
Bab22
Anne tidak menyadari Elizabeth kecil mengamatinya dari balik jendela
Evergreens saat dia pergi dari Windy Poplars " Elizabeth berlinang air
mata merasakan kebahagiaan telah menghilang dari hidupnya dan
merasakan dirinya saat ini menjadi Lizzie paling sendu dari semua Lizzie
yang pemuram. Tetapi, ketika kereta kuda yang ditumpangi Anne
menghilang di tikungan Spook's Lane, Elizabeth berlutut di samping
tempat tidurnya.
"Ya, Tuhan," bisiknya, "Kutahu tak ada gunanya minta KEPADAMU
kebahagiaan Natal buatku karena Nenek dan Wanita itu juga tak bisa
bahagia, tapi kumohon bahagiakan Miss Shirley dan kembalikan dia
padaku dengan selamat setelah semuanya berakhir. Baiklah," kata
Elizabeth, bangkit, "telah kulakukan apa yang kubisa."
Anne saat itu sudah mulai mencicipi kebahagiaan Natal. Dia seperti
bersinar saat kereta api beranjak dari stasiun. Jalanan di luar berpacu adu
cepat dengan kereta yang ditumpanginya " dia akan pulang " pulang ke
Green Gables. Di luar, dunia terlihat penuh warna putih keemasan dan
ungu pucat, di sana-sini diselingi misteri keajaiban pohon spruce dan
keindahan pohon birch yang meranggas. Katherine duduk diam tapi tak
cemberut.
"Jangan mengharapkan aku mau bicara," gadis itu memperingatkan
Anne saat mereka hendak berangkat.
"Tidak. Semoga kau tak berpikir aku ini seperti orang menakutkan yang
mengharuskanmu berbicara sepanjang waktu denganku. Kita akan bicara
kalau kita mau."
Davy menjemput mereka di Bright River membawa kereta kuda dengan
dua tempat duduk penuh mantel bulu " dan sebuah pelukan erat untuk
Anne. Dua gadis itu duduk nyaman di kursi belakang. Perjalanan dari
stasiun kereta api ke Green Gables selalu menjadi bagian paling
menyenangkan saat Anne pulang ke rumah. Dia masih ingat perjalanan
pertamanya dari Bright River dengan Matthew. Saat itu musim semi dan
sekarang di bulan Desember. Semua benda yang mereka lewati dalam
perjalanan itu seakan berkata padanya, "Apakah kamu ingat?" Salju
mengeras terinjak kaki kuda; dentingan es terdengar seperti lonceng?lonceng kecil merambah pepohonan fir yang menjulang, tertutupi salju.
Jalan Putih Kebahagiaan diterangi sedikit bintang yang berpendar di balik
pepohonan. Di atas bukit itu mereka melihat teluk yang kelihatan putih di
bawah siraman sinar bulan meski belum membeku.
"Ada sebuah tempat di jalan ini yang selalu mengingatkanku " "aku
PULANG", kata Anne. "Tempat itu ada di puncak bukit berikutnya. Di
sana kita bisa melihat lampu-lampu Green Gables. Yang selalu terlintas di
benakku adalah makan malam buatan Marilla yang menunggu kita. Aku
bisa mencium baunya. Oh, betapa " betapa " betapa senangnya bisa
pulang lagi!"
Sesampainya di Green Gables, setiap pohon di halaman terlihat seperti
menyambutnya " tiap cahaya di jendela melambai padanya. Dan sungguh
harum aroma dari dapur Marilla begitu mereka membuka pintu. Kemudian
berhamburan pelukan dan teriakan dan tawa. Bahkan Katherine merasa
seperti bukan orang lain. Dia merasa menjadi salah satu dari mereka. Mrs.
Rachel Lynde telah menyiapkan lampu di atas meja makan dan
menyalakannya. Lampu itu berwarna merah misterius, membuat ruangan
bermandikan cahaya merah temaram! Begitu hangat dan bersahabat
suasana yang diciptakannya! Betapa cantiknya Dora yang tumbuh besar!
Dan Davy benar-benar hampir menjadi pria dewasa.
Ada banyak kabar yang bisa disampaikan. Diana punya anak perempuan
" Josie Pye sekarang sudah dewasa " dan Charlie Sloane kabarnya
sudah bertunangan. Semua kabar terdengar begitu penting. Selimut perca
baru buatan Mrs. Lynde yang sudah selesai, terdiri dari lima ratus potong
kain, dipertunjukkan dan semua orang memberikan pujian.
"Begitu kau pulang, Anne," kata Davy. "semuanya menjadi hidup."
"Ah, memang beginilah harusnya hidup," tambah Dora gembira.
"Tak bisa kutahan keinginan menikmati cahaya bulan," kata Anne
setelah makan. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan memakai sepatu salju,
Miss Brooke? Kabarnya kau sering melakukannya."
"Ya " itu satu-satunya yang BISA kulakukan " tapi sudah enam tahun
lalu," kata Katherine sambil mengangkat bahu.
Anne mencari sepatu saljunya di loteng dan Davy berlari ke Orchard
Slope meminjam sepatu salju tua milik Diana untuk Katherine. Mereka
berjalan melintasi Kanopi Kekasih yang tertutupi bayangan pepohonan,
melintasi pepohonan fir yang menghiasi pagar, dan menembus hutan yang
penuh misteri yang hendak membisikkan rahasianya padamu " dan
melewati tanah kosong yang seperti kolam warna perak. Mereka tak mau
bicara, seakan takut merusak keindahan alam yang hening di sekitar
mereka. Anne tak pernah merasa begitu DEKAT dengan Katherine
Brooke. Malam bersalju telah mengeluarkan sihirnya yang membuat
mereka dekat " HAMPIR dekat, meski belum terlalu. Mereka kemudian
muncul di jalan utama, sebuah kereta salju dengan bel bergemerincing
lewat dan terdengar tawa riang. Kedua gadis itu mengembuskan napas
panjang karena lega. Mereka merasa kembali ke dunia nyata dari
petualangan ke dunia lain " sebuah dunia tanpa waktu " yang tetap
muda dengan keabadiannya " di mana jiwa-jiwa saling berkomunikasi
tanpa kata.
"Perjalanan tadi sungguh indah," Katherine berkata pada dirinya sendiri
sehingga Anne tak menanggapinya.
Mereka menyusuri jalan kembali ke Green Gables. Tepat sebelum
__ADS_1
sampai di gerbang, mereka berdua berhenti, bersandar di pagar tua
berlumut, menatap rumah tua itu yang terlihat berkerlap-kerlip di antara
pepohonan. Betapa indahnya Green Gables di malam musim dingin! Di
bawahnya ada Danau Riak Air Berkilau yang membeku dengan bayangan
pepohonan di pinggirnya. Kesunyian meraja, hanya dipecahkan oleh detak
kaki kuda yang menapaki jembatan. Anne tersenyum teringat betapa
seringnya dia mendengar suara detak kaki kuda sewaktu berbaring di
kamar loteng Green Gables dan membayangkan itu adalah suara kaki
kuda-kuda peri yang berlari menembus malam. Tiba-tiba terdengar suara
lain memecah kesunyian.
"Katherine ... kau ... kenapa, kau menangis!"
Entah bagaimana, kelihatannya mustahil membayangkan Katherine bisa
menangis. Tapi nyatanya begitu. Dan air mata membuatnya terlihat
sebagai manusia biasa. Anne tak lagi takut padanya.
"Katherine " Katherine sayang " apa yang terjadi? Ada yang bisa
kulakukan?"
"Oh " kau tak akan bisa mengerti!" Katherine tergagap. "Semuanya
mudah bagiMU. Kau " kau sepertinya hidup dalam lingkaran sihir
keindahan dan romantika. "Apa lagi ya penemuan menyenangkan yang
akan ketemui hari ini" " mungkin seperti itulah gaya hidupmu Anne.
Sedangkan aku, aku lupa bagaimana cara hidup " memang, aku tak
pernah tahu bagaimana caranya. Aku " aku ini seperti makhluk yang
terperangkap. Tak pernah bisa keluar " dan selalu ada orang yang iseng
menusuk-nusukkan tongkat di kurunganku. Sedangkan kau " kau punya
banyak kebahagiaan yang kau sendiri tak menyadarinya " teman di mana?mana, dan kekasih! Bukannya aku ingin punya kekasih " Aku benci laki?laki " tapi jika aku mati malam ini, tak seorang pun yang akan
merindukanku. Apa kau bisa bayangkan bagaimana rasanya sendirian di
dunia ini tanpa teman?" suara Katherine pecah oleh tangisan.
"Katherine, kau bilang kau suka kejujuran. Baiklah, aku akan jujur
padamu. Bila kau tak punya teman seperti yang kau bilang, itu salahmu
sendiri. Aku mau berteman denganmu. Tapi kau ini selalu menjengkelkan
dan menyakiti hati."
"Ya, aku tahu . . . aku tahu itu. Betapa bencinya diriku padamu saat kau
datang pertama kali! Memamerkan cincin mutiaramu ...."
"Katherine, aku tidak memamerkannya!"
"Oh, kurasa memang tidak. Itu hanya kebencian dari dalam diriku saja.
Tapi sepertinya cincinmu itu mengundang mata ... bukannya aku iri karena
kau punya tunangan " aku tak ingin menikah " cukup sudah aku
melihatnya lewat ibu dan ayahku " tapi kubenci dirimu karena kau lebih
muda " aku sangat lega sewaktu keluarga Pringle menyusahkanmu. Kau
seperti punya segala yang tidak kupunyai ... daya tarik ... persahabatan "
kemudaan. Kemudaan! Aku tak pernah mempunyainya. Kau sama sekali
tak pernah membayangkan rasanya dikucilkan " dikucilkan semua
orang!"
Lalu, dia menggambarkan masa kecilnya sebelum datang ke Green
Gables.
"Semestinya kutahu itu dari dulu," kata Katherine. "Tentu akan jadi
berbeda jika kutahu. Di mataku kau adalah gadis penuh keberuntungan.
Kuhabiskan waktuku hanya iri padamu. Kau rampas posisi yang
kuinginkan . . . oh, aku tahu kau lebih pantas dariku, tapi itulah yang
terjadi. Kau cantik . . . setidaknya kau bisa membuat orang lain percaya
kau cantik. Ingatan pertamaku saat aku kecil adalah orang berkata, "Jelek
sekali anak ini!" Kau selalu masuk ruangan dengan gembira . . . oh, aku
ingat bagaimana kau datang ke sekolah di pagi pertama itu. Tapi bila
kupikirkan lagi, alasan yang sebenarnya aku benci dirimu adalah kau
selalu terlihat mempunyai kegembiraan tersembunyi . . . seakan-akan
seluruh hidupmu adalah sebuah petualangan. Meski aku benci padamu,
ada saat-saat aku mengakui bahwa kau mungkin datang dari bintang salah
satu bintang berkelip yang jauh di sana."
"Sungguh Katherine, dadaku sesak mendengar semua pujian itu. Tapi
kau sekarang tak lagi membenciku, kan? Kita bisa berteman."
"Aku tak tahu " Aku tak pernah punya seorang teman, apalagi teman
seusia denganku. Aku tak punya tempat di mana pun " aku bukan milik
siapa-siapa. Kupikir aku tak tahu cara berteman. Aku tak lagi
membencimu " aku tak tahu bagaimana perasaanku padamu " oh,
kukira pesonamu sudah mulai memengaruhiku. Aku tak akan cerita seperti
ini kalau kau tak menceritakan kehidupanmu sebelum datang ke Green
Gables. Aku hanya ingin kau mengerti kehidupan seperti apa yang telah
membuatku seperti ini. Aku tak tahu mengapa aku ingin kau mengerti . . .
tapi aku ingin kau mengerti."
"Katakan padaku, Katherine sayang. Aku benar-benar ingin
memahamimu."
"Kau MEMANG tahu bagaimana rasanya tidak diinginkan, kuakui itu . .
. tapi kau tak tahu bagaimana rasanya saat orangtuamu sendiri tak
menginginkanmu. Orangtuaku tak menginginkanku. Mereka membenciku
semenjak aku dilahirkan . . . sebelumnya ... mereka membenci satu sama
lain. Mereka selalu bertengkar. Masa kecilku bagai sebuah mimpi buruk.
Mereka meninggal sewaktu usiaku tujuh tahun dan kemudian aku tinggal
di keluarga Paman Henry. MEREKA juga tidak menginginkanku. Mereka
memandang rendah diriku karena aku hidup dari "kemurahan hati mereka".
Aku ingat semua penghinaan yang kuterima " satu per satu. Aku ingat
setiap katanya. Aku harus memakai pakaian bekas milik sepupuku. Aku
ingat memakai sebuah topi . . . yang membuatku terlihat seperti jamur.
Dan mereka mengejekku setiap kali topi itu kupakai. Suatu hari kurobek
topi itu dan kubakar. Dan aku harus mengenakan kupluk wol jelek ke
__ADS_1
gereja sepanjang musim dingin. Aku tak pernah punya seekor anjing "
padahal aku sangat menginginkannya. Aku cukup pintar " tentu aku ingin
jadi B.A. ... tapi itu sama saja dengan pungguk merindukan bulan.
"Tapi Paman Henry akhirnya setuju memasukkanku ke Queen bila nanti
aku mau mengganti semua biayanya. Dia menyewakan kamar pondokan
jelek di daerah kumuh, di atas dapur yang membeku di musim dingin dan
panas mendidih di musim panas. Belum lagi aroma makanan basi yang
selalu menggantung. Aku juga harus mengenakan baju-baju seadanya
sewaktu di Queens! Tapi akhirnya aku mendapatkan sertifikat guru dan
aku diangkat jadi Wakil Kepala Sekolah Menengah Summerside ... satu?satunya keberuntungan yang pernah kudapatkan. Semenjak saat itu
matian-matian kubayar semua utang-utangku pada Paman Henry. Aku tak
mau berutang sesen pun pada orang itu. Itulah mengapa kuhabiskan tahun?tahunku mondok di Mrs. Dennis dan memakai pakaian lusuh. Baru saja
kulunasi utangku padanya. Untuk pertama kali dalam hidupku aku merasa
BEBAS. Tapi aku telanjur melangkah di jalur yang salah. Aku tahu aku
anti-sosial . . . tak bisa bergaul dan berbincang dengan baik. Aku tahu,
salahku sendiri bila dikucilkan dan tidak bisa bersosialisasi. Aku
menyadari diriku sudah terkenal jadi orang yang judes. Aku tahu aku ini
sarkastis, dianggap diktator oleh murid-muridku. Aku tahu mereka
membenciku. Apa kau pikir itu tak menyakitiku? Mereka takut padaku . . .
aku benci orang-orang yang memandangku dengan mata ketakutan. Oh,
Anne . . . kebencian sudah menjadi penyakit. Aku ingin seperti orang lain .
. . tapi sudah terlambat sekarang. ITULAH yang membuatku sangat getir."
"Oh, tentu saja kau bisa dan belum terlambat!" Anne memeluk
Katherine. "Usir kebencian dari pikiranmu ... sembuhkan dirimu.
Kehidupanmu yang sejati baru saja akan dimulai ... karena akhirnya kau
bebas dan merdeka. Dan kau tak akan tahu apa yang menunggumu di
tikungan berikutnya."
"Aku pernah mendengar kau mengatakan itu sebelumnya ... dan aku
menertawakannya. Tapi masalahnya tak ada tikungan dalam hidupku. Aku
bisa melihat jalan hidupku lurus datar hingga ke cakrawala ... monoton.
Apakah hidup pernah membuatmu KETAKUTAN, Anne, dengan
KEKOSONGANNYA " penuh orang yang dingin dan tak menarik?
Tentu saja tidak, hidupmu tak begitu. KAU tak perlu mengajar selama
hidupmu. Dan kau sepertinya menganggap SETIAP orang itu menarik.
Bahkan juga makhluk bulat yang kau panggil Rebecca Dew. Sebenarnya
aku benci mengajar ... tapi tak ada yang bisa kulakukan. Seorang guru
adalah budak waktu. Aku tahu kau menyukainya. Anne, aku ingin
melakukan perjalanan. Itu satu-satunya keinginanku. Aku ingat lukisan
yang tergantung di dinding loteng Paman Henry ... lukisan tua pudar yang
sudah terbuang. Gambar pohon palem mengelilingi sumber air di padang
pasir, dengan sebaris unta di kejauhan. Lukisan itu benar-benar
memesonaku. Aku selalu pergi mencari tempat itu ... aku ingin melihat
Southern Cross dan Taj Mahal serta pilar-pilar Karnak. Aku ingin TAHU
" bukan hanya PERCAYA " bahwa bumi itu bulat. Tentu saja gaji
guruku tak bisa membiayainya. Aku terpaksa harus mengoceh selamanya
tentang istri-istri Raja Henry VIII dan sumber daya alam Kanada yang tak
habis-habis di depan kelas."
Anne tertawa. Sekarang sudah aman tertawa ... kegetiran sudah
menghilang dari suara Katherine. Dia hanya terdengar muram dan tak
sabar.
"Tetapi kita akan jadi teman ... dan kita akan punya sepuluh hari yang
menyenangkan di sini untuk memulai pertemanan. Dari dulu aku ingin
berteman denganmu, Katherine ... yang dieja dengan K! Aku selalu merasa
di balik semua sifat judesmu ada sesuatu yang berharga sebagai seorang
teman."
"Jadi itu penilaianmu tentang diriku? Aku sendiri juga sering kali
bertanya-tanya. Baiklah, seekor macan tutul pun harus mengubah kulitnya
apabila memang diperlukan. Hampir-hampir aku tak memercayai Green
Gablesmu ini. Ini adalah tempat pertama yang kurasakan seperti RUMAH.
Aku ingin seperti orang-orang lain ... kalau ini belum terlambat. Aku
bahkan akan melatih senyumku untuk Gilbert-mu besok malam. Tentu saja
aku sudah lupa bagaimana cara bicara dengan seorang pria ... dan dari dulu
pun aku memang tak tahu caranya. Dia pasti akan berpikir aku ini perawan
tua kolot. Aku ingin tahu, saat aku pergi tidur malam ini, apakah aku akan
marah pada diriku sendiri karena telah membuka topengku dan
membiarkanmu melihat jiwaku yang rapuh."
"Tidak, kau tak akan begitu. Kau justru akan berpikir, "Aku senang
Anne telah menemukan bahwa sebenarnya aku ini juga manusia biasa."
Kita akan meringkuk bersama di bawah selimut hangat, mungkin dengan
dua botol air panas, karena mungkin Marilla atau Mrs. Lynde sama-sama
sudah menyiapkannya untuk kita, mengira yang satu lupa. Dan kau akan
mengantuk setelah penjelajahan di bawah sinar bulan ini ... dan tiba-tiba
saja kau akan terbangun di pagi hari dan merasa seakan-akan kau adalah
orang pertama yang menemukan langit itu biru. Dan kau akan belajar
tentang kisah puding plum karena kau akan membantuku membuatnya
Kamis besok ... sebuah puding besar penuh plum."
Anne terkagum-kagum melihat wajah bahagia Katherine sewaktu
mereka pulang. Wajahnya seperti bercahaya setelah berjalan-jalan di udara
segar dan membuat ekspresinya sungguh berbeda.
"Hmm, Katherine akan tampak cantik bila dia memakai topi dan gaun
yang tepat," pikir Anne, mencoba membayangkan Katherine mengenakan
gaun beludru merah tua yang pernah dilihatnya di sebuah toko di
Summerside. "Aku harus membantunya mengubah penampilannya."
***
__ADS_1