Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Episode 34


__ADS_3

Bab34



Mr. Grand berpamitan dan pergi. Anne berdiri sesaat di ambang pintu,



sambil bertanya-tanya ke mana kira-kira kedua anak asuhannya. Mendekat



dari jalan dan masuk gerbang, datang seorang wanita yang sangat marah,



menggandeng seorang anak perempuan yang tersedu-sedu dan terlihat



menyedihkan.



"Miss Shirley, di mana Mrs. Raymond?" tuntut Mrs. Trent.



"Mrs. Raymond sedang ""



"Pokoknya aku harus bertemu Mrs. Raymond. Biar dia lihat sendiri apa



yang dilakukan anak-anaknya pada Ivy yang malang. Lihat dia Miss



Shirley " lihat baik-baik!"



"Oh, Mrs. Trent ... aku minta maaf! Ini semua salahku. Mrs. Raymond



sedang pergi " dan aku berjanji untuk mengurus anak-anaknya " tapi



Mr. Grand datang ""



"Bukan, ini bukan salahmu Miss Shirley. Aku tidak menyalahkanMU.



Tak seorang pun tahan dengan anak-anak jahat seperti mereka. Semua



sudah tahu tentang mereka. Jika Mrs. Raymond tidak di rumah, tidak ada



gunanya aku ke sini. Aku akan membawa anakku yang malang pulang.



Tapi Mrs. Raymond AKAN mendengar tentang ini " kupastikan itu.



Dengarkan ITU, Miss Shirley. Apakah kedua anak itu sedang baku



hantam?"



"Itu" adalah suara jeritan, raungan dan pekikan yang terdengar dari



lantai atas. Anne buru-buru lari ke atas. Di lantai koridor, si kembar



sedang bergelut heboh, saling memukul, menjambak, dan menggigit. Anne



memisahkan keduanya dengan susah payah, mencengkeram bahu mereka,



dan menuntut penjelasan.



"Geraldine bilang aku harus jadi kekasih Ivy," teriak Gerald.



"Kau harus," balas Geraldine.



"Nggak mau!"



" Harus!"



"Anak-anak!" kata Anne. Nada tegasnya membuat si kembar diam.



Mereka menoleh dan melihat Miss Shirley yang belum pernah mereka



lihat sebelumnya. Untuk pertama kali dalam hidup mereka, si kembar



merasakan pengaruh kewibawaan dan ketegasan.



"Kau, Geraldine," kata Anne tenang dan tegas, "tidurlah selama dua jam.



Kau Gerald, akan menghabiskan dua jam di lemari mantel di koridor.



Tidak ada protes. Kalian sudah berperilaku nakal dan harus dihukum.



Ibumu memberikan kuasa padaku dan kalian harus menurutiku."



"Kalau begitu hukum kami BERSAMA," kata Geraldine mulai



menangis.



"Ya " kau tidak boleh memisahkan kami " kami tidak pernah



berpisah," gumam Gerald.



"Kalian akan dipisahkan sekarang," kata Anne dengan tenang. Dengan



patuh, Geraldine melepaskan pakaian dan naik ke salah satu ranjang di



kamar anak-anak. Dengan patuh pula Gerald masuk ke lemari mantel di



koridor. Sebuah lemari besar mirip kamar dengan jendela dan kursi, jadi



hukuman kurungan si kembar itu bukanlah hukuman yang terlalu kejam.



Anne mengunci pintu dan duduk dekat jendela sambil membaca buku.



Setidaknya, selama dua jam dia bisa tenang.



Beberapa saat kemudian, saat Anne mengintip ke kamar, dia melihat

__ADS_1



Geraldine tertidur. Anak itu terlihat sangat damai dalam tidurnya sehingga



Anne hampir-hampir menyesali ketegasannya. Yah, tidur siang akan baik



bagi anak itu. Ketika terbangun nanti, Anne akan mengizinkannya keluar,



meski belum dua jam. Sejam kemudian, Geraldine masih juga pulas.



Sedangkan Gerald sangat diam di lemari, sehingga Anne memutuskan



bahwa Gerald berani menghadapi hukumannya seperti laki-laki dan bisa



dimaafkan. Lagi pula, Ivy Trent adalah monyet kecil yang sombong dan



mungkin sangat mengesalkan bagi si kembar.



Anne memutar kunci lemari dan membuka pintunya. Tetapi, Gerald



tidak ada di lemari. Jendelanya terbuka, dan atap beranda samping tepat di



bawahnya. Bibir Anne mengencang. Dia buru-buru turun ke bawah dan



pergi ke halaman. Tapi tetap tak ada Gerald. Dia menjelajahi gudang kayu



dan pergi ke jalan. Kosong.



Dia berlari menuju kebun dan melewati gerbang menuju ke jalan setapak



menuju ke rimbunan semak dan danau kecil di ladang milik Robert



Creedmore. Di sana, Gerald sedang asyik naik rakit kecil yang disimpan



Mr. Creedmore di kolam itu. Tepat saat Anne keluar dari rimbunan pohon,



tiang dayung yang ditusukkan Gerald ke dasar kolam terjebak di lumpur.



Dengan sekuat tenaga, anak itu menarik tongkatnya, sehingga dia



terjungkal ke air.



Anne terpekik kaget, meski sebenarnya tak ada yang perlu dicemaskan.



Kolam itu tak terlalu dalam, yang paling dalam hanya sampai bahu Gerald



dan kedalaman di tempat jatuhnya Gerald tingginya hanya sepinggang



anak itu. Gerald berhasil berdiri dan terlihat konyol di tengah-tengah



kolam, dengan rambut ikal keemasannya menempel dan meneteskan air di




Anne, dan Geraldine, memakai baju tidur, lari melewati rimbunan



pepohonan ke dermaga kecil tempat biasanya rakit yang dipakai Gerald



tadi diikat. Dengan teriakan putus asa, "Gerald!" dia melompat dan



tercebur dengan keras di samping Gerald dan hampir menenggelamkan



lagi kembarannya itu.



"Gerald, apa kau tenggelam?" jerit Geraldine. "Kau tenggelam,



Sayang?"



"Tidak " tidak " Sayang," kata Gerald menenangkan dengan gigi



gemelutukan.



Kedua anak itu berpelukan dan berciuman penuh rasa lega.



"Anak-anak ke sini sekarang juga," kata Anne.



Keduanya minggir. Hari di bulan September, yang hangat di pagi hari,



telah berubah dingin dan berangin di sore hari. Si kembar menggigil hebat



" wajah mereka berubah menjadi biru. Anne, tanpa berkata-kata,



membawa mereka cepat-cepat pulang, melepas pakaian mereka yang



basah dan membaringkan mereka di tempat tidur Mrs. Raymond, dengan



botol air panas berada di antara kaki mereka. Mereka masih menggigil.



Apa mereka masuk angin? Apakah mereka terkena pneumonia?



"Kau harusnya mengurus kami dengan lebih baik lagi, Miss Shirley,"



kata Gerald masih gemetaran.



"Tentu saja," kata Geraldine.



Anne yang kebingungan turun ke bawah dan menelepon dokter. Saat



dokter datang, si kembar sudah hangat kembali dan dokter meyakinkan



Anne bahwa keduanya tidak dalam bahaya. Kalau mereka tetap di tempat

__ADS_1



tidur sampai besok, mereka akan baik-baik saja. Dalam perjalanan



kembali, dokter bertemu dengan Mrs. Raymond yang datang dari stasiun.



Tak heran Mrs. Raymond masuk rumah dengan buru-buru, pucat pasi dan



nyaris histeris.



"Oh, Miss Shirley, bagaimana bisa kau membiarkan harta karunku



terancam bahaya!"



"Kami juga mengatakan itu, Ibu," kata si kembar bersamaan.



"Aku percaya padamu " sudah kukatakan ""



"Anda tak bisa menyalahkanku begitu saja Mrs. Raymond," kata Anne,



dengan mata sedingin kabut. "Kau akan menyadarinya, kurasa, jika kau



lebih tenang nanti. Anak-anak sudah membaik, " aku hanya memanggil



dokter untuk berjaga-jaga. Jika Gerald dan Geraldine menuruti aku, hal ini



tidak akan terjadi."



"Kupikir seorang GURU bisa menguasai anak-anak," kata Mrs.



Raymond pahit.



"Menguasai anak-anak mungkin bisa, " tapi bukan setan kecil," kata



Anne dalam hati. "Karena kau sudah di rumah Mrs. Raymond, aku pamit



pulang. Kurasa aku tak bisa membantumu lagi dan ada beberapa tugas



sekolah yang harus aku kerjakan malam ini."



Tiba-tiba saja, secara bersamaan si kembar melompat dari tempat tidur



dan memeluk Anne erat.



"Semoga saja ada pemakaman setiap minggu," pekik Gerald. "Karena



aku kamu, Miss Shirley, dan kuharap kau mengurusku setiap kali Ibu



pergi."



"Aku juga," kata Geraldine.



"Aku suka kamu lebih dari Miss Prouty."



"Oh, jauh lebih suka," kata Geraldine



"Maukah kau menulis tentang kami di ceritamu?" pinta Gerald.



"Oh, lakukanlah," kata Geraldine



"Aku yakin kau BERMAKSUD baik," kata Mrs. Raymond dengan suara



bergetar.



"Terima kasih," jawab Anne dingin, mencoba melepaskan diri dari



rangkulan si kembar.



"Oh, janganlah kita bertengkar karena ini," Mrs. Raymond memohon,



matanya berkaca-kaca. "Aku TAK TAHAN bertengkar dengan siapa pun."



"Tentu saja tidak." Anne memperlihatkan sikapnya yang berwibawa dan



Anne bisa bersikap SANGAT berwibawa. "Kurasa kita sama sekali tak



perlu bertengkar. Gerald dan Geraldine sudah cukup bersenang-senang



hari ini, meski kurasa Ivy Trent yang malang tidak."



Anne pulang, merasa bertahun-tahun lebih tua. "Dulu aku pernah



mengira Davy itu nakal, ternyata kenakalannya belum ada apa-apanya



sama sekali," renungnya.



Dia menemukan Rebecca di taman yang diterangi lembayung senja



sedang memetik bunga pansy. "Rebecca Dew, dulu aku merasa pepatah,



"Anak-anak hanya untuk dilihat dan bukan untuk didengar" itu terlalu



kejam. Tapi aku mengerti maknanya sekarang."



"Sayangku yang malang. Akan aku buatkan makan malam yang enak,"



kata Rebecca Dew yang baik. Dan dia TAK berkata, "Apa kubilang."



***


__ADS_1



__ADS_2