
Bab41
Ruang makan rumah Tomgallon semegah ruangan lain di rumah itu.
Ada sebuah lampu gantung indah, dan cermin hias di atas perapian. Meja
makannya dihias dengan peralatan makan dari perak, kristal, dan porselen
Crown Derby kuno. Makan malam, yang disajikan oleh pelayan wanita tua
yang agak muram, sangat banyak dan lezat. Selera makan Anne yang
muda dan sehat benar-benar terpuaskan. Miss Minerva terdiam beberapa
lama dan Anne tak berani mengatakan apa pun, karena takut memancing
lagi cerita tentang tragedi bertubi-tubi yang melanda keluarga tersebut.
Seekor, kucing hitam besar masuk dan duduk mengeong di bawah kaki
Miss Minerva. Miss Minerva menuangkan susu krim di cawan dan
menurunkannya di depan sang kucing. Dia jadi terlihat lebih manusiawi,
sehingga Anne tak terlalu terpana lagi pada keturunan terakhir keluarga
Tomgallon.
"Tambah lagi persiknya, Sayang. Kau belum makan apa pun ... sama
sekali."
"Oh, Miss Tomgallon, saya sudah menikmati ..."
"Keluarga Tomgallon selalu menyajikan makanan yang lengkap," kata
Miss Minerva puas. "Bibiku Sophia bisa membuat kue spons paling enak
yang pernah aku rasakan. Kurasa satu-satunya tamu yang tak disukai
ayahku adalah adiknya, Mary, karena selera makannya rendah sekali. Dia
hanya mencicipi dan mengutak-atik makanannya. Ayahku merasa terhina.
Dan Ayah orang yang keras. Dia tak pernah memaafkan kakakku Richard
karena menikah tanpa restunya. Beliau mengusirnya dari rumah dan tidak
membolehkannya kembali lagi. Ayah selalu membacakan doa Bapa Kami
di ibadah keluarga tiap pagi, tetapi semenjak Richard melawannya, Ayah
selalu melewatkan kalimat "Maafkan dosa-dosa kami layaknya kami
memaafkan orang-orang yang mendosai kami." Aku masih bisa
membayangkannya," kata Miss Minerva melamun, "Ayah berlutut di sana
dan tak mengucapkan kalimat itu."
Setelah makan malam mereka menuju ke ruang duduk yang terkecil "
yang masih lumayan besar dan suram " dan melewatkan waktu di depan
perapian ... dengan nyala api yang nyaman dan menyenangkan. Anne
menyulam rajutan yang rumit dan Miss Minerva merajut pelapis sofa
sambil meneruskan monolog tentang sejarah keluarga Tomgallon yang
penuh warna dan mengerikan.
"Ini adalah rumah yang penuh kenangan tragis, Sayang."
"Miss Tomgallon, apakah TAK PERNAH ada kejadian menyenangkan
di rumah ini?" tanya Anne, buru-buru menyelipkan pertanyaan di sela jeda
kisah Miss Minerva yang terpaksa berhenti sebentar untuk mengusap
hidungnya.
"Oh, kurasa ya," kata Miss Minerva, sepertinya dia benci untuk
mengakuinya. "Ya, tentu saja, kami biasa bergembira di sini saat aku
masih kecil. Kata orang kau menulis buku tentang setiap orang di
Summerside, Sayang."
"Aku tidak ... itu tak benar ..."
"Oh!" Miss Minerva sangat kecewa, "baiklah, jika memang ya, kau
boleh-boleh saja menggunakan kisah keluarga kami, dengan nama
disamarkan tentunya. Nah, sekarang bagaimana kalau kita main
parchesi?"
"Sayang, sepertinya sudah waktunya aku pamit ""
"Oh, Sayang, kau tak bisa pulang malam ini. Hujannya deras sekali ...
dan anginnya kencang. Aku tak punya kereta sekarang ... karena aku
jarang butuh ... dan kau tak bisa berjalan seperempat kilometer dalam
kondisi basa seperti ini. Kau harus jadi tamuku malam ini."
Anne tidak yakin bahwa dia ingin menghabiskan waktu semalam di
rumah Tomgallon. Akan tetapi, dia juga tak mau berjalan ke Windy
__ADS_1
Poplars dalam badai bulan Maret. Maka, mereka pun lalu main parchesi ...
yang sangat diminati Miss Minerva sehingga dia lupa bicara tentang
kengerian sejarah keluarganya ... lalu waktunya "ngemil sebelum tidur".
Mereka makan roti panggang kayu manis dan meminum cokelat dengan
porselen Tomgallon yang indah.
Akhirnya, Miss Minerva mengantarkan Anne ke kamar tamu. Anne lega
kamar itu bukan kamar tempat kakak Miss Minerva pernah meninggal
karena stroke.
"Ini dulu kamar Bibi Annabella," kata Miss Minerva, menyalakan lilin
yang tertata di tempat lilin perak di meja rias indah bercat hijau dan
mematikan lampu gas. Matthew Tomgallon dulu meninggal karena terkena
ledakan gas ... "Dia adalah wanita Tomgallon yang tercantik Itu
lukisannya di atas cermin. Perhatikan mulutnya, kelihatan angkuh, ya? Dia
sendiri yang membuat selimut berpola aneh di ranjang itu. Kuharap kau
akan nyaman di sini, Sayang. Mary sudah membersihkan ranjangnya dan
meletakkan pemanas. Dan dia juga menyiapkan gaun tidur ini untukmu ..."
menunjuk pada sebuah gaun flanel besar yang menggantung di sandaran
kursi dan berbau kamper. "Kuharap ukurannya pas. Gaun ini tak pernah
dipakai lagi sejak Ibuku yang malang meninggal saat mengenakannya. Oh,
aku hampir lupa bilang ..." Miss Minerva berbalik di ambang pintu " "ini
adalah kamar Oscar Tomgallon kembali hidup setelah disangka mati
selama dua hari. Dan parahnya, mereka TIDAK MENGINGINKANNYA
HIDUP LAGI, kau tahu ITULAH tragedinya. Semoga tidurmu nyenyak,
Sayang."
Anne tidak yakin apakah dia bisa tidur. Tiba-tiba saja terasa suasana
aneh dan asing di kamar ini ... sesuatu yang agak jahat. Tapi bukankah
kamar yang sudah ditinggali selama beberapa generasi memang terasa
agak aneh? Kematian telah meninggalkan jejaknya, ... begitu juga cinta ...
kelahiran ... seluruh hasrat dan harapan. Kamar ini penuh dengan
kemurkaan.
dengan arwah kebencian dan patah hati, dipenuhi dengan kejahatan yang
tak pernah terungkap. Kejahatan yang masih mengintai dari setiap sudut
dan lubang tersembunyi. Terlalu banyak wanita di sini yang mencucurkan
air mata. Angin meraung memilukan di antara pepohonan spruce di luar
jendela. Dan untuk sesaat, Anne seperti ingin lari, tak peduli pada badai.
Tetapi kemudian, ia menguatkan hati dan mengusir lamunannya. Kalau
pun banyak hal tragis dan mengerikan terjadi di sini, bayangan kegelapan
masa lalu, hal-hal lucu dan menyenangkan pasti juga terjadi di sini. Gadis?gadis muda dan cerita pernah berdansa dan mengobrolkan rahasia-rahasia
mereka; bayi-bayi lucu lahir di rumah ini, pernikahan, musik dan tawa.
Bibi yang bisa membuat kue spons terenak pasti bibi yang menyenangkan,
dan Richard yang tak dimaafkan adalah seorang kekasih nan kesatria.
"Aku akan memikirkan hal-hal menyenangkan itu dan tidur. Pola
selimutnya aneh sekali! Aku penasaran apakah polanya terlihat seaneh ini
pagi besok. Dan ini adalah kamar tamu! Aku sudah lupa betapa waktu
kecil dulu aku sangat tergetar bila bisa tidur di kamar tamu seseorang."
Anne mengurai dan menyisir rambutnya di bawah lukisan Annabella
Tomgallon, yang menatapnya dengan wajah angkuh dan ekspresi
menghina dari seorang wanita cantik. Anne merasa sedikit ngeri saat
menatap ke cermin. Siapa tahu ada wajah lain yang menatap balik
padanya? Wajah-wajah wanita bernasib tragis yang pernah menatap
cermin ini. Dengan berani, Anne membuka pintu lemari, setengah
berharap ada tengkorak yang terlontar keluar dari dalamnya, dan
menggantung gaunnya. Dia lalu duduk dengan tenang di kursi bersandaran
tinggi yang berkesan sombong, dan melepas sepatu. Lalu mengenakan
gaun tidur flanel yang sudah disiapkan, meniup lilin dan naik ke ranjang,
yang hangat karena Mary sudah menyiapkan pemanas. Untuk beberapa
lama, deras hujan di jendela dan raungan angin di atap membuat Anne
__ADS_1
sulit tidur. Lalu tiba-tiba saja dia melupakan semua tragedi keluarga
Tomgallon dan terlelap tanpa mimpi, dan baru terbangun saat jendela
menampakkan pemandangan pohon-pohon cemara disinari kemerahan
cahaya fajar.
"Aku sangat senang dengan kunjunganmu, Sayang," kata Miss Minerva
ketika Anne pamitan setelah sarapan pagi. "Kita menghabiskan malam
yang menyenangkan, bukan? Meski aku sudah terlalu lama tinggal
sendirian, hingga hampir-hampir lupa caranya mengobrol. Dan aku sangat
senang bisa bertemu gadis muda menawan dan polos di zaman edan ini.
Aku tidak mengatakan padamu kalau kemarin adalah hari ulang tahunku,
dan menyenangkan sekali melihat ada semangat muda di dalam rumah.
Tak ada lagi orang yang ingat ulang tahunku sekarang ..." Miss Minerva
mendesah sendu .... "... padahal dulu banyak sekali."
"Kurasa, kau pasti banyak mendengar cerita-cerita mengerikan," ujar
Bibi Chatty malam itu.
"Apakah semua hal yang dikatakan Miss Minerva itu benar terjadi, Bibi
Chatty?"
"Yah, anehnya semua itu benar," kata Bibi Chatty. "Memang
mengherankan, Miss Shirley, tapi banyak hal mengerikan terjadi pada
keluarga Tomgallon."
"Aku belum pernah melihat kejadian tragis sebanyak itu dalam sebuah
keluarga besar lain selama enam generasi," kata Bibi Kate.
"Oh, benar sekali. Mereka sepertinya memang dikutuk. Banyak sekali di
antara keluarga mereka yang meninggal tiba-tiba atau dengan cara
mengerikan. Tentu saja, ada keturunan gila di keluarga itu ... semua orang
tahu. Itu adalah sebuah kutukan mengerikan ... tapi aku pernah dengar
cerita lama ... aku sudah tak terlalu ingat perinciannya ... kisah tentang
tukang kayu yang membangun rumah itu mengutuknya. Sebabnya adalah
pengingkaran kontrak ... Paul Tomgallon tua menuntut si tukang kayu
untuk memenuhi janjinya dan itu membuatnya bangkrut, karena rumah itu
biayanya jauh lebih besar dari hitungan awalnya."
"Miss Minerva sepertinya sangat bangga dengan kutukan itu," kata
Anne.
"Wanita malang, hanya itu saja yang dia punyai sekarang," ujar Rebecca
Dew.
Anne tersenyum memikirkan Miss Minerva elegan dan anggun disebut
sebagai wanita yang malang. Dia lalu pergi ke kamar menara dan menulis
ke Gilbert:
"Kupikir rumah Tomgallon adalah tempat tua membosankan. Rumah
biasa-biasa saja tanpa kejadian-kejadian menarik. Yah, mungkin saat ini
memang tak ada kejadian menarik, tapi yang jelas DULU banyak kejadian
menarik di sana. Elizabeth kecil selalu berbicara mengenai Hari Esok.
Tetapi rumah Tomgallon tua ada di Hari Kemarin. Aku senang tidak hidup
di Hari Kemarin " bahwa Hari Esok masih menjadi temanku.
"Tentu saja Miss Minerva suka menjadi pusat perhatian seperti semua
keturunan Tomgallon dan mendapatkan kepuasan tiada akhir dari kisah
tragedi keluarganya. Dia menganggap tragedi keluarganya adalah sesuatu
yang paling dekat dengannya, miliknya, seperti suami dan anak-anak bagi
wanita lain. Tapi, oh, Gilbert, tak peduli seberapa tua kita nanti, jangan
sampai kita memandang kehidupan sebagai tragedi dan malah berbangga
hati karenanya. Kurasa aku tak akan suka tinggal di rumah yang berusia
seratus dua puluh tahun. Aku berharap rumah impian kita nanti adalah
sebuah rumah yang baru, tak berhantu dan tanpa tradisi, atau setidaknya
rumah itu dulunya ditinggali oleh orang-orang yang bahagia. Aku tidak
akan pernah melupakan malamku di rumah Tomgallon. Dan baru sekali ini
aku bertemu orang yang lebih cerewet dariku."
***
__ADS_1