicarakan. Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia berkata,



"Duduklah, Sayang, duduklah. Aku akan meninggal nanti malam jam



sebelas lewat sepuluh jadi tak ada alasan kita tak bergosip untuk terakhir



kalinya." Anehnya, Miss Shirley, dia benar-benar meninggal malam itu



jam sebelas lewat sepuluh. Bisakah kau jelaskan bagaimana dia bisa



tahu?"



Anne tak mampu menjelaskan.



"Moyang buyut Courtaloe juga dimakamkan di sini. Dia datang tahun



1760 dan mencari nafkah dengan membuat roda pemintal benang.




pemintal. Ketika dia wafat, pendeta berkhotbah dari ayat, "karena segala



perbuatan (pekerjaan) mereka menyertai mereka," dan Myron Pringle



nyeletuk bahwa jalan ke surga yang dilalui kakek moyangku akan penuh



dengan roda pemintal. Menurutmu pantas nggak pernyataan seperti itu,



Miss Shirley?"



Kalau saja yang berkata itu bukan salah seorang Pringle, Anne pasti tak



akan menjawab pasti, "Jelas tidak pantas," sambil menatap nisan bertanda



tengkorak dan tulang menyilang seakan-akan dia juga menanyakan



kepantasan tanda bajak laut di nisan.



"Sepupuku Dora juga dimakamkan DiSini. Dia memiliki tiga suami tapi



ketiganya juga meninggal begitu cepat. Dora yang malang, sepertinya tak



pernah beruntung karena tak bisa memilih suami yang sehat. Suaminya



yang terakhir adalah Benjamin Banning " dia Tidak dimakamkan di sini



" tetapi di Lowvale berdampingan dengan istri pertamanya " dan kuberi



tahu ya, si Benjamin Banning itu tak suka mati. Dora menghiburnya



dengan mengatakan bahwa dia akan pergi ke tempat yang lebih baik.



"Mungkin, mungkin," ucap Ben yang malang, "tapi aku sudah terbiasa



dengan dunia yang tak sempurna ini." Ada enam puluh satu jenis obat



yang diminumnya tapi hebatnya dia bisa bertahan agak lama. Semua



keluarga Paman David Courtaloe juga dimakamkan Di Sini. Dan di setiap



bagian bawah kuburan mereka ditanami bunga cabbage rose dan, ya



ampun, betapa indahnya bunga-bunga itu saat mekar! Setiap musim panas



aku ke sini mengumpulkan bunga tersebut untuk kupajang di vas. Sayang



kalau bunga-bunga itu dibiarkan layu begitu saja, ya, kan?"



"I " iya juga."



"Adikku Harriet yang malang, juga bersemayam Di Sini," desah Miss



Valentine berat. "Dia punya rambut sangat indah " seperti warna



rambutmu " tapi mungkin tidak begitu merah. Panjangnya sampai ke



lutut. Dia sudah bertunangan ketika meninggal. Kabarnya, kau juga sudah



bertunangan. Aku sendiri tak pernah begitu berhasrat untuk menikah, tapi



menurutku bertunangan itu menyenangkan. Oh, aku pernah punya



beberapa kesempatan tentunya " mungkin aku terlalu pilih-pilih " tapi



seorang Courtaloe tak bisa menikah dengan SEMBARANG ORANG,



bukan?"



Sepertinya Miss Valentine memang tak bisa.



"Frank Digby " di pojok di bawah rimbunan semak itu ... pernah naksir



padaku. Aku AGAK menyesal karena menolaknya " tapi seorang Digby,



bayangkan itu! Dia akhirnya menikah dengan Georgina Troop. Istrinya ini



kalau datang ke gereja selalu agak telat karena mau pamer pakaiannya. Ya,



Tuhan, wanita itu benar-benar gemar pakaian. Dia dimakamkan dengan



gaun biru yang begitu indah " kubuat gaun itu untuk dikenakan saat



pernikahannya tapi akhirnya malah dia kenakan untuk hari pemakamannya



sendiri. Dia mempunyai tiga anak yang menyenangkan, yang biasanya



kalau di gereja selalu duduk di depanku dan selalu kuberi permen. Apakah



menurutmu salah jika aku memberi anak-anak permen di gereja, Miss



Shirley? Bukan permen mint " kalau itu sih tak masalah " permen mint



memang agak RELIGIUS, benar bukan? Tapi anak-anak itu tak suka



permen mint."



Ketika kehabisan cerita tentang makam-makam keluarga Courtaloe,



kisah yang disampaikan Miss Valentine jadi kian pedas. Tapi itu tak



terlalu berpengaruh kalau kau bukan seorang Courtaloe.



"Mrs. Russell Pringle tua juga dimakamkan di sini. Sering kali aku



bertanya-tanya apakah dia di surga atau di neraka."



"Memangnya kenapa?" tanya Anne terkejut.



"Begini, dia itu benci sama Mary Ann, saudara perempuannya yang



meninggal beberapa bulan sebelumnya. "Kalau Mary Ann masuk surga,



aku tak mau bersama dia di surga." Begitu sumpahnya. Dia itu wanita yang



memegang kata-katanya, Sayang " khas Pringle. Dia lahir sebagai orang



Pringle dan menikah dengan Russell sepupunya. Kalau yang ini Mrs. Dan



Pringle " dan ini Janetta Bird. Saat meninggal usianya tujuh puluh tahun



kurang sehari. Orang-orang bilang, dia pasti menganggap itu tidak baik



kalau meninggal di usia tujuh puluh tahun lebih sehari karena itu melewati



batas yang tertulis di Alkitab. Orang kadang memang bilang hal yang



menggelikan seperti itu, bukan? Kabarnya, mati adalah satu-satunya hal



yang berani dia lakukan tanpa minta izin suaminya dulu. Sayang, tahu



tidak apa yang dilakukan suaminya ketika istrinya membeli topi yang tak

__ADS_1



disukainya?"



"Tak bisa kubayangkan."



"Dia MAKAN topi itu," kata Miss Valentine serius. "Memang itu



hanyalah topi kecil " hanya renda dan bunga " tak ada bulunya. Tapi



tetap saja, pasti agak sulit dicerna. Jadi tak mengherankan kalau suami



Mrs. Dan Pringle sakit perut beberapa lama. Tentu saja, aku tidak



MELIHATNYA makan topi itu, tapi aku selalu diyakinkan kalau kabar itu



benar. Bagaimana menurutmu?"



"Apa pun tentang keluarga Pringle, aku akan percaya saja," jawab Anne



kecut.



Miss Valentine menekan lengan Anne dengan penuh rasa simpati. "Bisa



kumengerti perasaanmu " sungguh. Buruk sekali perlakuan mereka



padamu. Tapi Summerside tidak SELURUHNYA berisi orang-orang



Pringle, Miss Shirley."



"Kadang rasanya Summerside penuh dengan mereka," kata Anne



tersenyum getir.



"Tidak, tentu tidak. Dan ada banyak orang yang berharap kau bisa



mengalahkan mereka. Apa pun yang mereka lakukan padamu, jangan



sampai menyerah. Setanlah yang telah merasuki hati mereka. Tetapi



mereka memang klan yang sangat kompak dan Miss Sarah memang benar?benar ingin sepupu jauh mereka jadi kepala sekolah di sini.



"Keluarga Nathan Pringle juga dimakamkan di sini. Nathan selalu



percaya kalau istrinya mau meracuninya tapi sepertinya dia tidak



keberatan. Katanya itu malah membuat hidup jadi menarik. Suatu ketika



dia curiga istrinya telah menaburkan bubuk arsenik di buburnya. Dia



keluar membawa bubur tersebut dan memberikannya pada babi. Tiga



minggu kemudian babi itu mati. Tapi dia bilang kalau itu hanyalah



kebetulan belaka jadi tak bisa dipastikan apakah yang mati itu babi yang



telah makan buburnya. Akhirnya, istrinya meninggal lebih dulu



daripadanya dan Nathan bilang istrinya itu istri yang baik, kecuali satu hal,



yaitu usahanya untuk meracuni sang suami. Kurasa cukup masuk akal



kalau dikatakan bahwa lelaki itu disesatkan oleh ANGGAPANNYA



sendiri."



""Mengenang kesucian MISS KINSEY"," baca Anne takjub. "Sungguh



sebuah prasasti yang luar biasa! Apa dia tak punya nama lain?"



"Kalaupun ada, tak seorang pun yang tahu," kata Miss Valentine. "Dia



berasal dari Nova Scotia dan bekerja untuk keluarga George Pringle



selama empat puluh tahun. Dia menamakan dirinya Miss Kinsey dan



setiap orang memanggilnya begitu. Dia meninggal secara tiba-tiba dan



kemudian diketahui kalau tak ada yang tahu nama depannya serta tak ada



kerabat yang bisa dihubungi. Oleh sebab itu, orang-orang hanya



menuliskan namanya seperti itu di batu nisannya " keluarga George



Pringle memakamkannya dengan baik dan membiayai monumen



makamnya. Dia itu sosok yang setia dan pekerja keras, tapi kalau kau



pernah melihatnya kau akan berpendapat bahwa dia memang



DILAHIRKAN sebagai Miss Kinsey. DI SINI juga dimakamkan pasangan



James Morley. Aku hadir di perayaan perkawinan emas mereka. Benar?benar meriah dan mewah " banyak hadiah dan sambutan serta bunga "



semua anak-anak mereka datang, saling bertukar senyum dan



membungkuk, namun dalam hati saling membenci."



"Saling membenci?"



"Sangat, Sayang. Semua orang tahu. Mereka sudah saling membenci



selama bertahun-tahun " nyaris selama kehidupan rumah tangga mereka.



Kabarnya, dalam perjalanan pulang ke rumah dari gereja seusai



perkawinan mereka sudah bertengkar. Aku sering kali terheran-heran,



bagaimana keduanya bisa berbaring di pusaranya saling berdampingan



begitu damai."



Anne gemetar. Betapa mengerikan " duduk di meja saling berhadapan



" berbaring tidur di malam hari saling berdampingan " berangkat ke



gereja membaptiskan bayi-bayi mereka " dan saling membenci selama itu



pula! Tapi, awalnya mereka pasti punya rasa cinta satu sama lain.



Mungkinkah dia dan Gilbert juga bisa saling " ah, omong kosong!



Keluarga Pringle lama-lama bisa membuatnya gila.



"Si tampan John MacTabb juga dimakamkan di sini. Dia selalu dicurigai



sebagai penyebab Annetta Kennedy menenggelamkan diri. Keluarga



MacTabb memang tampan semuanya tapi kau jangan percaya apa pun



yang dikatakan mereka. Dulu ada sebuah batu nisan di sini untuk Paman



Samuel yang dikabarkan tenggelam di laut lima puluh tahun lalu. Tapi



ketika paman itu ditemukan masih hidup, keluarganya lalu membongkar



nisan itu. Si penjual nisan tak mau membelinya kembali, jadi Mrs. Samuel



menggunakan nisan itu untuk alas memanggang kue. Bayangkan, nisan



marmer untuk memanggang adonan! Batu nisan ini cukup baik kok,



katanya. Anak-anak keluarga MacTabb selalu membawa kue ke sekolah



dengan goresan huruf-huruf dan ukiran bekas tanda di nisan. Mereka



murah hati dan selalu membagi-bagikan kuenya, tapi aku sendiri tak akan



mau makan kue itu. Aku memang pemilih. Mr. Harley Pringle juga



dimakamkan DI SINI. Dulu dia pernah harus mendorong Peter MacTabb



dengan gerobak tangan menyusuri Main Street sambil mengenakan topi



wanita karena kalah taruhan saat pemilihan. Seluruh warga Summerside



keluar menyaksikan itu " kecuali tentu saja keluarga Pringle. MEREKA



nyaris mati karena malu. Milly Pringle juga dimakamkan DI SINI. Aku



dulu suka sekali pada Milly meskipun dia itu seorang Pringle. Dia begitu



cantik dan kakinya seringan kaki peri. Kadang aku berkhayal, Sayang, di



malam-malam seperti ini dia keluar dari kuburnya lalu menari seperti dulu.



Tapi orang Kristen kukira tak boleh berkhayal seperti itu. Ini makam Herb



Pringle. Dia itu salah satu keluarga Pringle yang periang. Dia selalu



membuatmu tertawa. Suatu ketika dia terbahak di gereja " ketika tiba-tiba



seekor tikus jatuh dari hiasan bunga di topi Meta Pringle saat dia berdoa



menundukkan kepala. Menurutku itu tidak lucu sama sekali. Aku juga tak



tahu ke mana perginya tikus itu. Kugulung rokku erat-erat membungkus



pergelangan kaki hingga misa usai, tapi tikus itu sudah merusak



konsentrasiku. Jadi, akhirnya aku pun tak bisa mendengarkan khotbah



pendeta dengan baik.



Herb saat itu duduk di belakangku dan tiba-tiba dia terbahak keras



sekali. Jemaat yang tak melihat tikus itu pasti mengira dia sudah gila.



Sepertinya tawa Herb TAK BISA dihentikan. Jika DIA masih hidup dia



pasti akan mendukungmu, tak peduli apakah ada Sarah atau tidak. YANG



INI, tentu saja adalah monumen Kapten Abraham Pringle."



Monumen itu mendominasi makam. Empat panggung batu landai



membentuk alas persegi empat tempat tegaknya pilar marmer besar yang



di atasnya terletak guci abu dengan ukiran malaikat kecil meniup terompet



di bawahnya.



"Jelek sekali!" kata Anne terus terang.



"Oh, menurutmu begitu?" Sepertinya Miss Valentine agak terkejut.



"Monumen itu dianggap sangat indah saat didirikan dulu. Malaikat itu



adalah lambang Jibril yang sedang meniup terompet. Kurasa monumen ini



membuat makam tambah elegan. Harganya saja sembilan ratus dolar.



Kapten Abraham memang orang hebat. Sungguh suatu kehilangan besar



karena dia telah meninggal. Jika saja kapten itu masih hidup tentu klan



Pringle tidak akan menganiaya dirimu seperti yang mereka lakukan saat



ini. Aku tidak heran kalau Sarah dan Ellen begitu bangga padanya



meskipun menurutku pemujaan mereka agak berlebihan."



Di pintu gerbang makam, Anne berhenti dan menoleh melihat ke



belakang. Keheningan yang khidmat dan tak biasa meraja di petang tak



berangin. Perlahan jari jemari cahaya sang bulan mulai menyibak pohon?pohon fir yang semakin gelap, lalu menjamah batu-batu nisan yang



tersebar hingga terbentuklah bayangan di antara bebatuan itu. Namun, tak



terasa aura kesedihan di makam tua itu. Sungguh, mereka-mereka yang



telah bersemayam di situ terasa seperti hidup setelah Anne mendengar



rangkaian kisah yang dituturkan Miss Valentine.



"Kudengar kau menulis," kata Miss Valentine khawatir, saat keduanya



menyusuri jalan pedesaan. "Kau tak akan menuliskan semua yang



kuceritakan tadi, kan?"



"Anda tak usah khawatir, aku tak akan menuliskannya," Anne berjanji.



"Apakah menurutmu salah " atau berbahaya " membicarakan



keburukan orang yang sudah meninggal?" bisik Miss Valentine sedikit



penasaran.



"Menurutku tak ada yang salah maupun yang berbahaya," jawab Anne.



"Hanya " sedikit tak adil " karena seperti menohok orang-orang yang



tak mampu membela diri. Tapi, Anda tidak mengatakan hal-hal yang



sangat mengerikan tentang mereka, Miss Courtaloe."



"Tadi kubilang kalau Nathan Pringle menganggap istrinya hendak



meracuni dirinya "



"Tapi Anda juga mengatakan bahwa ada kemungkinan itu hanya



khayalan Nathan Pringle "" Miss Valentine pun akhirnya melangkah



pergi dengan lega.



***

__ADS_1




__ADS_2