
Bab20
Hampir tiga minggu berlalu sebelum Lewis ada waktu untuk mencuci
filmnya. Minggu pertama makan malam di Windy Poplars, Lewis
membawa hasil fotonya. Potret rumah maupun Pria Kecil itu hasilnya
bagus sekali. Pria Kecil tersenyum dalam foto "seperti benar-benar hidup,"
kata Rebecca Dew.
"Tapi dia mirip sekali denganmu Lewis!" seru Anne.
"Ya benar, mirip sekali," Rebecca Dew menyetujui, mengamati foto itu
lebih cermat. "Pertama kulihat wajahnya, aku ingat pada seseorang, tapi
aku tak ingat lagi siapa."
"Lihatlah, matanya " dahinya " ekspresi wajahnya sama denganmu
Lewis," kata Anne.
"Hampir tak percaya kalau aku dulu pernah setampan anak itu," kata
Lewis. "Aku masih menyimpan foto kecilku di suatu tempat, dipotret saat
aku berusia delapan tahunan. Nanti biar kucari dan kubandingkan. Kau
pasti senang melihatnya Miss Shirley. Dulu aku anak yang punya mata
paling cemerlang, rambut keriting dan memakai kemeja kerah berenda,
kaku seperti patung. Apabila foto ini benar-benar mirip denganku, pasti
hanya kebetulan belaka. Mustahil Pria Kecil itu ada hubungan kerabat
denganku. Aku tak punya kerabat satupun di pulau " sekarang ini."
"Di mana kau dilahirkan?" tanya Bibi Kate.
"New Brunswick. Ayah ibuku meninggal sewaktu usiaku sepuluh tahun
dan aku kemudian tinggal di sini bersama sepupu ibuku " Bibi Ida. Dia
juga sudah meninggal, " kira-kira tiga tahun lalu."
"Jim Armstrong berasal dari New Brunswick," kata Rebecca Dew. "DIA
bukan penduduk asli pulau ini " kalau penduduk asli, dia tak akan seaneh
itu. Kami memang memiliki sifat-sifat aneh, tapi kami BERADAB."
"Aku tak yakin kalau aku mau tahu apa ada masih ada hubungan kerabat
dengan Mr. Armstrong yang ramah itu," kata Lewis bercanda. "Meski
begitu saat aku selesai mencetak dan memigura foto ini aku akan
membawanya ke Glencove Road dan sedikit menyelidiki hal ini. Mungkin
saja dia itu sepupu jauhku. Aku tak tahu sama sekali tentang kerabat
ibuku, kalau dia memang punya. Selama ini kuanggap ibuku tak punya
kerabat. Yang kutahu ayahku tak punya."
"Jika fotonya kau antar sendiri, bukankah Pria Kecil itu nanti akan
kecewa karena tak bisa merasakan senang mendapatkan kiriman lewat
pos?" kata Anne.
"Akan kuganti ... aku akan mengirim sesuatu lewat pos buatnya."
Sabtu sore Lewis melewati Spook"s Lane naik pedati antik di belakang
seekor kuda yang tak kalah antiknya.
"Aku mau pergi ke Glencove untuk mengantarkan potret Teddy
Armstrong. Kalau kedatanganku yang penuh gaya ini tak membuatmu
jantungan, kau bisa ikut denganku, Miss Shirley. KURASA roda-roda
kereta ini masih kuat dan tak akan lepas."
"Di mana kau pungut peninggalan purbakala itu Lewis?" tanya Rebecca
Dew.
"Jangan mengejekku Miss Dew. Hargai dong, barang antik. Mr. Bender
meminjamkan kuda dan kereta ini dengan syarat kuantarkan pesanannya.
Aku tak punya waktu buat jalan kaki ke Glencove dan kembali lagi."
"Waktu!" kata Rebecca Dew. "Aku sendiri bisa berjalan ke sana dan
pulang kembali jauh lebih cepat daripada kudamu itu."
"Sambil membawa sekarung kentang buat Mr. Bender? Benar-benar kau
ini wanita perkasa!"
Pipi Rebecca Dew semakin bertambah merah. "Tak sopan mengolok?olok orang tua," dia mengomelinya. Lalu, untuk menunjukkan sayangnya
pada Lewis ", "Kau mau donat sebelum berangkat?"
Kuda putih betina itu, di luar dugaan, bisa menghasilkan tenaga
layaknya kereta api sewaktu mereka sudah mulai berjalan. Anne terkikik?kikik saat mereka tersentak-sentak di sepanjang jalan. Apa komentar Mrs.
Gardiner atau bahkan Bibi Jamesina bila mereka melihatnya seperti itu?
Yah, Anne itu tak peduli. Ini hari yang indah untuk berkereta melintasi
wilayah pedesaan yang masih terasa suasana musim gugurnya. Lewis juga
seorang teman yang menyenangkan. Pemuda ini akan meraih ambisinya.
Tak seorang pun orang yang dikenal Anne akan bermimpi mengajaknya
naik pedati kuno Bender di belakang kuda tua Bender.
Tapi Lewis menganggap tak ada yang aneh dengan ajakannya. Apa
bedanya CARA kau pergi ke sana, asalkan penting kau tiba di sana? Bukit?bukit itu akan tetap indah, jalan juga masih tetap merah, pohon-pohon
maple tetap cantik, tak masalah naik apa kau ke sana. Lewis adalah
seorang filsuf dan tak menggubris perkataan orang lain yang
__ADS_1
memanggilnya "Banci" karena dia mau mengurusi pekerjaan rumah tangga
untuk biaya kontrakannya. Biar mereka memanggilku sesuka hatinya!
Suatu hari nanti, akulah yang akan menertawai mereka. Kantong
celananya bisa saja kosong tapi kepalanya tidak.
Sore hari itu begitu tenteram dan mereka akan bertemu Pria Kecil yang
menggemaskan. Mereka mengatakan itu pada saudara ipar Mr. Bender
sewaktu mengantarkan kentang.
"Jadi artinya kau punya foto Teddy Armstrong kecil?" seru Mr. Merrill.
"Ya, aku punya fotonya," Lewis membuka bungkusan dan
menunjukkannya bangga. "Kurasa tukang foto profesional pun tak bisa
memotret lebih bagus dari ini."
Mr. Merrill menampar kakinya keras-keras. "Nah, ini baru
menakjubkan! Masa kalian belum dengar, Teddy Armstrong kecil sudah
meninggal ""
"Meninggal!" teriak Anne kaget. "Oh, Mr. Merrill "jangan " jangan
katakan kalau " anak manis itu ..."
"Maaf, tapi itulah kenyataannya. Ayahnya nyaris gila karena berduka,
dan parahnya lagi, ia tak punya foto anaknya sama sekali. Dan sekarang,
kau punya fotonya. Hebat, sungguh hebat."
"Sepertinya tak masuk akal " ini tak masuk akal," kata Anne,
berlinangan air mata. Dia masih bisa membayangkan tubuh kecil itu
melambaikan tangan.
"Aku juga ikut prihatin, tapi itulah kebenarannya. Dia meninggal tiga
minggu yang lalu. Infeksi paru-paru. Anak kecil itu sangat menderita, tapi
kata orang-orang dia sangat berani dan sabar. Aku tak tahu lagi akan jadi
seperti apa Jim Armstrong sekarang. Orang-orang bilang dia seperti orang
gila sepanjang waktu muram dan bergumam pada dirinya sendiri . "Kalau
saja kupunya foto Pria Kecil itu," begitu katanya terus menerus."
"Aku sedih melihat pria itu," kata Mrs. Merrill tiba-tiba. Sejak tadi,
wanita bertubuh gempal dan rambut mulai berubah itu, berdiri diam saja di
sebelah suaminya, mengenakan gaun calico dan celemek kotak-kotak
yang tertiup angin. "Dia memang pria berpendidikan dan aku selalu
merasa dia memandang rendah kami karena kami miskin. Tapi anak laki?laki kami masih hidup " jadi tak masalah semiskin apa pun dirimu,
asalkan kau masih punya seseorang yang kau cintai."
sewaktu mata teduhnya memandang Anne, seperti ada jiwa persahabatan
yang lahir di antara mereka. Anne tak pernah bertemu Mrs. Merrill
sebelumnya dan juga tak bertemu lagi dengannya, tapi dia akan selalu
mengingatnya sebagai wanita yang telah mendapatkan rahasia terbesar
kehidupan. Kau tak akan jadi miskin selama masih ada yang kau cintai.
Maka hancurlah hari Anne yang indah. Meski hanya sekilas bertemu,
Pria Kecil itu sudah merebut hatinya. Dia dan Lewis membisu di
perjalanan. Saat mereka tiba, Carlo sedang berbaring di lantai batu di
depan pintu warna biru. Anjing itu lalu bangun dan menghampiri,
menjilati tangan Anne dan memandangnya dengan mata besarnya yang
sendu, seakan-akan menanyakan ke manakah teman kecilnya pergi. Pintu
itu terbuka, di dalam keremangan rumah mereka melihat seorang pria
menelungkup di atas meja.
Mendengar ketukan Anne, pria itu bangkit dan menghampiri pintu. Anne
terkejut melihat perubahannya. Pipinya cekung, kurus dan tak dicukur,
matanya tajam penuh amarah. Anne bersiap menghadapi penolakan, tapi
pria itu mengenalinya, pelan dia berkata, "Jadi kau kembali? Pria Kecil
menceritakan pembicaraannya denganmu dan kau menciumnya. Dia
menyukaimu. Aku mohon maaf telah kasar padamu. Apa yang kau
inginkan?"
"Kami ingin menunjukkan sesuatu," kata Anne lembut.
"Maukah kalian masuk dan duduk?" kata James Armstrong.
Tanpa berkata, Lewis mengambil foto Pria Kecil dari bungkusannya dan
menyodorkannya. Jim Armstrong menyambarnya, terpaku dengan tatapan
lapar, kemudian duduk di kursi dan menangis. Anne belum pernah melihat
seorang pria menangis. Dia dan Lewis hanya berdiri terdiam sampai pria
itu tersadar.
"Oh kalian tak tahu betapa berharganya ini untukku," akhirnya dia
berkata. "Aku tak punya satu pun foto anakku. Dan tak seperti orang?orang " aku sulit mengingat wajah " aku tak mampu membayangkan
wajahnya di benakku. Sejak Pria Kecil meninggal semuanya menjadi
mengerikan " aku bahkan tak bisa mengingat seperti apa dia. Dan
sekarang kalian membawakan ini " setelah aku bersikap kasar pada
kalian " mari duduklah. Semoga bisa kubalas budi baik kalian. Kalian
__ADS_1
menyelamatkan akal sehatku " bahkan mungkin hidupku. Oh, Nona,
bukankah foto ini mirip sekali dengannya? Seakan-akan dia mau
mengatakan sesuatu. Pria Kecilku tersayang! Bagaimana aku bisa hidup
tanpa dia? Aku tak punya tujuan hidup lagi sekarang. Pertama ibunya "
sekarang dia."
"Dia anak yang kecil yang baik," kata Anne lembut.
"Memang, dia baik. Si kecil Teddy " Theodore, nama pemberian
ibunya ... "pemberian Tuhan" katanya. Dan anak itu begitu penyabar dan
tak pernah mengeluh. Suatu waktu dia tersenyum dan berkata, "Yah,
kupikir engkau salah " dalam satu hal. Aku pikir surga itu ada, bukankah
begitu? Benarkah begitu, Yah?" Kukatakan padanya, ya, surga memang
ada " semoga Tuhan mengampuniku telah mengajarkan yang lain.
Kemudian dia tersenyum lagi, sepertinya merasa puas, lalu dia berkata,
"Kalau begitu, Yah, aku akan pergi ke sana. Ibu dan Tuhan ada di sana.
Dan semua akan baik-baik saja. Tapi Ayahlah yang aku khawatirkan. Kau
akan sangat kesepian tanpaku. Lakukan yang terbaik dan ramahlah pada
orang-orang yang mampir ke rumah kita." Dia menyuruhku berjanji bahwa
aku akan berusaha, tapi ketika dia pergi selamanya, aku tak tahan. Aku
akan gila jika kalian tak berikan foto ini. Sekarang, bebanku akan jadi
lebih ringan."
Dia menceritakan Pria Kecilnya untuk beberapa saat, seperti menemukan
kelegaan dan kegembiraan di sana. Kemuraman dan sifat penyendirinya,
terkupas sedikit demi sedikit. Dan akhirnya Lewis menyodorkan foto masa
kecilnya yang sudah pudar.
"Pernahkah kau melihat seseorang yang mirip dengan foto itu, Mr.
Armstrong?" tanya Anne.
Mr. Armstrong terlihat mati-matian berkonsentrasi. "Benar-benar mirip
Pria Kecil," katanya. "Foto siapa ini?"
"Fotoku," kata Lewis, "itu aku sewaktu berusia tujuh tahun. Karena
kemiripanku dengan Teddy, Miss Shirley memaksaku menunjukkan ini.
Kupikir mungkin aku dan Pria Kecil adalah kerabat jauh. Namaku Lewis
Allen dan ayahku bernama George Allen. Aku lahir di New Brunswick."
James Armstrong menggelengkan kepala. Kemudian berkata, "Siapa
nama ibumu?"
"Mary Gardiner."
James Armstrong memandangnya dalam diam. "Ibumu saudari tiriku,"
katanya. "Aku hampir tak mengenalnya " aku hanya bertemu dengannya
satu kali. Aku menjadi bagian keluarga pamanku semenjak Ayah
meninggal. Ibuku menikah lagi dan pindah. Dia mengunjungiku sekali
sambil membawa anak gadisnya yang masih kecil. Kemudian ibuku
meninggal dan tak pernah lagi kulihat saudari tiriku. Sewaktu aku datang
ke sini, aku kehilangan jejaknya. Jadi, kau adalah kemenakanku dan Pria
Kecil itu sepupumu."
Kabar ini sungguh mengejutkan bagi seorang anak muda yang selama ini
menganggap dirinya hidup sebatang kara. Lewis dan Anne menghabiskan
sore itu bersama Mr. Armstrong yang ternyata rajin membaca dan cerdas.
Akhirnya, mereka berdua menyukai pria itu. Sikap kasarnya dulu sudah
terlupakan dan yang mereka lihat kini adalah kepribadian asli James
Armstrong yang berharga di balik cangkang ketidakramahan yang
menyembunyikannya.
"Tentu saja Pria Kecil tak akan begitu mencintai ayahnya kalau ayahnya
bukan orang baik," kata Anne ketika mereka kembali ke Windy Poplars.
Ketika Lewis Allen mengunjungi pamannya pada akhir pekan, James
Armstrong berkata, "Nak, tinggallah denganku. Kau adalah kemenakanku
dan kau akan kuperlakukan dengan baik " seperti yang kulakukan pada
Pria Kecil semasa hidupnya. Kau sebatang kara, begitu juga aku. Aku
membutuhkanmu. Aku akan jadi keras dan sengit jika menjalani hidup
sendirian di sini. Aku ingin kau membantuku menepati janji pada Pria
Kecil. Gantikanlah tempatnya."
"Terima kasih Paman, akan kucoba," kata Lewis sambil mengulurkan
tangannya.
"Sekali-kali ajak gurumu itu ke sini. Paman suka gadis itu. Pria Kecil
juga menyukainya. "Yah," katanya, "Aku tak suka dicium orang lain
kecuali Ayah. Tapi, saat dia menciumku, aku suka. Ada sesuatu di
matanya Yah"."
***
__ADS_1