Anne of Windy Poplars

Anne of Windy Poplars
Episode 2


__ADS_3

Bab2



(Diambil dari bermacam-macam surat yang dikirim Anne Shirley kepada



Gilbert.)



"26 September



"Tahukah kamu ke mana aku pergi untuk membaca suratmu? Di hutan



kecil seberang jalan. Di sana ada lembah kecil yang pohon-pohon pakisnya



disirami sinar matahari. Anak sungai meliuk-liuk menembus lembah itu;



aku duduk di atas batang kayu berlumut, dan di sekitarnya deretan



tanaman birch muda yang membuat suasana hati bahagia. Setelah ini,



tatkala kuimpikan sesuatu yang ... mimpi yang penuh warna-warna



keemasan ... mimpi terindah dari segala impian ... aku akan



membayangkan bahwa mimpi-mimpi keemasan itu berasal dari lembah?lembah pohon birch rahasia serta terlahir dari perpaduan kekuatan mistik



antara pepohonan yang berbisik di sela angin dan sungai yang berdesir



merdu. Aku senang duduk di sana dan mendengarkan keheningan hutan



kecil itu. Pernahkah kamu perhatikan ada banyak keheningan yang



berbeda-beda, Gilbert? Keheningan hutan " pantai "padang rumput "



malam ", dan keheningan siang hari di musim panas. Keheningan?keheningan itu berbeda karena suara-suara lirih yang merajut mereka juga



berbeda. Bahkan, aku yakin jika aku buta dan tak bisa merasakan panas



maupun dingin, aku bisa dengan mudah mengatakan di mana



keberadaanku melalui kekuatan keheningan di sekitarku.



"Sekolah sudah "berjalan" selama dua minggu dan semuanya berjalan



baik. Tetapi, Mrs. Braddock benar " keluarga Pringle adalah masalah



terbesarku. Dan sampai sekarang aku belum tahu bagaimana cara



menghadapi mengatasi mereka meski aku punya daun semanggi berhelai



empat simbol keberuntungan. Seperti kata Mrs. Braddock, keluarga



Pringle itu sok manis tapi selicin belut.



"Keluarga Pringle adalah jenis klan yang saling mengawasi satu sama



lain dan sering bertikai di kalangan sendiri, tetapi begitu berurusan dengan



orang luar, mereka langsung bahu-membahu. Aku sudah menyimpulkan



bahwa hanya ada dua jenis orang di Summerside " keluarga Pringle dan



non-Pringle.



"Kelasku penuh anak-anak Pringle dan banyak anak yang namanya lain



juga berkerabat dengan Pringle. Ketua kelompoknya sepertinya Jen



Pringle, gadis bandel bermata hijau yang tampangnya mirip BECKY



SHARP2



saat berumur empat belas tahun. Aku yakin dia diam-diam



sengaja menghasut teman-temannya untuk membangkang dan



meremehkan sopan santun di kelas, sehingga aku pun akan kesulitan



menghadapinya. Dia memang berbakat melucu dengan ekspresi wajahnya



sehingga jika di kelas derai tawa meledak di belakangku, sudah bisa



kupastikan dialah penyebabnya, namun selama ini aku belum pernah



berhasil memergokinya. Mana dia pintar lagi ... anak sialan! ... bisa



mengarang menyerupai karya sastra dan juga luar biasa cerdas dalam



matematika " celakalah aku! Dia anak yang membawa KECERIAAN ke



sekitarnya dan sebenarnya dia punya selera humor yang mestinya bisa



membuat kami akrab andai saja dia tak membenciku. Karena itulah aku



khawatir butuh waktu lama sebelum Jen dan aku bisa tertawa BERSAMA.



"Sepupu Jen, Myra Pringle adalah gadis tercantik di sekolah ..., tapi



sayangnya tak pintar. Ia beberapa kali melakukan kesalahan yang



menggelikan ... misalnya hari ini saat mata pelajaran Sejarah dia



bilang orang-orang Indian mengira Champlain3



dan anak



buahnya itu dewa atau 'sesuatu yang nggak manusiawi'.



"Secara sosial, keluarga Pringle menurut Rebecca Dew adalah "kelas



eh-litnya" Summerside. Aku sudah diundang makan malam dua keluarga



Pringle " karena sudah menjadi tradisi untuk mengundang makan malam



guru baru dan keluarga Pringle tak akan melawan tradisi itu. Kemarin



malam aku makan malam di keluarga James Pringle ... ayah Jen. Ayahnya



kelihatan seperti seorang profesor tapi aslinya bodoh dan tak tahu apa-apa.



Dia bicara banyak soal "diSIplin" sambil mengetuk-ngetuk taplak meja



dengan kuku jari tak terawat serta bicaranya tak keruan tata bahasanya.



Sekolah Menengah Summerside membutuhkan orang yang tegas " guru



berpengalaman, lebih baik kalau dia laki-laki. Menurutnya aku SEDIKIT



terlalu muda untuk jadi guru " "tapi waktu akan segera memperbaiki



kekurangan itu", ucapnya sedih. Aku tak membalas kata-katanya, karena



takut tak bisa menahan emosi. Aku malah bersikap sangat sopan dan licin



seperti perilaku para Pringle. Menatapnya dengan manis, sementara dalam



hati berucap,"Dasar kau makhluk keras kepala dan penuh prasangka!"



"Kecerdasan Jen pasti turunan dari ibunya " orang yang malah



kusukai. Di depan ibunya, Jen adalah teladan kesopanan. Namun, meski



kata-katanya sopan, nada suaranya benar-benar menghina. Setiap kali dia



mengucap"Mrs. Shirley" dia mengatakannya seakan-akan itu adalah



sebuah hinaan. Dan setiap kali dia memandang rambutku aku merasa



warna rambutku berubah jadi merah wortel. Aku yakin, tak seorang



Pringle pun yang mau menyebut warna rambutku ini sebagai cokelat



kemerahan.



"Aku lebih suka keluarga Morton Pringle daripada keluarga James



Pringle " meskipun Morton Pringle tak pernah mendengarkan apa yang



kau katakan. Dia mengatakan sesuatu kepadamu dan saat kau menjawab,



dia sudah sibuk memikirkan komentar apa lagi yang akan dia katakan.



"Mrs. Stephen Pringle " Janda Pringle " Summerside memang penuh



dengan janda " kemarin menulis surat padaku " surat yang manis dan



sopan tapi berbisa. Millie terlalu banyak PR " Millie itu anak yang rapuh



jadi jangan sampai diberi PR kebanyakan. Mr. Bell dulu bahkan TAK



PERNAH memberinya pekerjaan rumah. Millie itu anak yang peka jadi



harus DIPAHAMI. Mr. Bell dulu sangat memahami kondisinya! Dan Mrs.



Stephen yakin aku pasti bisa memahami Millie kalau aku mau mencoba!



"Aku yakin, Mrs. Stephen pasti menganggap akulah yang menyebabkan



Adam Pringle mimisan pagi ini di kelas sehingga dia harus pulang ke



rumah. Dan kemarin malam aku terjaga dan tak bisa tidur lagi gara-gara



aku ingat tidak menuliskan titik di huruf "i" dalam pertanyaan yang kutulis



di papan tulis. Jen pasti memperhatikan kesalahanku itu dan gosipnya akan



langsung menyebar di klan Pringle.



"Rebecca Dew bilang padaku kalau semua keluarga Pringle akan



mengundangku makan malam, kecuali dua wanita tua yang tinggal di



Maplehurst, lalu mengabaikanku setelahnya. Dan karena mereka adalah



kelompoh "eh-lit" di Summerside, aku termasuk orang yang dikucilkan.



Baiklah, kita lihat saja. Perang sudah dimulai tapi kemenangan dan



kekalahan belum ditentukan. Tapi, tetap saja aku merasa tidak bahagia



dengan keadaan seperti ini. Apa pun yang kau lakukan kau tak bisa



menang dengan orang yang penuh prasangka. Sifatku tetap saja seperti



saat kecil dulu ... aku tak tahan bila ada orang yang tak menyukaiku.



Memang tidak menyenangkan memikirkan separuh keluarga murid



membenciku. Dan kebencian mereka bukan karena aku berbuat salah.



KETIDAKADILAN inilah yang benar-benar menyakitkan. Nah, aku pakai



huruf besar lagi! Tapi menulis dengan huruf besar membantu membuatku



sedikit lebih lega.



"Kecuali keluarga Pringle, aku sebenarnya sangat menyukai murid-



muridku. Mereka itu anak-anak pintar, ambisius, dan pekerja keras yang



benar-benar berminat mendapatkan pendidikan. Seperti Lewis Allen yang



membayar sewa kosnya dengan MEMBANTU di tempat kosnya dan sama



sekali tak merasa malu karenanya. Dan juga Sophy Sinclair yang tiap



harinya pulang pergi menunggang kuda betina ayahnya sejauh dua belas



kilometer. Nah, semua itu pasti butuh keberanian dan keteguhan hati! Jika



aku bisa membantu murid seperti dia, haruskah aku merasa terganggu



dengan keturunan Pringle?



"Tetapi masalahnya " jika aku tak mampu mengalahkan klan Pringle,



aku tak punya kesempatan membantu anak-anak lain.



"Aku menyukai Windy Poplars. Itu bukan sekadar tempat kos " tapi



benar-benar sebuah rumah! Dan mereka yang tinggal di situ menyukaiku



" bahkan Dusty Miller juga menyukaiku meskipun kadang dia ngambek



dan menunjukkannya dengan duduk membelakangiku, meski sesekali mata



keemasan melirik padaku untuk memastikan reaksiku. Memang, aku tak



sering mengelus-elus kucing itu saat Rebecca Dew ada karena



membuatnya jengkel. Siang hari, Dusty Miller jadi kucing rumahan yang



tenang dan pendiam " tapi pada malam hari dia berubah 180 derajat.



Rebecca Dew bilang itu karena dia tak pernah diizinkan keluar malam



hari. Rebecca Dew kesal harus pergi ke halaman belakang tiap malam dan



berteriak-teriak memanggil kucing itu. Katanya para tetangga pasti



menertawakannya. Suara Rebecca Dew sangat kencang sehingga terdengar



sampai seluruh kota apalagi di malam hari yang tenang, "Puss " PUSS "



PUSS!" Kedua janda Windy Poplars akan histeris jika Dusty Miller belum



masuk rumah saat mereka mau tidur.



"Tak seorang pun tahu apa yang harus kujalani gara-gara Kucing itu "



TAK SEORANG PUN," keluh Rebecca padaku.



"Kedua janda itu bersikap baik padaku. Setiap hari aku semakin



menyukai mereka. Bibi Kate tak suka baca novel, tapi dia bilang tak



berkomentar tentang buku-buku yang aku baca. Sedangkan Bibi Chatty



malah keranjingan novel. Dia punya "lubang persembunyian" untuk



menyimpan novel-novelnya " yang dia selundupkan diam-diam dari



perpustakaan kota ... dan juga setumpuk kartu untuk main solitaire dan



benda-benda lain yang dia tak ingin Bibi Kate melihatnya. Semuanya



disembunyikan di lubang di bawah sebuah kursi dan tak seorang pun yang



tahu tempatnya kecuali Bibi Chatty. Tapi dia berbagi rahasia itu denganku.



Aku menduga karena Bibi Chatty ingin aku membantu dan melindunginya



saat menyelundupkan novel-novel tadi. Sebenarnya kau tak perlu lubang



persembunyian di Windy Poplars karena sepanjang hidupku belum pernah



kulihat rumah dengan begitu banyak rak dan lemari misterius. Meski aku



yakin Rebecca tak akan membiarkan rak dan lemari-lemari ITU jadi



misterius. Dia selalu membersihkan semuanya dengan giat sekali.



"Rumah tak akan bisa bersih dengan sendirinya," katanya serius



manakala janda-janda itu memprotesnya. Aku yakin Rebecca Dew pasti



akan kaget setengah mati bila menemukan novel atau setumpuk kartu.



Kedua benda itu sangat menakutkan bagi Rebecca yang berjiwa kolot. Dia



bilang kartu itu dari setan dan novel malah lebih buruk lagi. Satu-satunya



yang dibaca Rebecca Dew selain Alkitab adalah kolom sosial di surat



kabar Montreal Guardian. Dia suka mengamati rumah-rumah mewah dan



perabotannya serta kehidupan orang-orang kaya.



"Bayangkan betapa enaknya berendam di bak mandi emas, Miss



Shirley," ucapnya penuh damba.



"Tetapi, dia benar-benar baik hati. Entah dari mana dia mengeluarkan



sebuah kursi tua berlengan berlapis brokat yang agak kusam namun sangat



pas dan nyaman untukku dan berkata, "Ini kursiMU. Kami sediakan



untukMU." Dan dia tak membiarkan Dusty Miller bergelung di atasnya



karena nanti baju mengajarku akan kena bulu-bulunya dan menjadi bahan



gosip bagi keluarga Pringle.



"Ketiga wanita Windy Poplars itu sangat tertarik orang itu sangat tertarik



pada cincin mutiaraku " dan maknanya. Bibi Kate memamerkan cincin



pertunangannya yang berhiaskan batu pirus (dia tak bisa lagi memakainya



karena sudah terlalu kecil buat jarinya). Sedangkan Bibi Chatty yang



malang dengan bercucuran air mata berkata bahwa dia tak pernah punya



cincin pertunangan " karena menurut suami itu "pemborosan". Dia



menceritakannya padaku, saat di kamarku sedang membersihkan wajahnya



dengan krim susu. Bibi Chatty melakukannya setiap malam untuk menjaga



kekencangan dan kehalusan kulit wajahnya, dan memintaku bersumpah



untuk merahasiakannya karena tak ingin Bibi Kate tahu.



"Kate bakal menganggap bahwa itu berlebihan dan tak masuk akal untuk



wanita seusiaku. Aku yakin Rebecca Dew juga akan berpendapat bahwa



wanita Kristen tak seharusnya bersusah payah untuk menjadi cantik. Aku



dulu biasa menyelinap ke dapur untuk merawat muka begitu Kate pergi



tidur, tapi aku selalu khawatir kalau tiba-tiba Rebecca Dew muncul



memergokiku. Dia punya telinga peka seperti telinga kucing bahkan saat



tidur. Andai saja tiap malam aku bisa menyelinap ke sini dan



membersihkan wajahku ... oh, terima kasih, Sayangku."



"Aku mulai tahu sedikit tentang tetangga kami yang tinggal di



Evergreen. Mrs. Campbell (keturunan Pringle!) berusia delapan puluh



tahun. Aku belum pernah bertemu dia tapi menurut informasi dia itu



wanita tua yang pencemberut. Dia punya pembantu bernama Martha



Monkman yang sama-sama suka cemberut dan kolot seperti majikannya,



dan sering hanya disebut sebagai "Pelayan Wanita Mrs. Campbell". Dan



Mrs. Campbell punya seorang cucu buyut, si kecil Elizabeth Grayson,



yang tinggal bersamanya. Elizabeth ... yang belum pernah kulihat



wajahnya meskipun aku sudah tinggal selama dua minggu di tempat ini "



berusia delapan tahun dan pergi sekolah lewat "pintu belakang" " jalan



pintas lewat halaman belakang " jadi aku pun tak pernah bertemu



dengannya. Ibunya yang sudah meninggal adalah cucu Mrs. Campbell dan



juga dibesarkan oleh sang nenek ... karena orangtuanya telah meninggal.


__ADS_1


Ibunya Elizabeth dengan Pierce Grayson, seorang "Yankee Amerika" kalau



kata Mrs. Lynde. Dia meninggal saat melahirkan Elizabeth dan karena



suaminya harus segera meninggalkan Amerika untuk ditugaskan di cabang



perusahaannya di Paris, bayinya dipasrahkan kepada Mrs. Campbell.



Tetapi gosip yang beredar mengatakan Pierce Grayson "tak senang sama



bayi itu" karena anak itu telah merenggut nyawa ibunya. Tentu saja ini



kabar angin belaka karena baik Mrs. Campbell maupun Pelayan Wanita itu



tak pernah buka mulut soal Pierce Grayson.



"Rebecca Dew bilang mereka terlalu keras pada Elizabeth sehingga anak



itu tak bisa menikmati masa kecilnya. "Dia tidak seperti anak-anak lain "



terlalu tua untuk usianya yang delapan tahun. Hal-hal yang diucapkannya



kadang-kadang mengejutkan! "Rebecca," ucapnya padaku suatu hari, "apa



yang kau lakukan, saat kau siap-siap tidur tetapi tiba-tiba kau merasakan



pergelangan kakimu KEJEPIT?" Tak mengherankan kalau dia takut pergi



tidur dalam gelap. Tapi mereka memaksanya pergi tidur dengan lampu



dimatikan. Mrs. Campbell bilang tidak boleh ada pengecut di rumahNYA.



Mereka mengawasi Elizabeth layaknya dua ekor kucing mengincar tikus



dan memerintah anak itu ke sana kemari. Jika anak itu bersuara ribut



sedikit saja, mereka nyaris histeris. Setiap kali terdengar mereka berkata



"Hus, hus, hus" menyuruh anak itu supaya diam. Aku yakin, anak itu akan



terus disuruh diam dan dilarang-larang sampai mati. Terus apa yang bisa



kita lakukan kalau begitu? "



"Ya, apa yang bisa kita lakukan?"



"Aku ingin bertemu dengan Elizabeth Grayson. Bagiku kehidupannya



agak menyedihkan. Bibi Kate bilang anak itu secara fisik cukup terawat "



tepatnya Bibi Kate mengatakan, "Mereka memberi makan dan pakaian



padanya dengan cukup baik" ... tapi seorang anak tidak akan bisa hidup



dengan hanya diberi makan. Aku sendiri tak akan pernah bisa melupakan



kehidupanku sebelum aku datang ke Green Gables.



"Jumat sore depan aku akan pulang untuk liburan dua hari yang indah di



Avonlea. Satu-satunya hal yang kurang kusukai adalah adalah saat orang?orang menanyaiku apakah aku senang di Summerside.



"Tetapi aku membayangkan Green Gables saat ini, Gilbert " Danau



Riak Air Berkilau yang berkabut biru " pepohonan maple di sisi sungai



yang mulai memerah " semak-semak yang berubah menjadi cokelat



keemasan di Hutan Berhantu " serta bayangan matahari terbenam di



Kanopi Kekasih, tempat yang paling menawan hati. Aku berharap



seandainya saja aku berada di sana sekarang bersama " bersama " tebak



siapa?



"Kau tahu Gilbert, kadang-kadang aku curiga jangan-jangan aku ini



benar-benar mencintaimu."



"Windy Poplars,



"Spook"s Lane,



"Summerside,



"10 Oktober.



"TUAN YANG TERPANDANG DAN TERHORMAT;



"Itulah pembukaan surat cinta nenek Bibi Chatty. Manis bukan? Betapa



tersanjungnya perasaan si kakek! Apa kau lebih suka itu dibandingkan



kalau aku menulis "Gilbert Sayang, dsb? Tapi, aku bahagia karena kau



bukan sang kakek " atau belum jadi kakek betulan. Menyenangkan sekali



membayangkan kita masih muda dan menjalani hidup kita ke depan "



BERSAMA-SAMA " indah, bukan?"



(Sebagian halaman dihilangkan. Rupanya Anne sedang memegang pena



yang pas untuk kata-kata cinta. Bukan pena yang terlalu tajam, terlalu



tumpul ataupun kering.)



"Aku duduk di kursi dekat jendela di kamar menara, menatap pepohonan



yang berayun-ayun tertiup angin di bawah keteduhan langit kemerahan



dan pelabuhan yang tampak di kejauhan. Semalam aku menikmati



keindahan malam dengan berjalan-jalan sendirian. Kurasakan aku harus



pergi keluar ke suatu tempat malam itu karena suasana di Windy Poplars



sedang tak menyenangkan. Bibi Chatty menangis di kamar keluarga



karena perasaannya terluka, Bibi Kate menangis di kamar tidurnya karena



hari itu adalah peringatan hari kematian Kapten Amasa, dan Rebecca Dew



menangis di dapur karena alasan tak jelas. Aku belum pernah melihat



Rebecca Dew menangis. Sewaktu kucoba tanyakan penyebabnya dia



malah bertanya memangnya orang nggak boleh menangis kalau lagi ingin?



Jadi, aku pun menutup mulutku dan pergi, membiarkan Rebecca Dew



menikmati tangisnya.



"Aku keluar rumah dan mengayunkan langkah menyusuri jalan



pelabuhan. Kuhirup udara segar menyejukkan di bulan Oktober yang



berpadu dengan bau tanah yang baru dibajak. Aku terus melangkahkan



kaki hingga temaram senja berganti menjadi malam terang bulan di musim



gugur. Aku sendirian tapi tidak merasa kesepian. Kubayangkan diriku



sedang berbincang-bincang dengan sahabat-sahabatku dan memikirkan



baris-baris sajak nan indah yang bahkan membuat diriku sendiri terheran?heran. Aku merasa sangat senang hingga kekhawatiranku tentang keluarga



Pringle pun terlupakan.



"Aku bahkan beberapa kali berteriak melampiaskan kejengkelanku pada



klan Pringle. Aku benci mengakui ini, tetapi semua memang tak berjalan



cukup baik di Sekolah Menengah Summerside. Tak diragukan lagi, sebuah



komplotan rahasia telah dibentuk untuk melawanku. Misalnya, seluruh



murid keturunan klan Pringle tak pernah mengerjakan PR. Dan memberi



tahu orangtua mereka pun tak akan ada gunanya. Orangtua mereka



bersikap sopan, santun namun menjauhiku. Aku tahu murid-murid di luar



klan Pringle menyukaiku, tapi wabah ketidakpatuhan murid-murid dari



klan Pringle itu meruntuhkan moral di kelas. Suatu pagi aku mendapati



mejaku berantakan dan terbalik. Tentu tak ada yang tahu siapa yang



melakukannya. Dan kemarinnya, tak satu murid pun yang tahu atau



mungkin tak mau mengatakan siapa yang menaruh kotak berisi ular



mainan yang terlontar keluar saat kubuka. Tapi setiap murid dari klan



Pringle tertawa terpingkal-pingkal menyaksikanku. Kurasa saat itu aku



memang benar-benar kaget.



"Jen Pringle sering terlambat ke sekolah, selalu saja dengan alasan



sempurna yang sulit dibantah dan disampaikan dengan sopan namun



setengah menghina. Di kelas dia mengedarkan tulisan-tulisan menghina di



depan hidungku. Hari ini kutemukan bawang kupas di saku mantelku.



Ingin rasanya kukurung gadis itu dan hanya memberinya seiris roti dan air



tiap hari hingga dia mau belajar bersikap baik.



"Yang terburuk adalah saat aku menemukan karikatur wajahku di papan



tulis suatu pagi " digambar dengan kapur putih dan rambut MERAH



MENYALA. Setiap murid menyangkal telah menggambar karikatur itu




menggambar seperti itu. Karikatur itu dibuat dengan bagus. Hidungku "



organ tubuh yang paling kubanggakan dan kusenangi " digambar



bengkok dan mulutku keriput seperti perawan tua masam yang telah



mengajar murid-murid Pringle selama tiga puluh tahun. Tapi jelas terlihat



bahwa itu adalah GAMBARKU. Malam itu, aku terbangun jam tiga dini



hari dan bergidik mengingat kejadian pag siang harinya. Aneh ya, kenapa



hal yang membuat kita bergidik di malam hari justru bukan hal-hal yang



mengerikan? Hanya hal-hal yang memalukan.



"Setelah semua yang terjadi, aku malah dituduh telah "memberi nilai



rendah" ujian Hattie Pringle hanya gara-gara dia keturunan Pringle. Aku



dikatakan guru yang "menertawakan jika anak didiknya membuat



kesalahan". (Memang aku TERTAWA saat Fred Pringle mendefinisikan



"centurion" sebagai "orang yang hidup seratus tahun" Aku tak bisa



menahannya.)



"James Pringle berkata, "Tak ada diSIplin di sekolah " sedikit pun tak



ada disiplin." Dan ada gosip beredar yang memberitakan kalau aku ini



"bayi terlantar". Perlawanan dari klan Pringle mulai meningkat dari



berbagai sisi. Summerside sepertinya benar-benar tunduk dalam pengaruh



keluarga Pringle. Tak mengherankan jika mereka disebut Keluarga



Bangsawan Summerside. Jumat kemarin aku tak diundang di acara pesta



Alice Pringle. Dan ketika Mrs. Frank Pringle mengadakan acara minum



teh untuk menggalang dana bagi gereja (Rebecca Dew memberitahuku



kalau para wanita itu akan "membangun" menara gereja yang baru!), aku



adalah satu-satunya gadis di Gereja Presbiterian yang tak diminta duduk di



meja. Aku sempat mendengar bahwa istri pendeta, orang baru di



Summerside, sempat mengusulkan untuk mengajakku menjadi anggota



paduan suara gereja, tetapi kemudian dia diberi tahu bahwa semua



keluarga Pringle akan keluar dari paduan suara kalau aku nekat ikut. Itu



akan membuat paduan suara gereja kehilangan sebagian besar anggotanya



dan tak mungkin bisa melanjutkan tugasnya.



"Tentu saja aku bukan satu-satunya guru yang bermasalah dengan murid.



Ketika guru-guru lain menyerahkan murid-murid mereka yang bermasalah



padaku untuk "didisiplinkan"" betapa aku benci istilah itu! ... separuh dari



mereka adalah anak-anak klan Pringle. Tapi anehnya, tak pernah ada orang



atau murid lain yang mengeluh tentang kelakukan mereka. Dua hari lalu



aku sengaja menahan Jen di sekolah agar menyelesaikan tugas-tugas yang



sengaja tidak dikerjakannya. Sepuluh menit kemudian kereta dari



Maplehurst berhenti di depan sekolah dan Miss Ellen berdiri di depan



pintu " seorang wanita tua berpakaian indah dan senyum manis, sarung



tangan hitam berenda, dan hidung mancungnya tajam seperti elang, terlihat



seakan-akan seperti gambar yang keluar langsung dari band-box tahun



1840-an4



. Dia minta maaf telah mengganggu tapi bisakah dia membawa



Jen? Dia mau mengunjungi sahabatnya di Lowvale dan telah berjanji



mengajak Jen. Dengan penuh kemenangan Jen pergi bersamanya, dan



sekali lagi aku menyadari besarnya tantangan dan perlawanan yang harus



kuhadapi.



"Saat sedang pesimistis, aku membayangkan klan keluarga Pringle itu



gabungan dari klan Sloane dan Pye di Avonlea. Aku merasa aku mungkin



akan menyukai mereka kalau saja mereka bukan musuhku. Sebagian besar



keluarga Pringle adalah orang-orang yang jujur, periang dan setia. Bahkan



aku pun akan menyukai Miss Ellen. Aku belum pernah bertemu dengan



Miss Sarah. Selama sepuluh tahun terakhir, Miss Sarah belum pernah



meninggalkan Maplehurst.



"Terlalu rapuh ... atau begitulah setidaknya dia menganggap dirinya



sendiri," dengus Rebecca Dew mengejek. "Tapi tak ada yang bisa



mengalahkan harga dirinya. Semua klan Pringle punya harga diri tinggi,



tapi tak ada yang bisa mengalahkan harga diri dan kesombongan kedua



wanita tua itu. Kau harus dengarkan mereka bicara tentang nenek



moyangnya. Begini, ayah mereka, Kapten Abraham Pringle, DULU adalah



pria hebat. Adiknya, Myrom, tak sehebat dia, dan kau tak akan dengar klan



Pringle bicara tentang DIA. Kurasa kau akan benar-benar kewalahan



menghadapi mereka. Saat klan Pringle sudah menentukan pendapat



tentang sesuatu atau seseorang, mereka tak akan mau mengubahnya. Tapi



tetaplah semangat, Miss Shirley " tetaplah semangat."



"Aku berharap dapat resep kue pound Miss Ellen," keluh Bibi Chatty.



"Dia sudah menjanjikannya padaku berkali-kali tapi tak pernah terbukti.



Itu resep kuno keluarga Pringle dari Inggris. Mereka Sangat protektif



dengan resep keluarga mereka."



"Dalam lamunan liarku, aku sering membayangkan diriku memaksa



Miss Ellen berlutut menyerahkan resep itu kepada Bibi Chatty dan



memaksa Jen memedulikan sopan santun. Yang paling menyebalkan



adalah aku yakin bahwa aku bisa dengan mudah menaklukkan Jen kalau



saja seluruh keluarganya tidak mendukung kenakalannya.



(Dua halaman dihilangkan)



"Pembantumu yang patuh,



"ANNE SHIRLEY.



"N.B. Itulah cara nenek Bibi Chatty menandatangani surat-surat



cintanya."



"15 Oktober,



"Kami dengar telah terjadi pencurian di ujung kota kemarin malam.



Sebuah rumah dimasuki pencuri, sejumlah uang dan lusinan sendok perak



dicuri. Rebecca Dew lalu pergi ke rumah Mr. Hamilton mencoba pinjam



anjingnya. Dia akan mengikat anjing itu di beranda belakang dan dia juga



menasihatiku untuk mengamankan cincin pertunanganku di lemari



terkunci!



"Ngomong-ngomong, aku tahu kenapa Rebecca Dew menangis beberapa



hari lalu. Sepertinya terjadi kekacauan di rumah. Dusty Miller "berulah



lagi" dan Rebecca Dew memberi tahu Bibi Kate bahwa dia benar-benar



harus berbuat sesuatu tentang Kucing Itu. Kucing itu membuatnya stres.



Ini adalah ulahnya yang ketiga dalam setahun dan Rebecca Dew yakin



Dusty Miller melakukannya dengan sengaja. Dan Bibi Kate menjawab



bahwa, kalau Rebecca Dew selalu membiarkan kucing itu bebas keluar



saat dia mengeong, dia pasti tak akan berulah.



"Yah, ini sudah keterlaluan," kata Rebecca Dew. Dan akhirnya,



menangislah dia!



"Situasiku dengan keluarga Pringle bertambah gawat tiap minggunya.



Sesuatu yang sangat kurang ajar dituliskan di salah satu bukuku kemarin

__ADS_1



dan ketika pulang sekolah Homer Pringle berjalan jungkir balik dengan



tangannya di antara deretan bangku kelas. Baru-baru ini aku juga



mendapatkan surat kaleng yang isinya penuh sindiran tidak enak. Tapi



kurasa bukan Jen yang bertanggung jawab atas tulisan kurang ajar di



bukuku dan juga surat kaleng tersebut. Sebandel-bandelnya dia, dia tak



akan melakukan kenakalan serendah itu. Rebecca Dew murka dan aku



merasa ngeri memikirkan apa yang akan dia lakukan pada keluarga



Pringle seandainya dia punya kuasa. Tekad Kaisar Nero saja tak bisa



sebanding dengan tekad Rebecca Dew bila dia sudah memutuskan. Aku



tak sepenuhnya menyalahkan dia, karena ada saatnya aku sendiri



membayangkan betapa senangnya andai bisa memberikan ramuan racun



pada klan Pringle.



"Kurasa aku belum banyak cerita tentang guru-guru yang lain. Ada dua



guru selain aku, kau tahu " wakil kepala sekolah, Katherine Brooke dari



kelas Junior, dan George MacKay dari kelas Persiapan. Tentang George



tak banyak yang bisa aku ceritakan. Dia pria baik hati dan pemalu, usia



dua puluhan dengan dengan aksen Skotlandia yang mengingatkan akan



pondok kayu di hutan dan pulau-pulau berkabut " kakeknya "asli dari



Pulau Skye, Skotlandia" " dan dia mengajar dengan baik di kelas



Persiapan. Sejauh yang kutahu, aku menyukainya. Tapi rasanya aku akan



kesulitan untuk menyukai Katherine Brooke.



"Katherine adalah seorang wanita berusia sekitar dua puluh delapan



tahun meskipun penampilannya seperti tiga puluh lima tahun. Aku diberi



tahu kalau dia sungguh-sungguh mengharap dipromosikan menjadi kepala



sekolah dan kurasa dia kesal karena aku yang mendapat jabatan itu,



apalagi aku lebih muda darinya. Sebenarnya dia guru yang baik " agak



keras " tapi dia tak begitu populer. Tetapi, sepertinya dia tak peduli!



Sepertinya dia tak punya teman atau kerabat, dan kos di rumah kusam di



jalan kecil Temple Street yang kumuh. Dia berpakaian secara acak-acakan,



tak pernah bergaul dan dibilang "pelit". Dia sangat sarkastis dan murid?muridnya takut pada ucapan-ucapannya yang menyakitkan. Murid-murid



memberitahuku bahwa saat Katherine menaikkan alis hitam tebalnya dan



menegur mereka dengan sinis, mereka jadi takut setengah mati.



Seandainya saja aku bisa melakukan itu pada keluarga Pringle. Tapi aku



tak suka memerintah murid dengan menyebabkan ketakutan. Aku ingin



murid-muridku menyayangiku.



"Meski Katherine tak kesulitan mengatur murid-muridnya, dia tetap saja



mengirimkan sebagian muridnya kepadaku " khususnya anak-anak



Pringle. Aku tahu dia sengaja dan aku yakin dia senang melihat



kesulitanku dan bahagia melihatku kian terpuruk.



"Rebecca Dew bilang tak ada yang bisa berteman dengannya. Bibi Kate



dan Bibi Chatty pernah mengundangnya beberapa kali untuk makan



malam di hari Minggu " kedua janda baik hati itu selalu berusaha



mendekati orang-orang yang kesepian dengan mengundang makan malam,



dan selalu menyajikan salad ayam terlezat " tapi dia tak pernah datang.



Jadi akhirnya janda-janda itu menyerah karena seperti kata Bibi Kate,



"kesabaran ada batasnya."



"Padahal gosipnya dia sangat pintar, bisa menyanyi, bercerita "



"berpidato" kalau kata Rebecca Dew " tapi Katherine sama sekali tak mau



menunjukkan kemampuannya itu. Suatu kali Bibi Chatty pernah



memintanya membacakan sesuatu di acara makan malam gereja. "Dia



menolak dengan sangat kasar," kata Bibi Kate. "Dia menggeram," kata



Rebecca Dew.



"Suara Katherine memang berat dan dalam ... hampir seperti suara pria



... dan saat dia sedang tak senang memang kedengarannya dia seperti



menggeram.



"Dia tidak bisa dibilang cantik tapi sebenarnya dia bisa saja tampil



menarik. Kulitnya agak gelap, dengan rambut hitam tebal indah yang



selalu ditarik ke belakang dari dahinya yang tinggi dan diikat seadanya.



Matanya yang cokelat muda di bawah alis legamnya tak cocok dengan



warna rambutnya yang hitam. Bentuk telinganya bagus dan dia punya



tangan terindah yang pernah kulihat. Garis bibirnya pun bagus sekali. Tapi



sayangnya dia kurang peduli dengan penampilannya. Sepertinya dia justru



ahli memilih warna dan pola garis-garis yang harusnya malah dia hindari.



Warna hijau kusam dan abu-abu muram. Padahal kedua warna itu dan pola



garis-garis hanya malah menekankan tubuhnya yang sudah tinggi dan



kurus. Dan pakaiannya pun selalu kelihatan kusut.



"Sikapnya sangat tak menyenangkan " seperti kata Rebecca Dew, dia



itu gampang tersinggung. Setiap kali berpapasan dengannya di tangga



kurasakan dia memikirkan hal-hal buruk tentang diriku. Setiap kali aku



berbicara dengannya, aku merasa seakan-akan salah bicara. Tapi aku iba



padanya " meskipun aku sadar dia benci sekali dikasihani. Dan aku tak



bisa melakukan apa pun untuk membantunya karena dia memang tak ingin



dibantu. Dia benar-benar benci padaku. Suatu hari kami bertiga ada di



ruang guru, dan aku melakukan sesuatu, yang sepertinya melanggar aturan



tak tertulis sekolah, Katherine langsung menukas, "Mungkin kau



menganggap dirimu LEBIH BERKUASA dari aturan yang berlaku, Miss



Shirley." Pada kesempatan lain, saat aku menyarankan perubahan yang



menurutku demi kebaikan sekolah, dia menanggapi dengan tersenyum



mengejek, "Aku tak tertarik dengan cerita khayal seperti itu." Suatu kali,



aku memuji pekerjaan dan metode mengajarnya, dia malah berkata, "Apa



yang tersembunyi dari kata-kata manismu ini?"



"Tapi yang paling menjengkelkanku " nah, suatu hari kebetulan aku



mengambil salah satu bukunya di ruang staf dan sambil melihat ke



sampulnya aku berkata, "Aku senang kau eja namamu dengan K.



Menurutku Katherine lebih memikat dari pada Catherine, karena K itu



kesannya lebih misterius C yang biasa-biasa saja."



"Dia tak menanggapi sama sekali, tapi saat dia mengirim memo



untukku, tanda tangannya bertuliskan "Catherine Brooke"!"



"Sepanjang perjalanan pulang ke rumah aku bersin-bersin. Aku sudah



mau menyerah berteman dengannya seandainya aku tak punya firasat



bahwa di balik kekasaran dan kejudesannya, sebenarnya dia sangat



mendambakan teman.



"Menghadapi kejudesan Katherine dan keusilan klan Pringle, aku tak



tahu harus bagaimana seandainya saja tak ada Rebecca Dew tersayang dan



surat-suratmu " dan si kecil Elizabeth. Aku sudah berkenalan dengan si



kecil Elizabeth. Dia anak yang manis sekali.



"Tiga malam lalu aku yang membawa segelas susu ke pintu di pagar



rumah Evergreen dan si kecil Elizabeth sendiri yang datang mengambil



bukan si Pelayan Wanita, kepalanya melongok di atas pintu kecil seakan



dibingkai oleh tanaman rambat yang menjalar di sisi pintu. Tubuhnya



kecil, rambut keemasan, wajahnya pucat dan tampak muram. Matanya,



yang menatapku di keremangan senja musim gugur, berwarna cokelat



keemasan. Rambut keemasannya tersibak di tengah, terurai berombak



hingga ke bahu. Dia mengenakan pakaian biru muda pucat, dan terlihat



seperti putri dari negeri peri. Dia memang seperti apa yang dikatakan



Rebecca Dew "kelihatan rapuh" dan bagiku terlihat seperti anak yang



kurang gizi " bukan tubuhnya tapi jiwanya. Sorot jiwanya cenderung



seperti sorot sang bulan yang sendu dari pada sang matahari yang riang.



"Ini Elizabeth?" tanyaku.



"Bukan untuk malam ini," jawabnya serius. "Malam ini aku jadi Betty



karena aku menyayangi semua hal di dunia. Kemarin malam aku jadi



Elizabeth dan besok malam mungkin aku jadi Beth. Tergantung



bagaimana perasaanku."



"Nah Gilbert, sepertinya aku bertemu dengan teman sejiwa. Benar-benar



menggetarkan."



"Betapa menyenangkan bisa punya nama yang bisa kau ganti-ganti



dengan mudah dan tetap terasa seperti namamu."



Si kecil Elizabeth mengangguk. "Aku bisa mengarang banyak nama dari



namaku. Elsie, Betty, Bess, Eliza, Lisbeth dan Beth " tapi tidak Lizzie.



Aku tak pernah bisa merasa seperti Lizzie."



"Apa memang ada yang bisa?" tanyaku.



"Apa menurutmu itu konyol, Miss Shirley? Nenek dan si Wanita



menganggapku begitu."



"Sama sekali tidak konyol " malah sangat bijak dan menyenangkan,"



jawabku. Elizabeth menatap mataku serius dari balik kacamatanya Aku



merasa ketulusan hatiku sedang diukur dan kemudian aku menyadari



bahwa gadis kecil itu menganggapku tulus dan bisa dipercaya. Karena si



kecil Elizabeth minta tolong padaku " dan dia tak mau minta tolong pada



orang yang tak disukainya.



"Maukah kau mengangkat kucing itu karena aku ingin mengelus?elusnya?" pintanya malu-malu.



"Dusty Miller menggeliat manja di kakiku. Kuangkat kucing itu dan si



kecil Elizabeth mengulurkan tangan mungilnya, lalu mengusap-usap



kepalanya senang.



"Aku lebih suka anak kucing daripada bayi," katanya sambil menatapku



setengah menantang, seolah-olah tahu kalau aku akan kaget dengan



perkataannya itu, namun dia harus berkata jujur.



"Menurutku kau belum pernah bersentuhan dengan bayi kecil jadi tak



tahu betapa manisnya mereka," kataku tersenyum. "Kau sendiri punya



anak kucing?"



"Elizabeth menggeleng. "Oh tidak. Nenek tidak suka kucing. Si Wanita



juga benci kucing. Malam ini si Wanita sedang keluar jadi aku bisa ambil



susu sendiri. Aku suka mengambilnya sendiri karena Rebecca Dew itu



orang yang ramah."



"Kau kecewa dia tak bisa datang ke sini malam ini?" tawaku.



Si kecil Elizabeth menggeleng. "Tidak. Kau juga baik, kok. Sudah lama



aku ingin kenalan, tapi aku takut itu tak akan terjadi sebelum Hari Esok



tiba."



"Kami berdiri di sana dan mengobrol, sementara Elizabeth meneguk



susunya dan menceritakan segalanya tentang Hari Esok. Si Wanita



mengatakan padanya bahwa Hari Esok tak akan pernah datang, tapi



Elizabeth lebih tahu. Suatu saat nanti, hari itu AKAN datang. Di pagi yang



indah dia akan bangun dan menemukan Hari Esok. Bukan hari ini tapi



Hari Esok. Lalu akan terjadi " hal-hal yang indah. Bahkan dia akan bisa



melakukan apa pun yang dia suka seharian, tanpa ada yang mengawasinya



" meski menurutku dalam hatinya Elizabeth tahu ITU terlalu bagus untuk



terjadi, bahkan di Hari Esok sekalipun. Atau dia mungkin akan tahu apa



yang ada di ujung jalan pelabuhan itu " jalan yang meliuk dan berkelok



seperti ular merah yang menurut Elizabeth menuju ke ujung dunia.



Barangkali Pulau Kebahagiaan ada di sana. Elizabeth merasa yakin bahwa



Pulau Kebahagiaan itu ada di suatu tempat berlabuh kapal-kapal yang tak



pernah kembali setelah berlayar, dan dia akan menemukan tempat itu



begitu Hari Esok tiba.



"Dan saat Hari Esok tiba," lanjut Elizabeth, "Aku akan punya sejuta



anjing dan empat puluh lima kucing. Kuserukan itu pada Nenek saat dia



melarangku memelihara anak kucing, Miss Shirley, lalu dengan marah



Nenek berkata, "Tak ada yang berani bicara seperti itu padaku, Nona



Kurang ajar." Akibatnya, aku disuruh tidur tanpa makan malam " tapi



sungguh aku tak bermaksud bersikap kurang ajar. Aku tak bisa tidur



malam itu, Miss Shirley, karena si Wanita bilang padaku kalau dia pernah



melihat seorang anak meninggal saat tidur karena bersikap kurang ajar."



"Ketika Elizabeth selesai minum susu terdengar ketukan keras di jendela



yang tak kelihatan karena tertutupi cemara. Kurasa kami telah diawasi



sepanjang waktu. Putri periku berlari, rambut keemasannya berkilau di



antara keteduhan cemara, hingga dia tak tampak lagi.



"Dia memang makhluk kecil yang penuh daya khayal," komentar



Rebecca saat kuceritakan petualanganku " sungguh, rasanya seperti



sebuah petualangan, Gilbert. "Elizabeth pernah bertanya padaku," lanjut



Rebecca Dew. "Kau takut singa, Rebecca Dew?" "Aku belum pernah



bertemu singa, jadi tak bisa kujawab pertanyaanmu," kataku. "Nanti akan



banyak singa di Hari Esok," katanya, "Tapi mereka singa-singa yang



baik." "Nak, bisa-bisa kau jadi tukang ngelamun kalau kau ngelantur



seperti itu," kataku. Dia malah menatap ke kejauhan seakan sudah



melupakan aku dan sudah berada di Hari Esoknya. "Banyak yang



kupikirkan, Rebecca Dew," katanya. Masalahnya adalah, anak itu kurang



banyak tertawa.



"Aku ingat Elizabeth tak pernah tertawa ketika kami bercakap-cakap.



Kurasa dia belum pernah belajar tertawa. Rumah besar yang ditempatinya



itu kaku dan tak bersahabat serta tak ada tawa di dalamnya. Rumah itu



tampak membosankan dan bahkan sekarang kelihatan suram ketika alam



sekitar penuh warna musim gugur. Si kecil Elizabeth terlalu banyak



mendengarkan bisikan-bisikan menyesatkan.



"Kurasa salah satu misiku di Summerside adalah mengajari Elizabeth



cara tertawa.



"Sahabatmu yang paling lembut nan setia,



"ANEE SHIRLEY.



"P.S. Kutipan lagi dari nenek Bibi Chatty!"



__ADS_1


__ADS_2