
Bab27
"Aku BEGITU berbeda," Hazel berkeluh kesah.Berbeda dengan orang
lain memang mengerikan ... tapi juga menyenangkan, seakan-akan kau
datang dari bintang lain. Hazel jelas tak akan sama dengan SIAPA PUN ...
tak peduli apa alasan perbedaannya.
"Setiap orang itu berbeda," kata Anne geli.
"Kau tersenyum." Hazel menepukkan sepasang tangannya yang sangat
putih dan berbintik-bintik, menatap kagum pada Anne. Dia memberikan
tekanan pada setiap kata yang diucapkannya. "Kau punya senyum yang
menawan ... senyuman yang MENGHANTUI. Semenjak kita bertemu
pertama kali aku tahu kalau kau akan memahami SEMUANYA. Kita ini
berada di LEVEL YANG SAMA. Kadang kala kupikir aku ini PUNYA
KEKUATAN BATIN Miss Shirley. Sewaktu bertemu dengan orang lain
untuk pertama kalinya, aku langsung bisa MERASAKAN kalau aku suka
mereka atau tidak. Aku langsung bisa merasakan kalau kau itu orangnya
simpatik ... kau mau MENGERTI. Bahagia rasanya bisa dimengerti. Tak
seorang pun yang mengerti diriku, Miss Shirley ... tak SEORANG PUN.
Tapi saat aku bertemu denganmu, ada suara dalam diriku yang berbisik,
"DIA bisa mengerti ... dengannya kau bisa menjadi DIRIMU SENDIRI."
Oh, Miss Shirley, mari kita SALING JUJUR ... SELALU jujur. Oh, Miss
Shirley, apakah kau mencintaiku meskipun hanya secuil?"
"Menurutku kau memang anak yang manis," kata Anne, tertawa sambil
mengacak-acak rambut keriting Hazel dengan jari-jarinya yang lentik.
Sangat mudah mencintai Hazel. Hazel saat itu sedang menumpahkan
perasaaannya pada Anne di kamar menara, dari sana mereka bisa melihat
bulan muda yang tergantung di atas pelabuhan dan senjakala bulan Mei
memenuhi sore hari itu dengan cahaya merah tua.
"Jangan menyalakan lampu dulu," Hazel memohon, dan Anne
menjawab, "Tentu tidak ... bukankah menyenangkan di sini kala kegelapan
menjadi temanmu? Kalau kau nyalakan lampunya, kegelapan itu akan
menjadi musuhmu ... dan akan memandangmu penuh kebencian."
"Aku bisa MEMBAYANGKANNYA tapi tak bisa mengatakan dengan
begitu indahnya," erang Hazel kesal. "Kau berbicara menggunakan bahasa
bunga violet, Miss Shirley."
Hazel tak bisa menjelaskan apa maksudnya, tapi itu tak masalah. Toh
terdengar SANGAT puitis. Kamar di menara adalah satu-satunya tempat
yang tenang di rumah itu. Tadi pagi Rebecca Dew berkata dengan penuh
tekad, "Kita HARUS sudah memasang kertas dinding di ruang tamu dan
kamar cadangan sebelum Ladies" Aid mengadakan pertemuan di sini," dan
langsung mengeluarkan semua perabotan dari dua ruangan itu, lalu mulai
bekerja memasang kertas dinding. Akibatnya, Windy Poplars bagaikan
terjerumus dalam kekacauan alam liar, dengan hanya satu oasis
ketenangan di kamar menara.
Hazel Marr "naksir berat" pada Anne. Keluarga Marr adalah pendatang
di Summerside, pindah dari Charlottetown saat musim dingin. Hazel
adalah gadis "pirang Oktober", itulah caranya menggambarkan diri
sendiri. Dengan rambut pirang tembaga dan mata cokelat, tak heran bila
Rebecca Dew berujar, dunia tak mendapat banyak manfaat kebaikan sejak
Hazel menyadari bahwa dirinya cantik. Hazel memang terkenal,
khususnya di kalangan anak laki-laki yang terpesona oleh kombinasi mata
indah dan rambut ikalnya. Anne menyukainya. Tadi sore dia sempat
kecapekan dan bosan saat menjelang pulang sekolah, namun sekarang dia
sudah bisa santai. Apakah ini karena angin bulan Mei, manis penuh
dengan bunga apel, yang terbang masuk dari jendela, atau karena ocehan
Hazel, dia tak tahu yang mana. Mungkin dua-duanya. Entah bagaimana,
pikir Anne, Hazel mengingatkannya pada masa kecilnya, dengan semua
kegairahan dan ide-ide romatis.
Hazel meraih tangan Anne dan menciumnya lembut. "Aku MEMBENCI
semua orang yang lebih dulu kau cintai sebelum diriku Miss Shirley. Aku
membenci semua orang yang kau cintai SEKARANG. Aku ingin
memilikimu SEUTUHNYA."
"Tidakkah kau sedikit keterlaluan, Sayangku? KAU mencintai orang lain
selain diriku. Bagaimana dengan Terry?"
"Oh, Miss Shirley! Itulah yang ingin kubicarakan denganmu. Aku tak
bisa menahan kebisuan ini lebih lama lagi ... aku TAK SANGGUP. Aku
HARUS membicarakannya dengan seseorang ... seseorang yang MAU
MENGERTI. Malam kemarin aku keluar dan berjalan di sekitar kolam ...
sampai ... hampir jam dua belas. Semuanya membuatku menderita ...
SEMUANYA." Hazel terlihat begitu tragis dengan muka bundar
kemerahan, bulu mata lentik nan panjang dan ikal rambut keemasannya.
"Oh, Hazel sayang, kupikir kau dan Terry berbahagia ... bahwa
semuanya sudah jelas."
Anne tak bisa disalahkan karena berpikir seperti itu. Tiga minggu
berselang, Hazel telah membanjirinya dengan topik Terry Garland. Karena
menurut Hazel, apalah gunanya seorang kekasih kalau kau tak bisa
membicarakannya dengan seseorang?
"SEMUA ORANG berpikiran begitu," Hazel menjawab pahit. "Oh, Miss
Shirley, kehidupan sepertinya penuh dengan masalah. Kadang-kadang aku
ingin berbaring di suatu tempat ... DIMANA PUN ... melipat tanganku dan
berhenti BERPIKIR."
"Gadisku sayang, apa kau punya masalah?"
"Tak ada ... SEMUANYA. Oh, Miss Shirley, BISAKAH kubicarakan ini
denganmu ... Bisakah kutumpahkan seluruh jiwaku padamu?"
"Tentu saja Sayang."
"Aku benar-benar tak punya tempat untuk menumpahkan ini semua,"
kata Hazel pilu. "Kecuali dalam diary-ku. Maukah kau melihat diary-ku
kapan-kapan, Miss Shirley? Benar-benar penuh pengungkapan
mengejutkan. Tapi aku tetap tak bisa menuliskan apa yang membakar
jiwaku. Ini ... ini MENCEKIKKU!" Hazel mencengkeram lehernya
dramatis.
"Tentu saja aku akan senang sekali bila kau mengizinkannya. Apakah ini
masalah antara kau dan Terry?"
"Oh, Terry!! Miss Shirley, apakah kau akan memercayaiku kalau
kukatakan bahwa Terry seperti ORANG ASING bagiku? Orang asing!
Seseorang yang tak pernah kukenal," tambah Hazel, meyakinkan Anne.
"Tapi, Hazel ... kukira kau mencintainya ... kau bilang ..."
"Ya, aku tahu. KUKIRA aku mencintainya. Tapi sekarang kusadari
bahwa itu adalah sebuah kesalahan besar. Oh, Miss Shirley, kau tak bisa
membayangkan betapa SULITNYA hidupku . . . betapa
MUSTAHILNYA."
"Aku tahu tentang hal ini," kata Anne simpatik, teringat pada Roy
Gardner.
"Oh, Miss Shirley, aku yakin aku tak terlalu cinta padanya sehingga rela
menjadi istrinya. Aku menyadari itu sekarang ... tapi semuanya sudah
terlambat. Aku hanya terhanyut oleh perasaan yang kukira adalah cinta
padanya. Kalau saja aku tidak mabuk kepayang, aku yakin aku pasti akan
minta waktu untuk memikirkannya. Tapi aku tergila-gila oleh perhatiannya
__ADS_1
... aku menyadarinya sekarang. Oh, aku ingin minggat ... melakukan
sesuatu yang nekat!"
"Hazel sayang, bila kau merasa telah membuat satu kesalahan, mengapa
tak kau katakan padanya ..."
"Miss Shirley, aku tak sanggup! Ini akan membunuhnya. Dia sangat
memujaku. Tak ada jalan keluar. Terry mulai membicarakan pernikahan.
Pikirkan coba ... gadis kecil sepertiku ... umurku baru delapan belas.
Semua teman-temanku yang kuberi tahu pertunangan rahasia kami
memberikan ucapan selamat " itu menggelikan sekali. Mereka berpikir
beruntung sekali aku mendapatkan Terry karena dia akan mendapatkan
warisan puluhan ribu dolar saat usianya dua puluh lima nanti. Neneknya
yang mewariskan uang itu. Seakan-akan aku peduli dengan hal remeh
seperti UANG! Oh, Miss Shirley, KENAPA dunia begitu kejam . . .
KENAPA?"
"Yah dunia memang kejam, tapi tidak seluruhnya benar, Hazel. Dan
apabila kau merasakan hal seperti ini pada Terry ... yah, kita semua pernah
berbuat kesalahan ... kadang-kadang sangat sulit mengetahui isi pikiran
kita sediri ... "
"Oh, benar, kan? Aku TAHU kau akan mengerti. DULU memang aku
sayang padanya Miss Shirley. Pertama kali aku berjumpa dengannya, aku
hanya duduk dan menatapnya sepanjang sore. Seakan aku TENGGELAM
dalam keteduhan matanya. Dia BEGITU tampan ... meskipun saat itu
kupikir rambutnya TERLALU keriting dan alisnya terlalu putih. ITU
seharusnya menjadi peringatan bagiku. Tapi aku selalu mempersembahkan
jiwaku pada segala hal, kau tahu ... aku ini sangat bersemangat. Aku bisa
merasakan desiran-desiran kegembiraan yang luar biasa kapan pun dia ada
di dekatku. Tapi sekarang aku tak merasakan apa pun ... APA PUN! Oh,
aku seperti bertambah tua beberapa minggu belakangan ini, Miss Shirley
... TUA! Aku hampir-hampir tak makan apa-apa semenjak kami
bertunangan. Tanya saja ibuku. Aku YAKIN aku tak punya cukup cinta
untuk menikah dengannya. Meski aku sering ragu mengenai banyak hal,
aku YAKIN sekali tentang hal ini."
"Kalau begitu jangan ... "
"Bahkan saat malam dia melamarku, aku malah memikirkan gaun apa
yang akan kupakai ke pesta kostum Joan Pringle. Kupikir akan sangat
menawan menjadi Ratu di bulan Mei dalam gaun hijau. Dengan ikat
pinggang hijau gelap dan mahkota bunga mawar di rambutku. Dan sebuah
tongkat sihir berhiaskan kuntum-kuntum mawar kecil dengan pita merah
jambu dan hijau. Bukankah itu akan sangat menawan? Kemudian paman
Joan meninggal dan Joan membatalkan pestanya, jadi semua khayalanku
sia-sia. Tapi yang kumaksudkan adalah ... aku pasti tidak benar-benar
mencintai Terry kalau pikiranku masih berkeliaran seperti itu saat dia
melamar bukan?"
"Aku tak tahu ... kadang-kadang pikiran kita bisa menipu."
"Aku tak tahu apakah aku benar-benar ingin menikah Miss Shirley. Apa
kau kebetulan kikir kuku? Makasih. Ujung kuku-kukuku agak kasar. Biar
sekalian kuhaluskan sambil ngobrol. Bukankah menyenangkan bisa saling
mencurahkan isi hati seperti ini? Sangat jarang seseorang mendapatkan
kesempatan ini ... apalagi dunia begitu sering ikut campur. Apa tadi yang
kita bicarakan ... oh, ya, Terry. Apa yang harus kuperbuat Miss Shirley?
Aku ingin mendengar nasihatmu. Aku merasa bagai hewan dalam
perangkap!"
"Tapi, Hazel, sebenarnya ini sederhana ... "
"Tidak, ini sama sekali tidak sederhana Miss Shirley! Ini sangat rumit.
Mama sangat mendukung, tapi Bibi Jean tidak. DIA tak suka Terry, dan
ingin menikah dengan siapa pun. Aku ini ambisius ... aku ingin sukses.
Kadang-kadang aku ingin jadi seorang biarawati. Bukankah indah bisa
menjadi pengantin surga? Bukankah gereja Katolik BEGITU memesona?
Tapi aku bukan Katolik ... dan lagi pula, jadi biarawati tak bisa dibilang
sebuah pekerjaan. Aku selalu memimpikan menjadi seorang perawat.
Bukankah itu adalah profesi yang romantis? Mengompres kening yang
panas dan lain-lainnya ... lalu ada pasien jutawan tampan jatuh cinta
padamu dan kemudian melarikan dirimu ke sebuah vila di Riviera yang
menghadap matahari pagi dan birunya Laut Mediterania. Aku PERNAH
membayangkan diriku mengalaminya. Hanya impian kosong mungkin,
tapi sungguh indah. Aku TAK BISA menyerahkan semua impian itu hanya
karena alasan sepele, bahwa aku harus menikahi Terry Garland dan terus
menetap di SUMMERSIDE!" Hazel merinding sendiri oleh perkataannya
dan menatap kuku-kukunya serius.
"Kukira ..., " Anne mulai berkata.
"Kami SAMA SEKALI tak punya persamaan, kau tahu Miss Shirley, dia
sama sekali tak peduli akan puisi dan percintaan. Padahal itu adalah
hidupku. Kadang-kadang aku berpikir kalau aku ini adalah reinkarnasi
Cleopatra ... atau bisa juga Helen of Troy? ... pokoknya salah satu makhluk
cantik nan menggoda itu. Aku punya pemikiran dan perasaan yang
MENAKJUBKAN ... aku tak tahu dari mana asalnya. Sedangkan Terry
adalah orang yang sangat logis ... tak mungkin dia adalah reinkarnasi
seseorang. Apa yang dia katakan tentang pena bulu Vera Fry sudah
membuktikannya, bukan?"
"Tapi aku tak pernah mendengar tentang pena bulu Vera Fry," kata
Anne sabar.
"Oh, benar kau belum tahu? Kukira sudah kuberi tahu. Aku sudah
menceritakan banyak hal padamu. Tunangan Vera memberikan sebuah
pena bulu yang dibuat dari selembar bulu yang terjatuh dari sayap gagak.
Tunangannya berkata pada Vera, "Biarlah jiwamu terbang ke surga kapan
pun kau menggunakan ini, seperti burung." Bukankah itu INDAH? Tapi
Terry berkata kalau pena itu pasti akan cepat rusak, apalagi kalau Vera
menulis sesering dia berbicara, dan lagi pula dia tak percaya kalau gagak
terbang sampai ke surga. Dia benar-benar tak memahami maksud sejati
dari perkataan tunangan Vera itu ... inti yang sebenarnya."
"Memang apa artinya?"
"Oh ... kenapa ... MENGANGKASA, kau tahu ... terbang jauh dari bumi
yang menjemukan. Apakah kau memperhatikan cincin Vera? Batu Safir.
Kukira safir terlalu gelap untuk cincin pertunangan. Aku lebih menyukai
mutiara seperti milikmu. Terry ingin memberikan cincin padaku
secepatnya ... tapi kukatakan padanya jangan sekarang ... itu akan menjadi
sebuah belenggu ... TAK BISA DIBATALKAN. Tidakkah ini
membuktikan kalau aku tak begitu mencintainya?"
"Tidak, kurasa . . ."
"Oh, sungguh MENYENANGKAN bisa membicarakan apa yang
sebenarnya kita rasakan. Oh, Miss Shirley, aku ingin kembali bebas ...
bebas mencari arti hidup lebih dalam lagi! Terry tak akan mengerti apa
maksudku bila kukatakan Ini padanya. Dan aku tahu dia berwatak keras ...
semua keluarga Garland begitu. Oh, Miss Shirley ... bisakah kau bicara
dengannya ... katakan padanya apa yang kurasakan ... dia pikir kau itu
menakjubkan ... dia pasti mendengarkan apa yang kau katakan."
"Hazel, gadis kecil sayang, bagaimana bisa kulakukan itu?"
__ADS_1
"Kurasa bisa saja." Hazel menyelesaikan mengikir kukunya yang
terakhir dan menaruh kikir dengan gaya yang tragis, "Bila kau tak bisa, tak
ada lagi bantuan DIMANA PUN. Padahal aku tak akan, tak akan, TAK
AKAN BISA menikah dengan Terry Garland."
"Bila kau memang tidak mencintainya, kau harus menemui dan
berbicara langsung dengannya ... tak masalah betapa sakit hatinya nanti.
Suatu hari kau akan bertemu dengan seseorang yang benar-benar kau
cintai, Hazel sayang ... saat itu kau tak akan punya keraguan lagi ... kau
akan TAHU."
"Aku tak akan mencintai SIAPA PUN lagi," kata Hazel dengan tenang
dan dramatis. "Cinta hanya membawa kesedihan. Aku bahkan sudah
MERASAKANNYA di usiaku yang masih semuda ini. Ini bisa menjadi
plot yang luar biasa dari cerita-ceritamu, bukan, Miss Shirley? Aku harus
pergi ... aku sampai tak menyadari kalau hari sudah malam. Aku sudah
merasa jauh lebih baik setelah bicara denganmu ... "seakan kau menyentuh
jiwaku di negeri kegelapan," kata Shakespeare."
"Kurasa itu kata-kata Pauline Johnson," kata Anne lembut.
"Yah, aku tahu itu perkataan seseorang . . . seseorang yang dulu pernah
HIDUP. Kemungkinan aku bisa tidur malam ini, Miss Shirley. Aku
hampir-hampir tak bisa tidur semenjak pertunanganku dengan Terry, tanpa
tahu pasti BAGAIMANA aku bisa menerima pertunangannya."
Hazel menggerai rambutnya kemudian memakai topi, sebuah topi
dengan garis pinggir merah. Gadis itu terlihat sangat cantik sehingga Anne
menciumnya secara impulsif. "Kau adalah makhluk paling cantik,"
katanya kagum.
Hazel berdiri terdiam. Kemudian dia mengangkat matanya dan
memandang atap kamar menara, tembus sampai ke loteng di atasnya,
tembus hingga bisa melihat bintang-bintang.
"Aku TAK AKAN pernah melupakan saat INDAH ini, Miss Shirley,"
gumamnya. "Kurasakan kecantikanku ... kalau memang aku cantik ...
berarti kecantikanku telah ditahbiskan. Oh, Miss Shirley, kau tak tahu
betapa mengerikan mempunyai reputasi kecantikan. Selalu ketakutan
sewaktu bertemu orang lain yang tak menganggapmu secantik apa yang
dibicarakan. Itu adalah SIKSAAN. Kadang-kadang aku ingin MATI
menanggung aib karena aku tak tahan melihat mereka kecewa. Mungkin
itu hanya imajinasiku belaka . . . aku ini imajinatif . . . terlalu malah. Aku
dulu MEMBAYANGKAN aku jatuh cinta pada Terry. Oh, Miss Shirley,
BISAKAH kau mencium wangi bau apel?"
Karena punya hidung, Anne pun bisa menciumnya.
"Bukankah itu sesuatu yang AGUNG? Kuharap surga akan DIPENUHI
bunga. Seseorang pasti akan bersikap baik kalau dia hidup di sekuntum
bunga lily, bukan?"
"Yang kutakutkan malah itu akan mengungkungnya," kata Anne serius.
"Oh, Miss Shirley, jangan ... jangan sarkastis dengan pengagum kecilmu.
Sarkasme akan melayukanku seperti daun."
"Rupanya omongannya yang tanpa henti tak membuatmu kecapekan
setengah mati," komentar Rebecca Dew, sewaktu Anne kembali dari
mengantar Hazel sampai ke ujung Spook"s Lane. "Aku tak tahu kenapa
kau mau berteman dengannya?"
"Aku menyukainya Rebecca. AKU benar-benar menyukainya. Waktu
kecil dulu aku juga suka mengoceh. Aku ingin tahu apakah aku dulu
terdengar konyol bagi orang-orang yang mendengarkanku, seperti Hazel
yang kadang-kadang juga kuanggap konyol."
"Aku tak mengenalmu waktu kau kecil, tapi aku yakin kau tak terdengar
konyol," kata Rebecca. "Karena kau TULUS dengan apa yang kau katakan
tak peduli bagaimana kau mengatakannya. Tapi Hazel Marr tidak. Dia itu
bagaikan susu biasa yang pura-pura jadi krim."
"Yah, tentu saja dia mendramatisir dirinya sendiri seperti kebanyakan
gadis lainnya. Tapi setidaknya beberapa perkataannya yang sungguh?sungguh," kata Anne sambil memikirkan Terry. Mungkin karena pendapat
Anne tentang Terry tak terlalu baik, dia percaya bahwa Hazel benar-benar
serius akan semua perkataannya tentang Terry. Anne berpikir Hazel benar?benar rugi bila membuang impiannya demi Terry, meski pemuda itu akan
mewarisi puluhan ribu dolar. Menurut Anne, Terry memang tampan,
namun berwatak lemah dan yang jatuh cinta pada gadis pertama yang
main mata dengannya, lalu dengan mudahnya jatuh cinta lagi pada gadis
kedua apabila Gadis Pertama menolaknya atau mengabaikannya terlalu
lama.
Anne sering bertemu Terry musim semi itu, karena Hazel sering
mendesaknya untuk ikut pergi bersama mereka berdua; dan Anne
sepertinya akan lebih sering bertemu dengan Terry lagi, karena Hazel
sedang pergi mengunjungi teman-temannya di Kingsport. Selama
kepergiannya, Terry menjadi dekat dengan Anne, mengajaknya jalan-jalan
dan "melihat-lihat" berbagai tempat. Mereka saling memanggil dengan
nama "Anne" dan "Terry" karena umur mereka sebaya, meskipun Anne
memiliki rasa keibuan pada Terry. Terry merasa benar-benar tersanjung
bahwa "Miss Shirley yang pintar" sepertinya senang dia temani. Tak heran
dia menjadi sentimentil di pesta May Connelly, di taman yang diterangi
cahaya bulan, tempat bayangan pepohonan akasia tertiup angin, ketika
Anne dengan bercanda mengingatkannya akan Hazel yang sedang pergi.
"Oh, Hazel!" kata Terry. "Anak itu!"
"Kau bertunangan dengan "anak itu" bukan?"
"Bukannya benar-benar bertunangan . . . hanya cinta monyet. Kurasa ...
kurasa saat itu aku terlalu terhanyut oleh cahaya bulan."
Anne berpikir cepat. Apabila Terry tidak begitu menyayangi Hazel,
gadis itu memang lebih baik bebas dari laki-laki ini. Mungkin saja sudah
jadi takdirnya untuk menguraikan benang kusut hubungan mereka berdua,
yang tak bisa mereka uraikan sendiri karena usia mereka yang masih hijau.
"Tentu saja," Terry melanjutkan, salah mengartikan kediaman Anne.
"Aku berada dalam kesulitan, aku tahu itu. Aku takut Hazel terlalu
menganggap serius diriku. Aku tak tahu cara terbaik untuk menyadarkan
dia akan kesalahannya."
Anne yang impulsif, memasang ekspresinya yang paling keibuan.
"Terry, kalian adalah pasangan anak-anak yang bermain-main menjadi
orang dewasa. Hazel tidak benar-benar peduli padamu begitu juga kau
padanya. Cahaya bulanlah yang memengaruhi kalian berdua. GADIS itu
ingin bebas tapi takut mengatakan padamu karena nanti hatimu terluka.
Dia hanya seorang gadis kebingungan yang romantis dan kau adalah anak
muda yang sedang jatuh cinta pada ide cinta itu sendiri. Di kemudian hari,
kalian berdua akan menertawakan ini semua." ("Kurasa aku sudah
mengatakannya dengan cukup baik," kata Anne dalam hati, merasa puas.)
Terry mengambil napas panjang. "Kau meringankan beban pikiranku,
Anne. Hazel adalah gadis kecil yang manis. Aku benci melukainya, tapi
kusadari kesalahanku ... kesalahan kami beberapa minggu ini. Ketika
seseorang bertemu seorang WANITA ... wanita yang TEPAT ... kau sudah
mau masuk Anne? Bukankah cahaya bulan ini terlalu indah untuk disia?siakan? Kau kelihatan seperti sekuntum mawar putih di bawah cahaya
bulan ... Anne ..."
Tapi Anne telah kabur.
***
__ADS_1